Klandestin

Klandestin
Quality Time


__ADS_3

“Kenapa


sih mbak, akhir-akhir ini aku lihat kok enggak bersemangat gitu?” tanya Rini


siang ini ketika kita sedang makan siang di kantin.


Aku


tidak menyahut, pura-pura focus dengan nasi langgi di depanku. Sejak beberapa


hari lalu, aku jarang bertemu suamiku. Jikapun bertemu, paling ketika ia pulang


sebentar di pagi hari untuk mandi, berganti pakaian lalu kembali menuju rumah


sakit. Bahkan untuk acara sarapan pun kami sering melewatkannya.


Berkali-kali


ia meminta maaf padaku, dan memelukku dengan hangat ketika hendak melangkah


keluar rumah dan memintaku untuk berhati-hati dalam bekerja. Meskipun aku tahu


bahwa sorot mata lelah tampak menggantung di wajahnya, namun apa yang bisa aku


lakukan selain tetap mendukung apapun kegiatannya.


“Lagi


marahan ya sama mas Reinard?” tanya Rini sekali lagi.


“Enggak.”


Aku mengambil tissue lantas menyeka bibirku dengan benda tersebut. “Justru aku


jarang ketemu sama dia.”


“Lha


kenapa?”


“Sibuk


sama pekerjaannya Rin.”


“Emang


sibuk banget ya mbak?”


Aku


mengangguk setelah menenggak air putihku.


“Bangeeet


Rin. Apalagi dia harus on call setiap waktu. Dokter jantung di rumah sakit cuma


dua orang, dan yang satu baru residen.”


Rini


manggut-manggut. Wanita itu kemudian menyandarkan tubuhnya di badan kursi dan


seperti memikirkan sesuatu.


“Kayaknya


aku harus mikir-mikir deh kalau nanti dilamar sama seorang dokter.” Cicitnya


tiba-tiba.


Aku


mengerutkan alis.


“Kenapa


memang?”


Rini


menghela nafas, ia mencondongkan tubuhnya ke arahku dengan wajah serius.


“Kalau


ditinggalin terus kayak mbak Julia, kan aku nanti kesepian. Mana aku orangnya


paling enggak suka dicuekin.”


Aku


tertawa. “Ya yang namanya wanita itu enggak ada yang mau dicuekin Rin. Tapi


hidup setelah menikah itu bukan Cuma sekedar cinta, tapi isi perut juga


penting. Kalau termehek-mehek terus tentang cinta, terus enggak dapet duit juga


mau makan apa?”


Rini


tergelak. “Sejak kapan mbak Julia bisa berfikir seperti itu?”


Aku


memutar bola mata. “Entahlah. Sejak suamiku sering kerja lembur mungkin.”kataku


sambil mengaduk-aduk nasi di depanku.


Kami


sama-sama tergelak.


“Pada


ngomongin apa?” sebuah suara tiba-tiba menginterupsi. Aku dan Rini menoleh


bersamaan.


“Eh


mas Reinard!” Rini tersenyum lebar. “Umur panjang, diomongin tiba-tiba datang.”


Reinard


tersenyum, lalu menarik kursi di sampingku untuk duduk.


Aku


cukup terkejut melihatnya tiba-tiba datang. Karena pagi tadi ia sudah bergegas


berangkat hanya setelah mengambil baju ganti tanpa mandi. Aku pikir ia akan


sangat sibuk sampai nanti malam, tapi ternyata ia malah berada di kantorku sekarang.


“Enggak


sibuk?” tanyaku ketika pria itu sudah duduk di sampingku. Baunya wangi dan


dandanannya begitu rapi. Membuat rasa rindu yang selama ini aku tahan


bergejolak tiba-tiba.


“Aku


mengambil cuti mulai besok.” Sahutnya dengan tenang. “Untuk mengajakmu

__ADS_1


jalan-jalan.”


“Cieee…..jalan-jalan….”


Rini yang duduk diam di depan kami mulai mengolok.


“”Jalan-jalan?”


aku menaikkan alis. “Kemana? Aku sibuk. Pekerjaanku banyak.”


Reinard


seolah tak memperdulikan apa yang aku katakan. Kini pandangannya beralih pada


Rini.


“Rin,


kalau Julia besok enggak masuk, enggak apa-apa khan?” dari nadanya, Reinard


bukan meminta ijin namun memaksa Rini untuk mengatakan iya.


Rini


melirikku dengan raut tidak enak, namun akhirnya,“Iya….bisa….bisa…!” angguknya


mantap.


“Rin!”


mataku membeliak. “Emang kamu bisa nyelesai’in pekerjaan setumpuk itu.”


“Bisa


kok!” Rini mengangguk. “Tenang!”


Reinard


tertawa lebar. “Kalau gitu, aku bawa istri aku ya Rin. Nanti jangan coba-coba hubungi


dia, karena ponselnya bakalan aku mati’in!”


Aku


menaikkan alis. Sejak kapan Reinard begitu mengintimidasi seperti itu.


Bukannya


tidak terima, Rini justru tertawa lebar. “Beres! Mau cuti sebulan juga gak


apa-apa. Tapi aku enggak jaminan ini kantor masih terus eksis enggak solanya


bosnya tak tau rimbanya.”


Aku


mendelik kepada wanita itu.


“Beres


Rin! Lusa udah aku kembali’in kok.” Reinard meraih tanganku. “Ayok.”


“Kemana?”


meskipun begitu, aku tetap menurutinya bangkit dari kursi.


Reinrd


hanya tersenyum. Bukannya menjawabku, ia malam kembali membuka kalimat pada


Rini. “Pokoknya titip kantor ya Rin?”


“Beereees!”


Rini mengacungkan jempolnya.


Reinard menarik tanganku, dan aku mengikutinya mesti masih ragu-ragu. Bahkan


sebelum benar-benar berlalu, aku sempat mewanti-wanti Rini untuk bekerja dengan


baik selama aku pergi—yang aku sendiri tidak tahu kemana Reinard akan


membawaku.


****


“Mau


kemana sih?” tanyaku ketika mobil sudah mulai keluar dari Jakarta.


“Puncak.”


Jawab Reinard dari balik kemudi.


“Puncak?!”


mataku membeliak. “Ngapain?”


“Quality


time. Sama istriku.” Reinard tersenyum miring.


“Apa?!”


aku tidak pernah menyangka jika Reinard akan melakukan hal-hal seperti ini


lagi. Setelah dulu pernah mengajakku menginap di hotel dengan tiba-tiba.


“Rei…..pekerjaanku


banyak di kantor. Apa enggak bisa kita tunda sampai weekend?” aku mencoba untuk


memberikan pengertian padanya, mumpung mobil belum terlalu jauh meninggalkan


Jakarta.


“Enggak


bisa Jul. aku sudah kepalang rindu.” Sahutnya tanpa menoleh. Tangannya terulur,


meremas pahaku dengan lembut. Terlihat sekali jika ia sangat menginginkanku


sekarang.


“Aku


juga rindu Rei. Tapi—“


“Anggap


ini permintaan maaf aku ke kamu karena beberapa hari ini sering tidak di


rumah.” Ia mengelus pipiku. “Aku ingin mengajakku liburan.”


Aku


terdiam. Setelah aku pikir-pikir, perjalanan kali ini juga tidak terlalu buruk.


Aku bisa mengambil jeda untuk sedikit merefresh pikiranku dari setumpuk dokumen


di meja kerja. Toh, semua sudah di-handle oleh Rini. Dia cukup teliti dan aku


yakin ia juga mampu mengurusi kantor selama aku tidak ada. Siapa tahu juga,


lewat liburan ini akan membuat hubunganku dan Reinard yang sempat renggang

__ADS_1


beberapa hari terakhir menjadi lebih baik lagi. Apalagi, dia jelas-jelas


meninginginkanku sekarang.


“Kalau


gitu, kita mampir toserba dulu.” Kataku kemudian,


“Nagapain?”


toleh Reinard bingung.


“Membeli


pakaian dalam.” Sahutku tanpa malu.


Reinard


tertawa semangat. “Baiklaaaah. Siap tuan putriku!”


******


“Sampai.”


Reinard menarik tuas handremnya ketika mobil yang dikemudikannya berhenti di


depan sebuah villa megah di atas bukit. Tadi pria itu sempat mengatakan padaku


bahwa keluarganya punya sebuah villa dan inilah villa yang ia maksud.


Reinard


menggengam erat jemariku ketika kami sama-sama masuk ke dalam. Villa berlantai


dua itu begitu besar dan rapi. Ada beberapa foto keluarga yang terpajang rapi


di ruang tamunya.


“Pemandangannya


indah sekali!” seruku gembira ketika mataku tertuju pada lembah di bawah sana.


Hamparan kebun teh menghijau dan asri disertai hawa sejuk terkesan dingin yang


menggigit tulang.


“Kamu


suka?” tiba-tiba saja lengan pria itu sudah melingkar di pinggangku. “Kita bisa


tinggal di sini, bagaimana?”


Aku


mengulas senyum. “Kalau bisa, mungkin aku akan dengan senang hati tinggal di


sini.” Sahutku.


Reinard


menelusupkan kepalanya di pundakku. “Aku tidak bercanda Julia.” Suaranya


berdengung di telingaku. “Jika kamu mau, kita bisa tinggal di sini. Aku bisa


pensiun dari pekerjaanku di rumah sakit. Mendirikan sebuah klinik di sini, dan


kamu bisa meninggalkan pekerjaanmu. Hidup sebagai ibu rumah tangga dan merawat


anak-anak.”


Oh….andai


apa yang Reinard katakan itu benar. Betapa bahagianya aku bisa menjadi seorang


istri sekaligus ibu bagi anak-anakku. Tinggal di tempat yang damai ini, jauh


dari hiruk pikuk perkotaan. Menanam beberapa sayur dan bunga di kebun belakang


villa. Setiap pagi menyiapkan keperluan suamiku dan anak-anakku, mengurus


mereka dari pagi sampai menjelang tidur. Tapi, aku tidak mungkin meninggalkan


sesuatu yang aku rintis dari nol. Aku memang bisa meng-handle-nya dari rumah,


namun aku rasa semuanya tidak akan sebaik ketika aku tetap berada di kantor.


“Tidak


mungkin….”aku memutar tubuhku untuk berhadapan dengan suamiku. “Masih banyak


hal yang ingin aku lakukan dengan pekerjaanku Rei.”


Reinard


tersenyum samar. Meskipun tidak yakin, aku melihatnya begitu kecewa.


Aku


mengusap wajahnya. “Mengapa kamu begitu ingin pensiun di usiamu yang begitu


muda dengan mendirikan klinik sendiri?” tanyaku.


Reinard


menggeleng. “Aku hanya merasa begitu lelah.” Ungkapnya.


“Untuk


hal?”


“Untuk


semuanya.” Jawabnya lugas. “Aku ingin seratus persen menjadi suamimu.”


Aku


tertawa. “Heiii….bukankah kita sudah seratus persen?”


Reinard


tidak menjawab. Ia hanya mengelus-elus rambutku.


“Rei…aku


tidak keberatan dengan kesibukanmu. Yang terpenting kamu tidak lupa jalan


pulang ke rumahmu sendiri. Dan ingat, jika memang merasa lelah, katakan saja.


Aku akan menjadi tempatmu bertumpu di rumah. Mengerti?”


“Jul…”Desisnya


pelan.


“Karena


aku istrimu. Akulah tempat kamu kembali setelah apapun yang kamu lakukan di


luar sana.”


Pria


itu mengangguk. “terimakaih Jul, dan maafkan aku.” Ia lalu mengecup bibirku


dengan lembut.

__ADS_1


*****


__ADS_2