Klandestin

Klandestin
Di Meja Makan


__ADS_3

Daniel tiba-tiba


saja sudah duduk di depanku ketika aku baru saja membuka laptop, hendak


meneruskan pekerjaanku. Jarak kantorku dan kantornya yang bisa dijangkau dengan


lima menit berjalan kaki memudahkan pria berambut ikal itu datang—pergi sesuka


hatinya . Seperti sore ini, ketika aku tengah menunggu Reinard di lobi sambil


bermaksud menyelesaikan beberapa pekerjaan, dia malah mengangguku.


“Ngapain?!”


sapaku sewot. Seharusnya dia menjauh setiap kali aku memperlakukannya tidak


manusiawi seperti ini.


“Nggak


ngapa-ngapain, tadi cuma lewat dan enggak sengaja lihat kamu di sini.” Sahut


pria itu santai, tidak peduli dengan ucapan sengakku tadi.


“Jadi enggak ada


maksud apa-apa kan?” tanyaku lagi tanpa menatap matanya. Jemariku sibuk membuka


folder laptop.


“Enggak.”


“Oke, lo boleh


pergi.”


“Eeeh…..kok gitu


sih Jul?” bukannya pergi Daniel malah bertopang dagu di depanku. “Gue kan


pengen ketemu sama sahabat gue.”


Aku mendongak.


“Siapa yang lo


maksud sahabat?”


“Lo.”


aku tertawa hambar. “Sayangnya selama ini gue enggak pernah nganggep lo


sahabat. Sama sekali—enggak pernah!”


Daniel


mendengus.


“Please….terlalu


lama menyimpan dendam itu enggak baik Jul.”


Aku ingin


mengatakan sesuatu, namun urung karena ponselku tiba-tiba bordering. Nama


‘suami’ menari-nari indah di atas layar ponselku.


“Iya…halo….” Aku


mengangkat telepon itu tanpa peduli dengan Daniel yang masih duduk memperhatikanku.


“Aku hampir


sampai.”


“Iya, aku sudah


menunggumu di lobi sekarang.”


“Kita langsung


pulang ke rumah papa ya?”


“Papa?” aku


mengerutkan alis. “Maksud kamu?”


“Papa kamu. Tadi


telepon dan minta kita datang makan malam.”


Aku terdiam


sejenak. Sejak kapan papa dan Reinard begitu dekat sampai-sampai bukan aku yang


ditelepon untuk meminta kami datang ke rumah.


Sebenarnya aku


malas pulang, apalagi untuk makan. Pasti papa punya suatu hal yang ingin


disampaikannya di meja makan—seperti biasa. Bahkan aku ingat, waktu papa


berniat menjodohkanku dengan Reinard, pembukaan percakapan itu juga dimulai di


meja makan. Aku heran, apakah fungsi makan bersama selain untuk mengisi perut


adalah untuk menyampaikan masalah penting?


“Baiklah…aku


tunggu.” Aku mematikan ponselku lantas kembali sibuk dengan laptopku. Kembali


mengabaikan Daniel yang masih menatapku.


“Gimana


pernikahan lo Jul?” tanyanya kemudian setelah beberapa detik kami sama-sama


diam.


“Baik. Seperti


yang lo lihat?” jawabku acuh.


“Lo yakin?”


“Yang ngejalanin


gue, lo kenapa sih tanya itu terus am ague?” sahutku kesal.


“Lo sebenernya


udah kenal belum sih sama suami lo?”


Aku mengangkat


dagu, lama-lama aku ingin sekali menyumpal mulut pria di depanku ini dengan


sepatuku.


“Kalau enggak


kenal, mana mungkin gue mau nikah sama dia!”


“Baguslah, gue


ikut seneng kalau kalian beneran saling mencintai.”


Aku hampir saja


berdiri dan mengusir Daniel dari sini ketika suara panggilan Reinard


mengalihkan segalanya.

__ADS_1


Pria itu sudah


berdiri tak jauh dariku. Aku melihat Daniel tersenyum simpul pada Reinard—ya


semacam basa-basi perkenalan, namun aku lihat Reinard tak bergeming. Ia hanya


menatap Daniel sekilas, sebelum akhirnya kembali bergumam ‘ayo’ padaku. Bagus!


Aku suka cara Reinard memperlakukan Daniel seperti itu. Manusia semacam Daniel


ini memang tidak perlu dibaik-baikan, karena ujung-ujungnya pasti ngelunjak.


Aku segera


menutup laptopku dan memasukannya ke dalam tas. Bergegas menemui suamiku bahkan


tanpa memperdulikan Daniel sedikitpun.


*****


Lagu To The Bone


mengalun sayup-sayup dari mobil Reinard. Lumayanlah, untuk menghalau sepi di


dalam mobil ini. Sejak tadi Reinard tak banyak bicara, meskipun selama ini ia


memang tak banyak bicara. Namun aku merasa ada aura lain setelah kami


meninggalkan kantor tadi. Aku ingin mengambil kesimpulan kalau dia cemburu


terhadap Daniel, tapi satu dari banyak kesimpulan, cemburu adalah hal yang


paling tidak mungkin. Jika Reinard cemburu, otomatis dia menyukaiku, kalau suka


berarti dia sudah mengajakku tidur bersama. Jadi alasan cemburu benar-benar


tidak mungkin.


“Siapa pria tadi


Jul?” akhirnya Reinard membuka suara setelah perjalanan panjang kami memecah


kemacetan.


Mantan pacar.


“Emm….temen


sejak SMA.” Aku menoleh. “Kenapa?”


“Pantas saja,


kalian kayaknya akrab.”


Aku tertawa


dalam hati. Akrab dari mana jika aku selalu merasa terganggu dengan kehadiran


Daniel di depanku.


“Kenapa datang


ke kantor kamu?”


Aku penasaran


kenapa Reinard terlihat ingin tahu.


“Kantor kami


dekat Rei.” Aku melemaskan otot punggungku. “Dan setiap ada kesempatan, dia


selalu datang.”


“Apa dia suka


sama kamu?”


Akh, pertanyaan


macam apa itu. Jikapun iya, apakah aku harus dengan percaya diri mengatakan


selalu menganggapnya basa-basi sih.


“Kami…pernah


pacaran waktu SMA. Dan jika sekarang dia menyukaiku, aku tidak tahu.” Wah


Julia, kenapa bicaramu bijaksana sekali.


“Ohh……”


Jawaban apa itu?


Aku kira dia akan bertanya tentang Daniel, pekerjaannya, rumahnya, kenapa kami


putus atau bahkan mantan pacarnya setelah aku. Apa dia sudah beristri atau


belum dan lain-lain. Buktinya jawaban ‘ooh….’ Itu sangat mengangguku.


“Kenapa tanya


hal itu?” tanyaku kemudian.


“Tidak ada. Aku


hanya sedikit penasaran.”


Aku membuang


pandangan ke luar jendela. Benar kan apa kataku, cemburu adalah hal yang paling


tidak mungkin bagi Reinard.


******


Berbagai jenis


makanan sudah tersaji di meja ketika aku dan Reinard datang. Baru kali ini aku


melihat keantusiasan papa dan mama dalam menyambut salah satu anggota keluarga


datang ke rumah. Bahkan mereka tak se-heboh ini ketika menyambut kedatanganku


setelah bertahun-tahun belajar di luar negeri.


“Apa ini enggak


berlebihan?” aku menaruh handbagku lantas duduk di kursi meja makan.


“Ssst…!” mama


yang berdiri bersebrangan denganku memutar matanya. Mengisyaratkan jika aku


tidak sopan mengatakan hal ini di depan suamiku.


Aku menoleh kearah


Reinard dan dia terlihat biasa saja dengan desisan mama. Bahkan mungkin ia


sedang pura-pura tidak dengar.


“Kamu bisa


ngehabisin?” tanyaku ketika dia sudah duduk.


“Kalau enggak


habis juga nggak apa-apa Rei.” Bukannya Reinard yang menjawab, papa yang baru


datang tiba-tiba saja ikut nimbrung diikuti Rosa yang berjalan di belakangnya.


Melihat makanan


yang begitu banyak di meja, ekspresi Rosa juga tak jauh beda denganku.

__ADS_1


“Ada hal besar


apa ini sampai banyak makanan di meja. Biasanya paling banter mah cuma ada satu


dua lauk karena enggak bakalan ada yang makan.” Celoteh cewek itu, bahkan tidak


memperdulikan desisan-desisan mama padanya.


“Tau gini, dari


dulu aja mas Reinard nikahin kak Julia.”


Reinard


tersenyum. “Emang kenapa Ros?” tanyanya menerima piring berisi nasi dri mama.


“Makasih mah….”


“Bisa makan


besar terus tiap hari. Padahal biasanya mama ogah masak, beli aja gitu di luar.


Makan yang makan sendiri, gak pernah mikirin anaknya kelaperan di rumah.”


Aku dan Reinard


tertawa, sedangkan mama memasang muka masamnya terhadap Rosa. Namun karena


basic-nya Rosa itu lebih bandel dari aku, melihat mimic wajah mama yang horror


eperti itu ia terlihat biasa saja. Bahkan ia dengan cuek mengambil dua centong


nasi ke piring, dan menumpuknya dengan berbagai macam lauk.


Kami mulai makan


dengan tenang, hanya terdengar dentingan sendok yang beradu dengan piring.


“Kapan nih, mau


kasih papa sama mama cucu?”


“Uhuuuuk!”


hampir saja semua nasi di mulutku keluar.


Reinard


buru-buru mengambil air putih dan memberikannya kepadaku. Selagi aku minum


untuk menenangkan tenggorokan dan hatiku yang cukup syok, ia mengelus-elus


punggungku.


Benar kan


perkiraanku, ketika papa mengundang seseoran untuk makan bersamanya, pasti akan


ada hal penting yang ingin dia katakan, termasuk memintaku untuk segera punya


anak.


“Pa….nikah juga


belum genap sebulan.” Protesku.


“Sebulan besok.”


Sahut Rosa cuek bebek.


Aku mendengus.


“Kan baru sebulan pa…..mana ada hasil?” alibiku.


“Ada kok.


Buktinya tetangga sebelah sebulan habis nikah langsung isi.” Imbuh mama.


Aku jadi kesal


sendiri.


“Mungkin dia


MBA!” sahutku asal.


“Enggak kok.”


Mama bersikeras.


“Ya tapi jangan


dipukul rata gitu dong. Orang kan punya takdir sendiri-sendiri.” Entah saat ini


aku ingin mengamuk karena apa. Tapi yang jelas aku ingin mengamuk karena


Reinard tak juga memberikan nafkah batin padaku, ditambah mama yang


membanding-bandingkanku dengan tetangga sebelah.


Apa sih yang


sebenarnya mereka mau dari aku? Dijodohin yang mau-mau aja, mekipun alasannya


karena aku juga tertarik pada Reinard. Lalu setelah nikah, aku juga iya-iya


saja ketika suamiku mengatakan kalaua dia belum siap berhubungan suami-istri


denganku.


‘Pokoknya Julia


belum mau punya anak!” seruku kemudian.


“Lho, namanya


nikah kan ya harus punya anak.” Sahut papa.


“Iya tapi…..”


“Udah….” Reinard


tiba-tiba meremas punggung tangaku.


Aku menoleh


padanya. Ia terlihat tersenyum lalu menatap mama dan papa bergantian.


Segera pa,


ma….kami sedang berusaha.”


Aku ingin salto sekarang.


Bagaimana bisa berusaha jika selama ini kami tidak pernah melakukan apa-apa.


Rupanya selain dokter, Reinard punya pekerjaan sampingan sebagai actor


berbakat. Kenapa ia dulu tidak sekolah acting saja, aku yakin ia sudah


memenangkan piala OSCAR jika debut di dunia acting.


Papa dan mama


tertawa lega.


“Kalau kamu


segera hamil Jul, papa bakalan mewariskan perusahaan sama Reinard. Gimana?”


Aku dan Reinard


saling pandang.


Siapa peduli?

__ADS_1


Batinku.


******


__ADS_2