
Dua orang polisi memarkirkan mobilnya di depan sebuah halaman rumah mungil berlantai dua bercat putih. Jam telah menunjukkan pukul 11 malam saat mereka tiba. Mereka keluar mobil dengan terburu-buru dan masuk ke dalam rumah yang tidak terkunci. Para polisi mendapatkan informasi kemana Philippa pergi yaitu melalui GPS ponsel Phillippa. Suasana rumah begitu gelap dan sepi. Ia melihat cahaya redup di lantai atas .
Polisi-polisi itu membuka satu persatu ruangan yang ada di lantai atas, tapi Nicole dan Phillippa tidak dapat ditemukan di mana pun, lalu ia melihat cahaya yang keluar dari bawah pintu salah satu kamar. Ia membukanya dan matanya menangkap seorang gadis yang tergeletak di lantai kamar dengan darah yang mengalir deras dari tubuhnya.
Mereka mendekatinya dan terkejut saat mengetahui gadis itu adalah Phillippa yang mereka cari dari foto yang mereka terima. Salah satu polisi memeriksa napasnya dan sedikit bernapas lega, karena dia masih merasakan napas dari gadis itu. Ia juga merasakan denyut nadinya meskipun terasa lemah.
"Cepat panggil ambulan!"
"Baik."
Salah satu polisi yang memanggil ambulan terkejut di sudut ruangan gelap, ia melihat seorang wanita yang tangannya berlumuran darah dengan pandangan kosong dan wajahnya basah oleh air mata.
Nicole tertawa dengan sangat keras .''Phillippa sudah mati. Dia sudah mati,''teriaknya. Nicole tertawa lagi dengan sangat keras.''Akhirnya setelah sekian tahun, aku dapat menyingkiran gadis itu untuk selamanya.Hahahahaha....'' Raut wajah Nicole dalam sekejap langsung muram dan air mata telah mengalir lagi di wajahnya.''Valentine,''gumamnya.''Aku mencintaimu dan selamanya akan selalu mencintaimu. Aku...aku akan segera menemuimu.''
Polisi menyadari Nicole hendak bunuh diri dengan menusuk dirinya sendri, tapi polisi itu berhasil mengagalkannya dan menahan Nicole dan tangannya diborgol.
"Ayo berdiri!"
Nicole menurut dan sebelum meninggalkan kamar, ia melihat sekilas ke arah Phillippa.
🎵🎵🎵
Joshua dan Rosalind yang mendapat kabar langsung pergi ke rumah sakit. Mereka menunggu di luar ruang operasi dengan wajah cemas.
Sudah 3 jam berlalu sejak Phillippa masuk ruang operasi dan hari sudah hampir pagi, tapi tidak ada tanda-tanda operasi akan segera selesai mungkin luka akibat tusukan pisau Nicole terlalu parah. Pintu ruang operasi kemudian terbuka saat Joshua akan jatuh tertidur di kursi. Mereka langsung beranjak dari kursi.''Bagaimana keadaannya?''
"Kami berhasil menyelamatkanyya.''
Joshua dan Rosalind bernapas lega.
Matahari sore sudah mulai tergelincir ke dalam kaki langit. Setelah dua hari tidak sadarkan diri, Phillippa membuka matanya. Pertama kali yang ia lihat mata turquoise milik Joshua yang sedang memandanginya dengan cemas, lalu ada Angelica yang hampir menangis.
"Syukurlah kamu sudah sadar,"kata Angelica.
"Aku senang melihatmu baik-baik saja,"kata Joshua.
Tidak lama kemudian Rosalind datang dan langsung memeluknya.
"Akhirnya aku bisa bertemu dengan Anda lagi, nona Phillippa."
"Aku juga senang bisa bertemu denganmu lagi,"kata Phillippa.
Phillippa kemudian teringat dengan Nicole.
"Di mana bibi Nicole?"
Mereka terkejut Phillippa bisa bicara lagi, kecuali Joshua. Ia sudah tahu saat gadis itu memperingati dirinya sebelum dipukul kepalanya oleh Nicole.
__ADS_1
Phillippa menganggk senang.
"Ada di penjara,"jawab Joshua. "Dia akan mempertanggung jawabkan semua perbuatannya."
Phillippa menghembuskan napas lega. Ia melirik ke arah Joshua. Wajahnya memanas mengingat perasaan gadis itu kepadanya, kemudian perasaan sedih menyeruak keluar mengingat Joshua tidak akan mungkin menjadi miliknya.
Satu minggu sejak penculikan Phillippa, Roland pun ditangkap atas tuduhan perkosaan terhadap Genevieve, karena Nicole membongkar kejahatannya di masa lalu di hadapan polisi. Phillippa merasa lega mereka telah ditangkap dan akan mendapat hukuman yang sangat panjang. Hari demi hari berlalu dan tidak terasa dua tahun telah berlalu, Phillippa telah lulus dari sekolah musiknya. Ia merayakannya bersama Angelica di rumah keluarga Bellamare. Sudah dua tahun Phillippa tinggal di sana bersama Angelica.
"Selamat kamu sudah lulus!"
Angelica memberi pelukan. Mereka berpesta sampai larut malam dan keesokan paginya, ia mendapat telepon dari Joshua untuk melakukan konser piano satu minggu lagi untuk menggantikan Barbara yang sakit. Tubuh Phillippa menegang. Ia tidak akan menyangka akan melakukan konser piano secepat ini.
"Baiklah. Aku akan melakukannya."
"Jangan kecewakan aku!"
"Aku akan melakukan yang terbaik."
Sambungan telepon ditutup. Phillippa merasa begitu senang. Tiba-tiba darah merah segar keluar dari hidungnya, cepat-cepat ia mengambil tisu. Ini sudah keempat kalinya ia mengeluarkan darah dari hidungnya selama dua hari ini. Ia juga merasa tubuhnya demam, selalu merasa lelah, dan pusing. Hal itu ia rasakan sejak dua minggu yang lalu sebelum kelulusannya. Phillippa memutuskan hari ini akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan dirinya. Ia tidak ingin sakit, karena ada konser besar yang telah menantinya.
Setelah Angelica pergi bekerja, Phillippa pergi ke rumah sakit. Setelah melakukan berbagai macam pemeriksaan, ia menemui Mr. Smith di sekolah musik untuk latihan konser. Hasil pemeriksaan kesehatannya akan keluar satu minggu lagi.
"Kamu baik-baik saja? Wajahmu nampak pucat,"kata Mr. Smith.
"Aku baik-baik saja. Aku memang hari ini sedang tidak enak badan, tapi aku baik-baik saja."
"Iya tentu saja. Konser piano seminggu lagi, jadi aku harus banya latihan."
"Baiklah. Jika merasa lelah katakan saja."
Phillippa mengangguk.
Setelah selesai latihan, Phillippa menerima sebuket bunga tulip merah dari penggemar rahasianya yang selama ini selalu setia mendukungnya.
🎵🎵🎵
Joshua yang sedang mengetik di kantornya, tiba-tiba konsentrasinya buyar ketika bayanga wajah Phillippa muncul kembali dibenaknya. Ia menggosok-gosokkan tangannya ke wajahnya. Selama dua tahun ini, Joshua menyadari betul bahwa ia telah benar-benar jatuh cinta kepada Phillippa sejak melihat gadis itu sekarat. Saat itu Joshua belum yakin benar akan perasaannya terhadap Phillippa dan selama dua tahun ini, ia berusaha memahami perasaannya. Joshua mendesah, menyandarkan badan dikursi. Tatapannya mengarah ke tembok kaca melihat birunya langit. Ia harus segera mengatakan perasaannya setelah konser piano selesai.
Joshua merasa bersalah, karena telah memutuskan hubungan dengan Barbara satu bulan yang lalu, karena ia tidak ingin membohongi perasaannya untuk pura-pura mencintai Barbara dan juga tidak ingin menyakiti Barbara lebih dalam lagi.
"Jadi kamu lebih memilih gadis cacat itu dari pada aku,"katanya satu bulan yang lalu.
"Sudah aku katakan jangan sebut dia gadis cacat lagi."
"Tapi memang kenyataannya seperti itu."
"Barbara, kumohon."
__ADS_1
"Aku tidak mengerti, kenapa kamu bisa jatuh cinta kepadanya? Bukan aku."
"Karena aku tertarik dengan kebaikan hati dan kehangatannya."
"Baiklah. Sekarang pergilah dan jangan menemuiku lagi,"teriaknya kesal dan membanting pintu dihadapannya. Joshua pergi dengan perasaan sedih dan rasa bersalah. Ia terkejut mendengar Barbara sakit. Joshua bertanya-tanya apakah sakitnya Barbara ada hubungannya dengannya, lalu ia mengunjunginya di rumahnya. Barbara terbaring lemah di tempat tidurnya. Ia demam tinggi.
"Terima kasih sudah mau menjengukku."
"Aku mencemaskanmu."
"Aku tidak mengira kalau kamu akan mencemaskanku."
Barbara tersenyum.
"Jangan merasa bersalah terhadapku. Kamu pikir sakitnya aku, karena kamu sudah memutuskan hubungan kita. Itu tidak ada hubungannya. "
"Maafkan aku."
"Jangan meminta maaf. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Beberapa terakhir ini aku sudah memikirkan semuanya tentang segala hal termasuk dirimu. Aku menyadari, jika perasaan itu tidak bisa dipaksakan. Phillippa gadis yang baik dan aku menyesal sudah menghinanya. Waktu itu aku sangat cemburu. Sekarang pikiranku sudah terbuka. Kecemburanku hampir menyakitiku dan menyakitimu. Aku sudah mengikhlasan semuanya. Tidak ada gunanya aku mempertahankanmu di sisiku. Kita berdua tidak akan bahagia. Jika kamu ingin pergi ke sisinya silahkan. Aku tidak akan menghalangimu."
"Terima kasih. Kamu sudah mau mengerti."
"Tolong sampaikan permintaan maafku kepadanya."
"Tentu."
"Kamu harus mengatakan perasaanmu kepadanya secepatnya."
"Aku akan melakukannya. Segera."
Kedatangan Sandra yang membawakan kopi untuknya membuatnya terkejut dan membuyarkan lamunannya.
"Seharusnya kamu mengetuk pintu dulu."
"Aku sudah melakukannya berkali-kali, tapi sepertinya Anda tidak mendengarnya."
"Ya sudah.Terima kasih."
Sandra keluar dari ruangannya dan ia mulai mengetik lagi dengan senyuman tersungging di wajahnya.
🎵🎵🎵
Phillippa pergi ke rumah sakit satu minggu kemudian sehari sebelum konser dimulai. Ia akan mengambil hasil pemeriksaan dirinya. Dokter menyuruhnya duduk dan melihat hasilnya. Ia cemas dengan ekspresi dokter yang membaca hasil pemeriksaan. Dokter itu menatap Phillippa dengan wajah serius.
"Maaf harus aku katakan. Anda terkena leukemia."
Pernyataan dokter membuat Phillippa shock dan seakan dunia runtuh dihadapannya. [ ]
__ADS_1