Klandestin

Klandestin
Seorang Pria


__ADS_3

Aku melihat mobil Reinard berhenti


di depan café. Dari balik kaca jendela lebar ini, aku bisa melihatnya turun


dari mobil dengan gaya yang begitu alami namun mampu membuat siapapun yang


melihatnya berdecak karena tergoda. Ia terlihat piawai melepas sunglass yang


dipakainya lalu memasukkan barang itu ke saku kemejanya. Tampilannya pun begitu


stylish dengan kemeja garis yang dimasukkan ke dalam celana jeans belel warna


light blue dengan sepatu kets putih yang memperlihatkan kesan santai.


“Suamiku tampan ya pa?” kataku


dengan senyum nakal pada papa yang sejak tadi duduk di seberangku.


Papa hanya mencebik. Satu jam


yang lalu pria yang usianya lebih dari setengah abad ini menelponku dan


mengajakku beserta Reinard untuk makan siang bersama. Awalnya aku menolak


karena siang ini aku ingin pergi berbelanja bulanan bersama suamiku. Namun


ketika Reinard mendapat telepon dari Wina tentang pasien, ia akhirnya


menyuruhku untuk bertemu papa dulu dan akan menyusul.


Jadi beginilah akhirnya, aku


menunggunya bersama papa.


“Siang pah….” Reinard menyapa


papa ketika sudah sampai di depan kami.


Papa tersenyum. “Duduk Rei.”


“Maaf, lama nungguin ya pa? tadi


pasiennya agak ribet.” Reinard lantas duduk di sampingku. “Maafin ya nunggu


lama.” Ia mengelus pipiku lembut.


Aku tersenyum dengan sedikit


malu. Pasalnya ada papa dan suamiku itu bertingkah seolah kami hanya berdua.


“Ehemm….” Papa berdeham,


sepertinya ia juga merasa tidak nyaman melihat interaksi kami. “Kamu mau pesen


apa? Papa sama Julia sudah pesan. Tinggal kamu.” Papa mengulurkan buku menu.


Reinard menerima buku menu


tersebut. Tak terlalu lama memilih, ia akhirnya memilih zuppa soup dengan


cokelat panas. Makan siang kami terasa hangat dan menyenangkan, dengan disertai


pembicaraan-pembicaraan ringan seputaran pekerjaanku, Reinard dan juga papa.


“Papa mau bilang sesuatu.” Papa


menyeka bibirnya dengan tissue. Nasi di mejanya sudah habis, dan aku tahu ia


ingin mengatakan sesuatu yang sejak tadi masih disimpannya.


Aku meletakkan garpu yang ku


pegang, sedangkan Reinard menyesap minumannya.


“Papa mau pensiun.” Lanjut papa.


Aku dan Reinard saling pandang.


Jika papa menginginkan pensiun, itu berarti papa juga ingin menyerahkan


posisinya pada orang lain. Dan aku tahu orang yang dimaksud papa itu siapa.


“Rei, kamu ya yang ganti’in


papa.” Papa menatap Reinard serius.


Aku kenal papa dengan baik,


bagaimanapun juga aku sudah bersama pria ini sejak aku bayi. Papa berkemaunan


keras, ia tidak mudah percaya dengan orang lain dan sekalinya percaya, papa


akan menaruh kepercayaan pada orang itu dengan sangat baik. Hebatnya papa yaitu


bisa membaca apakah orang itu benar-benar bisa dipercaya atau tidak.


Maka dari itu mustahil menolak


tawaran papa ketika papa sudah sangat percaya dengan Reinard. Tapi aku


mengembalikan semuanya pada suamiku. Bagaimanapun juga, basic Reinard berbeda


dengan papa. Reinard dokter, papa pengusaha.


“Pa….” Sahut Reinard lembut.


Wajahnya terlihat ragu-ragu.

__ADS_1


Aku meremas pahanya pelan, untuk


memberinya keberanian. Jikapun ia tidak mau menggantikan papa, aku masih akan


tetap mendukungnya.


“Bukannya saya tidak mau pa. tapi


sepertinya saya belum mampu untuk melakukan itu.”


Papa tersenyum. Sepertinya ia


sudah mengira jika Reinard akan mengatakan hal ini.


“Papa mengerti.” Sahutnya lugas.


“Papa juga tidak minta kamu untuk langung terjun di lapangan. Belajarlah


pelan-pelan.” Papa menenggak air putihnya. “Papa akan meminta sekertaris papa


untuk mengajari kamu.”


“Kalau ahirnya Reinard juga tidak


bisa?” potongku cepat. Aku tidak ingin papa terlalu berambisi menjadikan


Reinard sebagai penerusnya, padahal Reinard tetap tidak menguasai dan tidak


mencintai pekerjaannya. Aku hanya ingin papa menyadari bagian terburuknya juga.


Papa menghela nafas. “Itu bisa


dipikirkan nanti.”


“Paaa…..!” protesku kesal.


“Jul….aku bakal belajar dulu.”


Reinard menoleh ke arahku kemudian kea rah papa. “ Pa, kalau saya benar-benaar


tidak sanggup, bisakah perusahaan diserahkan pada orang lain?”


Papa berfikir sesaat kemudian


mengangguk. “Baiklah, asal orang itu adalah orang yang bisa kamu percaya.”


Reinard mengangguk tegas.


******


“Seharusnya kamu bilang kalau


memang tidak sanggup.” Gumamku sambil mengambil sabun cuci dari rak display.


Kami sudah berada di supermarket. Reinard mendorong troli dan aku memilih-milih


seperti ini.


“Mana mungkin aku menolaknya


secara langsung Jul.” Sahut Reinard santai. “Papa akan tahu nanti kinerjaku


setelah aku benar-benar terjun di sana.”


“Maksudnya gimana?”


“Ya, aku pengen papa lihat apakah


aku benar-benar bisa meneruskan perusahaan atau tidak.”


Aku mendengkus. “Tapi mustahil


kamu enggak bisa. Kamu kan pinter!” aku mencubit pipinya gemas.


“Heiii….” Ia menarik pinggangku


untuk lebih dekat dengannya. “Jangan membangunkan macam tidur.”


Aku mencoba melepaskan lilitan


tangannya. “Lepasin Rei….ini tempat umum.”


“Salah sendiri, kenapa


cubit-cubit pipiku.” Sahutnya santai.


“Iya, masa Cuma di cubit pipinya


udah bangun macannya?” aku masih berusaha untuk melepaskan tangannya.


“He’em…” tak minta ijin, Reinard


tiba-tiba mencium pipiku dengan lembut.


“Rei….!” Pekikku tertahan. Pipiku


terasa panas. Aku yakin jika sekarang sudah memerah. Mana ada ibu-ibu lewat tak


jauh dari kami dan tersenyum lagi.


“Selanjutnya nanti malam ya


sayang….” Ia berbisik di depan telingaku, lalu beranjak pergi dengan santai


sambil mendorong troli.


Aku menghentakkan kakiku dengan

__ADS_1


kesal.


“Tunggu…kita musti beli telur.”


Aku berlari kecil mengejarnya.


Semakin hari, aku semakin merasa


jika hubunganku dengannya bertambah hangat.


*****


“Kamu yakin enggak dianterin naik


Jul?” Reinard menoleh padaku yang duduk di sampingnya. Beberapa detik lalu, ia


memarkir mobilnya di depan apartement. “Belanjaan kamu banyak lho.” Ia lantas menoleh


ke belakang, pada plastik-plastik belanjaan di kursi.


“Akh, enggak usah. Aku bisa bawa


sendiri kok.” Tolakku sambil membuka seat belt yang melilit tubuhku. “Lagian


kan kamu udah ditungguin buat operasi.”


Reinard berdecak lirih. “Kalau


Cuma nganter ke atas, aku nggak bakalan telat Julia sayang…..aku Cuma butuh


waktu lima menit untuk naik lalu turun.” Sahutnya bersikeras. “Aku enggak mau


kamu capek.”


Aku tertawa kecil. “Sejak kapan


sih kamu pinter banget ngegombal?” aku mencondongkan tubuhku ke arahnya sambil


bertopang dagu. “Perasaan waktu awal-awal nikah kamu dingiiin banget,


sedingin—“


“Kamu mau aku gelitiki lagi ya?”


Reinard sudah mengangkat tangannya.


“Enggak!” teriakku. “Udah kapok


waktu itu.” Aku memanyunkan bibir, namun malah dikecup mesra oleh suamiku itu.


“Rei….” Protesku kesal. “Kamu


ih….”


Reinard tertawa. “Yaudah, ini


beneran enggak mau dianterin naik?” ia mengalihkan pembicaraan.


Aku mengangguk.


“Tenang saja bos.” Sahutku sambil


membuka pintu mobil, dan berganti membuka pintu mobil belakang untuk mengambil


belanjaan. Reinard mengikutiku dan membantuku mengambil dua plastic yang masih


tertinggal. Kini kedua tanganku menenteng tas belanjaan. Sebenarnya sedikit


kerepotan, namun aku tidak ingin suamiku membuang-buang waktu hanya untuk


mengantarku ke atas.


“Kamu ati-ati ya?” pesanku


sebelum Reinard benar-benar masuk ke dalam mobil.


Pria itu mengangguk, lalu mencium


keningku. “Tunggu aku di rumah ya. Kalau lancar operasinya, sebelum jam sepuluh


aku sudah di rumah.”


Aku mengangguk, arah mataku


mengikuti Reinard yang masuk ke dalam mobil. sekejap kemudian, mobil hitam itu


melesat pergi meninggalkan halaman apartement.


Setelah mobil suamiku benar-benar


hilang dari pandangan, aku berbalik arah. Hendak segera masuk ke dalam


apartement karena bawaanku terasa berat. Namun baru saja aku mengayunkan


langkah, suara seseorang memanggilku.


“Permisi. apa saya bisa minta


waktunya sebentar.”


Aku menoleh. Terkejut dan tanpa


sadar mundur dua langkah ke belakang.


Dia….


“Anda….”

__ADS_1


******


__ADS_2