Klandestin

Klandestin
Misi Rahasia


__ADS_3

Aku memunguti


bajuku yang berserakan di lantai, sebelum akhirnya masuk kamar mandi. Meskipun


aku tidak begitu suka melihatnya hari ini, namun aku tetap menuruti ketika ia


minta jatahnya. Tugas istri yang utama adalah membahagiakan suami di atas


ranjang, dan aku berusaha untuk memberikan itu sebagai istri yang baik.


Setelah


membersihkan diri dari ujung rambut sampai ujung kaki, aku bergegas menuju


dapur dan menemui suamiku di sana yang sedang memasak omelet, nasi goreng, dan nugget


goreng. Jarang-jarang melihat suamiku di dapur, dan sekalinya lihat ia langsung


terlihat keren.


“Nggak kerja?”


tanyaku sambil duduk di kursi meja makan. Aku berusaha untuk mengaburkan nada


dingin dari suaraku.


Reinard menoleh


sekilas sebelum akhirnya kembali menekuni irisan mentimunnya.


“Enggak, hari


ini mau di rumah seharian sama istriku.” Sahutnya lalu membawa dua piring nasi


goreng beserta topping irisan mentimun tadi ke atas meja. Bau nasi goreng itu


menggoda seleraku, membuat cacing-cacing di perutku memberontak.


“Tuh kan laper?”


Reinard tersenyum ketika mendengar suara bising ususku.


Aku menunduk dan


mengambil sendok. Memakan nasi goreng itu diam-diam. Pertama memang karena


lapar, kedua karena aku sedang tidak ingin terlibat banyak pembicaraan dengan


pria di depanku ini.


Hari ini Reinard


benar-benar di rumah dan tidak pergi ke manapun. Bahkan telepon-telepon yang


biasanya berdering sama sekali tidak  terdengar. Aku kembali memutar memoriku, benarkah telepon-telepon yang


diterimanya hampir setiap waktu itu benar-benar telepon dari rumah sakit yang


menyuruhnya untuk bekerja? Seketika rasa curigaku muncul.


Seharian ini aku


sengaja tidak banyak interaksi dengan suamiku. Aku pura-pura sibuk bekerja dengan


menghadap laptop sampai mataku panas. Sebenarnya, aku sedang mencari waktu ia


lengah dan mengambil ponselnya. Katakan aku jahat dan menghianati prinsipku


sendiri, namun ini demi hubungan rumah tangga kami. Aku tidak suka jika ia


selalu saja menyembunyikan sesuatu dariku seperti ini.


Akhirnya setelah


menunggu hampir setengah hari, aku melihat suamiku beranjak dari sofa depan TV


menuju kamar mandi. Setelah memastikan kalau ia benar-benar mengunci pintu


kamar mandi, aku segera berjingkat lanyaknya pencuri di rumahku sendiri dan


diam-diam mengambil ponsel itu.


Untung saja,


suamiku tidak membuat kode pengaman di ponselnya tersebut, sehingga aku bisa


dengan mudah membuka kuncinya tanpa halangan. Pertama aku membuka aplikasi


pesan yang sering ia gunakan. Tidak ada yang aneh, hanya ada beberapa pesan


dari rumah sakit mengenai konsulan pasien. Ada juga serentetan pesan dari Wina.


Dasar cewek gatel, bisa-bisanya ngajakin suami orang makan siang bareng.


Tidak ingin


terlalu lama termehek-mehek dengan isi pesan Wina, aku segera membuka kontak


telepon. Tidak ada nama yang mencurigakan. Atau mungkin suamiku mengubah nama


seseorang menjadi nama laki-laki di kontak teleponnya. Ah, persetan! Aku tidak


peduli.


Saat hendak


membuka galeri, tiba-tiba aku mendengar suara pintu kamar mandi dibuka. Secepat


kilat, aku lempar ponsel itu ke atas sofa dan aku kembali ke meja kerjaku. Pura-pura

__ADS_1


sibuk dengan laptop lagi.


Aku berdecak


kecewa. Untuk misi siang ini, bisa kupastikan gagal!


*****


Hari berikutnya,


aku punya misi lain. Setelah mencari tahu bahwa hari ini jadwal suamiku adalah


memberi kuliah di kampus, aku segera memacu mobilku menuju rumah sakit. Aku sengaja


mengambil libur beberapa hari untuk tidak masuk kantor hanya untuk mencari


bukti bahwa ada sesuatu yang memang sedang disembunyikan suamiku.


“Mbak, enggak


masuk lagi?!” protes Rini dari balik telepon tadi pagi.


Aku melirik


kamar mandi, dimana suamiku sedang mandi pagi ini. “Iya….ada penting nih….” Bisikku.


“Mbak dimana sih


bisik-bisik?!” tanya Rini kemudian.


“Di rumah…..”


“Kok pakai


bisik-bisik?”


“Iya….Reinard


masih tidur.” Jawabku bohong. “Pokoknya untuk beberapa hari ini aku enggak bisa


ke kantor Rin. Kalau ada apa-apa, aku serahkan semua sama kamu. Mengerti?!”


“Iya….iya….mbak….”


Begitulah akhirnya,


setelah suamiku berangkat ke kampus pagi ini, aku segera memacu mobilku ke


rumah sakit. Entah apa yang akan aku dapat nanti, namun aku berharap itu tidak


benar-benar membuatku kecewa.


Lagi-lagi aku


bertemu dengan koas kecentilan bernama Wina itu. entah kenapa, di rumah sakit


rumah sakit. Seperti pagi ini, ia sudah terlihat asyik berbincang dengan salah


satu pasien di lobi.


Melihatku ia


melengos—pura-pura tidak kenal. Padahal aku adalah istri dari seorang pria


pemilik rumah sakit ini. Bukannya takut atau setidaknya bersikap sopan, gadis itu


malah pura-pura tidak peduli.


“Win!”


panggilku. Hari ini aku memang butuh info darinya.


“Iya ibuuuk…..”


ia tersenyum, namun aku tahu jika itu hanya dipaksakan.


“Hari ini saya


tidak mau berdebat apapun sama kamu.” Kataku ketus.


Gadis itu tidak


menjawab. Ia hanya menatapku penuh selidik. “Kayaknya butuh bantuan nih….”


Aku menarik


nafas pelan. Andai saja tidak butuh sesuatu darinya, aku tidak akan sudi


mengajak gadis ini bicara. Meskipun cantik, Wina adalah tipe gadis menyebalkan


menurut versiku.


“Iya, dan aku


benar-benar tidak ingin menjadi musuhmu. Untuk hari ini.” Kataku setengah


memohon.


Wina mengangguk,


ia tampak mengerti.


“Kamu tahu


jadwal kerja Reinard?”


Gadis itu


menatapku dengan glabella berkerut. “Perasaan tante deh istrinya. Kenapa malah tanya

__ADS_1


saya?” ia menunjuk dirinya sendiri.


Aku memutar bola


mata malas. “Kalau saya tahu, saya juga enggak bakalan tanya. Apalagi sama


kamu!”


Wina tampak


berfikir. Dari raut wajahnya, sepertinya ia punya sebuah ide yang kurang baik.


“Mau kasih apa


kalau saya bisa kasih jadwal dokter Reinard sama kamu?”


Benar kan apa yang


aku pikirkan? Selain punya bakat merebut suami orang, dia juga bakat dalam hal mencari


kesempatan di dalam kesempitan.


“Apa aja deh


yang kamu mau.”


“Spesifik dong!”


“Tiket liburan


gratis ke bali dua hari dua malam lengkap beserta penginapan.”


“Deal!”


Sial, kenapa aku


justru menawarkan sesuatu seperti itu sih. Apa aku tidak berlebihan menukar


selembar jadwal piket suamiku dengan tiker liburan ke Bali? Seharusnya aku tadi


menyebutkan tiket nonton bioskop, atau voucher spa gratis di salah satu salon


terkenal langgananku atau paling banter membelikan dia sepatu. Akh, aku terlalu


berlebihan dan gadis di depanku ini juga terlalu matre.


“Okee…sekarang,


kasih aku jadwalnya.”


“Bereees….ikut


saya sekarang tante!”


Aku mengikuti


gadis centil itu menuju tempat istirahatnya di lantai atas. Dari dalam sebuah


buku notes, ia mengeluarkan sebuah  kertas fotokopian berisi jadwal-jadwal dokter umum sampai dokter


spesialis.


“Jangan lupa


sama janji anda ya tante?!” Wina menarik kembali kertas yang hampir pindah ke


tanganku itu. sepertinya ia masih curiga jika aku tidak serius dengan omonganku


tadi.


“Iya….aku bukan


tipe orang yang ingkar janji!” sahutku. Lagipula aku bukan wanita yang suka


main-main dengan ucapanku.


“Oke. Saya tunggu


kabarnya ya tante!” ia memberikan kertas itu dan aku menerimanya dengan senyum


lebar. “Awas kalau bohong!”


“Iya….bawel deh!”


“Jadi sebenernya


ada masalah apa sih sampai minta jadwal dokter Reinard sama aku?” tanya Wina,


matanya melirik tanganku yang memasukkan jadwal itu ke dalam tas.


“Urusan


suami-istri.” Sahutku lugas.


Gadis itu


mencebik. “Kalau aku kasih tau rahasia mau enggak?”


“Apa?” seketika


aku antusias.


“Dokter Reinard


sering kok ambil cuti tiba-tiba, padahal ia punya jadwal masuk.”


“Apa?!”


******

__ADS_1


__ADS_2