
“Pagi….” Sebuah
suara menggema di telingaku ketika aku baru saja membuka mataku pagi ini.
Aku mengulum
senyum, sedikit malu namun juga begitu bersemangat. Reinard masih berada di
sampingku, menatapku dengan tangan menyangga kepalanya dan menghadap ke arahku.
“Bagaimana
tidurmu semalam?” tanyanya lalu mengusap rambutku.
Aku tertawa
kecil. Aku tahu jika dia hanya berbasa-basi, pasalnya kami tidur saling memeluk
setelah apa yang terjadi semalam.
“Sangat
nyenyak.” Aku menggeser badanku lalu memeluk tubuh suamiku. Kini aku
benar-benar merasa memiliki Reinard seutuhnya. Bukan hanya memilikinya sebagai
suami di status buku nikah dan kartu keluarga, namun juga memiliki tubuh dan
juga hatinya.
“Bolehkah aku
mengatakan sesuatu padamu?” Tanya Reinard kemudian.
Aku mendongak,
menatap matanya yang menatapku.
“Apa?”
“Aku
mencintaimu.” Reinard mengecup keningku perlahan dan secara bersamaan hatiku
terasa hangat. Sehangat sinar matahari di kota Paris pagi ini, yang penuh
dengan cinta.
“Aku tidak
pernah mendengar kamu menggombal, dan rasanya aneh.” Aku tertawa, menyusupkan
wajahku di dada Reinard.
“Heeeei….”
Reinard memeluk erat tubuhku. “Mulai hari ini kamu akan mendengar gombalanku
setiap pagi Julia.”
“Benarkah?”
“Iya.” Sahut suamiku
mantap. “apa kamu bersedia?”
“Sangat!” aku
mengecup bibirnya lembut.
“Oh ya, kita
masih ada satu hari di Paris.” Reinard mengalihkan pembicaraan. “Apa kamu ingin
pergi ke suatu tempat?”
Aku berfiki
sejenak, hendak kemana aku hari ini. Tiba-tiba aku teringat jika ingin sekali
pergi ke Ponts De Art, memasang gembok cinta yang terukir namaku dan Reinard di
sana.
“Sebenarnya,
sejak kemarin aku ingin pergi ke suatu tempat.” Ungkapku.
“Kemana?”
Reinard mengusap-usap pipiku.
“Ponts De Arts.”
Sahutku mantap. “Aku ingin….em…..memasang gembok…..” ragu-ragu aku mengatakan
itu. Takut jika Reinard tidak setuju dengan ide-ku. Aku tahu jika suamiku
adalah manusia yang sangat rasional, ia belum tentu percaya dengan
takhayul-takhayul semacam itu.
“Boleh. Aku juga
ingin.” Sahutnya enteng.
“Benarkah?” aku
__ADS_1
melebarkan pupilku. “Kamu mau melakukan hal itu denganku?’
“Tentu. Apalagi
istriku yang meminta.”
Aku tertawa
sumringah. “Terimakasih suamikuuu….!” Aku memeluknya dengan begitu erat.
*****
Biasanya, aku
selalu sendirian pergi ke Paris. Dan selama itu aku menikmatinya.
Berjalan-jalan di Ponts De Arts sendirian, melihat banyak pasangan memasang
gembok cinta mereka dan cukup membuatku iri atau sekedar berjalan sendirian di Eifel lalu
menghabiskan banyak waktu di café sampai malam hari dan akhirnya kembali ke
hotel.
Aku bukan tipe
wanita yang tertutup dengan cinta. Seperti yang pernah aku bilang bahwa aku
juga memiliki banyak kekasih, namun aku tidak pernah mengajak satupun dari
mereka ke luar negeri. Sepertinya, aku memang terlalu berhati-hati. Aku hanya
takut mereka mempergunakan kesempatan itu untuk hal lain selain mendapatkan
hatiku, yaitu mendapatkan seluruh kekayaan keluargaku. Terlalu berlebihan
memang, tapi banyak yang terbukti juga demikian. Maka dari itu aku selalu
membatasi setiap interaksi dengan mantan-mantanku tersebut. Mereka menganggapku
kolot, karena tidak pernah mau melakukan hubungan lebih dari ciuman.
Lagipula aku
juga bukan maniac liburan seperti Eli. Hanya sesekali jika otakku sudah penuh
dengan banyak pekerjaaan dan aku sama sekali tidak bisa menyelesaikannya, dan
aku rasa, liburan akan menjadi sangat efektif.
Klik!
Sepasang gembok
berwarna pink dengan tulisan ‘Julia’ dan ‘Reinard’ sudah terpasang rapi di sisi
jembatan. Aku tertawa sumringah, meskipun tidak terbukti kebenarannya, namun
aku berharap cinta kami benar-benar abadi selamanya.
“Aku yang pegang
kuncinya.” aku memasukkan kunci gembok tadi ke dalam tasku. Aku tidak perlu
menunggu Reinard mengatakan iya, karena aku yakin dia juga tidak akan pernah
mau menyimpannya.
Reinard hanya mengangguk,
lalu berjalan menjauhiku. Memanggil seorang fotografer jalanan yang memang
sering berada di tempat ini lalu memintanya untuk mengambil foto kami sebagai
kenang-kenangan.
“Buat apa Rei? Kita
kan punya ponsel?” terkadang aku tidak begitu mengerti dengan isi kepala
suamiku.
“Pasangan yang
tepat, foto yang tepat dan diabadikan oleh orang yang tepat.” Sahut pria itu
lalu merangkul punggungku.
Fotografer pria
yang berusia kurang lebih sama dengan kami itu tersenyum, meskipun aku yakin
jika dia tidak mengerti apa yang Reinard bicarakan. Pria itu beberapa kali
mengarahkan gaya kepada kami dengan bahasa Perancis. Untung saja suamiku sangat
pandai dengan bahasa itu, sehingga kami tidak kesulitan.
“Aku akan
memasangnya di pigura dan meletakkannya di nakas tempat tidur nanti.” Aku
menimang-nimang foto itu ketika kami berjalan menuju sebuah restoran untuk
makan siang. Beberapa lembar foto sudah berada di tanganku, dan akau cukup puas
dengan hasilnya. Reinard dan aku terlihat sangat serasi sekali di sini.
__ADS_1
“Jul….” Reinard
mengaitkan jemarinya di jemariku.
“Iya.” Sahutku
tanpa menoleh pada Reinard. Aku belum mengalihkan pandangan dari foto-foto di
tanganku. Ini foto pertama kami selama menjadi suami-itri, maksudku foto ketika
hari pernikahan tidak aku hitung karena itu memang foto wajib. Kami memang
harus berfoto untuk dokumentasi, agar keluarga kami juga bisa berfoto bersama
kami.
“Bagaimana kalau
nanti malam kita menginap di hotel saja?”
“Apa?” aku menoleh.
“Tidur di hotel?” Aku yakin wajahku sudah memerah sekarang. Bagaimana tidak? Bayangan
semalam saja tidak berhasil kuusir dari pikiranku.
“Anggap bulan
madu kita sebelum kembali ke Indonesia Jul.”
Sebenarnya aku
sangat setuju dengan ide Reinard. Aku juga ingin berdua saja dengan suamiku dan
menghabiskan waktu di hotel, namun aku dan Reinard di sini karena undangan
Marina, wanita itu yang meminta kami datang. Aku hanya merasa tidak enak saja
ketika Marina mengundang dengan sepenuh hati dengan memberikan tempat tinggal
yang nyaman dan menjamu kami dengan makanan yang lezat, dan kami malah
memutuskan untuk tidur di hotel malam ini.
“Tapi aku enggak
enak sama Ma—“ aku belum menyelesaikan kalimatku ketika kulihat Reinard sudah
berbicara dengan seseorang di telepon.
“Marina, malam ini
kami akan menginap di hotel……Iya…..baiklah………terimakasih…..”
“Gimana, aku
udah ijin Marina kan?” Reinard tertawa kecil sambil memasukkan ponselnya ke
dalam saku jeans-nya.
“Ih….kamu bikin
aku malu deh!” aku mencubit pinggangnya gemas. “Gimana kalau marina ngira aku
enggak betah tinggal di apartementnya?”
“Enggak bakalan!”
Reinard menggeleng.
“Kok enggak
bakalan?”
Reinard
menghadap ke arahku.
“Ya jelas dong,
karena dia yang minta aku buat ngajakin kamu tidur di hotel malam ini. Bahkan
dia udah bayarin kok hotelnya.” Ia mencubit pipiku lembut.
“Hah? Masa?
Kapan?”
“Kemarin.”
Aku menghela
nafas lega. Tidak menyangka jika aku memiliki kakak ipar yang begitu baik
padaku.
“Yakin?”
“Beneran Julia.”
Aku maju atu
langkah lalu memeluk Reinard dengan begtu hangat.
“Aku mencintai
Marina, dan tentu saja aku juga sangat mencintaimu.”
__ADS_1
*****