Klandestin

Klandestin
Kabur Dari Rumah


__ADS_3

Aku membuka pintu kamar hotel


dengan pelan. Aroma pewangi ruangan langsung menusuk hidungku ketika pintu itu


terbuka dan aku mulai masuk ke dalam. Setelah menghidupkan saklar lampu, aku


segera menjatuhkan tubuhku di kasur itu dengan helaan nafas dalam. Mataku


terasa panas sekarang, hasil dari menangis sepanjang jalan karena sakit hati


dan dalam mode kebingungan mencari tempat bermalam.


Awalnya aku bingung menentukan


tujuanku malam ini. Ke rumah orangtuaku? Tidak mungkin! Hal yang sangat konyol


apabila papa dan mama ikut marah dan membuat keadaan menjadi runyam. Lagipula


aku tidak punya jawaban ketika mereka memberondongku dengan banyak pertanyaan


tentang alasanku pulang dengan mata sembab. Ke rumah Reza, aku juga tidak yakin


kalau suamiku tidak akan datang ke sana. Aku yakin jika malam ini ia tengah


kebingungan karena ponselku juga aku matikan. Sengaja. Aku malas berhubungan


dengan siapapun. Satu-satunya orang yang bisa memelukku dengan hangat adalah


Eli, tapi wanita itu berada di luar negeri. Dan beberapa hari lalu mengabarkan


bahwa ia bertemu dengan seorang pria berkebangsaan Inggris, dan sedang dalam


proses pendekatan. Setidaknya, aku turut lega dengan apapun keputusan Eli. Yang


jelas aku ingin dia bahagia, dengan siapapun lelaki pilihannya.


Panggilan terakhir di ponselku


adalah pada Reza, yang mewanti-wanti pria itu untuk tidak panik jika Reinard


tiba-tiba menelponnya atau datang ke rumahnya dan mencariku. Aku sudah


menceritakan garis besar masalahku pada pria itu, meskipun tetap saja aku


sempat diberi sedikit umpatan karena terlalu kekanak-kanakan.


Terserah Reza mengolokku dengan


sifat apa. Yang jelas, aku benar-benar kecewa sekarang. Aku merasa dibohongi.


Apa salahnya menceritakan masa lalu pada pasangan, sekelam apapun atau seburuk


apapun. Karena aku yakin jika pasangan tetap akan menerima apa adanya jika


sudah cinta. Akupun juga begitu. Meskipun Reinard bukanlah darah daging


keluarga Saputra, aku juga tidak akan ambil pusing. Aku mencintai apa adanya


Reinard tanpa syarat, tulus dari dalam hatiku, namun sepertinya berbeda dnegan


pria itu. Ia malah seperti ingin terlihat sempurna di mataku, jadi apakah dia


memang benar-benar mencintaiku?


 Suara ketukan pintu membuatku beranjak dari


posisiku. Aku tahu siapa sosok di balik pintu tersebut. Yaitu Reza, sebelum


benar-benar mematikan ponsel tadi aku sudah mengatakan padanya kemana tujuanku


malam ini. Aku pikir ia akan datang besok, ternyata ia gercep juga menghiburku


ketika dalam masalah dengan datang cepat.


“Lo tuh kayak anak kecil wak!”


begitulah kalimatnya yang kelur ketika pintu kamar baru saja aku buka. Tanpa


permisi ia meringsek masuk dan berjalan melewatiku.


Aku menghela nafas sembari


menutup pintu. Kuikuti pria itu yang kini menghempaskan tubuhnya di sofa.


“Bisa enggak sih enggak


kabur-kaburan dari rumah.” Pria itu menoleh padaku. “Lo tau enggak kalau


Reinard terus nelponin gue sampai kuping gue kayak mau budeg!”


Aku belum menyahut. Merasa sedih


juga mendengar kabar dari Reza bahwa suamiku kini sedang kalang-kabut


mencariku. Ia pasti cemas, tapi aku tetap tidak akan pulang malam ini.

__ADS_1


“Lo tinggal jadi’in ponsel lo


dalam mode diam.” Gumamku kemudian kembali duduk di pinggiran kasur. Tempat


yang sama dengan tadi.


Reza melipat tangannya di depan


dada.


“Gue tahu kalau dibohongi itu


sakit Jul. tapi lo harus tahu dong alasan dia enggak ngasih tau masa lalunya


sama lo?!”


Aku tidak menyahut. Kepalaku serasa


dihantam balok setiap mengingat apa yang terjadi.


“Mungkin dia belum siap Julia.”


“Gue belum bisa menerima itu


semua Rez.” Sahutku. “Dia suami gue. Seharusnya dia mengatakan apapun sama gue,


termasuk masa lalunya. Apalagi ini tentang sesuatu yang gue pikir sangat


penting. Dia bukan anak kandung papa Saputra. Kenapa enggak cerita? Kenapa aku


harus tahu dari orang lain?”


“Kan tadi gue bilang Jul. suami


lo pasti ada alasan.” Sahut Reza cepat. “Dan sekarang lo bayangin gimana


keadaan dia. Pasti dia kebingungan nyari’in lo kesana-kemari.” Reza mencebik


kesal. “Ih, tega lo Jul.”


“Biarin!” sisi egoisku muncul.


Reza tak menjawab, dan hanya


berdecak pelan sebagai tanda kesal. Ia hanya menatapku dari ujung rambut sampai


ujung kaki.


“Lo udah makan?” tanyanya


Aku menggeleng pelan,


“Makan dong Jul. lo mau sakit?”


“Enggak nafsu Rez.”


“Makan deh. Gue pesenin makanan


sekarang.” Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. “Tuh bener kan, suami lo


telepon gue lagi!” ia memperlihatkan ponselnya ke arahku.


Aku melirik ponsel Reza dan dua


puluh enam panggilan tidak terjawab terlihat di display layar ponsel dengan


daya baterai tinggal dua puluh lima persen itu.


“Gue bener-bener enggak bisa


pulang sekarang.” Decakku lalu naik ke atas kasur dan menarik selimut.


“Terserah lo wak. Gue paksa sampe


suara gue habis lo juga enggak bakalan nurut sama gue.” Jawab Reza enteng tanpa


menatap ke arahku. Ia sibuk menaik turunkan layar ponselnya. Sepertinya sedang


memesan makanan untukku.


“Udah gue pesenin. Nanti ambil di


lobi ya….” Reza beranjak dari tempat duduknya.


“Loh, lo mau kemana?” mataku


mengekor gerakan Reza dengan bingung.


“Ya pulang dong wak!” sahutnya.


“Yakali gue mau nginep disini. Apa kata dunia kalau mereka tahu gue nginep di


satu kamar sama istri orang.”


“Lo kan bukan cowok.”

__ADS_1


“Tapi casing gue cowok Jul!


enggak ah!”


Aku tersenyum. Punya sahabat


model seperti Reza ada untungnya juga.


“Yaudah gue pergi ya wak. Jangan


lupa, makanannya dimakan ntar. Mehong!” pesan Reza sebelum akhirnya beranjak


pergi dari kamarku.


Selepas Reza pergi, suasana


menjadi kembali sepi. Ternyata tanpa sadar, selama ini aku sudah membangun


kebiasaan bersama Reinard. Dulu sebelum menikah, tidur di kamar hotel sendirian


tanpa siapapun rasanya begitu nyaman. Privasiku terjaga, dan aku bebas


melakukan apapun. Tapi sekarang, aku merasa begitu hampa tanpa ada Reinard di


sampingku. Sebagian jiwaku terasa kosong. Ingin aku menekan egoku dan pulang,


aku yakin Reinard juga bakalan bahagia. Namun di sisi hatiku yang lain, aku


ingin menetralkan hatiku yang panas karena kebohongannya.


****


Paginya, aku bangun dengan


perasaan yang masih sama.


Hampa.


Ku raba ponselku di atas nakas


untuk menghidupkan dayanya. Baru saja layar ponsel itu menyala, berbagai


notifikasi muncul bersahutan. Dan yang paling banyak ada pesan dari suamiku.


Bertubi-tubi pesannya masuk, bertumpang tindih di kotak pesanku. Mengharapkan


aku pulang, berputus asa mencariku dan banyak lagi kalimat-kalimat yang


membuatku kembali menangis pagi ini.


Alih-alih membaca pesan dari Reinard,


aku justru mencari nama Rini di kontak teleponku. Hari ini aku ingin mengambil


cuti lagi. Mood-ku yang sedang tidak baik membuatku tidak ingin ke kantor hari ini.


Karena aku yakin, aku juga tidak akan bisa menyelesaikan satupun pekerjaan dan


malah akan menambah masalah.


“Halo mbak…..” sapa Rini ketika


aku baru saja mendengar nada ‘tut’ pertama di seberang sana.


“Rin aku—“


“Mbak, mas Reinard ada di kantor


sekarang!” belum selesai aku mengatakan maksudku pada Rini, wanita itu sudah


lebih dulu menyelaku.


“Ha! Di kantor?!”


“Kayaknya nginep sini deh mbak!”


Aku tak menjawab. Apa benar


Reinard segitunya?


“Memang mbak Julia di mana sih?


Lagi ada masalah apa sama ma Reinard?”


Aku belum menjawab. Berfikir


bagaimana caranya agar semua hal tidak semakin memburuk. Aku rasa Reinard


terlalu nekat dengan tidur di kantor—jika benar.


“Bilang sama dia Rin. Hari ini


aku enggak ke kantor.” Kataku sebelum akhirnya menutup telepon.


*****

__ADS_1


__ADS_2