
Aku menatap Reinard yang tampak memikirkan sesuatu sebelum
akhirnya pria itu menggeleng padaku.
“Aku juga tidak kenal Rena.” Katanya kemudian. Ia lalu
berpamitan padaku untuk pergi ke minimarket.
“Mbak beneran enggak ikut nonton konser?” Rosa mendekat padaku
dan mengambil duduk di depanku. Kursi tempat Reinard duduk tadi.
Aku menggeleng. “Ya enggak lah…” aku mengambil cangkir
kopiku lalu menyesapnya dengan sepenuh hati. “Mbak udah punya rencana sendiri.”
“Nyesel lho, enggak bisa lihat oppa-oppa tampan nanti.”
Aku tertawa penuh dengan ejekan.
“Kamu pikir mbak tertarik?” aku menaikkan salah satu alisku
dan menatap Rosa dengan tegas. “Kurang tampan apa sih mas Reinard?!”
Rosa mencebik namun tidak membalas kalimatku, mungkin dalam
hati ia juga mengamini apa yang aku katakan. Reinard memang benar-benar pria
tampan yang akan membuat banyak orang tergila-gila. Buktinya sejak tadi aku
bisa melihat jika teman-teman Rosa sering mencuri pandang pada suamiku.
Selepas sarapan, aku kembali ke kamar. Hari ini rencananya
aku akan mengunjungi beberapa tempat dengan suamiku.
Aku segera mandi dan mengenakan pakaian santaiku. Hanya hotpants jeans beserta kaos oblong
putih bergambar mickey mouse dan itu membuatku nyaman.
“Udah mandi?” tanya Reinard ketika ia baru kembali dari
minimarket. Ia menenteng sebuah tas belanja yang berisi kertas HVS.
“Iya.” Aku mematikan televisi yang sejak tadi ku tonton.
“Jul…..” panggil Reinard kemudian.
Aku menoleh.
“Kita balik sekarang aja ya?”
“Ha?” aku masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan
suamiku.
“Balik? Jakarta maksud kamu?” aku menegakkan dudukku dan
bersiap untuk penjelasan panjang lebar dari suamiku.
Reinard mengangguk, lalu duduk di sampingku.
“Ada masalah di rumah sakit.” Katanya meremas tanganku.
“Maaf ya, kita enggak jadi jalan-jalan.”
Aku menelan ludah kecewa. Bagaimanapun juga aku sudah ber-ekspektasi
tinggi tentang perjalanan menyenangkan kita hari ini. Tapi tidak taunya, ia
malah mengajakku untuk kembali ke Jakarta.
“Enggak bisa ditunda ya?” tanyaku pelan-pelan. “Nyuruh orang
lain gitu, atau apa….” Aku masih berusaha menahannya agar kami tidak jadi
pulang.
Reinard menggeleng. “Kamu tahu sendiri kan, posisi aku di
rumah sakit?”
Aku menunduk, memainkan jemariku. Bagaimanapun juga aku
tetap merasa kecewa.
“Maafin aku ya Jul. aku janji kapan-kapan kita kembali ke
sini lagi ya?” meskipun aku tidak sepenuhnya percaya dengan apa yang
dikatakannya.
“Yaudah, aku siap-siap sekarang.” Aku beranjak dari tempatku
lalu mengambil koper.
“Maafin aku ya sayang….” Reinard memelukku dari belakang,
__ADS_1
sambil menciumi rambutku.
Aku tidak menjawab, dan hanya mengangguk pelan. Dan dengan
kesal tentu saja.
******
Pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta pukul tiga sore.
Reinard tidak mampir rumah dulu, melainkan ia langsung menuju rumah sakit. Ia
bahkan tidak sempat mengantarku pulang.
Aku pulang naik
taksi, sedangkan ia mengendarai mobilnya sendiri yang memang ditinggal di
bandara sejak kemarin.
Aku sebenarnya merasa kasihan melihat air mukanya yang begitu lelah harus langsung
ke rumah sakit tanpa istirahat dulu. Namun inilah resiko dari pekerjaannya, dan
aku tidak bisa berbuat banyak selain memberinya semangat.
Aku menunggu taksi di depan bandara, sambil sesekali membuka
ponselku. Dan sialnya, sore ini aku malah bertemu dengan Daniel. Entah apa yang
dilakukannya di bandara sore ini.
“Lo ngapain di sini Jul?” ia menenteng sebuah koper.
Tampilannya santai, mungkin ia juga hendak bepergian.
“Yang jelas gue enggak lagi tidur.” Sahutku ketus yang
mengundang decakan sebal pria itu.
“Please lah, kita udah lama enggak ketemu Jul. ramah dikit
dong sama gue.”
Aku memutar bola mata malas. Berharap taxi yang ku pesan tadi
segera datang, namun sepertinya kendaraan itu juga tengah mempermainkanku.
“Gue tadi lihat suami lo deha kayaknya. Terburu-buru banget.”
Bukannya pergi, Daniel malah berdiri di sampingku dengan santai sambil melipat
“Kok enggak barengan?”
“Dia sibuk.” Aku menoleh pada Daniel. “Dan itu juga bukan
urusan lo.”
Pria menyebalkan itu malah tertawa. “Gue juga enggak pengen
ikut campur urusan lo Jul.”
“Baguslah……” lirikku judes.
Daniel berdehem. “Suami lo sibuk banget sih Jul?”
“Iya dong. Dia kan dokter.”
“Akh, lo yakin kalau profesinya sebagai seorang dokter
adalah satu-satunya alasan dia buat terus-terusan ninggalin lo?”
Aku tak menyahut. Kalimat Daniel tidak penting. Sama sekali.
Aku ingin segera pergi dari tempat ini. Jikapun kakiku yang terasa pegal ini
bisa ku ajak kompromi dengan berjalan ke tepi jalan besar untuk mencari taksi
di sana, mungkin aku bisa menghindari pria brengsek ini. Namun, aku terlalu
capek untuk berjalan lagi. Efek kemarin sore terlalu banyak jalan-jalan dan
semalam terlalu ekstreem melakukan gaya baru bersama Reinard di ranjang
membuatku bertahan di tempat ini sedikit lebih lama, walaupun konsekwensinya
harus bersama Daniel.
“Dan, lo jauh-jauh deh sama gue. Gue eneg lihat muka lo.”
Kataku pada akhirnya. Aku udah tidak bisa menutupi perasaan sebalku padanya.
Baguslah kalau ia tersinggung dengan kalimatku, setidaknya ia bisa segera
pergi.
“Jul….Jul… lo yakin kalau hidup suami lo itu lurus-lurus
__ADS_1
aja?”
“Yakinlah…..!”
“Lo yakin dia enggak cinta sama wanita lain selain lo?”
Aku menaikkan alisku, dan bersiap untuk mengajaknya adu
mulut. Namun sayang, taxi yang sejak tadi aku tunggu tiba-tiba datang. Di satu
sisi aku bersyukur bisa menghindari Daniel, namun di sisi lain aku merasa kesal
karena belum membuat perhitungan dengannya.
*****
Esok paginya, aku belum menemukan suamiku di rumah ketika
bangun pagi. Aku menghela nafas pelan, meskipun ia sering melakukan hal ini
namun aku selalu belum terbiasa. Rasanya begitu hampa ketika pagi tiba, dan
tidak ada sosoknya di setiap penjuru rumah. Apalagi ketika menghadapi meja
makan. kami sering bercerita beberapa hal sambil menikmati sarapan, namun
setiap ia tidak ada seperti ini hatiku rasanya sepi.
Teleponku yang kesekian kali belum juga dijawab oleh
Reinard. Mungkin ia terlalu sibuk sampai tidak bisa mengangkat teleponku.
Mungkin ia juga belum sempat sarapan. Lalu muncul niatku untuk membuatkannya
sarapan dan mengantarnya ke rumah sakit.
Meskipun makanan buatanku tidak benar-benar enak, namun aku
yakin jika segala sesuatu yang dibuat dengan cinta, hasilnya juga pasti akan
baik. Aku tertawa sendiri sambil membuat nasi goreng ayam dan udang goreng
tepung. Membayangkan suamiku menikmati sarapannya dengan lahap sambil terus
menerus memujiku.
Ban yang bergesek dengan lantai menimbulkan suara yang
berdecit ketika aku membelokkan mobilku menuju parkiran di basement. Setelah
merapikan dandananku dan mengambil kotak bekalku di jok belakang, aku segera
bergegas turun dari mobil dan berjalan menuju lift.
Biasanya, jika pagi Reinard akan bertugas di poliklinik.
Maka, alih-alih menuju ruangannya, aku langsung bergegas masuk ke poliklinik
jantung di lantai tiga. Beberapa perawat yang berpapasan denganku, dan
mengetahui jika aku adalah istri dari Reinard tersenyum dan menyapaku dengan
sopan. Meskipun ketika di belakangku, mereka akan membicarakanku. Hal biasa
untukku, apalagi statusku sebagai istri dari salah seorang dokter yang digandrungi
hampir seluruh karyawan rumah sakit.
Namun ada satu hal yang paling aku benci ketika berkunjung
ke rumah sakit ini adalah bertemu dengan seseorang.
Wina!
Aku heran kenapa sepagi ini ia sudah berada di depan
poliklinik jantung. Mungkin sedang meng-asisteni suamiku. Setahuku, ia bisa
melakukan hal lain selain mengikuti kemana suamiku pergi, menjadi asisten
dokter yang lainnya mungkin.
“Win….!” Panggilku. Pagi ini aku sedang tidak ingin memulai
gencatan senjata dengannya.
“Reinard mana?” tanyaku ketika kami sudah berhadapan.
Wina menatapku dengan glabella berkerut.
“Kok tanya sama saya sih ibuuuuk?” kalimatnya sudah
terdengar menyebalkan di telingaku. Aku tidak setua apa yang dipikirkannya.
“Lah bukannya dokter Reinard cuti dari kemarin?” ia masih
menatapku tak berkedip.
__ADS_1
“Cuti?!”
********