Klandestin

Klandestin
Apa Yang Terjadi


__ADS_3

Aku menatap Reinard yang tampak memikirkan sesuatu sebelum


akhirnya pria itu menggeleng padaku.


“Aku juga tidak kenal Rena.” Katanya kemudian. Ia lalu


berpamitan padaku untuk pergi ke minimarket.


“Mbak beneran enggak ikut nonton konser?” Rosa mendekat padaku


dan mengambil duduk di depanku. Kursi tempat Reinard duduk tadi.


Aku menggeleng. “Ya enggak lah…” aku mengambil cangkir


kopiku lalu menyesapnya dengan sepenuh hati. “Mbak udah punya rencana sendiri.”


“Nyesel lho, enggak bisa lihat oppa-oppa tampan nanti.”


Aku tertawa penuh dengan ejekan.


“Kamu pikir mbak tertarik?” aku menaikkan salah satu alisku


dan menatap Rosa dengan tegas. “Kurang tampan apa sih mas Reinard?!”


Rosa mencebik namun tidak membalas kalimatku, mungkin dalam


hati ia juga mengamini apa yang aku katakan. Reinard memang benar-benar pria


tampan yang akan membuat banyak orang tergila-gila. Buktinya sejak tadi aku


bisa melihat jika teman-teman Rosa sering mencuri pandang pada suamiku.


Selepas sarapan, aku kembali ke kamar. Hari ini rencananya


aku akan mengunjungi beberapa tempat dengan suamiku.


Aku segera mandi dan mengenakan pakaian santaiku.  Hanya hotpants jeans beserta kaos oblong


putih bergambar mickey mouse dan itu membuatku nyaman.


“Udah mandi?” tanya Reinard ketika ia baru kembali dari


minimarket. Ia menenteng sebuah tas belanja yang berisi kertas HVS.


“Iya.” Aku mematikan televisi yang sejak tadi ku tonton.


“Jul…..” panggil Reinard kemudian.


Aku menoleh.


“Kita balik sekarang aja ya?”


“Ha?” aku masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan


suamiku.


“Balik? Jakarta maksud kamu?” aku menegakkan dudukku dan


bersiap untuk penjelasan panjang lebar dari suamiku.


Reinard mengangguk, lalu duduk di sampingku.


“Ada masalah di rumah sakit.” Katanya meremas tanganku.


“Maaf ya, kita enggak jadi jalan-jalan.”


Aku menelan ludah kecewa. Bagaimanapun juga aku sudah ber-ekspektasi


tinggi tentang perjalanan menyenangkan kita hari ini. Tapi tidak taunya, ia


malah mengajakku untuk kembali ke Jakarta.


“Enggak bisa ditunda ya?” tanyaku pelan-pelan. “Nyuruh orang


lain gitu, atau apa….” Aku masih berusaha menahannya agar kami tidak jadi


pulang.


Reinard menggeleng. “Kamu tahu sendiri kan, posisi aku di


rumah sakit?”


Aku menunduk, memainkan jemariku. Bagaimanapun juga aku


tetap merasa kecewa.


“Maafin aku ya Jul. aku janji kapan-kapan kita kembali ke


sini lagi ya?” meskipun aku tidak sepenuhnya percaya dengan apa yang


dikatakannya.


“Yaudah, aku siap-siap sekarang.” Aku beranjak dari tempatku


lalu mengambil koper.


“Maafin aku ya sayang….” Reinard memelukku dari belakang,

__ADS_1


sambil menciumi rambutku.


Aku tidak menjawab, dan hanya mengangguk pelan. Dan dengan


kesal tentu saja.


******


Pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta pukul tiga sore.


Reinard tidak mampir rumah dulu, melainkan ia langsung menuju rumah sakit. Ia


bahkan tidak sempat mengantarku pulang.


 Aku pulang naik


taksi, sedangkan ia mengendarai mobilnya sendiri yang memang ditinggal di


bandara sejak kemarin.


Aku sebenarnya merasa kasihan melihat  air mukanya yang begitu lelah harus langsung


ke rumah sakit tanpa istirahat dulu. Namun inilah resiko dari pekerjaannya, dan


aku tidak bisa berbuat banyak selain memberinya semangat.


Aku menunggu taksi di depan bandara, sambil sesekali membuka


ponselku. Dan sialnya, sore ini aku malah bertemu dengan Daniel. Entah apa yang


dilakukannya di bandara sore ini.


“Lo ngapain di sini Jul?” ia menenteng sebuah koper.


Tampilannya santai, mungkin ia juga hendak bepergian.


“Yang jelas gue enggak lagi tidur.” Sahutku ketus yang


mengundang decakan sebal pria itu.


“Please lah, kita udah lama enggak ketemu Jul. ramah dikit


dong sama gue.”


Aku memutar bola mata malas. Berharap taxi yang ku pesan tadi


segera datang, namun sepertinya kendaraan itu juga tengah mempermainkanku.


“Gue tadi lihat suami lo deha kayaknya. Terburu-buru banget.”


Bukannya pergi, Daniel malah berdiri di sampingku dengan santai sambil melipat


“Kok enggak barengan?”


“Dia sibuk.” Aku menoleh pada Daniel. “Dan itu juga bukan


urusan lo.”


Pria menyebalkan itu malah tertawa. “Gue juga enggak pengen


ikut campur urusan lo Jul.”


“Baguslah……” lirikku judes.


Daniel berdehem. “Suami lo sibuk banget sih Jul?”


“Iya dong. Dia kan dokter.”


“Akh, lo yakin kalau profesinya sebagai seorang dokter


adalah satu-satunya alasan dia buat terus-terusan ninggalin lo?”


Aku tak menyahut. Kalimat Daniel tidak penting. Sama sekali.


Aku ingin segera pergi dari tempat ini. Jikapun kakiku yang terasa pegal ini


bisa ku ajak kompromi dengan berjalan ke tepi jalan besar untuk mencari taksi


di sana, mungkin aku bisa menghindari pria brengsek ini. Namun, aku terlalu


capek untuk berjalan lagi. Efek kemarin sore terlalu banyak jalan-jalan dan


semalam terlalu ekstreem melakukan gaya baru bersama Reinard di ranjang


membuatku bertahan di tempat ini sedikit lebih lama, walaupun konsekwensinya


harus bersama Daniel.


“Dan, lo jauh-jauh deh sama gue. Gue eneg lihat muka lo.”


Kataku pada akhirnya. Aku udah tidak bisa menutupi perasaan sebalku padanya.


Baguslah kalau ia tersinggung dengan kalimatku, setidaknya ia bisa segera


pergi.


“Jul….Jul… lo yakin kalau hidup suami lo itu lurus-lurus

__ADS_1


aja?”


“Yakinlah…..!”


“Lo yakin dia enggak cinta sama wanita lain selain lo?”


Aku menaikkan alisku, dan bersiap untuk mengajaknya adu


mulut. Namun sayang, taxi yang sejak tadi aku tunggu tiba-tiba datang. Di satu


sisi aku bersyukur bisa menghindari Daniel, namun di sisi lain aku merasa kesal


karena belum membuat perhitungan dengannya.


*****


Esok paginya, aku belum menemukan suamiku di rumah ketika


bangun pagi. Aku menghela nafas pelan, meskipun ia sering melakukan hal ini


namun aku selalu belum terbiasa. Rasanya begitu hampa ketika pagi tiba, dan


tidak ada sosoknya di setiap penjuru rumah. Apalagi ketika menghadapi meja


makan. kami sering bercerita beberapa hal sambil menikmati sarapan, namun


setiap ia tidak ada seperti ini hatiku rasanya sepi.


Teleponku yang kesekian kali belum juga dijawab oleh


Reinard. Mungkin ia terlalu sibuk sampai tidak bisa mengangkat teleponku.


Mungkin ia juga belum sempat sarapan. Lalu muncul niatku untuk membuatkannya


sarapan dan mengantarnya ke rumah sakit.


Meskipun makanan buatanku tidak benar-benar enak, namun aku


yakin jika segala sesuatu yang dibuat dengan cinta, hasilnya juga pasti akan


baik. Aku tertawa sendiri sambil membuat nasi goreng ayam dan udang goreng


tepung. Membayangkan suamiku menikmati sarapannya dengan lahap sambil terus


menerus memujiku.


Ban yang bergesek dengan lantai menimbulkan suara yang


berdecit ketika aku membelokkan mobilku menuju parkiran di basement. Setelah


merapikan dandananku dan mengambil kotak bekalku di jok belakang, aku segera


bergegas turun dari mobil dan berjalan menuju lift.


Biasanya, jika pagi Reinard akan bertugas di poliklinik.


Maka, alih-alih menuju ruangannya, aku langsung bergegas masuk ke poliklinik


jantung di lantai tiga. Beberapa perawat yang berpapasan denganku, dan


mengetahui jika aku adalah istri dari Reinard tersenyum dan menyapaku dengan


sopan. Meskipun ketika di belakangku, mereka akan membicarakanku. Hal biasa


untukku, apalagi statusku sebagai istri dari salah seorang dokter yang digandrungi


hampir seluruh karyawan rumah sakit.


Namun ada satu hal yang paling aku benci ketika berkunjung


ke rumah sakit ini adalah bertemu dengan seseorang.


 Wina!


Aku heran kenapa sepagi ini ia sudah berada di depan


poliklinik jantung. Mungkin sedang meng-asisteni suamiku. Setahuku, ia bisa


melakukan hal lain selain mengikuti kemana suamiku pergi, menjadi asisten


dokter yang lainnya mungkin.


“Win….!” Panggilku. Pagi ini aku sedang tidak ingin memulai


gencatan senjata dengannya.


“Reinard mana?” tanyaku ketika kami sudah berhadapan.


Wina menatapku dengan glabella berkerut.


“Kok tanya sama saya sih ibuuuuk?” kalimatnya sudah


terdengar menyebalkan di telingaku. Aku tidak setua apa yang dipikirkannya.


“Lah bukannya dokter Reinard cuti dari kemarin?” ia masih


menatapku tak berkedip.

__ADS_1


“Cuti?!”


********


__ADS_2