
Aku memunguti
bajuku yang berserakan di lantai, sebelum akhirnya masuk kamar mandi. Meskipun
aku tidak begitu suka melihatnya hari ini, namun aku tetap menuruti ketika ia
minta jatahnya. Tugas istri yang utama adalah membahagiakan suami di atas
ranjang, dan aku berusaha untuk memberikan itu sebagai istri yang baik.
Setelah
membersihkan diri dari ujung rambut sampai ujung kaki, aku bergegas menuju
dapur dan menemui suamiku di sana yang sedang memasak omelet, nasi goreng, dan nugget
goreng. Jarang-jarang melihat suamiku di dapur, dan sekalinya lihat ia langsung
terlihat keren.
“Nggak kerja?”
tanyaku sambil duduk di kursi meja makan. Aku berusaha untuk mengaburkan nada
dingin dari suaraku.
Reinard menoleh
sekilas sebelum akhirnya kembali menekuni irisan mentimunnya.
“Enggak, hari
ini mau di rumah seharian sama istriku.” Sahutnya lalu membawa dua piring nasi
goreng beserta topping irisan mentimun tadi ke atas meja. Bau nasi goreng itu
menggoda seleraku, membuat cacing-cacing di perutku memberontak.
“Tuh kan laper?”
Reinard tersenyum ketika mendengar suara bising ususku.
Aku menunduk dan
mengambil sendok. Memakan nasi goreng itu diam-diam. Pertama memang karena
lapar, kedua karena aku sedang tidak ingin terlibat banyak pembicaraan dengan
pria di depanku ini.
Hari ini Reinard
benar-benar di rumah dan tidak pergi ke manapun. Bahkan telepon-telepon yang
biasanya berdering sama sekali tidak terdengar. Aku kembali memutar memoriku, benarkah telepon-telepon yang
diterimanya hampir setiap waktu itu benar-benar telepon dari rumah sakit yang
menyuruhnya untuk bekerja? Seketika rasa curigaku muncul.
Seharian ini aku
sengaja tidak banyak interaksi dengan suamiku. Aku pura-pura sibuk bekerja dengan
menghadap laptop sampai mataku panas. Sebenarnya, aku sedang mencari waktu ia
lengah dan mengambil ponselnya. Katakan aku jahat dan menghianati prinsipku
sendiri, namun ini demi hubungan rumah tangga kami. Aku tidak suka jika ia
selalu saja menyembunyikan sesuatu dariku seperti ini.
Akhirnya setelah
menunggu hampir setengah hari, aku melihat suamiku beranjak dari sofa depan TV
menuju kamar mandi. Setelah memastikan kalau ia benar-benar mengunci pintu
kamar mandi, aku segera berjingkat lanyaknya pencuri di rumahku sendiri dan
diam-diam mengambil ponsel itu.
Untung saja,
suamiku tidak membuat kode pengaman di ponselnya tersebut, sehingga aku bisa
dengan mudah membuka kuncinya tanpa halangan. Pertama aku membuka aplikasi
pesan yang sering ia gunakan. Tidak ada yang aneh, hanya ada beberapa pesan
dari rumah sakit mengenai konsulan pasien. Ada juga serentetan pesan dari Wina.
Dasar cewek gatel, bisa-bisanya ngajakin suami orang makan siang bareng.
Tidak ingin
terlalu lama termehek-mehek dengan isi pesan Wina, aku segera membuka kontak
telepon. Tidak ada nama yang mencurigakan. Atau mungkin suamiku mengubah nama
seseorang menjadi nama laki-laki di kontak teleponnya. Ah, persetan! Aku tidak
peduli.
Saat hendak
membuka galeri, tiba-tiba aku mendengar suara pintu kamar mandi dibuka. Secepat
kilat, aku lempar ponsel itu ke atas sofa dan aku kembali ke meja kerjaku. Pura-pura
__ADS_1
sibuk dengan laptop lagi.
Aku berdecak
kecewa. Untuk misi siang ini, bisa kupastikan gagal!
*****
Hari berikutnya,
aku punya misi lain. Setelah mencari tahu bahwa hari ini jadwal suamiku adalah
memberi kuliah di kampus, aku segera memacu mobilku menuju rumah sakit. Aku sengaja
mengambil libur beberapa hari untuk tidak masuk kantor hanya untuk mencari
bukti bahwa ada sesuatu yang memang sedang disembunyikan suamiku.
“Mbak, enggak
masuk lagi?!” protes Rini dari balik telepon tadi pagi.
Aku melirik
kamar mandi, dimana suamiku sedang mandi pagi ini. “Iya….ada penting nih….” Bisikku.
“Mbak dimana sih
bisik-bisik?!” tanya Rini kemudian.
“Di rumah…..”
“Kok pakai
bisik-bisik?”
“Iya….Reinard
masih tidur.” Jawabku bohong. “Pokoknya untuk beberapa hari ini aku enggak bisa
ke kantor Rin. Kalau ada apa-apa, aku serahkan semua sama kamu. Mengerti?!”
“Iya….iya….mbak….”
Begitulah akhirnya,
setelah suamiku berangkat ke kampus pagi ini, aku segera memacu mobilku ke
rumah sakit. Entah apa yang akan aku dapat nanti, namun aku berharap itu tidak
benar-benar membuatku kecewa.
Lagi-lagi aku
bertemu dengan koas kecentilan bernama Wina itu. entah kenapa, di rumah sakit
rumah sakit. Seperti pagi ini, ia sudah terlihat asyik berbincang dengan salah
satu pasien di lobi.
Melihatku ia
melengos—pura-pura tidak kenal. Padahal aku adalah istri dari seorang pria
pemilik rumah sakit ini. Bukannya takut atau setidaknya bersikap sopan, gadis itu
malah pura-pura tidak peduli.
“Win!”
panggilku. Hari ini aku memang butuh info darinya.
“Iya ibuuuk…..”
ia tersenyum, namun aku tahu jika itu hanya dipaksakan.
“Hari ini saya
tidak mau berdebat apapun sama kamu.” Kataku ketus.
Gadis itu tidak
menjawab. Ia hanya menatapku penuh selidik. “Kayaknya butuh bantuan nih….”
Aku menarik
nafas pelan. Andai saja tidak butuh sesuatu darinya, aku tidak akan sudi
mengajak gadis ini bicara. Meskipun cantik, Wina adalah tipe gadis menyebalkan
menurut versiku.
“Iya, dan aku
benar-benar tidak ingin menjadi musuhmu. Untuk hari ini.” Kataku setengah
memohon.
Wina mengangguk,
ia tampak mengerti.
“Kamu tahu
jadwal kerja Reinard?”
Gadis itu
menatapku dengan glabella berkerut. “Perasaan tante deh istrinya. Kenapa malah tanya
__ADS_1
saya?” ia menunjuk dirinya sendiri.
Aku memutar bola
mata malas. “Kalau saya tahu, saya juga enggak bakalan tanya. Apalagi sama
kamu!”
Wina tampak
berfikir. Dari raut wajahnya, sepertinya ia punya sebuah ide yang kurang baik.
“Mau kasih apa
kalau saya bisa kasih jadwal dokter Reinard sama kamu?”
Benar kan apa yang
aku pikirkan? Selain punya bakat merebut suami orang, dia juga bakat dalam hal mencari
kesempatan di dalam kesempitan.
“Apa aja deh
yang kamu mau.”
“Spesifik dong!”
“Tiket liburan
gratis ke bali dua hari dua malam lengkap beserta penginapan.”
“Deal!”
Sial, kenapa aku
justru menawarkan sesuatu seperti itu sih. Apa aku tidak berlebihan menukar
selembar jadwal piket suamiku dengan tiker liburan ke Bali? Seharusnya aku tadi
menyebutkan tiket nonton bioskop, atau voucher spa gratis di salah satu salon
terkenal langgananku atau paling banter membelikan dia sepatu. Akh, aku terlalu
berlebihan dan gadis di depanku ini juga terlalu matre.
“Okee…sekarang,
kasih aku jadwalnya.”
“Bereees….ikut
saya sekarang tante!”
Aku mengikuti
gadis centil itu menuju tempat istirahatnya di lantai atas. Dari dalam sebuah
buku notes, ia mengeluarkan sebuah kertas fotokopian berisi jadwal-jadwal dokter umum sampai dokter
spesialis.
“Jangan lupa
sama janji anda ya tante?!” Wina menarik kembali kertas yang hampir pindah ke
tanganku itu. sepertinya ia masih curiga jika aku tidak serius dengan omonganku
tadi.
“Iya….aku bukan
tipe orang yang ingkar janji!” sahutku. Lagipula aku bukan wanita yang suka
main-main dengan ucapanku.
“Oke. Saya tunggu
kabarnya ya tante!” ia memberikan kertas itu dan aku menerimanya dengan senyum
lebar. “Awas kalau bohong!”
“Iya….bawel deh!”
“Jadi sebenernya
ada masalah apa sih sampai minta jadwal dokter Reinard sama aku?” tanya Wina,
matanya melirik tanganku yang memasukkan jadwal itu ke dalam tas.
“Urusan
suami-istri.” Sahutku lugas.
Gadis itu
mencebik. “Kalau aku kasih tau rahasia mau enggak?”
“Apa?” seketika
aku antusias.
“Dokter Reinard
sering kok ambil cuti tiba-tiba, padahal ia punya jadwal masuk.”
“Apa?!”
******
__ADS_1