Klandestin

Klandestin
Hari Terakhir di Paris


__ADS_3

“Pagi….” Sebuah


suara menggema di telingaku ketika aku baru saja membuka mataku pagi ini.


Aku mengulum


senyum, sedikit malu namun juga begitu bersemangat. Reinard masih berada di


sampingku, menatapku dengan tangan menyangga kepalanya dan menghadap ke arahku.


“Bagaimana


tidurmu semalam?” tanyanya lalu mengusap rambutku.


Aku tertawa


kecil. Aku tahu jika dia hanya berbasa-basi, pasalnya kami tidur saling memeluk


setelah apa yang terjadi semalam.


“Sangat


nyenyak.” Aku menggeser badanku lalu memeluk tubuh suamiku. Kini aku


benar-benar merasa memiliki Reinard seutuhnya. Bukan hanya memilikinya sebagai


suami di status buku nikah dan kartu keluarga, namun juga memiliki tubuh dan


juga hatinya.


“Bolehkah aku


mengatakan sesuatu padamu?” Tanya Reinard kemudian.


Aku mendongak,


menatap matanya yang menatapku.


“Apa?”


“Aku


mencintaimu.” Reinard mengecup keningku perlahan dan secara bersamaan hatiku


terasa hangat. Sehangat sinar matahari di kota Paris pagi ini, yang penuh


dengan cinta.


“Aku tidak


pernah mendengar kamu menggombal, dan rasanya aneh.” Aku tertawa, menyusupkan


wajahku di dada Reinard.


“Heeeei….”


Reinard memeluk erat tubuhku. “Mulai hari ini kamu akan mendengar gombalanku


setiap pagi Julia.”


“Benarkah?”


“Iya.” Sahut suamiku


mantap. “apa kamu bersedia?”


“Sangat!” aku


mengecup bibirnya lembut.


“Oh ya, kita


masih ada satu hari di Paris.” Reinard mengalihkan pembicaraan. “Apa kamu ingin


pergi ke suatu tempat?”


Aku berfiki


sejenak, hendak kemana aku hari ini. Tiba-tiba aku teringat jika ingin sekali


pergi ke Ponts De Art, memasang gembok cinta yang terukir namaku dan Reinard di


sana.


“Sebenarnya,


sejak kemarin aku ingin pergi ke suatu tempat.” Ungkapku.


“Kemana?”


Reinard mengusap-usap pipiku.


“Ponts De Arts.”


Sahutku mantap. “Aku ingin….em…..memasang gembok…..” ragu-ragu aku mengatakan


itu. Takut jika Reinard tidak setuju dengan ide-ku. Aku tahu jika suamiku


adalah manusia yang sangat rasional, ia belum tentu percaya dengan


takhayul-takhayul semacam itu.


“Boleh. Aku juga


ingin.” Sahutnya enteng.


“Benarkah?” aku

__ADS_1


melebarkan pupilku. “Kamu mau melakukan hal itu denganku?’


“Tentu. Apalagi


istriku yang meminta.”


Aku tertawa


sumringah. “Terimakasih suamikuuu….!” Aku memeluknya dengan begitu erat.


*****


Biasanya, aku


selalu sendirian pergi ke Paris. Dan selama itu aku menikmatinya.


Berjalan-jalan di Ponts De Arts sendirian, melihat banyak pasangan memasang


gembok cinta mereka dan cukup membuatku iri  atau sekedar berjalan sendirian di Eifel lalu


menghabiskan banyak waktu di café sampai malam hari dan akhirnya kembali ke


hotel.


Aku bukan tipe


wanita yang tertutup dengan cinta. Seperti yang pernah aku bilang bahwa aku


juga memiliki banyak kekasih, namun aku tidak pernah mengajak satupun dari


mereka ke luar negeri. Sepertinya, aku memang terlalu berhati-hati. Aku hanya


takut mereka mempergunakan kesempatan itu untuk hal lain selain mendapatkan


hatiku, yaitu mendapatkan seluruh kekayaan keluargaku. Terlalu berlebihan


memang, tapi banyak yang terbukti juga demikian. Maka dari itu aku selalu


membatasi setiap interaksi dengan mantan-mantanku tersebut. Mereka menganggapku


kolot, karena tidak pernah mau melakukan hubungan lebih dari ciuman.


Lagipula aku


juga bukan maniac liburan seperti Eli. Hanya sesekali jika otakku sudah penuh


dengan banyak pekerjaaan dan aku sama sekali tidak bisa menyelesaikannya, dan


aku rasa, liburan akan menjadi sangat efektif.


Klik!


Sepasang gembok


berwarna pink dengan tulisan ‘Julia’ dan ‘Reinard’ sudah terpasang rapi di sisi


jembatan. Aku tertawa sumringah, meskipun tidak terbukti kebenarannya, namun


aku berharap cinta kami benar-benar abadi selamanya.


“Aku yang pegang


kuncinya.” aku memasukkan kunci gembok tadi ke dalam tasku. Aku tidak perlu


menunggu Reinard mengatakan iya, karena aku yakin dia juga tidak akan pernah


mau menyimpannya.


Reinard hanya mengangguk,


lalu berjalan menjauhiku. Memanggil seorang fotografer jalanan yang memang


sering berada di tempat ini lalu memintanya untuk mengambil foto kami sebagai


kenang-kenangan.


“Buat apa Rei? Kita


kan punya ponsel?” terkadang aku tidak begitu mengerti dengan isi kepala


suamiku.


“Pasangan yang


tepat, foto yang tepat dan diabadikan oleh orang yang tepat.” Sahut pria itu


lalu merangkul punggungku.


Fotografer pria


yang berusia kurang lebih sama dengan kami itu tersenyum, meskipun aku yakin


jika dia tidak mengerti apa yang Reinard bicarakan. Pria itu beberapa kali


mengarahkan gaya kepada kami dengan bahasa Perancis. Untung saja suamiku sangat


pandai dengan bahasa itu, sehingga kami tidak kesulitan.


“Aku akan


memasangnya di pigura dan meletakkannya di nakas tempat tidur nanti.” Aku


menimang-nimang foto itu ketika kami berjalan menuju sebuah restoran untuk


makan siang. Beberapa lembar foto sudah berada di tanganku, dan akau cukup puas


dengan hasilnya. Reinard dan aku terlihat sangat serasi sekali di sini.

__ADS_1


“Jul….” Reinard


mengaitkan jemarinya di jemariku.


“Iya.” Sahutku


tanpa menoleh pada Reinard. Aku belum mengalihkan pandangan dari foto-foto di


tanganku. Ini foto pertama kami selama menjadi suami-itri, maksudku foto ketika


hari pernikahan tidak aku hitung karena itu memang foto wajib. Kami memang


harus berfoto untuk dokumentasi, agar keluarga kami juga bisa berfoto bersama


kami.


“Bagaimana kalau


nanti malam kita menginap di hotel saja?”


“Apa?” aku menoleh.


“Tidur di hotel?” Aku yakin wajahku sudah memerah sekarang. Bagaimana tidak? Bayangan


semalam saja tidak berhasil kuusir dari pikiranku.


“Anggap bulan


madu kita sebelum kembali ke Indonesia Jul.”


Sebenarnya aku


sangat setuju dengan ide Reinard. Aku juga ingin berdua saja dengan suamiku dan


menghabiskan waktu di hotel, namun aku dan Reinard di sini karena undangan


Marina, wanita itu yang meminta kami datang. Aku hanya merasa tidak enak saja


ketika Marina mengundang dengan sepenuh hati dengan memberikan tempat tinggal


yang nyaman dan menjamu kami dengan makanan yang lezat, dan kami malah


memutuskan untuk tidur di hotel malam ini.


“Tapi aku enggak


enak sama Ma—“ aku belum menyelesaikan kalimatku ketika kulihat Reinard sudah


berbicara dengan seseorang di telepon.


“Marina, malam ini


kami akan menginap di hotel……Iya…..baiklah………terimakasih…..”


“Gimana, aku


udah ijin Marina kan?” Reinard tertawa kecil sambil memasukkan ponselnya ke


dalam saku jeans-nya.


“Ih….kamu bikin


aku malu deh!” aku mencubit pinggangnya gemas. “Gimana kalau marina ngira aku


enggak betah tinggal di apartementnya?”


“Enggak bakalan!”


Reinard menggeleng.


“Kok enggak


bakalan?”


Reinard


menghadap ke arahku.


“Ya jelas dong,


karena dia yang minta aku buat ngajakin kamu tidur di hotel malam ini. Bahkan


dia udah bayarin kok hotelnya.” Ia mencubit pipiku lembut.


“Hah? Masa?


Kapan?”


“Kemarin.”


Aku menghela


nafas lega. Tidak menyangka jika aku memiliki kakak ipar yang begitu baik


padaku.


“Yakin?”


“Beneran Julia.”


Aku maju atu


langkah lalu memeluk Reinard dengan begtu hangat.


“Aku mencintai


Marina, dan tentu saja aku juga sangat mencintaimu.”

__ADS_1


*****


__ADS_2