Klandestin

Klandestin
Aku dan Sahabatku


__ADS_3

“Jadi, lo


ngundang kita berdua kemari cuma mau kasih tau kalau lo sama suami lo udah


ngelewatin malam pertama di Paris dengan dramatis gitu?” Reza menatap nanar


padaku, di sampingnya Eli juga menatapku dengan melipat kedua tangannya di


dada.


Aku tak mengangkat


wajahku dari lembaran dokumen yang ada dihadapanku, namun aku berhasil


mengedikkan pundakku.


“Yep!”


“Sialan lo Jul!”


Reza menghentakkan kakinya kesal. “lo tau enggak apa yang gue lakuin tadi?”


“Enggak.”


Jawabku dan Eli serentak.


“Gue lagi sibuk nyusun


acara buat party gitu. Pas lo telepon dan nyuruh gue ke kantor lo karena ada


hal  teramat sangat penting, gue


tinggalin semua itu. Gue pikir, sahabat baik gue kena masalah, KDRT atau


semacamnya. Enggak taunya…..”Reza mendengus. “Sialan deh pokoknya.”


Aku tergelak


sambil menutup stopmapku.


“Makanya lo tanya


dulu dong seharusnya, gue ada masalah penting apa.” aku ingat bagaimana setengah


jam lalu aku menelpon Reza dengan menyuruhnya datang cepat karena ada hal


mendesak.


“Rez, udah


berapa lama sih lo sahabatan sama Julia?” Eli menghadap kea rah pria berkaus


polo biru itu.


“Ya lamalah!” sahut


Reza sewot, sepertinya dia memang benar-benar kesal kepadaku.


“Kalau udah


lama, lo seharusnya tau kan kalau Julia itu adalah manusia paling berlebihan


sedunia?”


Reza tidak


menjawab, ia hanya melengos dengan kemayu.


“Tapi, by the


way…..gue ucapin selamat deh Jul. Akhirnya lo enggak galau lagi kan, perihal


enggak dijamah sama suami lo?”


Aku tergelak


dengan bahasa Reza yang terkesan melebih-lebihkan. Aku bukan wanita yang


benar-benar tidak pernah dijamah laki-laki, hanya saja untuk masalah keperawanan


aku bisa menjaganya sampai sekarang, ralat! Sampai akhirnya Reinard memintanya


padaku malam itu itu Paris.


“Jadi, apa


rencana lo sekarang Jul? Punya anak?” Tanya Eli kemudian ketika tawaku mereda.


“Anak?” aku


mengerutkan kening. Memang selama ini papa terus memintaku memberinya cucu.


Namun bukan itu keinginan utamaku. Alih-alih punya anak, aku justru ingin terus


bersama dengan suamiku seperti ini. Mirip orang pacaran, namun dengan status


suami istri. Hubungan seperti ini sangat menyenangkan bagiku. Setiap pagi aku


akan melihat wajah suamiku terlelap di sampingku, kami berpamitan ketika


berangkat kerja, saling mengirim pesan rindu dan bertemu kembali dengan debaran


jantung yang tak terkendali. Dan aku rasa semua ini sudah lebih dari cukup.


“Jangan bilang


lo enggak mau punya anak!” imbuh Reza. “Ya ampun Jul. setiap orang nikah ya


pengennya punya keturunan loh.” Pria kemayu itu mengambil sebuah biscuit dari


toples depannya lalu memasukannya ke dalam mulut.


“Ih….” cengirku.


“Siapa yang bilang enggak mau punya anak. Gue mau dong, tapi nanti-nanti aja. Jangan


sekarang.”

__ADS_1


“Kenapa enggak


mau sekarang?”


“Ya gue belum


siap lah.”


“Idih…..lo tuh


udah tua. Sebentar lagi juga menopause, tau rasa lo!” cecar Reza.


“Enak aja. Usia


gue masih kepala tiga. Lo pikir gue nenek-nenek usia delapan puluh tahun?”


Sahutku kesal. “Daripada nguber-uber gue segera punya anak. Mending lo ikut


acara reality show biar lo bisa jadi cowok tulen terus bisa ngehamili anak


orang!”


“Enggak jadi


cowok tulen aja, gue juga bisa kok bikin hamil anak orang!”


“Hah, mana


buktinya?”


“Pengen bukti?”


Reza mengangkat alis. “Ayok El!” ia menarik-narik tangan Eli.


“Lah kok gue?” Eli


menatap Reza bingung.


“Ya disini kan


yang single cuma lo.”


“Sembarangan.


Gue mending balik sama mantan suami gue daripada harus tidur sama lo.” Eli


berjenggit.


Aku dan Reza tertawa


mendengar kalimat Eli.


“Jadi…… masalah


hidup lo udah teratasi kan Jul?” Tanya Reza kemudian setelah aku dan Eli


terdiam.


“Sudah dong.”


“Kalau gitu gue


Aku dan Eli


memandang pria itu tanpa berkedip.


“Kemana?” Tanya Eli.


Reza memutar


bola mata malas. “Ya kerja laaah….lo pikir gue mau nyantai-nyantai disini terus


begini  sambil dengerin Julia cerita? Heyy….gue


punya apartement yang musti gue angsur setiap bulan!” Ia melipat tanganya di


depan dada. “Ayo, lo ikut enggak pulang sekalian El?”


Eli menggeleng.


“Enggak ah, hari ini gue free. Lo jalana duluan aja. Gue masih mau sama Julia.”


Tolak Eli.


Reza mengangkat


bahu. “Yaudah, gue pergi dulu ya mboook?” ia mengambil kunci lantas melenggang


pergi meninggalkan ruanganku.


Kini hanya


bersisa aku dan Eli saja. Aku tahu, dan aku cukup hafal sikap Eli jika ia masih


urung meninggalkanku meskipun Reza sudah beranjak pergi, itu menandakan jika ia


ingin menceritakan sesuatu padaku. Hanya kami berdua, bahkan Reza tidak perlu


tahu akan hal ini.


“Jadi, lo mau


cerita apa?” aku meletakkan pena yang kupegang, lantas menatap Eli dengan


intens. Bersiap dengan kalimat mengejutkan yang bakalan wanita itu katakan.


Eli tertawa


hambar. “apa’an sih lo?” ia masih berusaha mengelak.


“Tentang Doni,


atau pria yang lain?”


Eli mendengkus


pelan. Ia merapikan duduknya lantas menggigit bibir bawahnya sebelum memulai

__ADS_1


kalimat.


“Gue paling


enggak bisa deh menyangkal apapun dari lo.” Ucapnya kemudian.


“Jadi ini


tentang Doni?”


Eli mengangguk.


Aku


manggut-manggut. Seperti biasanya, Eli memang jarang bercerita tentang Doni


ketika ada Reza. Karena sahabat kami satu itu begitu membenci Doni layaknya


musuh abadi. Ralat! Bukan membenci sih, lebih tepatnya ia merasa tidak terima


karena Doni pernah menyakiti wanita sebaik Eli. So, tiap kali ada nama Doni


disebut dalam obrolan kami, pria gemulai itu pasti akan mengejek Eli habi-habisan.


“Jadi ada apa


dengan dia El?”


Eli terdiam


sesaat.


“Kami


berciuman.” Gumamnya pelan.


Aku cukup terkejut,


namun bisa mengubah mimik wajahku menjadi biasanya. Aku tidak heran jika mereka


melakukan hal itu karena sinar mata mereka masih sangat mengisyaratkan perasaan


yang sama satu sama lain.


“Terus apa yang


salah dengan ciuman itu El? Bukankah wajar antara laki-laki dan perempuan?”


“Ya.” Sahut Eli


cepat.”Tapi menjadi tidak wajar ketika kami yang melakukannya. Sepasang mantan


suami-istri.” Decaknya kecewa. Namun entah kecewa karena apa.


“Karena ciuman


itu gue enggak bisa tidur semalaman Jul.” Eli menatapku. “Gue kembali


merasakan……akh….gue benci menjelaskannya sama lo Jul.”


“Perasaan yang lo


kubur  selama ini kembali?”


Eli mengangguk


ragu-ragu.


“Jadi apa yang


salah El? Bukankah berarti itu bagus? Lo enggak perlu beradapatasi dengan orang


lain, dan tentu saja sudah mengenal Doni lebih baik dari siapapun.”


“Iya gue tahu.


Tapi semua tidak sesimpel itu Jul.”


Aku termangu,


menunggu Eli melanjutkan kalimatnya.


“Keluarga kami


saling membenci. Apa lo lupa jika mama Doni seperti sedang melihat *******


ketika melihat gue Jul? Begitu juga dengan orangtua gue?” Eli memijit


keningnya. “Bagaimanapun juga, gue enggak bisa kembali bersama Doni. Apapun


yang terjadi.”


“Lalu apa yang bakal


lo lakukan?” tanyaku hati-hati. Aku akui jika cinta saja memang tidak cukup


ketika ada masa lalu yang udah melibatkan keluarga seperti yang tengah dialami


Eli. Meskipun cinta memang bia mengalahkan segalanya, namun aku pikir logika


juga tetap harus jalan.


“Gue mau kabur


dari sini untuk ementara waktu Jul.”


“Kabur?” aku


membuka lebar mataku.


“Lusa mungkin gue


berangkat ke Inggris.”


Dan lidahku kelu


seketika.

__ADS_1


*****


__ADS_2