
Aku berlari di koridor rumah
sakit tanpa memperdulikan banyak pasang mata yang menatapku dengan heran.
Pikiranku kacau, dan aku tidak bisa memikirkan apapun selain bisa segera
menemui Reinard dan mengetahui bagaimana kondisinya.
Setengah jam yang lalu, aku
langsung melompat dari ruang kerjaku, dan meninggalkan Rosa sendirian ketika
sebuah telepon dari nomor tak dikenal yang ternyata dari Wina—sang koas di
rumah sakit tempat dimana Reinard bekerja mengabarkan bahwa keadaan Reinard
begitu buruk.
Aku tidak yakin dengan maksud
Wina ‘yang begitu buruk’, intinya suamiku itu sekarang tengah dirawat di rumah
sakit dengan wajah babak belur. Babak belur karena apa dan bagaimana keadaannya
sekarang, aku sedang dalam perjalanan untuk memastikan.
“Mbak, kamar dokter Reinard nomor
berapa ya?” tanyaku ketika berhenti di depan counter perawat. Nafasku naik
turun, seperti habis lari marathon. Bahkan perawat di depanku menatapku dengan
aneh ketika melihatku berantakan seperti ini.
“Paling ujung mbak. Nomor
delapan.”
“Terimakasih.” Kataku dan
langsung pergi begitu saja. Kali ini aku tidak berlari seperti tadi, hanya
langkahku saja yang ku percepat. Aku bernafas lega dan menghentikan langkah sebentar
ketika sudah berada tepat di depan pintu kamar nomor delapan tersebut. Pintu
geser yang berwarna cokelat itu tampak hening, seolah tidak mengijinkanku untuk
masuk dan melihat keadaan suamiku.
Setelah beberapa kali mengambil
nafas, aku menggeer pintu itu perlahan.
Aku pikir, Reinard sedang
sendirian, tapi ternyata di sana ada Wina. Melihat kedatanganku, gadis itu
langsung menatapku dengan sinis. Seolah aku adalah rival abadinya sepanjang
masa, seolah aku adalah wanita yang merebut Reinard darinya.
“Kamu kenapa?” tanyaku sambil
melangkah pelan mendekati Reinard, tanpa peduli dengan tatapan Wina. Mataku fokus
pada Reinard yang tergolek lemah di tempat tidur dengan beberapa bagian
wajahnya yang bengkak. Pikiranku yang hiperbola tadi bahkan membayangkan bahwa
Reinard tergolek dengan kaki atau tangan menggunakan gips dan ia tidak sadar. Tapi
kenyataannya, aku yakin bahwa Reinard masih bisa berlari keliling lapangan
tujuh kali saat ini.
“Makanya kalau punya suami itu di
jaga!” bukannya Reinard yang menjawab, melainkan Wina. Apa-apaan sih bocah ini?
Sikapnya sudah mirip seperti orangtua Reinard dibandingkan seniornya di
kedokteran.
Aku meliriknya dengan kesal,
bersiap ingin membalas kalimatnya namun tiba-tiba tangan Reinard memegang
lenganku.
“Win, bisa tinggalin kami
sendirian enggak?” Reinard menatap Wina dengan lemah.
“Tapi dok….”
“Ini masalah suami-istri Win.” Tegas
Reinard. “Kamu balik kerja lagi ya…..dan….makasih sudah ngerawat saya.” Ia
tersenyum samar.
Wina mendengkus kesal. Aku bisa
melihatnya begitu kecewa dengan kalimat Reinard. Namun apa yang bisa
dilakukannya selain menurut. Secara akulah yang berhak atas Reinard, bukan
gadis kecil ini.
“Baik dok. Saya permisi.” Wina
akhirnya meninggalkan kami berduaa di dalam kamar.
Untuk beberapa saat kami saling
hening dengan posisi yang sama. Aku yang berdiri di sisi tempat tidur dengan
salah satu tangannya masih memegang pergelanganku dengan erat, sedangkan mata
kami saling mengunci. Ingin aku berpaling, tapi aku terpaku. Tak bisa menghindar
sedikitpun.
Aku akui, bahwa aku rindu
suamiku.
“Kamu kenapa?” tanyaku pada
akhirnya.
“Berantem.”
“Berantem?” aku menautkan alisku.
“Sama siapa? Daniel lagi?’
Reinard menggeleng.
“Sama pak Anton.”
“Ha?!!” mulutku ternganga. Apa
aku tidak salah dengar?
“Kamu berantem sama ayah tiri
kamu?”
Reinard berdecak dan tampak tidak
__ADS_1
suka dengan kalimatku.
“Siapa bilang dia ayah tiriku.”
Elaknya. “Ayah tiriku itu Saputra. Bukannya Anton.”
Aku mendengus tidak peduli.
Kusisir tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Semua terlihat baik-baik
saja, selain…ya…wajahnya yang terlihat lebam-lebam. Jadi kenapa ia musti
dirawat di rumah sakit?
“Jadi kamu baik-baik saja?”
tanyaku datar seraya melipat kedua tanganku di depan dada.
Reinard tak langsung menjawab. Ia
hanya menyeringai lalu menunjuk wajahnya.
“Ini…” katanya. “Apakah ini
terlihat baik-baik saja?”
Aku memutar bola mata malas.
Percuma aku berlari tunggang-langgang sampai meninggalkan semua pekerjaanku
bahkan adikku, jika ternyata seseorang yang ku cemaskan tidak mengalami sesuatu
yang buruk.—Ya….aku tidak berharap ia mengalami sesuatu yang lebih dari ini—tapi
aku kesal dengan telepon Wina yang terlalu berlebihan. Reinard hanya lebam. Itu
saja. Aku rasa dengan salep, dan antibiotic wajahnya akan kembali bersinar
besok.
“Ya sudah aku pergi.” Aku berbalik.
“Banyak pekerjaan yang menungguku.”
“Tunggu Jul!” Reinard meraih
tanganku. “Jangan pergi.”
Aku tak bergeming. Aku membutuhkan
kalimat lebih dari itu agar membuatku tetap tinggal di sini.
“Aku membutuhkan kamu….” Yap! Kalimat
itu sudah cukup membuat hatiku menghangat sekarang.
Aku menoleh, menatapnya dengan
kesal.
“Kamu enggak apa-apa kan? Kamu
bisa jalan, lari, bahkan mengoperasi pasienmu. Jadi untuk apa butuh aku?!”
Suaraku meninggi. “Lagipula ada Wina kan? Dia pasti pandai ngobatin kamu karena
dia dokter!”
“Kamu cemburu sama Wina?”
“Lha menurut kamu?”
“Tapi aku maunya sama kamu Jul.”
Reinard mulai merengek. “Temeni aku. Ya….ya…jangan pergi!”
“Tapi aku mau pulang. Aku enggak
Reinard menegakkan tubuhnya lalu duduk di pinggiran kasur dengan
kaki menjuntai ke lantai.
“Aku enggak bohong.”
Aku tertawa sinis “Enggak bohong?
Terus yang kamu lakuin sama aku selama ini apa?!” hardikku. “Aku istri kamu
Rei…atau…jangan-jangan kamu enggak pernah anggep aku sebagai istri kamu?”
“Jul!” Reinard meninggikan
suaranya. “Jangan ngomong begitu.”
“Tapi buktinya mana? Kamu anggep
aku ini apa sih Rei? Cuma teman tidur? Iya?”
Reinard tidak segera menjawab.
“Aku cinta kamu Jul.”
Aku berdecih. Untuk saat ini, aku
sama sekali tidak percaya dengan kalimta cinta, bagaimanapun bentuknya.
Bagaimanapun cara menyampaikannya.
“Semua orang bisa ngomong cinta
Rei.” Aku menghela nafas pelan. “Tapi yang paling penting itu bukan ucapannya,
tapi bukti dari mencintai itu kayak apa.”
Reinard menunduk. Bukannya
melepaskan tanganku, justru kini semakin erat.
“Aku enggak pernah bermaksud
bohongi kamu Jul. aku cinta sama kamu, aku benar-benar jatuh cinta sama kamu.
Sejak kita pertama kali bertemu di café waktu itu.”
Aku tak bergerak, namun ekor
mataku beralih pada Reinard. Menatap wajahnya yang kini tampak sendu dan penuh
rasa bersalah.
“Ijinkan aku untuk menjelaskan
semuanya sama kamu Jul.” ia mendongak menatapku, dan alhasil mata kami bertemu
sekarang. Aku sudah tidak bisa membuang muka karena tatapannya seolah mengunci
diriku.
“Menjelaskan apa? Bukannya sudah
jelas?” nadaku ketus, tapi intonasiku menurun.
“Duduk dulu….” Ia menarik
tanganku. Awalnya aku menolak, tapi karena ia terus menarik-narik lenganku,
akhirnya aku menurut dan duduk di sampingnya—di pinggir ranjang.
“Aku waktu itu memang punya
keinginan untuk bilang sama kamu Jul, tapi aku takut.”
__ADS_1
“Takut kenapa?” tolehku. “Aku kan
enggak gigit kamu.”
“Takut kalau kamu enggak menerima
aku, dengan kondisiku dan dengan semua kekuranganku.”
“Rei…” protesku kesal. “Aku bukan
wanita gila harta. Aku bukan wanita yang menuntut kesempurnaan dari
pasanganku.”
“Tapi kenapa kamu selalu menolak
setiap papa menjodohkanmu?”
“Itu bukan karena aku menuntuk
kesempurnaan Rei. Hanya saja aku tidak menemukan….atau….aku belum menemukan
seseorang seperti kamu.” Jawabku sedikit ragu.
“Jul, kamu tahu bahwa semenjak
pertemuan pertama kita, kamu adalah duniaku. Kamu menjadi pusat hidupku. Kamu
mengubah hatiku bahkan cara pandangku dengan hidup.”
Entah kenapa kalimat Reinard
membuat hatiku menghangat.
Pria itu menghela nafas pelan,
pandangannya lurus ke depan. “Pak Anton memang pernah mengadopsiku. Ketika aku
masih kecil. Dia memiliki istri bernama mama Sarah, yang langung jatuh cinta
padaku saat kami baru pertama kali bertemu. Aku tahu, wanita itu begitu
mencintaiku.” Reinard menghentikan ceritanya sebentar. Raut wajahnya begitu
keruh.
“Waktu itu ada sebuah acara di
panti. Mama Sarah ikut serta dalam acara itu. Melihatku, dia langsung tertarik
dan berniat mengadopsiku. Awalnya aku pikir, bahwa semua orang yang diadopsi
itu akan bahagia karena mendapatkan keluarga baru. Ternyata, aku salah. Tanpa
sepengetahuan mama, karena mama sering bekerja di luar kota, pak Anton sering
menyiksaku habis-habisan. Aku di pukul, di tending dan bahkan dikurung
berhari-hari jika nakal. Aku tidak tahan, dan akhirnya kabur dari rumah.
Terlunta-lunta di jalan, akhirnya aku bertemu Marina. Dia bagaikan malaikat
untukku, membawaku pulang, mendengar semua ceritaku bahkan mama serta papa mau
membantuku dan menjadikanku anaka angkat mereka.”
“Papa Saputra berhasil memasukkan
pak Anton dalam penjara. Namun selepas pak Anton dipenjara, mama Sarah juga
menghilang. Bertahun-tahun tidak bertemu dengan pak Anton, tiba-tiba dia muncul
di depanku dan sering meminta uang padaku. Mengancam akan membeberkan semua
masa laluku sama kamu Jul.”
Aku menunduk, sebutir air mata
jatuh di pipiku. Aku kira kisah Reinard tak sepedih ini, tapi ternyata aku
salah. Ketika bayi ia ditinggalkan begitu saja di depan pintu panti asuhan, dan
ketika ada seseorang mengadopsinya, ia justru mendapatkan perlakukan kasar.
“Lalu bagaimana dengan kabar mama
Sarah?” tanyaku kemudian sambil menyeka air mataku.
Reinard menggeleng pelan. “Aku
menemukannya bekerja di sebuah pabrik konveki. Beberapa kali aku bertemu dengan
mama, dan dia selalu menangis setiap melihatku.”
Aku bangkit dari dudukku.
“Kali ini aku akan memaafkanmu,
tapi kalau kamu membohongiku lagi, aku tidak akan mau bicara denganmu Reinard!”
dengusku.
Reinard tertawa, lalu meraih
tubuhku dan memelukku dengan erat.
“Jul, mungkin kamu akan menemukan
banyak kejutan ketika hidup denganku, apakah kamu bersedia menerima semua hal
yang ada pada diriku?” ia membelai rambutku.
Aku tersenyum. “tentu saja, aku
akan menerima konekwensinya. Karena aku mencintaimu.”
“Apa kamu sudah tidak marah?”
Aku menggeleng. “Tidak.” Sahutku.
“Jadi apa kamu mau pulang ke
rumah lagi?”
Aku mengangguk. Sekarang?”
tanyaku.
Reinard menggeleng.
“Tidak. Karena aku udah membayar
kamar ini, dan raanya sayang sekali kalau hanya dipakai sebentar.” Ia
menarikku, dan tubuh kami kini memantul di kasur.
“Reii…ini kamar rumah sakit.
Bukan kamar hotel!” pekikku ketika ia memelukku di kasur.
“Bodo amat. Lagian aku tadi Cuma
sandiwara biar kamu datang kok.”
“Reeei!!!” Aku merengut.
“Aku mencintaimu Julia.” Ia
lantas melayangkan ciumannya bertubi-tubi padaku.
******
__ADS_1