
Daniel tiba-tiba
saja sudah duduk di depanku ketika aku baru saja membuka laptop, hendak
meneruskan pekerjaanku. Jarak kantorku dan kantornya yang bisa dijangkau dengan
lima menit berjalan kaki memudahkan pria berambut ikal itu datang—pergi sesuka
hatinya . Seperti sore ini, ketika aku tengah menunggu Reinard di lobi sambil
bermaksud menyelesaikan beberapa pekerjaan, dia malah mengangguku.
“Ngapain?!”
sapaku sewot. Seharusnya dia menjauh setiap kali aku memperlakukannya tidak
manusiawi seperti ini.
“Nggak
ngapa-ngapain, tadi cuma lewat dan enggak sengaja lihat kamu di sini.” Sahut
pria itu santai, tidak peduli dengan ucapan sengakku tadi.
“Jadi enggak ada
maksud apa-apa kan?” tanyaku lagi tanpa menatap matanya. Jemariku sibuk membuka
folder laptop.
“Enggak.”
“Oke, lo boleh
pergi.”
“Eeeh…..kok gitu
sih Jul?” bukannya pergi Daniel malah bertopang dagu di depanku. “Gue kan
pengen ketemu sama sahabat gue.”
Aku mendongak.
“Siapa yang lo
maksud sahabat?”
“Lo.”
aku tertawa hambar. “Sayangnya selama ini gue enggak pernah nganggep lo
sahabat. Sama sekali—enggak pernah!”
Daniel
mendengus.
“Please….terlalu
lama menyimpan dendam itu enggak baik Jul.”
Aku ingin
mengatakan sesuatu, namun urung karena ponselku tiba-tiba bordering. Nama
‘suami’ menari-nari indah di atas layar ponselku.
“Iya…halo….” Aku
mengangkat telepon itu tanpa peduli dengan Daniel yang masih duduk memperhatikanku.
“Aku hampir
sampai.”
“Iya, aku sudah
menunggumu di lobi sekarang.”
“Kita langsung
pulang ke rumah papa ya?”
“Papa?” aku
mengerutkan alis. “Maksud kamu?”
“Papa kamu. Tadi
telepon dan minta kita datang makan malam.”
Aku terdiam
sejenak. Sejak kapan papa dan Reinard begitu dekat sampai-sampai bukan aku yang
ditelepon untuk meminta kami datang ke rumah.
Sebenarnya aku
malas pulang, apalagi untuk makan. Pasti papa punya suatu hal yang ingin
disampaikannya di meja makan—seperti biasa. Bahkan aku ingat, waktu papa
berniat menjodohkanku dengan Reinard, pembukaan percakapan itu juga dimulai di
meja makan. Aku heran, apakah fungsi makan bersama selain untuk mengisi perut
adalah untuk menyampaikan masalah penting?
“Baiklah…aku
tunggu.” Aku mematikan ponselku lantas kembali sibuk dengan laptopku. Kembali
mengabaikan Daniel yang masih menatapku.
“Gimana
pernikahan lo Jul?” tanyanya kemudian setelah beberapa detik kami sama-sama
diam.
“Baik. Seperti
yang lo lihat?” jawabku acuh.
“Lo yakin?”
“Yang ngejalanin
gue, lo kenapa sih tanya itu terus am ague?” sahutku kesal.
“Lo sebenernya
udah kenal belum sih sama suami lo?”
Aku mengangkat
dagu, lama-lama aku ingin sekali menyumpal mulut pria di depanku ini dengan
sepatuku.
“Kalau enggak
kenal, mana mungkin gue mau nikah sama dia!”
“Baguslah, gue
ikut seneng kalau kalian beneran saling mencintai.”
Aku hampir saja
berdiri dan mengusir Daniel dari sini ketika suara panggilan Reinard
mengalihkan segalanya.
__ADS_1
Pria itu sudah
berdiri tak jauh dariku. Aku melihat Daniel tersenyum simpul pada Reinard—ya
semacam basa-basi perkenalan, namun aku lihat Reinard tak bergeming. Ia hanya
menatap Daniel sekilas, sebelum akhirnya kembali bergumam ‘ayo’ padaku. Bagus!
Aku suka cara Reinard memperlakukan Daniel seperti itu. Manusia semacam Daniel
ini memang tidak perlu dibaik-baikan, karena ujung-ujungnya pasti ngelunjak.
Aku segera
menutup laptopku dan memasukannya ke dalam tas. Bergegas menemui suamiku bahkan
tanpa memperdulikan Daniel sedikitpun.
*****
Lagu To The Bone
mengalun sayup-sayup dari mobil Reinard. Lumayanlah, untuk menghalau sepi di
dalam mobil ini. Sejak tadi Reinard tak banyak bicara, meskipun selama ini ia
memang tak banyak bicara. Namun aku merasa ada aura lain setelah kami
meninggalkan kantor tadi. Aku ingin mengambil kesimpulan kalau dia cemburu
terhadap Daniel, tapi satu dari banyak kesimpulan, cemburu adalah hal yang
paling tidak mungkin. Jika Reinard cemburu, otomatis dia menyukaiku, kalau suka
berarti dia sudah mengajakku tidur bersama. Jadi alasan cemburu benar-benar
tidak mungkin.
“Siapa pria tadi
Jul?” akhirnya Reinard membuka suara setelah perjalanan panjang kami memecah
kemacetan.
Mantan pacar.
“Emm….temen
sejak SMA.” Aku menoleh. “Kenapa?”
“Pantas saja,
kalian kayaknya akrab.”
Aku tertawa
dalam hati. Akrab dari mana jika aku selalu merasa terganggu dengan kehadiran
Daniel di depanku.
“Kenapa datang
ke kantor kamu?”
Aku penasaran
kenapa Reinard terlihat ingin tahu.
“Kantor kami
dekat Rei.” Aku melemaskan otot punggungku. “Dan setiap ada kesempatan, dia
selalu datang.”
“Apa dia suka
sama kamu?”
Akh, pertanyaan
macam apa itu. Jikapun iya, apakah aku harus dengan percaya diri mengatakan
selalu menganggapnya basa-basi sih.
“Kami…pernah
pacaran waktu SMA. Dan jika sekarang dia menyukaiku, aku tidak tahu.” Wah
Julia, kenapa bicaramu bijaksana sekali.
“Ohh……”
Jawaban apa itu?
Aku kira dia akan bertanya tentang Daniel, pekerjaannya, rumahnya, kenapa kami
putus atau bahkan mantan pacarnya setelah aku. Apa dia sudah beristri atau
belum dan lain-lain. Buktinya jawaban ‘ooh….’ Itu sangat mengangguku.
“Kenapa tanya
hal itu?” tanyaku kemudian.
“Tidak ada. Aku
hanya sedikit penasaran.”
Aku membuang
pandangan ke luar jendela. Benar kan apa kataku, cemburu adalah hal yang paling
tidak mungkin bagi Reinard.
******
Berbagai jenis
makanan sudah tersaji di meja ketika aku dan Reinard datang. Baru kali ini aku
melihat keantusiasan papa dan mama dalam menyambut salah satu anggota keluarga
datang ke rumah. Bahkan mereka tak se-heboh ini ketika menyambut kedatanganku
setelah bertahun-tahun belajar di luar negeri.
“Apa ini enggak
berlebihan?” aku menaruh handbagku lantas duduk di kursi meja makan.
“Ssst…!” mama
yang berdiri bersebrangan denganku memutar matanya. Mengisyaratkan jika aku
tidak sopan mengatakan hal ini di depan suamiku.
Aku menoleh kearah
Reinard dan dia terlihat biasa saja dengan desisan mama. Bahkan mungkin ia
sedang pura-pura tidak dengar.
“Kamu bisa
ngehabisin?” tanyaku ketika dia sudah duduk.
“Kalau enggak
habis juga nggak apa-apa Rei.” Bukannya Reinard yang menjawab, papa yang baru
datang tiba-tiba saja ikut nimbrung diikuti Rosa yang berjalan di belakangnya.
Melihat makanan
yang begitu banyak di meja, ekspresi Rosa juga tak jauh beda denganku.
__ADS_1
“Ada hal besar
apa ini sampai banyak makanan di meja. Biasanya paling banter mah cuma ada satu
dua lauk karena enggak bakalan ada yang makan.” Celoteh cewek itu, bahkan tidak
memperdulikan desisan-desisan mama padanya.
“Tau gini, dari
dulu aja mas Reinard nikahin kak Julia.”
Reinard
tersenyum. “Emang kenapa Ros?” tanyanya menerima piring berisi nasi dri mama.
“Makasih mah….”
“Bisa makan
besar terus tiap hari. Padahal biasanya mama ogah masak, beli aja gitu di luar.
Makan yang makan sendiri, gak pernah mikirin anaknya kelaperan di rumah.”
Aku dan Reinard
tertawa, sedangkan mama memasang muka masamnya terhadap Rosa. Namun karena
basic-nya Rosa itu lebih bandel dari aku, melihat mimic wajah mama yang horror
eperti itu ia terlihat biasa saja. Bahkan ia dengan cuek mengambil dua centong
nasi ke piring, dan menumpuknya dengan berbagai macam lauk.
Kami mulai makan
dengan tenang, hanya terdengar dentingan sendok yang beradu dengan piring.
“Kapan nih, mau
kasih papa sama mama cucu?”
“Uhuuuuk!”
hampir saja semua nasi di mulutku keluar.
Reinard
buru-buru mengambil air putih dan memberikannya kepadaku. Selagi aku minum
untuk menenangkan tenggorokan dan hatiku yang cukup syok, ia mengelus-elus
punggungku.
Benar kan
perkiraanku, ketika papa mengundang seseoran untuk makan bersamanya, pasti akan
ada hal penting yang ingin dia katakan, termasuk memintaku untuk segera punya
anak.
“Pa….nikah juga
belum genap sebulan.” Protesku.
“Sebulan besok.”
Sahut Rosa cuek bebek.
Aku mendengus.
“Kan baru sebulan pa…..mana ada hasil?” alibiku.
“Ada kok.
Buktinya tetangga sebelah sebulan habis nikah langsung isi.” Imbuh mama.
Aku jadi kesal
sendiri.
“Mungkin dia
MBA!” sahutku asal.
“Enggak kok.”
Mama bersikeras.
“Ya tapi jangan
dipukul rata gitu dong. Orang kan punya takdir sendiri-sendiri.” Entah saat ini
aku ingin mengamuk karena apa. Tapi yang jelas aku ingin mengamuk karena
Reinard tak juga memberikan nafkah batin padaku, ditambah mama yang
membanding-bandingkanku dengan tetangga sebelah.
Apa sih yang
sebenarnya mereka mau dari aku? Dijodohin yang mau-mau aja, mekipun alasannya
karena aku juga tertarik pada Reinard. Lalu setelah nikah, aku juga iya-iya
saja ketika suamiku mengatakan kalaua dia belum siap berhubungan suami-istri
denganku.
‘Pokoknya Julia
belum mau punya anak!” seruku kemudian.
“Lho, namanya
nikah kan ya harus punya anak.” Sahut papa.
“Iya tapi…..”
“Udah….” Reinard
tiba-tiba meremas punggung tangaku.
Aku menoleh
padanya. Ia terlihat tersenyum lalu menatap mama dan papa bergantian.
Segera pa,
ma….kami sedang berusaha.”
Aku ingin salto sekarang.
Bagaimana bisa berusaha jika selama ini kami tidak pernah melakukan apa-apa.
Rupanya selain dokter, Reinard punya pekerjaan sampingan sebagai actor
berbakat. Kenapa ia dulu tidak sekolah acting saja, aku yakin ia sudah
memenangkan piala OSCAR jika debut di dunia acting.
Papa dan mama
tertawa lega.
“Kalau kamu
segera hamil Jul, papa bakalan mewariskan perusahaan sama Reinard. Gimana?”
Aku dan Reinard
saling pandang.
Siapa peduli?
__ADS_1
Batinku.
******