Klandestin

Klandestin
Pernikahan untuk Malam Pertama Kami


__ADS_3

Aku menarik nafas panjang—berulang kali—untuk mengurangi degup


jantungku yang kian tak terkendali. Tak pernah kusangka jika hari pernikahanku akan


tiba secepat ini. Ralat. Maksudku yah….aku bingung menjelaskannya. Dulu Ketika


aku belum menemukan seseorang yang mau menikahiku, rasanya waktu berjalan begitu


lama—meskipun aku tak begitu peduli tentang pernikahan—namun ketika hari ini


aku dihadapkan pada kenyataan itu, menikah dengan pria asing yang tiba-tiba


datang dalam hidupku dan bersedia menikahiku, rasanya begitu cepat.


“Jul….rileks.” Eli menepuk pundakku dari belakang. Aku menatap


wanita itu dari balik cermin lalu tersenyum. Oww….sungguh senyumku dibalik make


up ini sangat tidak natural.


Aku meremas pelan tangan Eli yang masih berada di pundakku sambil


mengangguk.


“Jul, ijab qabul segera dimulai!” Mama dari arah pintu masuk kamar


berseru.


Aku Kembali menarik nafas Panjang. Kulihat Eli mempersiapkan sebuah


kursi di depan layar televisi yang tersambung dengan ballroom hotel sementara


MUA-ku, mbak Kia sedang Kembali men-touch-up ulang make-up ku. Setelah dirasa


semua beres, aku dibantu untuk duduk di kursi yang telah disiapkan Eli tadi.


Mengenakan sanggul berat dan pakaian adat jawa seperti ini sedikit membuatku


kerepotan, karena aku tidak pernah memakainya. Namun kepercayaan diriku


meningkat drastis, karena kuakui aku begitu cantik dengan pakaian seperti ini.


Dari layar televisi, aku melihat tamu undangan yang mulai duduk rapi


di kursi mereka masing-masing, Reza sebagai pemandu acara sudah memperlihatkan


kepiawaiannya untuk membuat acara lebih hidup. Ada papa di sana, duduk


bersisian dengan penghulu, beberapa saksi yang tak begitu aku kenal dan….


Astaga!


Benarkan itu Reinard?


Aku serasa ingin pingsan melihat betapa tampannya calon suamiku di


balik beskap putih yang dipakainya. Jantungku Kembali bergedup kencang, bukan


memikirkan bagaimana dia akan mengucapkan kalimat ijab qobul nanti, karena aku


yakin dia lebih dari bisa karena sudah berlatih beberapa hari. Melainkan


memikirkan bagaimana malam pertama kami nanti. Bagaimana kami memulainya dan…..


“Jul.” tepukan tangan Eli di pundakku menghalau pikiran kotorku di


saat-saat terpenting dalam hidupku ini. “Acara segera dimulai.”


Di layar televisi aku melihat semua sudah bersiap. Bahkan sudah tak


terdengar cuap-cuap Reza dibalik microphone karen aku yakin dia juga sudah ikut


duduk diantara undangan. Sebenarnya kemarin ia menawarkan diri untuk menjadi


saksi, namun aku tolak dengan tegas.


“Sorry, gue enggak mau pernikahan gue enggak sah karena jenis


kelamin lo yang gak jelas!” dan tentu saja aku mendapatkan banyak umpatan


darinya.


Aku menahan nafas Ketika papa sudah menyodorkan tangannya, bersiap


menyerahkan putri tercintanya pada Reinard. Aku yang awalnya sudah deg-deg’an


kini membeku di tempat. Ucapan papa, dan serentetan kalimat ijab qabul yang


lancar dari mulut Reinard otomatis membuat mataku basah. Begitu juga mama dan


Eli yang kulihat juga mengusap air mata. Ketika seluruh tamu yang datang


mengucapkan syukur saat semua saksi mengatakan ‘sah,sah,sah’ berulang kali, air


mataku kembali mengalir.


Dan detik ini juga, meskipun aku masih belum benar-benar percaya,


aku resmi menjadi nyonya Reinard Saputra.


*****


Selesai ijab qabul, mama dan Eli membawaku turun dari kamar hotel ke


ballroom. Seluruh tamu undangan menatapku dengan senyum Ketika kami tiba di


depan pintu, pun Reinard yang tak henti menatapku meskipun sesekali ia menoleh


kea rah lain. inilah awal pertemuan kami menjadi sepasang suami-itri, di depan


pelaminan. Di tengah-tengah kegembiraan para undangan yang mengucapkan selamat.


“Terimakasih, kamu hebat.” Bisikku di sela-sela menyalami tamu.


Mungkin sudah lebih dari setengah jam kami berdiri dan memasang senyum


sumringah menerima ucapana selamat dari para undangan. Sejujurnya aku ingin


segera duduk, melepaskan heels-ku, melepas sanggulku yang serasa menghantam

__ADS_1


kepalaku dan tentu saja kebaya yang melilit badanku ini. mandi dengan air


hangat, dan tentu saja melakukan kewajiban kami sebagai suami-istri. Akh,


betapa menyenangkannya….


“Dan…..inilah persembahan lagu untuk kedua mempelai kita….lagu


Beautiful In White…!” Seru Reza dengan bersemangat di balik mic, dan tak


berselang lama sebuah lagu dari Shane Filan itu menggema memenuhi Ballroom


hotel.


“Apa kamu capek?” tanya Reinard. Pandangannya tertuju ke bawah, ke arah


kakiku yang sejak tadi bergerak-gerak.


Aku mengangguk pelan. “Banget.”


Reinard tak membalas kalimatku, ia hanya menarikku turun dari


pelaminan dan membimbingku duduk pada sebuah kursi. “IStirahat dulu di sini,


aku ambilkan minum. Lagipula sudah tidak banyak yang datang menemui kita. Biar


mereka nanti datang kemari.”


Aku hanya mengangguk, merasa begitu tersanjung diperlakukan suamiku


dengan begitu manis. Diam-diam mataku mengekor gerakannya yang berjalan menuju


meja minuman, dan membawakanku segelas iar putih. Meskipun mengenakan stelan


beskap lengkap dengan batik, ia tampak begitu nyaman, berbeda jauh denganku.


“Minumlah….” Katanya menyerahkan minuman itu.


Aku menerima gelas itu dan langung meneggak isinya sampai habis. Aku


memang teramat haus, karena sejak tadi terus memasang senyum sampai


tenggorokanku kering.


“Sorry kalau gue menginterupsi.” Tiba-tiba Eli datang dengan wajah


masam yang tak seperti biasanya. Aku tahu apa yang menyebabkan mukanya kesal


seperti itu. Siapa lagi kalau bukan Doni—mantan suaminya yang ternyata datang


ke pesta pernikahanku.


“Silakan.” Aku tertawa kecil. “Mau curhat juga boleh.” Aku melirik


Reinard yang tampak acuh tak acuh dengan kedatangan Eli. Tadi aku sempat


memberitahu Reinard tentang hubungan masa lalu Eli dengan Doni dan sepertinya


pria itu mengerti.


Eli menghentakkan kakinya kesal. “Kenapa sih lo ngundang manusia


itu?!” ia mengedik pada Doni yang tengah berbincang dengan papa.


undangan yang ada di sini, delapan puluh persennya gue enggak kenal. Karena


mereka semua tamu papa gue dan papa Reinard. Jadi lo tanyain ke papa deh soal


kenapa ngundang Doni segala.” Paparku.


Eli mendengus, menenggak minuman yang sejak tadi dibawanya.


“GUe sebel banget ketemu sama dia Jul.”


“Tapi dulu pernah cinta khan?”


“Itu dulu. Sekarang enggak!” Jawabnya tegas. “Gue enggak bakalan


sudi ketemu dia lagi.”


Tapi itu hanya kalimat yang keluar dari mulut Eli, tepatnya bukan dari hati


Eli. Buktinya beberapa menit kemudian, Ketika Doni datang memberi ucapan selamat


padaku dan Reinard, lalu mengajak Eli untuk berbincang sebentar di taman


belakang, wanita itu tetap mengikutinya meskipun dengan wajah tertekuk-tekut.


“Padahal tadi dia bilangnya enggak sudi ya kan ketemu sama mantan


suaminya. Eh, sekarang malah ho’oh aja waktu diajak mojok?” kataku pada


Reinard.


Dan lelaki pendiam itu hanya tersenyum mendengar kalimatku.


******


Mungkin sudah lebih dari setengah jam aku berada di dalam kamar


mandi. Mematung diriku sendiri di depan cermin. Melihat sosokku dari pantulan


benda itu lekat-lekat. Rambut yang masih basah dan make-up yang sudah


sepenuhnya hilang serta aroma tubuhku yang sudah cukup wangi belum berhasil


membuatku percaya diri keluar dari dalam kamar mandi untuk menemui suamiku.


Menuntaskan kewajiban kami setelah sah menjadi suami istri.


Berkali-kali aku menunduk, menatap piyama tidurku dengan baik. Jelas


sekali ini piama baru dan masih begitu rapi, apa yang aku khawatirkan hanya


dengan sebuah piyama? Toh nanti juga sudah tidak akan berguna.


Tidak. Aku tidak boleh seperti ini. aku harus belajar dari seseorang


yang setidaknya jauh lebih berpengalaman dari aku.

__ADS_1


Eli.


“Kenapa Jul?” Suaranya menggema ditelingaku ketika aku menelponnya. “Lo


enggak akan tanya apa yang gue obrolin dengan mantan suami gue tadi kan?”


“Gue enggak peduli!”


“Terus?”


“Gue nervous.” Sahutku pelan, berharap Reinard tak mendengar


percakapan kami.


Terdengar Eli menghela nafas.


“Apa yang membuat lo sebegitu takut?”


Aku berfikir sejenak. Iya juga ya, apa yang membuatku takut?


“Gue takut mengecewakannya. Lo tahu kan, ini kali pertama bagi gue.


Ini—”


Kalimatku diinterupsi oleh kikikan dari Eli.


“Please Jul. usia lo udah bukan ABG lagi. Seharusnya lo ngerti kan.


Bahwa lo bakalan punya insting alami ketika sudah berhadapan dengan dia?”


Aku tak menyahut namun membenarkan apa yang Eli katakan.


“Tapi El—”


“Jul.” Potong Eli cepat. “Tarik nafas dalam. Ingatlah di pikiran lo


bahwa semua akan baik-baik saja dan semua orang mengalami hal itu. Yang


terpenting lo harus focus dan tentu saja imbangi suami lo. Gue yakin meskipun


usianya di bawah lo, dia bisa mengajari lo dengan baik.”


Sedikit demi sedikit aku mulai percaya diri.


“Lo yakin El, kalau gue bisa?”


“Yaelah Jul….lo enggak inget gue nikah di usia berapa?!”


Aku tertawa kecil.


“Tumben lo mau ngebahas tentang masa lalu lo?” ejekku.


“Ini demi lo kali. Kalau bukan demi lo gue juga enggak mau ngomongin


tentang hal itu.”


aku tertawa. Ingin menanyakan apa yang Eli dan Doni bicarakan tadi


sore namun urung. Lebih baik aku menanyakannya nanti, ketika bertemu Eli


langsung. Lagipula ini bukan waktunya menanyakan hal itu. Ada hal lebih


penting, dan itu adalah malam pertamaku.


“Baiklah. Selesaikan malam ini dan jangan telepon gue lagi karena


gue ngantuk.” Eli mengakhiri pembicaraan kami.


Setelah Eli menutup telepon, aku Kembali menatap wajahku di cermin.


Memastikan bahwa semuanya dalam kondisi baik. Setelah menarik nafas panjang,


perlahan aku membuka pintu. Bersiap menemui suamiku dan sebuah pengalaman baru.


Namun, aku sedikit tercengang Ketika melihat Reinard terlihat rapi


dengan stelan kemejanya dan tas yang tersampir di bahunya. Pria itu tampak


sibuk dengan ponsel dan kunci mobilnya.


“Lho, mau kemana?” tanyaku bingung.


Pria itu menatapku, dan berjalan mendekatiku dengan sedikit tergesa.


“Maaf, aku harus ke rumah sakit. Ada yang penting dengan pasienku.”


Ia menepuk lenganku lantas berjalan kearah pintu.


Aku tercenung sesaat. Berharap Reinard sedang bercanda dengan


ucapannya. Namun melihat bagaimana tergesanya ia sekarang, aku tahu jika dia


tidak berbohong soal ini.


“Aku berangkat ya?”


Aku tidak menyahut, hanya mengikuitnya dengan hati yang kosong.


Apalagi ketika ia membuka pintu, aku masih tidak mengeluarkan kalimat apapun dari


mulutku.


“Oh ya….” Reinard menoleh sebelum benar-benar menutup pintu.


Aku mengangkat dagu.


“AKu tidak yakin kapan pulang, malam ini jangan tunggu aku.” Setelah


itu ia menarik gagang pintu dan menutupnya dengan rapat.


Aku terdiam membeku di depan pintu untuk waktu yang cukup lama.


Berharap pintu kamar hotel nomor 105 ini Kembali terbuka dan sosok Reinard


muncul dari sana. Namun nihil.


Entahlah, apa aku harus bahagia atau sedih malam ini. Bahagia karena


apa yang menjadi milikku masih utuh di sana, atau sedih karena suamiku tak

__ADS_1


tinggal denganku untuk malam pertama kali.


******


__ADS_2