Klandestin

Klandestin
Sepotong Tiramisu dan Hati Yang Bergejolak


__ADS_3

“Lah, bukannya dokter Reinard


cuti dari kemarin?”


Seketika jantungku seakan


mencelos sampai ke dasar perut ketika mendengar Wina mengatakan hal itu padaku.


Apa gadis yang berdiri di depanku ini sedang mencoba mengajakku bercanda? Tapi


mustahil seorang Wina punya keinginan bercanda denganku. Secara selama ini kami


tidak berada pada satu hubungan yang akrab.


Tidak ingin membuat Wina curiga,


aku lantas berbalik pergi. Membawa kotak bekal yang aku genggam dengan erat. Dalam


perjalanan menuju lift pikiranku mengembara. Kemana suamiku? Apa yang


dilakukannya sejak kemarin? Kenapa ia membohongiku?


Aku berhenti di depan rumah sakit


lantas mendudukkan diriku di sebuah bangku panjang. Kepalaku tiba-tiba pusing


dan hatiku merasa was-was. Aku melempar pandanganku ke segala arah, mencoba


mencari distraksi. Mataku tertuju pada beberapa mobil yang hilir mudik masuk ke


dalam rumah sakit.


Tanganku merogoh totebag yang


masih menggantung di pundakku. Ku ambil ponselku lantas men-dial nomor suamiku.


Kembali aku mendengar bunyi tut…tut….tut…. disana, namun sama seperti semalam


dan tadi pagi, ia sama sekali tak mengangkatnya.


Aku menunduk sambil menutup


wajahku dengan kedua telapak tangan. Aku bingung. Dimanakan suamiku berada


sekarang? Apa yang dilakukannya sampai ia membohongiku?


Perlahan, aku bangkit dari


dudukku dan berniat segera meninggalkan rumah sakit. Meskipun ada banyak


pertanyaan di benakku tentang dirinya, aku harus bisa menahan diri. Terakhir


hanya gara-gara ketidakjujuran, hubungan kami sempat bermasalah. Dan aku tidak


ingin itu terjadi untuk kedua kalinya.


****


“Aku pesen espresso panas!” aku


melambai pada Rangga yang sibuk di depan meja kasir. Tanpa menunggu kalimat


balasannya, aku segera duduk di salah satu kursi di depannya.


Pria yang mengenakana apron


abu-abu itu lantas mendekat padaku. “Siang-siang bolong pesen kopi panas?” ia


menaikkan alisnya bingung. “Kamu yakin kalau lidahmu akan baik-baik saja?”


Aku meliriknya sekilas sebelum


akhirnya menghela nafas. “Kalau begitu juice strawberry aja.” Sebenarnya aku


tidak punya keinginan untuk minum sesuatu siang ini. Hanya saja, aku pikir akan


sangat menyedihkan ketika aku berada di rumah sendirian. Saat memarkir mobil di


depan apartement tadi, tiba-tiba mataku terhenti di café ini lantas teringat


Rangga.


“Ya, aku rasa juice lebih baik


daripada kopi panas.” Gumam pria itu lalu meninggalkanku untuk membuatkan


pesananku.


Aku menatap Rangga yang sibuk


membuat juice strawberry pesananku. Tangannya lincah memasukkan beberapa bahan


ke dalam sebuah blender, sebelum akhirnya benda itu mulai berisik menghaluskan bahan-bahan


itu. pria itu tampak cekatan, mengisyaratkan bahwa ia punya pengalaman seperti


ini untuk waktu yang cukup lama.


Tak berselang lama, pria itu


datang membawa segela juice dan juga tiramisu.


“Aku tidak memesan ini.” Kataku


sambil menunjuk tiramisu yang kini berada di tengah meja. Dari tampilannya, kue


itu terlihat begitu menggoda.

__ADS_1


“Aku memberikannya gratis.”


Senyum Rangga melebar.


Aku tersenyum dengan sudut


bibirku. “Mungkin aku akan memperhitungkan untuk datang kemari setiap hari.


Karena aku hanya memesan juice dan mendapatkan gratisan tiramisu.” Celotehku


lalu mengambil satu sendok kecil tiramisu dan memasukkannya ke dalam mulutku.


“Hmm….enak. bikinan sendiri?”


lanjutku.


Rangga melipat kedua tangannya di


depan dada. “Bukan aku. Tapi chef-ku.”


Aku tertawa. Yang kumaksud juga


bukan Rangga sendiri yang membuatnya. Melainkan tiramisu lezat ini benar-benar


diproduksi oleh café ini sendiri, tidak pesan di luar.


“Ya…ya…ya…. Aku mengerti.”


Anggukku. Malas berdebat dan memperpanjang masalah ini. Hidupku sudah penuh


masalah, dan hanya gara-gara sepotong tiramisu membuat aku dan Rangga terlibat


argument juga, itu bukanlah suatu hal yang lucu.


“Bukannya kamu berada di


Singapore?” Rangga menatapku. “Kapan kembali?”


Aku meletakkan sendokku dan


menghela nafas pelan. Mendengar kata Singapora megingatkanku tentang kepulangan


kami yang tergesa-gesa kemarin dan berakhir dengan kejutan hebat yang aku dapat


hari ini di rumah sakit.


“Aku pulang kemarin.” Kataku pada


akhirnya. “Ada hal penting dan aku harus cepat kembali.”


Rangga mangut-mangut. Sepertinya


ia tidak punya niat untuk bertanya lebih lanjut.


“Jadi hari ini kamu libur?”


“Ya….lebih tepatnya begitu.”


kami sama-sama terdiam. Untuk beberapa saat lamanya, aku malah tergoda dengan


rasa tiramisu di depanku ini dan terus memasukkan potongan demi potongan ke


dalam mulutku.


“Apa kamu ingin lagi?” tanya


Rangga ketika tiramisu di piringku hanya tersisa seperempat potong.


“Gratis?” kelakarku.


Pria itu mengangguk. “Ya! Jika


kamu tidak keberatan dengan kalori yang ada di dalamnya.”


Aku berdecak. Pria ini sebenarnya


ikhlas tidak jika aku minta satu potong lagi?


“Akh, lupakan! Perutku sudah


kenyang.” Aku menyesap juice-ku. Menyadari jika sejak pagi aku memang belum


makan. niatku adalah sarapan bersama Reinard dengan bekal yang aku buat tadi.


Namun, jangankan sarapan bareng, dimana suamiku sekarang saja aku tidak tahu.


Alhasil, kotak bekal itu kini berakhir di tempat sampah.


“Kamu yakin Jul?” tanayanya.


“Jangan sungkan.”


“Iya.” Aku mengangguk. “Aku hanya


ingin main saja karena kesepian di rumah.”


“Kamu boleh main-main kesini jika


kesepian Jul.” pria itu berdiri karena ada pelanggan yang hendak membayar. “


Aku dengan senang hati menerimamu di sini.”


Begitulah siang ini aku begitu


betah berlama-lama di café bersama dengan Rangga. Menyaksikan pria itu begitu


lincah dan cekatan menerima pelanggan dan mengerjakan beberapa pesanan

__ADS_1


sendirian meskipun ia juga memiliki beberapa pekerja.


Menjelang sore, aku akhirnya


permisi untuk pulang.


*****


Suasana rumah masih seperti tadi


pagi saat aku tinggalkan. Tidak ada tanda-tanda Reinard pulang. Aku menghela


nafas, lalu kembali mencoba menghubunginya.


Masih sama.


Telepon itu sama sekali tidak


diangkat. Muncul keinginanku untuk menghubungi panti asuhan, namun aku tidak


ingin membuat ibu Ayu khawatir dan berfikir yang tidak-tidak. Maka niat itu aku


urungkan dan aku kembali menyimpan ponselku.


Malam menjelang, dan kembali


belum ada tanda-tanda suamiku pulang. Aku menangis di sudut kamar sampai


akhirnya tertidur.


Esok paginya, ketika matahari


pagi mulai menyusup perlahan lewat celah jendela, aku membuka mataku perlahan.


Kurasakan sebuah tangan melingkar di pinggangku. Aku menoleh, dan mendapati


suamiku sudah tertidur lelap di sampingku. Entah kapan ia datang, aku sama


sekali tidak tahu. Mungkin aku terlalu capek menangis, sampai tertidur dengan


lelap dan tidak menyadari kepulangannya.


Aku membalikkan badan, menatap


wajah suamiku diam-diam. Gejolak perasaan muncul dari hatiku. Hal apa lagi yang


ia sembunyikan dariku? Apakah wajah lembut ini kembali menyimpan sebuah rahasia


yang aku belum tahu?


“Oh…sudah bangun?” ia beringsut.


Matanya memicing terkena pantulan sinar matahari dari arah jendela.


“Kapan kamu datang?” tanyaku


pelan. Meskipun ada banyak pertanyaan di hatiku tentang kepergiannya selama dua


hari ini, namun aku harus menahannya. Aku memutukan untuk mencari tahu semuanya


sendiri, tanpa bertanya apapun pada suamiku. Bahkan aku berencana merahasiakan bahwa


kemarin aku datang ke rumah sakit untuk menemuinya.


“Hampir subuh tadi.” Suaranya terdengar


serak. “Dan kamu masih terlelap.”


Aku tak menyahut. Hatiku bergejolak


ingin bertanya kemana kamu selama dua hari ini? Kenapa membohongiku? Apa yang


kamu lakukan kemarin? Namun semuanya tertahan di tenggorokanku. Tak sanggup aku


keluarkan.


“Apa kamu baik-baik saja sayang?”


ia mengusap wajahku. “Kamu terlihat tidak segar pagi ini.”


“Oh….aku terlalu sibuk kemarin


dengan pekerjaan.” Sahutku bohong. “Apakah kemarin di rumah sakit begitu sibuk


sampai kamu tidak menghubungiku?”


Reinard mengangguk. “Ya begitulah,


banyak sekali pasien. Maafkan aku…..”


Aku menelan saliva susah payah.


Rupanya meskipun ku pancing, ia tetap berbohong.


“Bisakah kamu mendekat?” ia


menarik tubuhku.


“Kenapa?”


“Aku ingin memelukmu pagi ini.”


Ia lantas menyandarkan kepalanya di dadaku. “Aku merindukanmu Julia….”


Aku terdiam.


Untuk pertama kali, aku merasa

__ADS_1


benci mendengar kalimat itu.


******


__ADS_2