Klandestin

Klandestin
Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

Aku berlari di koridor rumah


sakit tanpa memperdulikan banyak pasang mata yang menatapku dengan heran.


Pikiranku kacau, dan aku tidak bisa memikirkan apapun selain bisa segera


menemui Reinard dan mengetahui bagaimana kondisinya.


Setengah jam yang lalu, aku


langsung melompat dari ruang kerjaku, dan meninggalkan Rosa sendirian ketika


sebuah telepon dari nomor tak dikenal yang ternyata dari Wina—sang koas di


rumah sakit tempat dimana Reinard bekerja mengabarkan bahwa keadaan Reinard


begitu buruk.


Aku tidak yakin dengan maksud


Wina ‘yang begitu buruk’, intinya suamiku itu sekarang tengah dirawat di rumah


sakit dengan wajah babak belur. Babak belur karena apa dan bagaimana keadaannya


sekarang, aku sedang dalam perjalanan untuk memastikan.


“Mbak, kamar dokter Reinard nomor


berapa ya?” tanyaku ketika berhenti di depan counter perawat. Nafasku naik


turun, seperti habis lari marathon. Bahkan perawat di depanku menatapku dengan


aneh ketika melihatku berantakan seperti ini.


“Paling ujung mbak. Nomor


delapan.”


“Terimakasih.” Kataku dan


langsung pergi begitu saja. Kali ini aku tidak berlari seperti tadi, hanya


langkahku saja yang ku percepat. Aku bernafas lega dan menghentikan langkah sebentar


ketika sudah berada tepat di depan pintu kamar nomor delapan tersebut. Pintu


geser yang berwarna cokelat itu tampak hening, seolah tidak mengijinkanku untuk


masuk dan melihat keadaan suamiku.


Setelah beberapa kali mengambil


nafas, aku menggeer pintu itu perlahan.


Aku pikir, Reinard sedang


sendirian, tapi ternyata di sana ada Wina. Melihat kedatanganku, gadis itu


langsung menatapku dengan sinis. Seolah aku adalah rival abadinya sepanjang


masa, seolah aku adalah wanita yang merebut Reinard darinya.


“Kamu kenapa?” tanyaku sambil


melangkah pelan mendekati Reinard, tanpa peduli dengan tatapan Wina. Mataku fokus


pada Reinard yang tergolek lemah di tempat tidur dengan beberapa bagian


wajahnya yang bengkak. Pikiranku yang hiperbola tadi bahkan membayangkan bahwa


Reinard tergolek dengan kaki atau tangan menggunakan gips dan ia tidak sadar. Tapi


kenyataannya, aku yakin bahwa Reinard masih bisa berlari keliling lapangan


tujuh kali saat ini.


“Makanya kalau punya suami itu di


jaga!” bukannya Reinard yang menjawab, melainkan Wina. Apa-apaan sih bocah ini?


Sikapnya sudah mirip seperti orangtua Reinard dibandingkan seniornya di


kedokteran.


Aku meliriknya dengan kesal,


bersiap ingin membalas kalimatnya namun tiba-tiba tangan Reinard memegang


lenganku.


“Win, bisa tinggalin kami


sendirian enggak?” Reinard menatap Wina dengan lemah.


“Tapi dok….”


“Ini masalah suami-istri Win.” Tegas


Reinard. “Kamu balik kerja lagi ya…..dan….makasih sudah ngerawat saya.” Ia


tersenyum samar.


Wina mendengkus kesal. Aku bisa


melihatnya begitu kecewa dengan kalimat Reinard. Namun apa yang bisa


dilakukannya selain menurut. Secara akulah yang berhak atas Reinard, bukan


gadis kecil ini.


“Baik dok. Saya permisi.” Wina


akhirnya meninggalkan kami berduaa di dalam kamar.


Untuk beberapa saat kami saling


hening dengan posisi yang sama. Aku yang berdiri di sisi tempat tidur dengan


salah satu tangannya masih memegang pergelanganku dengan erat, sedangkan mata


kami saling mengunci. Ingin aku berpaling, tapi aku terpaku. Tak bisa menghindar


sedikitpun.


Aku akui, bahwa aku rindu


suamiku.


“Kamu kenapa?” tanyaku pada


akhirnya.


“Berantem.”


“Berantem?” aku menautkan alisku.


“Sama siapa? Daniel lagi?’


Reinard menggeleng.


“Sama pak Anton.”


“Ha?!!” mulutku ternganga. Apa


aku tidak salah dengar?


“Kamu berantem sama ayah tiri


kamu?”


Reinard berdecak dan tampak tidak

__ADS_1


suka dengan kalimatku.


“Siapa bilang dia ayah tiriku.”


Elaknya. “Ayah tiriku itu Saputra. Bukannya Anton.”


Aku mendengus tidak peduli.


Kusisir tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Semua terlihat baik-baik


saja, selain…ya…wajahnya yang terlihat lebam-lebam. Jadi kenapa ia musti


dirawat di rumah sakit?


“Jadi kamu baik-baik saja?”


tanyaku datar seraya melipat kedua tanganku di depan dada.


Reinard tak langsung menjawab. Ia


hanya menyeringai lalu menunjuk wajahnya.


“Ini…” katanya. “Apakah ini


terlihat baik-baik saja?”


Aku memutar bola mata malas.


Percuma aku berlari tunggang-langgang sampai meninggalkan semua pekerjaanku


bahkan adikku, jika ternyata seseorang yang ku cemaskan tidak mengalami sesuatu


yang buruk.—Ya….aku tidak berharap ia mengalami sesuatu yang lebih dari ini—tapi


aku kesal dengan telepon Wina yang terlalu berlebihan. Reinard hanya lebam. Itu


saja. Aku rasa dengan salep, dan antibiotic wajahnya akan kembali bersinar


besok.


“Ya sudah aku pergi.” Aku berbalik.


“Banyak pekerjaan yang menungguku.”


“Tunggu Jul!” Reinard meraih


tanganku. “Jangan pergi.”


Aku tak bergeming. Aku membutuhkan


kalimat lebih dari itu agar membuatku tetap tinggal di sini.


“Aku membutuhkan kamu….” Yap! Kalimat


itu sudah cukup membuat hatiku menghangat sekarang.


Aku menoleh, menatapnya dengan


kesal.


“Kamu enggak apa-apa kan? Kamu


bisa jalan, lari, bahkan mengoperasi pasienmu. Jadi untuk apa butuh aku?!”


Suaraku meninggi. “Lagipula ada Wina kan? Dia pasti pandai ngobatin kamu karena


dia dokter!”


“Kamu cemburu sama Wina?”


“Lha menurut kamu?”


“Tapi aku maunya sama kamu Jul.”


Reinard mulai merengek. “Temeni aku. Ya….ya…jangan pergi!”


“Tapi aku mau pulang. Aku enggak


Reinard menegakkan  tubuhnya lalu duduk di pinggiran kasur dengan


kaki menjuntai ke lantai.


“Aku enggak bohong.”


Aku tertawa sinis “Enggak bohong?


Terus yang kamu lakuin sama aku selama ini apa?!” hardikku. “Aku istri kamu


Rei…atau…jangan-jangan kamu enggak pernah anggep aku sebagai istri kamu?”


“Jul!” Reinard meninggikan


suaranya. “Jangan ngomong begitu.”


“Tapi buktinya mana? Kamu anggep


aku ini apa sih Rei? Cuma teman tidur? Iya?”


Reinard tidak segera menjawab.


“Aku cinta kamu Jul.”


Aku berdecih. Untuk saat ini, aku


sama sekali tidak percaya dengan kalimta cinta, bagaimanapun bentuknya.


Bagaimanapun cara menyampaikannya.


“Semua orang bisa ngomong cinta


Rei.” Aku menghela nafas pelan. “Tapi yang paling penting itu bukan ucapannya,


tapi bukti dari mencintai itu kayak apa.”


Reinard menunduk. Bukannya


melepaskan tanganku, justru kini semakin erat.


“Aku enggak pernah bermaksud


bohongi kamu Jul. aku cinta sama kamu, aku benar-benar jatuh cinta sama kamu.


Sejak kita pertama kali bertemu di café waktu itu.”


Aku tak bergerak, namun ekor


mataku beralih pada Reinard. Menatap wajahnya yang kini tampak sendu dan penuh


rasa bersalah.


“Ijinkan aku untuk menjelaskan


semuanya sama kamu Jul.” ia mendongak menatapku, dan alhasil mata kami bertemu


sekarang. Aku sudah tidak bisa membuang muka karena tatapannya seolah mengunci


diriku.


“Menjelaskan apa? Bukannya sudah


jelas?” nadaku ketus, tapi intonasiku menurun.


“Duduk dulu….” Ia menarik


tanganku. Awalnya aku menolak, tapi karena ia terus menarik-narik lenganku,


akhirnya aku menurut dan duduk di sampingnya—di pinggir ranjang.


“Aku waktu itu memang punya


keinginan untuk bilang sama kamu Jul, tapi aku takut.”

__ADS_1


“Takut kenapa?” tolehku. “Aku kan


enggak gigit kamu.”


“Takut kalau kamu enggak menerima


aku, dengan kondisiku dan dengan semua kekuranganku.”


“Rei…” protesku kesal. “Aku bukan


wanita gila harta. Aku bukan wanita yang menuntut kesempurnaan dari


pasanganku.”


“Tapi kenapa kamu selalu menolak


setiap papa menjodohkanmu?”


“Itu bukan karena aku menuntuk


kesempurnaan Rei. Hanya saja aku tidak menemukan….atau….aku belum menemukan


seseorang seperti kamu.” Jawabku sedikit ragu.


“Jul, kamu tahu bahwa semenjak


pertemuan pertama kita, kamu adalah duniaku. Kamu menjadi pusat hidupku. Kamu


mengubah hatiku bahkan cara pandangku dengan hidup.”


Entah kenapa kalimat Reinard


membuat hatiku menghangat.


Pria itu menghela nafas pelan,


pandangannya lurus ke depan. “Pak Anton memang pernah mengadopsiku. Ketika aku


masih kecil. Dia memiliki istri bernama mama Sarah, yang langung jatuh cinta


padaku saat kami baru pertama kali bertemu. Aku tahu, wanita itu begitu


mencintaiku.” Reinard menghentikan ceritanya sebentar. Raut wajahnya begitu


keruh.


“Waktu itu ada sebuah acara di


panti. Mama Sarah ikut serta dalam acara itu. Melihatku, dia langsung tertarik


dan berniat mengadopsiku. Awalnya aku pikir, bahwa semua orang yang diadopsi


itu akan bahagia karena mendapatkan keluarga baru. Ternyata, aku salah. Tanpa


sepengetahuan mama, karena mama sering bekerja di luar kota, pak Anton sering


menyiksaku habis-habisan. Aku di pukul, di tending dan bahkan dikurung


berhari-hari jika nakal. Aku tidak tahan, dan akhirnya kabur dari rumah.


Terlunta-lunta di jalan, akhirnya aku bertemu Marina. Dia bagaikan malaikat


untukku, membawaku pulang, mendengar semua ceritaku bahkan mama serta papa mau


membantuku dan menjadikanku anaka angkat mereka.”


“Papa Saputra berhasil memasukkan


pak Anton dalam penjara. Namun selepas pak Anton dipenjara, mama Sarah juga


menghilang. Bertahun-tahun tidak bertemu dengan pak Anton, tiba-tiba dia muncul


di depanku dan sering meminta uang padaku. Mengancam akan membeberkan semua


masa laluku sama kamu Jul.”


Aku menunduk, sebutir air mata


jatuh di pipiku. Aku kira kisah Reinard tak sepedih ini, tapi ternyata aku


salah. Ketika bayi ia ditinggalkan begitu saja di depan pintu panti asuhan, dan


ketika ada seseorang mengadopsinya, ia justru mendapatkan perlakukan kasar.


“Lalu bagaimana dengan kabar mama


Sarah?” tanyaku kemudian sambil menyeka air mataku.


Reinard menggeleng pelan. “Aku


menemukannya bekerja di sebuah pabrik konveki. Beberapa kali aku bertemu dengan


mama, dan dia selalu menangis setiap melihatku.”


Aku bangkit dari dudukku.


“Kali ini aku akan memaafkanmu,


tapi kalau kamu membohongiku lagi, aku tidak akan mau bicara denganmu Reinard!”


dengusku.


Reinard tertawa, lalu meraih


tubuhku dan memelukku dengan erat.


“Jul, mungkin kamu akan menemukan


banyak kejutan ketika hidup denganku, apakah kamu bersedia menerima semua hal


yang ada pada diriku?” ia membelai rambutku.


Aku tersenyum. “tentu saja, aku


akan menerima konekwensinya. Karena aku mencintaimu.”


“Apa kamu sudah tidak marah?”


Aku menggeleng. “Tidak.” Sahutku.


“Jadi apa kamu mau pulang ke


rumah lagi?”


Aku mengangguk. Sekarang?”


tanyaku.


Reinard menggeleng.


“Tidak. Karena aku udah membayar


kamar ini, dan raanya sayang sekali kalau hanya dipakai sebentar.” Ia


menarikku, dan tubuh kami kini memantul di kasur.


“Reii…ini kamar rumah sakit.


Bukan kamar hotel!” pekikku ketika ia memelukku di kasur.


“Bodo amat. Lagian aku tadi Cuma


sandiwara biar kamu datang kok.”


“Reeei!!!” Aku merengut.


“Aku mencintaimu Julia.” Ia


lantas melayangkan ciumannya bertubi-tubi padaku.


******

__ADS_1


__ADS_2