
“Jadi, lo
ngundang kita berdua kemari cuma mau kasih tau kalau lo sama suami lo udah
ngelewatin malam pertama di Paris dengan dramatis gitu?” Reza menatap nanar
padaku, di sampingnya Eli juga menatapku dengan melipat kedua tangannya di
dada.
Aku tak mengangkat
wajahku dari lembaran dokumen yang ada dihadapanku, namun aku berhasil
mengedikkan pundakku.
“Yep!”
“Sialan lo Jul!”
Reza menghentakkan kakinya kesal. “lo tau enggak apa yang gue lakuin tadi?”
“Enggak.”
Jawabku dan Eli serentak.
“Gue lagi sibuk nyusun
acara buat party gitu. Pas lo telepon dan nyuruh gue ke kantor lo karena ada
hal teramat sangat penting, gue
tinggalin semua itu. Gue pikir, sahabat baik gue kena masalah, KDRT atau
semacamnya. Enggak taunya…..”Reza mendengus. “Sialan deh pokoknya.”
Aku tergelak
sambil menutup stopmapku.
“Makanya lo tanya
dulu dong seharusnya, gue ada masalah penting apa.” aku ingat bagaimana setengah
jam lalu aku menelpon Reza dengan menyuruhnya datang cepat karena ada hal
mendesak.
“Rez, udah
berapa lama sih lo sahabatan sama Julia?” Eli menghadap kea rah pria berkaus
polo biru itu.
“Ya lamalah!” sahut
Reza sewot, sepertinya dia memang benar-benar kesal kepadaku.
“Kalau udah
lama, lo seharusnya tau kan kalau Julia itu adalah manusia paling berlebihan
sedunia?”
Reza tidak
menjawab, ia hanya melengos dengan kemayu.
“Tapi, by the
way…..gue ucapin selamat deh Jul. Akhirnya lo enggak galau lagi kan, perihal
enggak dijamah sama suami lo?”
Aku tergelak
dengan bahasa Reza yang terkesan melebih-lebihkan. Aku bukan wanita yang
benar-benar tidak pernah dijamah laki-laki, hanya saja untuk masalah keperawanan
aku bisa menjaganya sampai sekarang, ralat! Sampai akhirnya Reinard memintanya
padaku malam itu itu Paris.
“Jadi, apa
rencana lo sekarang Jul? Punya anak?” Tanya Eli kemudian ketika tawaku mereda.
“Anak?” aku
mengerutkan kening. Memang selama ini papa terus memintaku memberinya cucu.
Namun bukan itu keinginan utamaku. Alih-alih punya anak, aku justru ingin terus
bersama dengan suamiku seperti ini. Mirip orang pacaran, namun dengan status
suami istri. Hubungan seperti ini sangat menyenangkan bagiku. Setiap pagi aku
akan melihat wajah suamiku terlelap di sampingku, kami berpamitan ketika
berangkat kerja, saling mengirim pesan rindu dan bertemu kembali dengan debaran
jantung yang tak terkendali. Dan aku rasa semua ini sudah lebih dari cukup.
“Jangan bilang
lo enggak mau punya anak!” imbuh Reza. “Ya ampun Jul. setiap orang nikah ya
pengennya punya keturunan loh.” Pria kemayu itu mengambil sebuah biscuit dari
toples depannya lalu memasukannya ke dalam mulut.
“Ih….” cengirku.
“Siapa yang bilang enggak mau punya anak. Gue mau dong, tapi nanti-nanti aja. Jangan
sekarang.”
__ADS_1
“Kenapa enggak
mau sekarang?”
“Ya gue belum
siap lah.”
“Idih…..lo tuh
udah tua. Sebentar lagi juga menopause, tau rasa lo!” cecar Reza.
“Enak aja. Usia
gue masih kepala tiga. Lo pikir gue nenek-nenek usia delapan puluh tahun?”
Sahutku kesal. “Daripada nguber-uber gue segera punya anak. Mending lo ikut
acara reality show biar lo bisa jadi cowok tulen terus bisa ngehamili anak
orang!”
“Enggak jadi
cowok tulen aja, gue juga bisa kok bikin hamil anak orang!”
“Hah, mana
buktinya?”
“Pengen bukti?”
Reza mengangkat alis. “Ayok El!” ia menarik-narik tangan Eli.
“Lah kok gue?” Eli
menatap Reza bingung.
“Ya disini kan
yang single cuma lo.”
“Sembarangan.
Gue mending balik sama mantan suami gue daripada harus tidur sama lo.” Eli
berjenggit.
Aku dan Reza tertawa
mendengar kalimat Eli.
“Jadi…… masalah
hidup lo udah teratasi kan Jul?” Tanya Reza kemudian setelah aku dan Eli
terdiam.
“Sudah dong.”
“Kalau gitu gue
Aku dan Eli
memandang pria itu tanpa berkedip.
“Kemana?” Tanya Eli.
Reza memutar
bola mata malas. “Ya kerja laaah….lo pikir gue mau nyantai-nyantai disini terus
begini sambil dengerin Julia cerita? Heyy….gue
punya apartement yang musti gue angsur setiap bulan!” Ia melipat tanganya di
depan dada. “Ayo, lo ikut enggak pulang sekalian El?”
Eli menggeleng.
“Enggak ah, hari ini gue free. Lo jalana duluan aja. Gue masih mau sama Julia.”
Tolak Eli.
Reza mengangkat
bahu. “Yaudah, gue pergi dulu ya mboook?” ia mengambil kunci lantas melenggang
pergi meninggalkan ruanganku.
Kini hanya
bersisa aku dan Eli saja. Aku tahu, dan aku cukup hafal sikap Eli jika ia masih
urung meninggalkanku meskipun Reza sudah beranjak pergi, itu menandakan jika ia
ingin menceritakan sesuatu padaku. Hanya kami berdua, bahkan Reza tidak perlu
tahu akan hal ini.
“Jadi, lo mau
cerita apa?” aku meletakkan pena yang kupegang, lantas menatap Eli dengan
intens. Bersiap dengan kalimat mengejutkan yang bakalan wanita itu katakan.
Eli tertawa
hambar. “apa’an sih lo?” ia masih berusaha mengelak.
“Tentang Doni,
atau pria yang lain?”
Eli mendengkus
pelan. Ia merapikan duduknya lantas menggigit bibir bawahnya sebelum memulai
__ADS_1
kalimat.
“Gue paling
enggak bisa deh menyangkal apapun dari lo.” Ucapnya kemudian.
“Jadi ini
tentang Doni?”
Eli mengangguk.
Aku
manggut-manggut. Seperti biasanya, Eli memang jarang bercerita tentang Doni
ketika ada Reza. Karena sahabat kami satu itu begitu membenci Doni layaknya
musuh abadi. Ralat! Bukan membenci sih, lebih tepatnya ia merasa tidak terima
karena Doni pernah menyakiti wanita sebaik Eli. So, tiap kali ada nama Doni
disebut dalam obrolan kami, pria gemulai itu pasti akan mengejek Eli habi-habisan.
“Jadi ada apa
dengan dia El?”
Eli terdiam
sesaat.
“Kami
berciuman.” Gumamnya pelan.
Aku cukup terkejut,
namun bisa mengubah mimik wajahku menjadi biasanya. Aku tidak heran jika mereka
melakukan hal itu karena sinar mata mereka masih sangat mengisyaratkan perasaan
yang sama satu sama lain.
“Terus apa yang
salah dengan ciuman itu El? Bukankah wajar antara laki-laki dan perempuan?”
“Ya.” Sahut Eli
cepat.”Tapi menjadi tidak wajar ketika kami yang melakukannya. Sepasang mantan
suami-istri.” Decaknya kecewa. Namun entah kecewa karena apa.
“Karena ciuman
itu gue enggak bisa tidur semalaman Jul.” Eli menatapku. “Gue kembali
merasakan……akh….gue benci menjelaskannya sama lo Jul.”
“Perasaan yang lo
kubur selama ini kembali?”
Eli mengangguk
ragu-ragu.
“Jadi apa yang
salah El? Bukankah berarti itu bagus? Lo enggak perlu beradapatasi dengan orang
lain, dan tentu saja sudah mengenal Doni lebih baik dari siapapun.”
“Iya gue tahu.
Tapi semua tidak sesimpel itu Jul.”
Aku termangu,
menunggu Eli melanjutkan kalimatnya.
“Keluarga kami
saling membenci. Apa lo lupa jika mama Doni seperti sedang melihat *******
ketika melihat gue Jul? Begitu juga dengan orangtua gue?” Eli memijit
keningnya. “Bagaimanapun juga, gue enggak bisa kembali bersama Doni. Apapun
yang terjadi.”
“Lalu apa yang bakal
lo lakukan?” tanyaku hati-hati. Aku akui jika cinta saja memang tidak cukup
ketika ada masa lalu yang udah melibatkan keluarga seperti yang tengah dialami
Eli. Meskipun cinta memang bia mengalahkan segalanya, namun aku pikir logika
juga tetap harus jalan.
“Gue mau kabur
dari sini untuk ementara waktu Jul.”
“Kabur?” aku
membuka lebar mataku.
“Lusa mungkin gue
berangkat ke Inggris.”
Dan lidahku kelu
seketika.
__ADS_1
*****