Knight in Shinning Suit

Knight in Shinning Suit
Selamat tinggal, papa!


__ADS_3

Keesokan paginya, Tristan datang ketika Phillippa telah keluar dari rumahnya. Pria itu tersenyum ramah kepadanya, tapi Phillipa terlanjur sakit hati dan hanya menanggapinya dengan wajah dingin. Senyuman di wajah Tristan seketika menghilang. Pria itu bergegas maju dan memperkecil jarak diantara mereka hanya dalam beberapa langkah saja. Rambut hitam yang disisir rapi telah kusut di tiup angin.


"Philly, kamu marah?''


Phillippa berusaha tidak mempedulikannya. Ia lalu menaiki sepedanya, tapi Tristan menahannya.''Sebenarnya kamu kenapa? Kamu marah kepadaku?''


Tristan melihat Phillippa menulis dengan cepat-cepat dan pria itu menerima secarik kertas dengan wajah bingung.


Jangan ganggu aku lagi! Mulai sekarang jangan pernah menemuiku lagi. Aku sudah tahu semuanya. Kau tidak pernah mencintaiku. Kau hanya menjadikan aku sebagai taruhan dengan temanmu. Selamat tinggal!


Sebelum pergi Phillippa menatap dingin kepada Tristan yang masih berdiri terpaku ditempatnya. Kedua tangannya meremas kertas itu dan melemparkannya dengan kesal. .Phillippa mengayuh sepedanya cepat-cepat sekarang perasaannya sudah lebih baik. Tristan tidak pantas untuk mendapatkan cintanya.


Suara gemerencing bel terdengar ketika Phillipa masuk kedalam toko musik. Kedatangannya disambut oleh Mrs. Smith dengan senang.


"Kemarin kamu kemana?"


Aku tidak enak badan. Sekarag sudah lebih baik.


"Syukurlah. Sehari tidak mendengarkan permainan pianomu seperti ada yang kurang."Mr.Smith terkekeh.


Phillippa menuju piano yang sering ia mainkn yaitu piano warna putih yang terleak di dekat kaca jendela. Sebelum ia mulai memainkan pianonya, Mr. Smith memberikan beberapa lembar kertas.


"Ini formulir pendaftaran untuk mengikuti ujian resital piano untuk mendapatkan beasiswa. Kamu harus mengisinya."


Ekspresi wajah Phillippa begitu senang, ia melihat formulir pendaftaran seperti sesuatu yang sangat berharga.


Terima kasih Mr.Smith tulisnya di kertas.


"Ujian resital piano akan dimulai Senin depan. Mulai sekarang kamu harus rajin berlatih."


Philliippa mengangguk. Beethoven Pathetique mulai mengalun dari tuts-tuts piano yang Phillippa mainkan. Seperti biasa permainan pianonya selalu menciptakan keharmonian yang indah. Mr. Smith menutup matanya menikmati musik yang dimainkan gadis itu. Seperti biasa Joshua mendengarkannya di ruangan lain dengan mengintip. Ia tidak ingin membuat gadis itu terkejut dengan kehadirannya. Dua kali ia bertemu dengannya sepertinya gadis itu takut atau malu kepadanya . Itulah yang ada dipikiran Joshua.


Setelah selesai Mr. Smith menemui Joshua, karena pria itu memanggilnya.


"Bagaimana menurutmu?"tanya Peter.


"Aku jatuh cinta dengan permainan pianonya,"kata Joshua. Pandangannya tidak terlepas dari Phillippa yang sibuk memandangi kertas formulir di tangannya.


"Sejak awal aku sudah menduga kamu akan sangat menyukai, jadi aku yakin dia akan lulus menerima beasiswa sekolah musikmu."

__ADS_1


"Tidak diragukan lagi."


Joshua berjalan mendekati meja terdekat, lalu mengambil satu buket bunga tulip merah.


"Berikan ini kepadanya. Katakan saja dari seorang penggemar."


"Kenapa kamu tidak menyerahkannya sendiri?"


"Aku tidak ingin dia tahu kalau aku yang memberikannya."


"Baiklah." Peter menatap Joshua dengan pandangan tidak mengerti. Ia pun pergi melalui pintu belakang.


Philippa terkejut Mr. Smith memberikannya buket bunga tulip merah. Dipandanginya bunga itu dengan perasaan terharu., karena pertama kalinya ia diberi bunga oleh seseorang. Bunga kesukaan ibunya.


"Ini dari penggemarmu?"


Phillippa nampak terkejut.


"Kamu sudah memiliki penggemar sekarang. Dia penggemar pertamamu. Selamat ya."


Phillippa mengambil amplop berwarna merah dan membaca kartu ucapannya.


**Aku sangat menyukai permainan pianomu yang sangat indah. Tetaplah semangat gadis pianoku.


Phillippa memeluk bunga itu dengan kedua tangannya yang ramping dan menciumnya dengan penuh perasaan.


🎵🎵🎵🎵


Angelica sibuk membereskan beberapa bunga, ketika Phillipa datang sambil memeluk bunga tulip merahnya. Ia memperlakukan bunga itu seolah-olah barang yang sangat mahal.


"Pagi Philly! Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?''


Phillippa mengangguk. "Ayahmu bilang kamu sakit. Sebenarnya kau sakit apa?''


Angelica kemudian terpana melihat bunga tulip yang dipegang oleh gadis itu." Darimana kamu mendapatkan ini?"


Dari penggemarku.


"Penggemar?"tanya Angelica sambil mengerutkan dahinya. Kedua tangannya terlipat di dada. Phillippa hanya meanggapinya dengan senyuman lebar, lalu ia menceritakan semuanya kepada Angelica tentang Tristan. Mulut Angelica terbuka lebar saat membaca semua penjelasan Phillippa di satu halaman penuh buku catatannya mengenai Tristan yang sudah mereka anggap sebagai pria tampan dan baik. Angelica terlihat sangat kesal dan kecewa. "Ini sungguh keterlaluan. Kalau aku bertemu dengannya, aku akan memukulnya,''katanya kesal dengan berkacak pinggang.

__ADS_1


"Sebaiknya kau cari pria lain saja. Tristan memang tidak pantas kamu cintai.''


Angelica mengambil sebuah majalah di atas meja kasir dan memperlihatkannya kepada Phillippa.


"Coba kamu lihat! Pria ini tampan sekali kan? Lebih tampan dari Tristan . Aku kira tidak ada pria yang lebih tampan dari Tristan ternyata aku salah. Meskipun pria ini sudah berumur 38 tahun, tapi masih terlihat tampan dan seksi. Sepertinya pria ini baik. Kamu pantas mendapatkan pria seperti pria ini."


Phillippa memperhatikan wajah pria itu yang terlihat sangat familiar baginya. Ia yakin pernah melihatnya disuatu tempat. Gadis itu tersentak menyadari sesuatu. Ia pernah bertemu dengannya dua kali di toko musik dan ketika ia menolongku dari Charlotte. Joshua Adrian Waldgrave. Itulah nama yang tertulis di majalah itu.


🎵🎵🎵🎵


Phillippa kembali ke rumahnya sore harinya . Akhir-akhir ini ia sangat mencemaskan ayahnya terutama kesehatannya. Ayahnya sering mudah lelah dan ia takut sesuatu yang buruk akan terjadi. Phillipa mengayuh sepeda tuanya dengan cepat ingin cepat-cepat sampai di rumah. Ia tersenyum saat melihat rumah mungil yang ditempati bersama dengan ayahnya mulai terlihat. Phillippa menghentikan sepedanya secara mendadak tidak jauh dari rumahnya saat melihat ayahnya keluar dengan dua orang pria yang tidak dikenalnya. Mereka bertiga seperti berdebat dan ayahnya terlihat sangat marah dan cemas.


Phillippa mendekati rumahnya saat kedua pria itu telah pergi dan Aegenis terkejut saat melihat putrinya dengan tatapan cemas.


"Kamu sudah pulang? Ayo masuk!''


Selama makan malam, Phillippa hanya memperhatikan ayahnya. Wajahnya nampak sangat lelah, ada lingkaran hitam di matanya. Ayahnya terlalu banyak bekerja keras. Selain itu ia terlihat sangat tua. Phillippa menyentuh lengan ayahnya dan Aegenis mendongkakan kepalanya menatap Phillippa.


Apa yang terjadi? Siapa kedua pria tadi?


"Mereka bukan siapa-siapa dan tidak ada yang terjadi."


Aegenis terlihat gugup dan perhatiannya kembali kepada makanan yang ada di depannya. Phillippa menatap ayahnya dengan tatapan menyelidiki. Ia yakin ayahnya sekarang sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Setelah membereskan sisa makan malam, ia hendak menemui ayahnya di kamar. Gadis itu terkejut melihat ayahnya tergeletak di lantai tidak sadarkan diri. Ia sangat panik dan tubuhnya menjadi lemas seketika. Matanya memerah, karena air mata telah menumpuk di pelupuk matanya. Ia cepat-cepat keluar rumahnya, mengayuh sepedanya menuju rumah keluarga Raven tetangga terdekatnya untuk meminta pertolongan.


🎵🎵🎵🎵


Phillippa menangis ketika melihat ayahnya terbaring di rumah sakit. Pelan-pelan ia menyentuh tangan ayahnya.Dokter mengatakan Aegenis terkena serangan jantung lagi, tapi serangan jantung kali ini lebih parah dari yang sebelumnya dan keadaannya kritis. Ia terus menangis sambil mengenggam tangan ayahnya.Aegenis membuka matanya dan mengenggam kuat tangan Phillippa.


''Ayah ingin mengatakan sesuatu kepadamu.Ada yang tidak kamu ketahui tentang rumah itu, Philly."


Phillippa menatap ayahnya dengan berurai air mata dan bingung.


"Ayah telah mengadaikan rumah itu." Rasa terkejut terlihat jelas di wajah Phillippa.


Tapi kenapa?


"Karena ayah membutuhkan uang untuk biaya operasi patah tulangmu dan biaya pengobatannu. Selama ini ayah sudah berusaha keras untuk melunasi semua pinjaman ayah, tapi jumlahnya terlalu besar dan mungkin sebentar lagi rumah itu mungkin akan disita. Maafkan ayah selama ini telah merahasiakannya kepadamu dan dua orang yang kamu lihat itu adalah orang yang menagih hutang." Phillippa kembali menangis.


"Maafkan ayah! Ayah sangat sayang padamu. Kembalilah kepada keluarga ibumu dan jaga dirimu baik-baik!"

__ADS_1


Aegenis menutup mata dan tidak pernah terbangun lagi. Phillippa menangisi kepergian ayahnya dan hatinya kini terasa hampa dengan kepergian ayahnya untuk selama-lamanya. Kemarin ia baru saja bercanda dan berbicara dengan ayahnya, tapi sekarang semua itu seperti sebuah mimpi.


Selamat tinggal, papa! [ ]


__ADS_2