Klandestin

Klandestin
Malam Di Singapore


__ADS_3

“Reinard?!” aku memekik tertahan.


Masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat di depanku saat ini.


“Kamu beneran Reinard kan?” aku


menjelajah tubuhnya dari pundak hingga turun ke pinggang. “Kamu bukan genderuwo


yang menyamar ‘kan?!”


“Hust!” Reinard mencekal kedua tanganku.


“Suaminya jauh-jauh datang, udah capek! Malah difitnah jadi genderuwo. Balik


lagi nih….” Ia hendak berbalik, wajahnya terlihat kesal padaku.


“Tunggu!” aku menariknya. “Kamu


beneran Reinard bukan? Secara suamiku itu lagi kerja di rumah sakit.”


Reinard mendengus pasrah.


“Gimana bikin istriku ini percaya


kalau aku bener suaminya?”


“Emm…..” aku pura-pura berfikir.


Sedikit jail sama suami sendiri boleh lah ya….


“Kalau kamu beneran suami aku,


coba sebutin berapa ukuran BH-ku?!” aku menaikkan alisku dengan sedikit menggoda.


Reinard melotot padaku, lalu


mencondongkan tubuhnya mendekat ke arahku dan berkata dengan setengah berbisik.


“38B!”


Aku tertawa ngakak.


“Benar! Aku percaya seratus


persen.” Lantas, ku tarik suamiku masuk ke dalam kamar, tak lupa juga kopernya.


“Kamu katanya sibuk? Terus kenapa


bisa sampek sini? Kapan pesen tiketnya? Lagi pengen kasih suprize aku ya….?”


Cecarku ketika Reinard kini duduk di sofa sambil melepas sepatunya. Sedangkan


aku berdiri di depannya, menunggu suamiku menjawab semua pertanyaanku sekaligus.


“Jul….” Reinard mendongak


menatapku. “Bisa enggak tanyanya nanti aja? Ini aku baru sampai lho, haus….”


Aku nyengir. Segera berbalik dan


mengambil sebotol air mineral di atas nakas.


“Sorry….sorry….soalnya aku


bener-bener terkejut.” Aku mendudukkan tubuhku di sampingnya. “Kamu capek ya?”


Reinard menghela nafas, lalu


merangkulku.


‘Banget!”


“Terus kenapa tiba-tiba sampai


sini?”


“Awalnya emang juga gak akan


nyusulin kamu sih…” ia menyandarkan tubuhnya di sofa. Raut lelah jelas Nampak


dari air mukanya. Aku kasihan juga melihatnya kelelahan seperti ini.


“Terus kok bisa sampai sini?”


“Tadi dari universitas ngabarin


kalau acara perkuliahan diundur minggu depan sayang…yaudah, daripada gabut di


rumah, mending aku nyusulin kamu.”


Aku melongo. Sejak kapan suamiku punya


bahasa ‘gabut’ dalam hidupnya. Bukannya selama ini jikapun sendirian, ia akan


memilih untuk membaca buku dan sejenisnya.


“Sayang…” aku mendekat ke arahnya


dan tiduran di dadanya. “Sejak kapan sih ada kata gabut dalam kamus hidup


kamu?”


Reinard menunduk menatapku.


“Sejak nikah sama kamu.” Sahutnya dan mencubit pipiku gemas. “Kok aku ngerasa


kangen banget sih sama kamu?” ia lalu mendorong tubuhku sampai terlentang di


atas sofa.


“Eh…mau ngapain?!” tanyaku ketika


ia sudah berada di atasku.


“Ya kangen-kangenan lah…..”


Reinard mencium keningku, lalu turun ke kedua pipiku, hidung dan berakhir di

__ADS_1


bibirku. Aku menjerit nyaring ketika bibirnya tiba-tiba menggigit daguku dengan


gemas.


“Ya ampuuuun!” sebuah suara


membuatku dan Reinard langsung menegakkan tubuh. Di depan pintu, Rosa tampak


terkejut dengan menutupi mulutnya dengan telapak tangan.


“Mbak Julia sama Mas Reinard


ngapain?!”


Aku nyengir menahan malu,


sedangkan Reinard tampak mengusap-usap tengkuknya dengan canggung. Aku tahu


yang dirasakannya, bagaimana ia bisa merasa baik-baik saja ketika Rosa


memergokinya sedang bercinta denganku.


“Kamu kok bisa masuk?” aku


merapikan dudukku, begitu juga dengan Reinard,. Sesaat lalu aku lupa jika di


kamar ini juga ada Rosa yang sewaktu-waktu bisa datang memergoki kami.


“Ya kan aku punya kuncinya.” Rosa


memperlihatkan kartu hotel padaku, lalu duduk di seberangku dan Reinard.


Tatapannya tajam, penuh keingintahuan,


“Mas Reinard kok tiba-tiba


disini?” Rosa meletakkan tasnya di atas meja. “Mas nyusul gitu ceritanya?”


Reinard mengangguk. “Sorry ya,


mas malah bikin kamu terkejut.”


Aku memutar bola mata malas.


Untuk apa juga Reinard meminta maaf pada Rosa. Jikapun kami melakukan sesuatu,


itu bukan hal yang salah. Kami kan suami istri, sudah sah.


“Kenapa minta maaf sih, kita kan enggak


ngapa-ngapain sayang….”


Rosa melirikku. “Ya bener dong


minta maaf. Tadi itu edukasi yang enggak baik sama anak di bawah umur.”


“Dibawah umur?” Decakku.


“Jelas-jelas umur kamu udah lebih dari tujuhbelas tahun.”


pengen gimana?”


“Wooo….awas aja kalau—“


“Udaaah….” Lagi-lagi Reinard


selalu menjadi pelerai diantara kami. “Kalian itu kalau barengan apa nggak bisa


sih akur dikit?”


Aku membuang pandang ke tempat


lain, begitu juga dengan Rosa.


“Karena mas udah ada di sini,


nanti malem kamu tidur sendirian ya Ros. Nanti mas Rei sama mbak Julia pesen


kamar di samping.” Terang Reinard kemudian.


“Beneran mas?” Rosa melompat dari


tempat tidurnya.


“Eh…eh….kenapa wajahnya sebahagia


itu?” tudingku. “Jangan pernah berfikir bakalan masukin cowok kamu ke dalam


kamar ya?”


Rosa mencebik kesal. “Siapa juga


yang mikir begitu?!”


“Lha itu kenapa ekspresinya


seneng banget?”


“Ya seneng lah, enggak ada yang


gangguin aku tidur!”


“Udah Jul….percaya gitu dong sama


Rosa.” Reinard menahanku agar tidak banyak bicara lagi.


Aku mendengus kesal, apalagi


melihat Rosa melet-melet padaku dengan senang.


Begitulah akhirnya, aku dan


Reinard memesan kamar lain sedangkan Rosa masih tetap tinggal di kamar yang


sama. Malam ini ternyata aku tidak tidur sendirian. Kembali ada tangan kokoh


yang mendekap tubuhku dan aku merasa nyaman.

__ADS_1


****


Jam tujuh pagi, ketika aku dan


Reinard berada di restoran hotel untuk menikmati sarapan, Rosa dan


teman-temannya juga ikut turun. Terlihat juga Arya bersama beberapa temannya


menyusul setelah Rosa dan teman-temannya duduk di salah satu kursi di dekatku.


Melihatku, Arya tersenyum sambil menyapa dengan sopan. Aku pikir, anak


laki-laki itu cukup sopan kepadaku. Mungkin karena aku adalah kakak dari cewek


yang disukainya.


“Lihat deh yank, kenapa coba


pacarnya Rosa ya mau-mau aja diajakin ke sini.” Aku menggigit roti tawarku.


Reinard menatap sekilas Arya


sebelum akhirnya menyesap susu hangatnya. “Namanya juga cinta.”


“Kayak kamu dong ya yank?” aku


tersenyum menggoda pada Reinard yang duduk di seberangku. “Apalagi semalem…..”


bisikku.


“Semalem apa?” Reinard pura-pura


acuh padaku.


Aku mengangkat jempolku


tinggi-tinggi. “Hebat!”


Reinard terkekah, begitu pula


aku.


“Oh ya, wait ya. Mau ke kamar


sebentar.” Kata Reinard kemudian,


“Ngapain?” tanyaku.


“Dompet ketinggalan. Aku mau


keluar sebentar ke minimarket.”


Aku mengangguk. Selepas Reinard


kembali ke lantai atas, aku meneruskan sarapanku sambil sesekali menjawab


beberapa pertanyaan dari Rosa dan teman-temannya.


Saat aku sedang asik


mengaduk-aduk kopiku, tiba-tiba ponsel Reinard yang berada di atas meja


berbunyi. Sebuah nomor tanpa nama terlihat di layar. Awalnya aku tidak ingin


mengangkatnya. Sudah menjadi prinsipku bahwa ponsel adalah barang pribadi kami


masing-masing, dan aku tidak boleh membukanya sembarangan. Namun ketika telepon


itu kembali berbunyi dan dengan nomor yang sama untuk kedua kali, aku yakin


jika itu adalah nomor penting.


“Halo…..” sapaku.


“Halo….apakah ini benar dengan


Rena?”


“Rena?” aku mengerutkan alisku.


Tidak ada nama Rena di sini, dan bahkan pemilik ponsel ini adalah seorang


lelaki.


“Saya ingin menyampaikan tagihan


rumah—“


“Maaf mbak, salah sambung. Enggak


ada nama Rena disini.” Aku lantas mematikan ponsel tersebut dan


mengembalikannya ke atas meja lalu kembali asyik dengan sarapan pagiku.


“Aku mau ke depan sebentar ya?”


Reinard tiba-tiba saja sudah berada di depanku.


“Mau beli apa?” tanyaku.


Pria itu mendekat, lalu memgambil


ponselnya. “Kertas ama bolpoint.”


“Oh ya yank, tadi ada telepon


masuk.” Aku kembali teringat telepon itu saat Reinard memasukkan ponselnya ke


dalam saku celananya.


“Dari siapa?”


“salah sambung.” Sahutku acuh tak


acuh. “Masa nyari perempuan namanya Rena!”


******

__ADS_1


__ADS_2