Klandestin

Klandestin
Seorang Pengemis


__ADS_3

Hari minggu,


adalah hari paling membahagiakan karena aku bisa bersantai di rumah untuk


bermalas-malasan atau sekedar olahraga cardio. Aku memang paling malas datang


ke tempat gym untuk berolahraga, alhasil jika ada kesempatan aku selalu


menggelar matras di rumah untuk melakukan hal tersebut.


Aku sedang


melipat matras ketika Reinard keluar dari kamar. Wajahnya khas bangun tidur,


namun sama sekali tidak membuat aura tampannya memudar meskipun ia terlihat


berantakan. Sudah beberapa minggu tinggal dengan Reinard, aku tahu beberapa


kebiasannya. Ia paling tidak suka tidur dengan lampu padam, berkebalikan


denganku. Untung saja, dia masih bisa menggunakan lampu tidur. Aku sering juga


mendapatinya mengigau tidak jelas, dan tepukan di pundaknya berhasil membuatnya


kembali tidur dengan tenang layaknya bayi.


“Mau dibuatin


sarapan?” aku meletakkan matrasku di pojok. Salah satu tanganku terulur menarik


handuk di pundak lantas menyeka keringat di pelipisku. “Kamu mau makan apa?”


Reinard


menatapku, kulihat wajahnya tiba-tiba memerah. Aku menunduk, astaga! Aku hanya


mengenakan bra olahraga yang memperlihatkan pusarku serta celana training yang


mengikuti lekuk tubuhku.


Aku histeris,


segera berlari ke dalam kamar dan mengambil sebuah kaos yang agak besar. Selama


ini aku sudah sering berolahraga di depan Reinard, namun biasanya aku


menggunakan kaos sebagai atasan. Hanya saja aku pikir hari ini dia belum bangun


jadi aku bisa mencoba memakai pakaian olahragaku yang baru.


“Sorry…..sorry…kalau


bikin kamu enggak nyaman.” Kataku ketika sudah keluar kamar.


Reinard tertawa,


kali ini ia bisa memandangku dengan leluasa. “Jangan memakai pakaian itu di


depan pria lain ya Jul.” ia menarik handuk yang masih aku genggam dan menyeka


sisa keringat di wajahku.


Aku tersipu.


Sepagi ini sudah mendapatkan gombalan yang aduhai dari suamiku.


Akh, sebenarnya


jika aku tanpa busana pun aku tidak yakin jika dia akan berhasrat padaku.


“Oh ya, kamu mau


makan apa?” aku mencoba menetralkan perasaan termehek-mehekku di pagi hari


seperti ini. “Nasi goreng selimut gimana?”


“Nasi goreng


selimut?”


Aku berjalan menuju


kulkas. “Iya. Selimutnya dari telur dadar.” Sahutku sambil membuka kulkas lalu


mengambil telur beserta daun loncang dari sana.


“Baiklah, kalau


gitu aku yang buat telur dadarnya ya?”


Aku menoleh dan


mendapati Reinard sudah memegang spatula sambil tersenyum.


“OKE!” aku


mengangguk antusias.


Kami mulai


bergelut dengan tugas kami masing-masing. Reinard sibuk dengan telur-telur yang


akan di gorengnya. Meskipun tangannya terlihat kaku, tapi ia berhasil memecah


telur tanpa membuat cangkangnya masuk ke dalam mangkuk. Sedang aku sibuk


menyiapkan bumbunya. Karena sedang malas mengulek, aku menggunakan food chopper


tanpa susah-susah capek.


Tidak lebih dari


dua puluh menit, akhirnya nasi goring selimut kami jadi. Makanan sederhana yang


menjadi sangat luar biasa bagiku karena aku memasaknya dengan seseorang yang istimewa.


Sepanjang menjadi suami-isti, baru kali ini kami masak bersama. Biasanya aku


yang menyiapkan dan Reinard tinggal makan. Tapi kami lebih sering memesan


makanan. Pikirku, aku tidak pandai memasak, dan aku rasa Reinard akan bosan


jika hanya makan itu-itu saja.


“Jul, minggu


depan sibuk enggak?” Tanya Reinard di sela-sela makan.


Aku menghabiskan


kunyahanku.


“Enggak begitu


sih.”

__ADS_1


“Bisa ambil


cuti?”


“Cuti?” Aku


mengerutkan alisku. “Kenapa?”


“Marina minta


kita datang ke Perancis untuk merayakan ulangtahun pernikahannya.” Reinard


meneguk air putihnya. “Kalau kamu bisa cuti, bagaimana kalau kita datang?”


Aku terdiam


beberapa saat. Bukannya aku tidak mau, lagipula sudah lama juga aku tidak


liburan ke luar negeri. Bukankah aku bisa mempergunakan kesempatan ini sebagai


liburan karena lelahnya rutinitasku atau…bulan madu? Tapi aku merasa tidak akan


nyaman nanti ketika Marina bertanya banyak hal padaku tentang pernikahan.


Apalagi selama ini tak pernah terjadi apa-apa diantara aku dengan Reinard


selain tidur bersama—tanpa menyentuh—atau sekedar makan bersama seperti ini.


“Dia akan sangat


bahagia jika kamu datang Jul.” suara Reinard menghilangkah kebimbangan hatiku. “Beberapa


hari ini ia terus menelponku.”


“Begitu?” aku


masih sedikit ragu.


Reinard


mengangguk. “Sebenarnya, sudah beberapa hari lalu dia menghubungiku. Dan aku


masih ragu untuk mengatakannya padamu.”


“Baiklah. Mari kita


pergi.” Aku mengangguk pada akhirnya.


*****


Selesai makan,


aku membereskan piring di meja sendirian. Beberapa menit lalu, ketika Reinard mau


membantuku, sebuah dering ponsel membawanya menuju loteng. Dan sampai sekarang


ia masih terlihat sibuk dengan telepon itu. Aku bertanya-tanya siapa gerangan


yang menelpon suamiku di hari minggu ini dan membuat ekpresinya berubah tegang.


Namun akau yakin jika itu pasti tentang pasien. Beginilah, meksipun libur dia


tetap harus mengangkat telepon jika ada konsultasi tentang masalah pasien di


rumah sakit.


“Biar aku buang


sampahnya ya Jul.” Reinard sudah berdiri di belakangku. Ia menyugar rambutnya


ke belakang, lalu mengambil plastic hitam berisi sampah yang berada di sudut


Aku mengangguk.


Melihatnya berjalan menuju pintu. Aku menatap punggung suamiku dengan helaan


nafas panjang. Was-was saja jika setelah ini kembali dihadapakan bahwa ia harus


ke rumah sakit karena pasiennya kritis.


“Rei….”


Panggilku memberanikan diri, dan pria itu menoleh setelah berhasil membuka


separuh dari pintu.


“Kamu enggak


akan ke rumah sakit kan hari ini?” aku menggigit bibir bawahku.


Senyum Reinard


terkembang kemudian menggeleng pelan.


“Tentu saja


tidak. Aku ingin menghabiskan mingguku dengan bersantai bersamamu.” Lantas pria


itu keluar dan menutup pintu.


Aku menarik


nafas lega. Setidaknya minggu ini ada sosok Reinard di rumah dan aku tidak


kesepian. Pria itu sering keluar rumah di hari minggu, terkadang bersiap sejak


pagi atau terkadang mendadak di sore hari. Pernah juga beberapa kali sampai


tidak pulang ke rumah. Membuat apartement yang memang sepi ini menjadi lebih


sepi lagi. Kami memang jarang berinteraksi di dalam rumah. Aku sering


menghabiskan waktuku di meja kerja sedang Reinard berada di depan TV atau membaca


buku. Namun meskipun begitu, aku merasa nyaman setiap keluar dari dalam ruang


kerja untuk mengambil minum, ice cream atau snack dan melihatnya berada di ruang


depan. Setidaknya aku benar-benar tidak sendirian.


“Akh….plastik


satunya lupa!” aku menepuk keningku. Ada satu lagi plastic sampah yang tidak


Reinard bawa karena tadi berada di tempat yang berbeda.


Aku mendengkus,


berjalan tergesa sambil menenteng plastic sampah itu keluar dari apartement.


Aku paling tidak suka ada sampah menumpuk di rumah, jadi setelah makan atau mau


berangkat kerja, aku selalu membawanya turun.


Tempat sampah

__ADS_1


itu berada di samping apartement. Biasanya di pagi hari akan banyak pemulung di


sana untuk mengais-ngais sampah, mencari beberapa barang yang menurut mereka


masih berharga dan bisa mereka jual ke tempat rosok. Aku selalu prihatin


melihat mereka, dan setelah itu banyak mengucap syukur untuk diriku sendiri.


Bahwa aku beruntung, jauh lebih beruntung dari mereka.


Aku mencari-cari


Reinard di sekitar tempat pembuangan sampah, namun pria itu tidak ada. Seharunya


dia masih berada di sini sekarang karena aku tidak bertemu dengannya tadi


ketika turun. Atau kami memang bersimpangan di lift, jadi tidak bertemu?


Entahlah.


aku kembali


melengang santai sambil memasukkan tangan ke dalam saku celana kolorku. Namun


langkahku terhenti ketika berjalan beberapa langkah. Senyumku mengembang


melihat Reinard berada di depan gerbang pintu masuk apartement, tengah


berbincang dengan…..


Hei! Tunggu


dulu! Bukankah pria yang berhadapan dengan Reinard itu adalah seorang pengemis


yang beberapa waktu lalu meminta-minta di depan kantorku. Ternyata jauh juga ya


bapak itu berkeliling.


“Reinard!” aku


berteriak sekaligus melambaikan tangan pada suamiku.


Reinard dan


bapak pengemis itu menoleh. Setelah kembali mengatakan sesuatu pada pengemis


itu, akhirnya Reinard berjalan menyusulku.


“Ngapain di


sana?” tanyaku ketika kami berhadapan.


“Oh….” Reinard


mengulas senyum. “Ngobrol sedikit sama bapak tadi.”


Aku mangut-mangut.


“Kasihan ya..


Aku pernah ketemu bapak itu lho.”


“Dimana?” Reinard


menatapku serius.


“Pernah


minta-minta di depan kantor aku. Terus aku kasih duit.” Jawabku enteng.


“Kapan Jul? Kok


enggak pernah cerita?” ia memegang kedua lenganku. “Terus dia ngapain aja?”


Aku mengerutkan


kening. Bukankah reaksi Reinard terlalu berlebihan ketika aku menceritakan


tentang pengemis tadi padanya?


“Udah lama Rei.


Dia enggak ngapa-ngapain, ku kasih uang terus pergi.” Jawabku. “Oh ya….”


Reinard menunggu


kelanjutan ceritaku.


“Dia juga


mendoakan aku semoga bahagia dengan rumah tanggaku.” Lanjutku. “Hebat ya si


bapak, tau aja kalau aku udah nikah. Padahal cincinku kecil lho.” Aku


memperlihatkan jemari tanganku yang melingkar cincin pernikahan kami.


Reinard mengusap


wajahnya lalu menangkupkan kedua tangannya di pipiku.


“Kapan-kapan


kalau ketemu bapak itu, kamu cepet menghindar aja ya. Juga….jangan lupa kasih


tau aku.”


Aku kembali


mengertukan kening.


“Emang kenapa?”


“Enggak


apa-apa.”


“Kamu kenal?”


aku curiga.


Reinard


menggeleng.


“Enggak.”


Jawabnya lugas. “Ia kelihatan bukan pengemis baik-baik.”


Aku ingin


tertawa sekaligus ingin kembali bertanya pada Reinard. Namun buru-buru pria itu


menarik tanganku untuk masuk ke dalam apartement.


Kenapa semakin

__ADS_1


kesini, aku merasa jika suamiku semakin aneh.


*****


__ADS_2