Klandestin

Klandestin
Malam Tanpamu


__ADS_3

‘Jul,


malam ini aku lembur’


Begitulah


akhirnya, tepat di jam sepuluh malam bunyi pesan singkat dari Reinard muncul di


layar ponselku.


Aku


mendesah pelan. Selalu saja merasa kecewa setiap kali ia tak ada di rumah


seperti ini. Seraa diabaikan, serasa tidak penting.


Malam


sudah beranjak, dan aku belum mampu memejamkan mataku. Apa lagi? Pasti karena


empat gelas kopi yang aku minum siang tadi. Aku rasa untuk satu minggu ke depan


efek cafein ini belum bakalan hilang dari tubuhku.


Sejak


tadi yang aku lakukan hanya berputar-putar saja di kasur. Mencoba memejamkan


mata, namun meskipun kucoba berkali-kali tetap saja gagal. Bukannya mataku kian


berat, justru malah sebaliknya.


Karena


merasa malam ini hanya akan aku lalui dengan mata tak terpejam, akhirnya aku


berniat untuk menelpon Reza.


“Za,


lo ada acara enggak?”


“Kenapa


nek? Gue Free, sexy and single!”


“Hust!


Jangan sebut-sebut judul lagunya Bang Suju dengan mulut lemes lo itu! Kasihan


kang Siwon dan sohib-sohibnya!”


“Eh


Jul, lo telepon gue sebenernya mau ngapain sih? Bikin males aja deh!” protes


Reza kesal.


Aku


terkekah. Memang level pemarah Reza itu sudah melebihi rata-rata. Ia manusia


paling pemarah yang pernah aku temui selama ini.


“Keluar


yok!”


“Hah!


Gue enggak salah denger ini?”


“Enggak.


Selama kuping lo enggak banyak kotorannya sih gue rasa aman-aman aja.”


“Mau


gue jambak Jul?” teriaknya nyaring.


Aku


kembali terkekah.


“Gue


bosen di rumah sendirian Rez.”


“Lha


prince charming lo kemana?” tanya Reza kemudian. “Tumben-tumbenan ngajak keluar


malem. Gue pikir lo kesambet.”


“Serius.


Gue kesepian.”


“Lah,


emang boleh keluar sama suami lo Jul? Kan biasanya wanita bersuami itu enggak


boleh kelayapan malem. Pa-ma-li!”


“Kayak


mak gue deh.” Decakku sebal. “Si doi lagi lembur. Gue dirumah sendirian. Enggak


bisa tidur.”


“Yaudaaah….kita


kemana sekarang? Gue juga bosen ini. Semenjak Eli hilang ditelan bumi, hidup


gue juga jadi anak rumahan aja deh kayaknya.”


Aku


terkikik kecil. Tiba-tiba merindukan Eli juga. Bagaimana kabar wanita itu di


London sekarang? Apa baik-baik saja? Apa dia juga sudah menemukan ketenangan


batin di sana, jauh dari Doni dan segudang permasalahan hidupnya.


“Jul….lo


diem aja?” suara Reza mengaburkan monolog di kepalaku.

__ADS_1


“Eh….iya….em….kita


ke tempat biasa aja yok.” Tempat biasa yang ku maksud adalah sebuah bar kecil


di pinggir kota. Bar itu milik salah satu teman Reza. Tempatnya memang kecil,


namun cukup nyaman untuk berkumpul bersama teman dan menghabiskan malam.


“Okai.


Gue tunggu di sana ya.”


Setelah


mematikan ponsel, aku segera berganti baju. Setelah cukup dengan polesan make


up, segera kuraih kunci mobil dan meninggalkan rumah.


Untuk


kali ini, aku sama sekali tidak ingin meminta ijin pada suamiku.


****


“Halo…..lama


sekali kalian tidak berkunjung?” Arnold, sang bartender sekaligus pemilik bar


menyapaku ketika aku baru sampai.


Aku


mengulas senyum seraya meletakkan tas tanganku di atas meja. Di sampingku, Reza


sudah terlihat asyik dengan martini-nya.


“Ya…aku


sibuk.” Aku duduk di sebuah kursi tepat di samping Reza.


“Sibuk


jadi pengantin baru!” timpal Reza cepat.


“Wooow….benarkah?”


Mata Arnold melebar. “Selamat Julia!”


Aku


mengangguk saja. Sepertinya ucapan selamat atas pernikahan sudah telat karena


ketika mendengarnya, aku sudah tak seantusias dulu.


“So,


lo mau minum apa?” tanya Arnold kemudian.


“Virgin


Mojito.”


“Yaelah


Jul…gue kira lo ngajakin gue kesini demi alcohol. Enggak taunya…..”decak Reza


Aku


mengerang kesal, sedangkan Arnold tertawa. Pria itu berjalan menajuhiku dan


Reza, lalu mengambil bahan untuk membuat segelas Virgin Mojito.


“Lo


mau bawa gue pulang sambil mabuk?!” kataku memandang Reza dengan sengit.


“Ya


enggak!”


“Makanya,


gue harus menjaga kewarasan gue sampai pagi.”


Reza


tidak menjawab, karena matanya kini sedang tertuju pada kepiawaian tangan


Arnold yang meracik Virgin Mojito. Beberapa menit kemudian, segelas minuman


segar itu sudah tersaji di depanku.


“Selamat


menikmati cantiik…..” Arnold mempersilakanku sebelum akhirnya berjalan menuju pelanggan


yang lain.


“Jul,


lo ada masalah ya sama Reinard?” tanya Reza setelah Arnold tidak ada diantara


kami. Aku tahu bahwa Reza sedang menjaga privasiku sehingga tidak mengatakan


apapun ketika Arnold masih berada di antara kami.


“Enggak


sih….” Jawabku sambil menyesap minumanku.


“Nggak


usah bohooong….kita udah sahabatan sejak bertahun-tahun lalu. Lo kebelet poop


aja gue tahu ekspresi muka lo Jul.”


“Hush!


Jorok!” delikku.


“Ya


makanya, gue tanya sama lo. Enggak usah nutupin. Lo ada masalah apa?!”


Aku


terdiam sesaat. Menimbang, apakah memang perlu mengatakan masalah rumah

__ADS_1


tanggaku pada Reza. Sedangkan Reza adalah tipe manusia yang anti pria banget


ketika melihat sahabatnya tidak begitu mendapatkan kebahagiaan dari


pasangannya. Ya, seperti anti-nya Reza pada Doni yang sudah menyakiti Eli.


“Menurut


lo, adil enggak sih dalam sebuah hubungan rumah tangga, seorang pasangan


menyembunyikan sesuatu dari pasangannya?” aku menatap Reza.


“Emm….


Tergantung sih Jul.” jawabnya setelah menenggak minumannya.


“maksud


lo?”


“Ya


tergantung bagaimana akhirnya, jika rahasia itu bisa membuat sebuah hubungan


baik-baik saja.. why not?” Reza mengangkat bahunya. Tumben pria ini berbicara


tanpa menghakimi. Biasanya ia pasti akan berteriak ‘apa suami lo nyakitin lo


Jul?!’


“Jadi


menurut lo, tidak apa-apa ada sebuah rahasia dalam sebuah hubungan. Asal tidak


menyakiti?”


“Ya….kira-kira


begitu.”


“Arrgh!”


aku mengerang kesal. “Kayaknya gue enggak sependapat sama lo.” Sahutku ketus.


“Namanya hubungan pernikahan itu tidak boleh ada rahasia sedikitpun.”


“Why?”


Reza menaikkan alisnya. “Coba lo pikirin deh Jul. seandainya jaman dulu, suami


lo itu seorang player.” Reza menatapku dengan serius. “Seandainya loh ya…..gue


Cuma mengandaikan.” Ia mengulangi kalimatnya ketika aku baru saja hendak


melontarkan protes tidak terima ketika suamiku disebut player oleh pria ini.


“Iyaa….iyaa…”


aku mangut-mangut.


Reza


menggeser gelasnya. “Naaah….kalau yang namanya player itu kan enggak bakalan


lepas dari yang namanya wanita, one night stand atau bahkan pasangan kencannya


hamil. Jadi, apa suami lo juga perlu membeberakan rahasia kelam masa lalunya


bersama wanita-wanita itu sama lo? Jika endinganya masa lalu dia bakalan


nyakiti lo, padahal saat ini cintanya benar-benar buat lo?”


Aku


tidak menyahut.


“Lha


ceritanya akan beda Jul, seandainya suami lo masih berhubungan dengan masa


lalunya ketika ia masih sama lo. Contohnya lagi, ia ternyata masih berhubungan


sama wanita-wanita yang pernah ditidurinya.”


Meskipun


terdengar memojokkanku, kalimat Reza memang ada benarnya. Mungkin jika sampai


sekarang Reinard belum menjelaskan tentang rahasianya padaku, ia hanya tidak


ingin menyakitiku dan membuat hubunganku dengannya memburuk. Namun sejujurnya,


aku adalah tipe wanita yang menerima apapun yang suamiku katakan padaku,


meskipun itu adalah sesuatu yang menyakitkan.


“Jadi


gimana, lo merasa dibohongi oleh suami lo?” Reza mengedik ke arahku dan ku


jawab dengan anggukan pelan.


Reza


menghela nafas pelan. “Ya begitulah suka dukanya menikah dengan seseorang yang


belum lo kenal dengan baik Jul. Ya lo harus terima.”


Aku


menunduk. “Gue bingung Rez. Di sini lain gue pengen jadi wanita yang paling


megerti dia, namun di sisi lain gue juga tidak ingin memaksanya untuk mengungkapkan


sesuatu yang memang belum ingin dikatakannya sama gue.”


“Ya


makanya lo sabar.”


“Lo


pikir gue enggak sabar?!” protesku kesal sambil meneguk sisa virgin mojitoku.


Reza


terkekah.

__ADS_1


*****


__ADS_2