Klandestin

Klandestin
Masakan Untuk Suamiku


__ADS_3

Aku menyeret koperku masuk ke dalam apartement setelah pintunya


terbuka. Bau harum dari pewangi ruangan bercampur dengan bau sofa dan karpet


baru menusuk hidungku. Sebelum benar-benar masuk, aku mengedarkan pandanganku


ke sekeliling. Apartement yang akan aku tempati mulai hari ini begitu bersih,


hasil dari kerja kerasku bersama Reinard beberapa hari sebelum hari pernikahan


kami. Kami sepakat tidak akan menunda-nunda membersihkan apartement dan


membuatnya rapi sebelum kami tempati. Rupanya ada persamaan diantara kami,


yaitu suka kebersihan dan juga tidak suka menunda-nunda pekerjaan.


Setelah meletakkan koperku di kamar, aku beranjak menuju dapur lalu


membuka kulkas. Bukan air putih yang kuambil, melainkan sebungkus ice cream


kacang hijau yang juga sudah aku masukkan di sana. Biasanya aku memang akan


ngemut ice cream itu Ketika sibuk dengan pekerjaaan atau cemas akan suatu hal.


Makanya untuk makanan itu, aku benar-benar harus menyimpannya di rumah.


Aku begitu terlarut dengan ice cream-ku ketika suara pintu terbuka


perlahan. Buru-buru kuletakkan sisa ice cream-ku ke dalam sebuah mangkuk Ketika


Reinard muncul dari sana.


“Akh…kamu sudah pulang?” aku tidak bisa menyembunyikan kelegaanku


Ketika melihatnya berdiri di depanku seperti sekarang.


Reinard hanya tersenyum tipis kemudian mendekatiku.


“Maaf sudah membuatmu menunggu.” Katanya lantas mengambil gelas dan


mengalirkan air dari dispenser.


Aku tidak menjawab, hanya menatap wajah suamiku yang kusut. Baju yang


dipakainya semalam terlihat berantakan, pun juga rambutnya yang tak tertata


rapi seperti biasanya. Dan yang lebih menegaskan dia kurang tidur adalah warna


hitam di bawah matanya yang tak bisa menipu. Aku yakin dia kelelahan yang


teramat sangat.


“Apa kamu sedang dalam mood yang tidak baik Jul?” suara Reinard


menyentak lamunanku. Awalnya aku ingin bertanya apa maksud dari kalimatnya,


namun pertanyaan itu urung kusampaikan Ketika kulihat tatapan mata Reinard yang


tertuju pada mangkuk porselen yang berisi ice cream yang sudah mencair.


“Akh, tidak. Aku hanya sedikit pusing memikirkan pekerjaan.” Jawabku


bohong. Mungkin aku tidak bisa mengatakan padanya bahwa aku stress semalaman


karena ditinggalkan pas malam pertama. Nyatanya mungkin keadaan Reinard lebih


stress dalam menghadapi pasiennya yang butuh pertolongan medis. Eli bilang,


menjadi istri dokter itu hampir sama persis dengan menjadi itri seorang


Angkatan. Kita harus siap ditinggalkan kapan saja Ketika tugas memanggil


mereka.


“Apa kamu sudah mulai memikirkan pekerjaan, padahal kita baru saja


menikah?” tanya Reinard kemudian.


“Bukankah kamu juga sudah bekerja di malam pertama pernikahan kita?”


sambarku cepat dan langsung ku sesali. Kenapa mulutku begitu ceroboh mengatakan


hal seperti itu, seolah aku adalah istri paling tidak pengertian di dunia ini


padahal sudah jelas jika suamiku adalah seorang dokter.


Aku melihat Reinard menunduk. Itu membuatku semakin merasa bersalah.


Ayolah Julia, bersikaplah lebih dewasa untuk hal-hal semacam ini.


“Ma—maafkan aku Rei. Aku tidak bermaksud mengatakan hal itu.


Sumpah.” Aku menatapnya dengan penyesalan yang mendalam.


Reinard tersenyum lantas mengelus rambutku perlahan. “Tidak apa-apa.


Aku yang seharusnya meminta maaf karena semalam meninggalkanmu sendirian.”


Aku terdiam sesaat. “Jadi….bagaimana dengan pasienmu?” tanyaku


kemudian.


“Sudah bisa diatasi.” Jawabnya lugas.


“Sakit apa?” aku penasaran.


“Jantung.” Sahutnya. “Dia punya penyakit itu sejak kecil. Dan


sekarang, hidupnya harus tergantung dengan obat dan usaha medis.”

__ADS_1


Aku tak menyahut. Pikiranku mengembara pada pasien yang Reinard


ceritakan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana tersiksanya pasien itu ketika


hidup sepanjang waktu dengan obat dan peralatan medis. Bagaimana perasaannya


dan harapannya tentang hidup?


“Jul…” Reinard mengelus lenganku. “Kenapa?”


“Aku hanya merasa trenyuh mendengar ceritamu.”


Reinard tersenyum. “Tidak apa-apa. Dibandingkan kita yang sehat, dia


jauh lebih bersemangat dalam hidupnya.”


“Benarkah?” tanyaku penuh keheranan.


“Iya.” Sahut Reinard mantap. “Dia selalu menyambut pagi dengan


senyum dan harapan terbaiknya.”


Aku mengelus dadaku lega,a setidaknya pasien itu jauh lebih banyak


memiliki rasa syukur di dalam dirinya.


“Oh ya, kamu sudah makan?” aku mengalihkan pembicaraan.


Reinard menggeleng.


“Mau aku buatkan sesuatu?” tawarku kemudian. Aku tidak yakin apakaha


Reinard bisa memakan apa yang aku masak. Sebeanarnya aku bisa membuat beberapa


masakan dan menurutku apa yang aku buat tidak terlalu buruk—setidaknya lidahku


dan lidah Rosa bisa menerimanya. Tapi selama ini Reinard belum pernah merasakan


hasil masakanku.


“Apa kamu bisa masak?”


“Sedikit.” Jawabku jujur. “Atau kita bisa makan di luar. Aku tadi


melihat jika di depan sana ada restoran cepat saji.”


“Tidak.” Sahut Reinard cepat. “Aku ingin memakan makanan yang dibuat


istriku.”


Aku menunduk malu. Wajahku memanas.


“Kamu yakin mau makan masakanku? Ya….tidak begitu enak sih. Tapi…..bisa


dimakana kok. Enggak beracun.”


“Tentu saja. Bukankah aku tidak ingin istriku kecewa?”


“Baiklah. Kalau begitu, selagi kamu mandi dan aku akan memasak.


Bagaimana?” tawarku yang tentu aja mendapatkan anggukan persetujuan dari


Reinard.


Selepas pria itu masuk ke dalam kamar untuk mandi, aku segera


beraksi membuka kulkas dan mengeluakan beberapa bahan makanan dari sana. Untung


saja aku sudah membeli beberapa sayur beberapa hari lalu.


*****


Reinard keluar kamar Ketika aku baru saja menata meja. Tatapanku


berhenti sesaat Ketika melihat tubuh tingginya yang hanya berbalut kaos dan


celana training panjang. Wajahnya tampak segar, meskipun kantuk di matanya tak


bisa ditutupi. Namun yang membuatku salah focus adalah rambutnya yang masih


setengah basah terlihat sedikit acak-acakan karena ia baru saja mengeringkannya


dengan handuk. Hal itu yang membuat ke-sexy-annya bertambah seratus persen.


“Maaf aku hanya membuat seadanya. Cuma apa yang ada di kulkas.” Aku


membuka suara sebelum pikiranku jauh mengembara ke sembarang arah.


Reinard hanya menganggguk dan menarik kursi. “Tidak apa-apa. Aku


bisa makan apapun.” Ia lantas duduk di kursi tersebut, sedang matanya


menjelajah menu di atas meja. Aku hanya membuat tumis udang pedas dan ayam


mentega. Tidak ada sayur hari ini, karena aku memang belum sempat membeli.


“Mau nasi banyak atau sedikit?” aku membungkuk, menyendokkan nasi ke


dalam piring Reinard.


“Cukup.” Katanya Ketika aku menyendokkan dua centong nasi ke dalam


piringnya.


“Tumis udang?” tawarku kemudian.


Ia hanya mengangguk, dan memperhatikan tanganku yang lincah mengisi


piringnya dengan tumis udang dan beberapa ayam mentega. Hatiku merasa hangat

__ADS_1


Ketika melakukan hal ini, suatu hal yang tak pernah kubayangkan


sebelumnya—melayani suamiku.


“Maaf jika hasil masakanku tidak begitu lezat. Karena aku sedang


belajar memasak juga.” Aku duduk di kursi dan mulai menghadap ke piringku


sendiri. mengambil sedikit nasi dan tumis udang pedas favoritku.


“Beberapa hari yang lalu aku mengikuti kelas memasak, dan diajarkan


beberapa masakan sederhana. Setidaknya selain membuat tumis udang, aku harus


bisa membuat menu lain bukan. Karena—”


“Uhuk!”


Suara batuk Reinard membuatku mengangkat dagu. Mataku terbeliak


Ketika melihat wajahnya yang memerah. Aku panik, langsung menghambur ke


arahnya.


“Rei…Rei…kamu kenapa?” aku pikir ia keracunan makananku.


Kuperhatikan bibirnya yang merah dan tangannya yang dengan tangkas mengambil


air putih dan meneggaknya habis.


“Kamu kepedesan?” tanyaku lagi, sedikit bernafas lega. Setidaknya


seporsi udang tumis tidak akan membuatku diinterogasi polisi karena menyebabkan


suamiku sendiri keracunan.


Reinard hanya mengangguk, ia masih belum bisa menguasai lidahnya


yang terbakar.


Aku berlari menuju kulkas. Untung saja aku masih punya beberapa ice


cream di sana. Langsung ku ambil ice cream itu dan membuka bungkusnya.


“Ini, biar pedasnya ilang.” Aku menyerahkan ice cream rasa kacang


hijau itu pada Reinard.


Pria itu tidak mengatakan apapun. Hanya menerima ice cream


pemberianku dan menggigitnya. Ketika ia sudah mulai merasa lebih baik, aku


mulai duduk di sebelahnya.


“Seharusnya kamu bilang jika tidak suka makanan pedas. Aku bisa


membuatkanmu makanan lain. udang goreng tepung misalnya.”


Reinard menggeleng setelah mulut kosong. “Aku harus masak apapun


yang istriku buatkan.”


Aku berdecak, namun tak mampu menutupi degupan jantungku. “Iya, tapi


aku merasa bersalah karena meracunimu.”


Reinard justru terkekah. “Julia, aku tidak apa-apa. Bagaimana bisa cabai


meracuniku?”


Aku menunduk, mengemasi piring-piring kotor dengan mulut membisu.


“Baiklah….besok lagi tolong buatkan aku masakan tanpa rasa pedas. Bisa?”


Aku mengangkat dagu. “Jadi kamu masih mau memakan masakanku?”


wajahku berubah sumringah, seperti anak kecil yang baru saja ditawari mainan


baru oleh orangtuanya.


“Tentu saja.”


“Oke. Katakan padaku apa yang ingin kamu makan dan aku akan


membuatkannya untukmu.”


Reinard mengangguk, lalu beranjak dari kursinya. Ia mengambil remote


dan duduk di sofa sambil melihat TV. Sementara ia focus dengan beritanya, aku


memilih berkutat di dapur untuk mencuci piring dan menyelesaikannya dengan


cepat. Aku berharap mala mini kami tidak melewatakn sesuatu yang tertunda tadi


malam.


Namun sayang, ketika aku sudah selesai membereskan dapur kulihat ia


justru sudah tertidur dengan nyenyak di sofa. Mengurai kecewa, aku berjalan ke


meja kerjaku. Focus dengan pekerjaan kantor yang sempat tertunda sampai aku


ketiduran di sana.


Aku tidak tahu bagaimana ceritanya, namun ketika terbangun keesokan


harinya, aku sudah mendapati tubuhku tertidur di atas ranjang.


*****

__ADS_1


__ADS_2