Klandestin

Klandestin
Perihal Masalah Momongan


__ADS_3

“Dia ingin memiliki seorang anak


dari kamu.”


Kalimat dari ibu Ayu tadi siang


masih menari-nari di pikiranku. Bahkan sampai malam ini, ketika kami dalam


perjalanan pulang menuju Jakarta.


Aku melirik Reinard yang


mengemudi dengan tenang di sampingku. Suamiku ini memang berusia lebih muda


dariku, namun ia ternyata lebih siap lahir batin dengan menerima kehadiran


seorang anak di kehidupan kami.


Beberapa kali aku memang sempat


mendengar beberapa orang membicarakan tentang kekuatan seorang anak dalam sebuah


keluarga. Bahwasanya anak adalah sebagai ikatan kuat hubungan antara


suami-istri. Sebuah pernikahan akan sempurna dengan kehadiran seorang anak,


bukan begitu?


“Rei….” Dengungku pelan kemudian.


Aku menatap ke arahnya.


“Hmmm…” Reinard menjawabku tanpa


menoleh. Rupanya ia tengah asyik dengan lagu ‘way back home’ yang terputar di


dalam mobil kami.


“Bagaimana menurutmu dengan


kehadiran seorang anak di pernikahan kita?” tanyaku pelan-pelan, ingin melihat


respon dari Reinard. Setidaknya aku bia tahu jika apa yang dikatakan Ibu Ayu


itu ada benarnya. Bukannya aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan Ibu Ayu


kepadaku, hanya saja aku ingin memastikan. Secara sampai saat ini, untuk


perihal tentang anak, aku memang belum begitu antusias. Bahkan ada masa dimana


aku selalu meminta Reinard menggunakan pengaman ketika aku dalam masa subur.


Dan sejauh ini suamiku selalu menerimanya dan tidak pernah protes.


“Apa maksud kamu Jul?” mobil


berhenti, ketika lampu merah menghadang kami.


Suamiku menoleh ke arahku dengan


alis bertaut.


“Emm…..”aku memilin-milin ujung


rokku, lalu menegakkan badanku untuk menatap Reinard dengan berani. “Apa kamu


sudah pengen punya anak?!”


Mata Reinard membulat tiba-tiba


namun sedetik kemudian ia malah tertawa.


“Julia…Julia….” Ia mengelus


rambutku. “Siapa sih yang gak pengen punya keturunan.” Lanjutnya santai sambil


memainkan gigi mobilnya karena lampu tiba-tiba berubah menjadi hijau dan


kendaran di depan kami mulai melaju dengan lambat.


“Ih….kok responnya gitu sih!”


sungutku kesal sambil melipat tangan di depan dada. aku pikir Reinard akan


mengangguk dengan wajah berbinar sambil berkata. “Pengen Jul….pengen


bangeet….yok….program…yok…”


“Lha aku harus ngerespon gimana


coba?!” Sahut Reinard. Tangannya terulur mematikan alunan music di dalam mobil


kami. Mungkin ia sedang bersiap dengan pembicaraan yang serius diantara kami.


Aku tidak menjawab, hanya


membuang wajahku ke arah jendela. Menatap sederet pedangang kaki lima di


pinggir jalan yang ramai pembeli. Ada penjual pecel lele, bakso, mie goreng,


nasi goreng dan banyak sekali. Andai tadi tidak makan di panti, aku pasti sudah


mengajak Reinard untuk berhenti dan mampir.


“Jul…..” panggil Reinard lembut.


“Apa?!”


“Idih….kok suaranya sewot gitu?”


Aku mendengkus.


“Habis, ditanya beneran


jawabannya malah gitu.”


Reinard tertawa kecil.


“Kenapa sih, tiba-tiba kamu

__ADS_1


ngomongin masalah anak?”


Aku tak menyahut, lalu menoleh.


“Cuma ngerasa bersalah aja sama kami karena selama ini enggak peka sama


keinginan kamu sayang…..”


Reinard tersenyum, dan aku akui


senyumannya benar-benar memabukkanku. Tiba-tiba saja salah satu tangannya


meraih tanganku dan menautkan jemarinya di jemariku.


“Atas dasar apa kamu tiba-tiba


ngomong begitu sayang…?”


“Emm….ibu Ayu tadi bilang sama


aku, kalau kamu pengen punya anak. Dari aku.”


“Ya jelas dari kamu lah….orang


istriku itu kamu Julia!”


Aku kembali dibuat kesal.


“Aaakh…gitu lagi deeeh!”


sungutku.


Reinard terbahak.


“Begini deh….” Reinard memutar


setirnya ke kiri untuk menepi. Awalnya aku bingung kenapa ia harus menepikan


mobilnya lalu berhenti, namun setelah kupikir-pikir, ia pasti akan mengatakan


suatu hal dengan panjang lebar. Makanya aku menurut saja ketika ia menghentikan


mobilnya.


“Kamu dengerin aku dulu ya?” ia


memutar tubuhnya menghadap ke arahku, dan aku mengangguk.


“Yang namanya punya anak itu


harus kesepakatan kita berdua sayang.” Reinard  menjeda kalimatnya. “Yang dikatakan Ibu Ayu tadi bener, aku memang


pengen punya keturunan dari kami. Tapi aku enggak boleh egois. Aku pengen kamu


siap, bukan hanya aku aja. Aku pengen kamu menerima keadaan kamu sebagai ibu


hamil dengan bahagia dan tanpa tekanan. Biar bayi kita nanti juga bahagia di


perut kamu, biar nanti kamu juga bisa jadi ibu hebat, menerima anak kita dengan


ikhlas tanpa ada paksaan karena aku yang pengen banget punya. Gimana?” Reinard


Aku menggigit bibir dengan penuh


haru.


“Kok kamu bisa mikir sepanjang itu


siiih….” Aku memeluknya dengan hangat. “Padahal kalau tiba-tiba kamu ngehamilin


aku itu juga bukan masalah dan sama sekali enggak salah. Kita kan sah jadi


suami istri!”


“Yak an aku maunya kita itu


sama-sama sejalan sayang. Punya komitmen yang sama. Ya itulah namanya


pernikahan…..” aku merasakan tangannya menepuk-nepuk punggungku dengan lembut.


“Kalau gini kan aku jadi makin


cinta sama kamu!”


“Sama. Kamu pikir aku enggak?!”


Aku tertawa sambil mengusap air


mataku di pipi, lalu kulepaskan pelukanku.


“Jadi gimana, beneran udah mau


punya momongan?” tanya Reinard kemudian.


Aku mengangguk. “Mau…..mulai


sekarang kita usaha bikin dedek ya?” aku tertawa. “Biar aku juga bisa jadi anak


baik buat papa-mama. Setelah aku pikir-pikir, aku kok jahat banget enggak


ngasih-ngasih mereka cucu.”


“Beneran?” Reinard menaikkan


alisnya.


Aku mengangguk.


“I love you….” Reinard mengecup


bibirku lembut.


Untuk beberapa menit, kami


menuntaskan ciuman kami dengan penuh perasaan.


*****


“Kamu kenapa malah ngajakin aku

__ADS_1


turun di sini?” tanyaku ketika kami sekarang berjalan beriringan di trotoar


sambil membawa kembang gula.


“Aku lihat tadi kamu ngelihatin


warung-warung kaki lima terus.” Sahut Reinard sambil memainkan kembang gula di


tangannya. “Eh, aku tawarin makan pecel lele malah enggak mau.”


Aku mencebik. “Aku enggak laper


sayaaang….Cuma pengen aja lihatnya. Yaudah….daripada kita turun enggak beli


apa-apa, mending kita makan kembang gula.” Aku mengangkat kembang gulaku


tinggi-tinggi lalu menggigitnya sedikit. “Hmmm….maniis….”


“Aku lagi ngehayal nih…” Kata


Reinard kemudian.


Aku menoleh, masih dengan


mengunyah kembang gula. “Menghayal apa?”


“Nanti kalau punya anak.”


“Naaah….khan…..” cengirku. “Kalau


punya anak mau apa?’


“Bukan itu…..” Reinard mengusap


ujung bibirku yang mungkin ada sisa remahan kembang gula. “Ngebayangin kalau


anakku cewe pasti cantik kayak mama-nya….”


Aku tertawa mendengar gombalan


suamiku.


“Eemm…aku juga berhayal.”


“Berhayal apa?”


“Kalau nanti anakku cowok pasti


ganteeeeng banget kayak papanya.” Senyumku mengembang. “Aku tadi lihat foto-foto


masa kecil kamu.”


“Oh ya?”


“Kamu lucu sedari bayi ya?”


Reinard tersenyum samar.


Tiba-tiba saja raut wajahnya sedikit berubah sendu.


“Kamu kenapa?” tanyaku penasaran.


Adakah kalimatku yang membuatnya tidak senang?


“Aku pernah berfikir, wajahku ini


keturunan dari siapa ya? Dari ibuku atau ayahku….apakah mereka masih mengingat


aku, atau….bahkan sekarang sudah mengira aku tidak ada di dunia ini….”


Aku tertegun. Kenapa pembicaraan


menarik kami tiba-tiba berubah menjadi seperti ini. Sebenarnya ada suatu hal


yang ejak kemarin ingin kutanyakan pada Reinard, tapi aku merasa belum


menemukan waktu yang tepat saja. Mungkin ini adalah waktunya.


 “Apa kamu pengen ketemu mereka? Orang tua


kandung kamu?” tanyaku kemudian.


Reinard berfikir sejenak kemudian


menggeleng. “Untuk apa aku mencari seseorang yang sudah membuangku Julia?”


Aku tidak menyahut. Membenarkan kalimat


Reinard dalam hati. Meskipun tidak menutup kemungkinan orangtua kandungnya


menyesal karena telah membuang anak setampan dan sepandai Reinard, namun aku


mengerti jika suamiku ini memang terluka batinnya karena udah dibuang.


 Dibuang berarti tidak diinginkan bukan? Jadi untuk


apa harus mencari orang yang sudah menyia-nyikan kita?


  Kami


berdua bergandengan tangan menyusuri trotoar ini dengan tidak banyak bicara. Kami


melewati beberapa pedagang kaki lima, beberapa penjual makanan dan minuman, dan


kami menikmati moment berdua kami.


Tiba-tiba saja dering ponsel


milik Reinard memecah suasana. Suamiku merogoh sakunya, dan sedikit tertegun


dengan nama yang tertera di layar—yang aku tidak tahu. Pastilah dari rumah


sakit.


“Sebentar ya, aku angkat telepon


dulu.” Pria itu bergegas menjauh meninggalkanku.


*****

__ADS_1


__ADS_2