Knight in Shinning Suit

Knight in Shinning Suit
(S2): Gadis kecil dan dongeng putri duyung


__ADS_3

Keesokan paginya Theoden diajak berkeliling menemui beberapa relasi bisnis ayahnya dan memperkenalkan dirinya kepada mereka. Theoden begitu antusias dengan mendengarkan perbincangan ayahnya dengan beberapa teman bisnisnya.Kesokan harinya pun sama. Kepergian mereka ke Santorini bukanlah hanya untuk liburan tapi untuk bekerja.


Setelah hari ke empat Theoden berada di Santorini, dia mulai merasa jenuh. Dia ingin sedikit berjalan-jalan menikmati pemandangan laut Aegean dan sekitarnya. Ketika ayahnya sedang berbicara dengan salah satu temannya, ia meminta izin pada ayahnya untuk berjalan-jalan sendirian.


“Kamu harus berada di hotel kembali sebelum makan malam.”


“Baik ayah.”


“Dan hati-hati dijalan. Jangan main terlalu jauh, karena kamu belum mengenal tempat ini begitu baik.”


“Aku tahu.”


Theoden segera berjalan cepat menyusuri pemukiman penduduk. Tidak lama kemudian dia sudah berada di dekat tebing menikmati angin sejuk yang berhembus dan melihat keindahan laut Aegean. Tidak jauh dari sana seorang anak kecil sedang duduk sendirian sambil membaca buku cerita. Theoden mendekati dan duduk disamping anak kecil itu.


“Halo!’’sapa Theoden.


“Halo!’’


Anak kecil itu menatap aneh pada Theoden.


“Kamu sendirian di sini?’’


Anak kecil itu mengangguk.


“Mana ayah dan dan ibumu?’’


“Ayah sedang bekerja dan ibuku ada di rumah.”


“Jadi kamu bermain disini sendirian?’’


Anak kecil itu mengangguk lagi.’’Lalu di mana teman-temanmu? Apa kamu tidak bosan hanya bermain sendirian di sini?’’


“Aku tidak punya teman di sini.”


“Bagaimana kalau aku menjadi temanmu?’’


“Teman?’’


“Benar. Supaya kamu ada teman bicara dan teman bermain.”


“Hmmm...baiklah.” Anak kecil itu menjulurkan tangannya dan tersenyum, lalu berkata’’Kita teman.”


“Kita teman,’’ulang Theoden.


“Apa yang sedang kamu baca?’’


“Putri duyung.”


“Kamu suka cerita itu?’’


“Iya.’’


“Aku tidak menyukainya.”


“Kenapa?’’


“Karena kisah cinta mereka berakhir sangat menyedihkan.Mereka pada akhirnya tidak dapat bersatu dengan orang yang mereka cintai.”


“Tapi aku suka ceritanya.”


“Berapa umurmu?’’


“ 10 tahun.’’


“Masih sangat muda. Kamu masih belum mengerti apa-apa. Apa kamu tahu cerita putri duyung menurut legenda Yunani. Ceritanya jauh berbeda dengan cerita buku yang sedang kamu baca.”


“Benarkah? Cepat ceritakan padaku! Aku ingin tahu.”


Anak kecil itu menatap Theoden dengan mata kecilnya dan entah kenapa hati Theoden berdesir Sesaat Theoden terhenyak , ada perasaan aneh yang menyelinap ke dalam dirinya dan dia tidak tahu apa itu.


“Kakak...’’panggil anak kecil itu. Theoden akhirnya tersadar.


“Maaf. Baiklah akan aku ceritakan. Pada awalnya cerita putri duyung ditemukan di Assyria. Cerita itu berkisah tentang Dewi Atargatis, Ibu dari ratu Assyria, Semiramis. Dewi Atargatis jatuh hati pada seorang gembala, yang kemudian terbunuh olehnya. Karena malu, ia menceburkan diri ke danau untuk mengubah diri menjadi ikan. Namun, air tidak bisa mengubah dirinya sepenuhnya, karena ia masih memiliki kekuatan sebagai seorang Dewi. Akhirnya, hanya separuh tubuhnya yang menjadi ikan.Legenda Yunani yang terkenal menceritakan bahwa putri duyung adalah Thessalonike, adik Alexander Agung yang berubah menjadi duyung setelah meninggal. Dia hidup setelah mati sebagai putri duyung di laut Aegea, dan selalu menanyakan nasib kakaknya.”


“Kasihan sekali,’’komentar anak kecil itu.


“Memang sangat kasihan, lalu putri duyung itu selalu bertanya kepada setiap pelaut yang melintas. Coba tebak apa yang ditanyakan putri duyung itu?’’


Anak kecil itu berpikir sebentar, lalu mengelengkan kepalanya.’’Aku tidak tahu.”


“Putri duyung itu hanya menanyakan satu hal bila ada pelaut melintas. Dia selalu bertanya,”


“Apakah Alexander Agung masih hidup?”


Lalu pelaut itu menjawab,”Dia masih hidup dan masih memerintah.Jika tidak menjawab seperti demikian, maka ia berangsur-angsur berubah menjadi Gorgon dan mencelakai pelaut yang sedang melintas."


“Mengerikan jika putri duyung yang cantik harus berubah jadi Gorgon.”


Theoden tersenyum . Anak kecil itu kembali membalas dengan tersenyum. Ia memandangi laut lagi, lalu dia mengeluarkan kamera dari dalam saku celananya. Diambilnya beberapa foto .


“Maaf, bisakah Anda memfoto kami berdua?’’tanya Theoden kepada salah satu pengunjung di sana.


Pengunjung itu memfoto mereka berdua.


“Kakak , ayo tersenyum!’’


Theoden tersenyum dipaksakan.


“Terima kasih,’’kata Theoden. Pengunjung itu tersenyum, lalu berlalu pergi.


Suara riang anak kecil itu terdengar jelas diantara deburan ombak yang keras. Dimata Theoden, wajahnya begitu mengemaskan dan tidak tahan untuk tidak mencubit kedua pipinya.Anak kecil itu sedikit kesakitan, lalu dia membalasnya dengan cubitan keras ditangan Theoden, lalu menujulurkan lidahnya.Lalu anak kecil itu berlari menjauh.


’’Hei, jangan lari ! Awas kamu ya.”


Theoden mengejarnya dan berhasil menangkapnya, mengangkat tubuh mungil anak kecil itu.


’’Tertangkap kamu! Kamu tidak bisa lari lagi dariku.”


Theoden mengeleitik pinggangnya dan anak kecil itu tertawa karena geli. Ia pun ikut tertawa dan sudah lama dia tidak tertawa selepas ini. Dia sudah lupa kapan terakhir dia tertawa seperti tadi. Ia berpikir seandainya dia memiliki adik perempuan selucu dan semenggemaskan anak kecil yang berada disampingnya sekarang pasti kehidupannya akan terasa lebih menyenangkan.


“Apa kamu lelah?’’


Anak kecil itu mengangguk.’’Sebaiknya kita pulang. Mungkin saat ini ibumu sedang mencari-cari dirimu.”


‘’Ayo!’’


Theoden mengulurkan tangannya dan anak kecil itu menyambut uluran tangannya.


“Sampai di sini saja. Aku sudah sampai dirumahku. Itu rumahku,’’katanya sambil jarinya menunjuk ke arah sebuah rumah berlantai dua tidak jauh dari mereka berdiri.


“Aku masuk dulu. Sampai jumpa!”


“Sampai jumpa!”


Theoden kembali berjalan, tapi tiba-tiba anak kecil itu kembali lagi.


“Kakak, besok kita bertemu lagi ya. Besok adalah hari ulang tahunku. Aku ingin kakak datang.”


“Baiklah. Aku akan datang.”


“Janji?’’


“Aku janji.”


“Sampai jumpa besok.”


Anak kecil itu kemdian kembali berlari masuk ke dalam. Theoden kembali melanjutkan perjalanannya menuju hotel.


“Ibu, aku pulang!’’seru anak kecil itu.


“Kiana, kamu dari mana saja?”


“Tadi aku bermain dengan seorang kakak.”


“Kakak? Siapa?’’


Kiana terdiam, dia belum mengetahui siapa nama orang yang baru saja dia temui, karena terlalu asyik bermain dan bercanda dengannya sehingga dia lupan menanyakan namanya.


“Aku tidak tahu. Aku lupa tidak menanyakan namanya.”


“Jadi tadi kamu bermain dengan orang asing?”


Kiana mengangguk.


“Kiana,dengarkan ibu jangan pernah bermain atau pergi dengan orang yang tidak kamu kenal. Bagaimana nanti kalau ada orang yang berbuat jahat pada dan juga menculikmu.”


“Tapi Bu, dia bukan orang jahat. Dia orang baik. Ibu akan bertemu dengannya besok, karena aku sudah mengundangnya pada hari ulang tahunku besok. Dia adalah teman pertamaku di sini.”


“Baiklah. Ibu mengerti , sekarang bersihkan dirimu, lalu kita makan malam bersama.”


Kiana pergi menuju kamarnya dengan hati senang


🥀🥀🥀


Theoden dan orangtuanya makan malam di restoran hotel. Mereka duduk di luar restoran sambil menikmati pemandangan di malam hari yang penuh dengan kelap-kelip lampu.

__ADS_1


“Kita pulang besok,’’kata Hendrik tiba-tiba.


“Apaa? Besok? Bukannya kita akan pulang besok lusa?’’


“Kepulangan kita dipercepat karena urusanku di sini sudah selesai.”


“Apa tidak bisa ditunda sehari?’’


“Kenapa? Apa kamu mulai senang tinggal disini?’’


“Bukan begitu. Besok aku ada janji dengan seseorang.”


“Tapi sayang sepertinya besok kamu tidak dapat memenuhi janjimu, karena aku sudah membeli tiket pesawatnya.”


Theoden terdiam. Dia sangat sedih harus segera pergi dari sini dan tidak bisa menghadiri acara ulang tahun gadis kecil yang baru ditemuinya. Bahkan namanya pun dia tidak tahu, karena dia lupa untuk menanyakannya.


Keesokan paginya Theoden dan orangtuanya meninggalkan hotel. Sementara itu Kiana menunggu kedatangan Theoden. Dia menunggu di depan pintu , tapi orang yang ditunggunya tidak kunjung datang.


“Kiana, mungkin dia tidak akan datang,’’kata Joshua.


“Tapi dia sudah janji akan datang.”


Hari sudah semakin siang Theoden tidak kunjung datang. Kiana terlihat sangat kecewa dan sedih. Kemudian ada seseorang datang dan Kiana langsung berlari melihat siapa yang datang. Ia kembali kecewa, karena yang datang bukan orang yang ditunggunya.


“Ada yang saya bisa bantu,’’kata Joshua.


“Ini ada bingkisan untuk gadis kecil yang tinggal di sini.”


Kurir itu menyerahkan bingkisan itu .


“Dari siapa?’’


“Dari seorang kakak.”


Wajah Joshua terlihat bingung. Kiana langsung mengambilnya dari tangan ayahnya dan segera membukanya. Isinya seebuah boneka Teddy bear berwarna coklat dan ada sebuah amplop kecil. Kiana segera membacanya.


Maaf. Aku tidak bisa datang karena hari ini aku dan ayahku harus pulang ke Inggris. Aku tidak bermaksud untuk melanggar janjiku padamu. Suatu saat nanti pasti aku akan memenuhi janjiku. Teddy bear itu untukmu sebagai hadiah ulang tahunmu dariku.


Kiana memasang raut wajah sedih. Kenapa kakak harus pulang sekarang? Kakak sudah janji padaku?’’


Kiana mulai terisak menangis. Joshua menepuk punggungnya pelan dan berkata,”Sudahlah ,jangan menangis. Ini kan hari ulang tahunmu seharusnya hari ini kamu senang.”


“Ayah benar.”


“Ayo sekarang kita makan.”


Kiana mengenggam tangan ayahnya dan berjalan menuju ruang makan.


🥀🥀🥀


10 tahun kemudian


Suara gemuruh tepuk tangan membahana di gedung pertunjukkan. Konser piano Phillippa berjalan dengan sukses. Kiana sangat senang melihat kesuksesan ibunya yang menjadi pianis terkenal. Ia langsung menemui ibunya di belakang panggung dan memberikan sebuket bunga untuknya.


“Selamat, Bu!”


“Terima kasih, sayang!”


“Tadi permainan piano Ibu sangat bagus. Aku sangat bangga. Bukankah begitu, Ayah?”


Joshua mengangguk. “Tadi permainan pianomu sangat indah.”


Kiana mencium pipi ibunya dengan penuh kasih sayang, lalu Joshua memberikan sebuket tulip merah kepadanya yang selama ini ia lakukan.


“Terima kasih, sayang!”


Joshua mengecup bibir Phillippa membuat Kiana tersipu malu. Pintu ruang ganti terbuka. Fabian dan keluarganya datang dan mengucapkan selamat.


“Terima kasih kalian sudah datang!”kata Phillippa.


“Kami tidak mungkin tidak datang,”kata Fabian yang sekarang telah menjadi seorang kakek, karena Raina baru saja melahirkan seorang bayi perempuan.


Jonathan pun datang membawa istrinya yang baru dinikahinya satu bulan yang lalu.


“Selamat atas pernikahanmu, Jonathan!”


“Terima kasih!”


“Bagaimana kabarmu?”


“Aku baik .”


“Apa benar kamu telah bertunangan sejak ksmu masih bayi?"


“Iya. Meskipun awalnya aku tidak menginginkan pertunangan ini, tapi aku merubah pikiranku. Aku jatuh cinta kepada tunanganku, tapi sayangnya ia belum tahu."


“Terima kasih. Aku akan pergi menemuinya untuk membicarakan pernikahan kami.”


“Semoga berhasil.”


Kiana duduk di sofa sambil memperhatikan orangtuanya berbicara dengan paman Fabian dan bibi Miya. Ia pun mengingat 5 tahun yang lalu, saat ayahnya memberitahu Kiana soal perjodohannya dengan Theoden MacAllister. Kiana sangat marah kepada ayahnya, karena sudah menyetujui perjodohan itu, bahkan ia sama sekali tidak mengenal siapa Theoden.


Ia hanya bertemu dengannya sekali saat ia masih berumur 5 tahun dan pertemuan pertama mereka lumayan menyenangkan, karena Theoden mau berbagi kue dengannya. Akhirnya pertunangannya dengan Theoden dilakukan secara resmi ketika ia menginjak umur 15 tahun dan Theoden umur 21 tahun.


“Kamu boleh memutuskan pertunanganmu dengan Theoden saat kamu sudah berusia 20 tahun. Kamu boleh memutuskan apa pertunangan kalian akan tetap dilanjutkan atau tidak,”kata Joshua pada saat hari ulang tahunnya ke-19 tahun.


Phillippa duduk di samping Kiana setelah Fabian dan keluarganya telah pergi.


“Apa yang sedang kamu pikirkan?”


“Pernikahanku dengan Theoden.”


“Jika kamu t ingin menikah dengannya, kamu bisa membatalkan pertunangan ini, jika kamu tidak mencintainya.”


Joshua kemudian duduk di samping Phillippa.


“Besok kita menemui mereka d dan


membicarakan hal ini. Bagaimana? Lagi pula besok adalah hari yang dijanjikan untuk bertemu dengan mereka.”


Kiana mengangguk.


🥀🥀🥀


Kediaman keluarga MacAllister


“Besok Joshua dan putrinya akan datang ke sini,”kata Hendrik pada saat mereka makan malam.


 


“Jadi ayah ingin aku menikah dengan Kiana?”


“Benar.”


“Terserah ayah saja.”


“Jangan memaksa Theoden menikahi wanita yang tidak dicintainya,”kata Catherine yang sekarang telah menjadi istri Hendrik.


“Hanya Kiana yang pantas menjadi istri Theoden.”


“Terserah padamu saja.”


 


Theoden meletakkan sendok dan garpunya, lalu beranjak dari kursi dan pergi dari ruang makan. Ia pergi ke kamarnya dan menutup pintu dengan keras. Theoden duduk di sofa dan memejamkan matanya. Ia memang ingin menikah dengan Kiana, bahkan ia sangat mencintai gadis itu sejak pertama kali melihatnya.


Theoden mengambil foto ibunya yang berada di nakas samping tempat tidurnya dan memandanginya dengan wajah sendu.


“Aku merindukanmu. Andai ibu ada di sini.”


Diletakkannya kembali foto itu. Theoden kemudian teringat dengan perkataan pamannya Billy, adik ayahnya beberapa tahun yang lalu saat ia masih kuliah.


“Aku mencurigai kematian ibumu.”


“Apa maksud paman, ibu telah dicelakai seseorang?”


“Benar. Aku tidak percaya itu hanya kebakaran biasa, jadi secara diam-diam aku pergi ke gudang yang terbakar, lalu aku menemukan ini.”


Billy menyerahkan jepit berbentuk pita kepada Theoden dalam kantong plastik.


“Aku yakin pita itu bukan milik Irene, karena setahuku Irena tidak memiliki jepit itu.”


“Jadi maksud paman pemilik wanita ini terlibat dalam kebakaran gudang yang menewaskan ibuku?”


“Iya. Aku curiga ibumu telah dibunuh.”


Seketika itu Theoden berubah jadi pucat. Ia sama sekali tidak terpikirkan bahwa ada seseorang yang akan membunuh ibunya.


“Menurut paman siapa?”


“Paman benar-benar tidak tahu, tapi mungkin saja jepit itu ada pasangannya dan pasangannya ada di tangan pelakunya. Kamu harus mencari tahu siapa pemilik jepit rambut ini.”


“Tapi bagaimana aku mencarinya, karena aku tidak mempunyai petunjuk sama sekali.”


“Paman juga benar-enar tidak tahu. Selama ini paman berusaha mencari pemilik jepit itu, tapi hasilnya nihil.”

__ADS_1


Theoden kembali memperhatikan jepit rambut itu dengan seksama. Ia merasa pernah meihatnya, tapi ia tidak ingat.


“Baiklah. Aku akan berusaha untuk mencarinya meskipun butuh waktu bertahun-tahun. Jika ibuku dibunuh oleh pemilik jepit rambut ini, aku akan membuat dia mempertanggung jawabkan perbuatannya.”


Suara barang terjatuh memuat Theoden terkejut dan membawanya kembali dari lamumannya. Ia segera keluar kamar dan terkejut melihat vas bunga jatuh. Theoden melihat Lucinda, bibinya dengan pandangan terkejut.


“Bibi Lucinda, ada apa ini? Kenapa bibi memecahkan vas bunga?”


“Bibi tidak sengaja.”


Theoden mendekati Lucinda dan mengantarnya ke kamarnya.


“Apa bibi baik-baik saja?”


“Aku baik-baik saja.”


“Seharusnya bibi istirahat di kamar. Bibi kan sedang sakit.”


“Hanya flu dan batuk biasa saja. Tidak usah dibesar-besarkan.”


“Tapi bibi juga demam, kan?”


Theoden membaringkan Lucinda di tempat tidurnya. Setiap kali Lucinda menatap Theoden ada perasaan bersalah yang selalu bercokol di hatinya sejak ia membunuh ibunya. Lucinda merasa sangat menyesal dengan perbuatannya di masa lalu.


Theoden telah begitu baik kepadanya dan jika Theoden tahu bahwa ia telah membunuh ibunya, Lucinda sangat yakin, Theoden akan sangat membencinya. Air mata menetes tanpa disadarinya.


“Bibi kenapa menangis?”


“Bibi hanya teringat dengan ibumu saja. Matamu sangat mirip dengan ibumu.”


“Sekarang bibi istirahat saja.”


Lucinda mengangguk. Sementara Theoden membetulkan letak selimut.


“Maafkan aku,”katanya dalam hati.


Tidak lama setelah Theoden pergi dari kamarnya, Catherine datang. Wanita itu duduk di pinggir tempat tidur.


“Apa yang kamu inginkan?”tanya Lucinda.


“Sudah 20 tahun berlalu sejak kematian Irene dan aku tidak ingin kamu berniat untuk mengatakannya kepada Theoden.”


“Apa kamu takut, jika aku mengatakannya sebenarnya?”tanya Lucinda.


“Sama sekali tidak. Hanya saja jika kamu berniat untuk mengaku sekarang, usaha kita selama ini akan sia-sia saja. Tidak hanya kamu saja yang akan masuk penjara, aku pun akan masuk penjara, karena sudah melindungi seorang pembunuh. Jadi jangan coba-coba untuk mengatakanya pada Theoden atau pun Hendrik.”


“Pergilah! Aku ingin sendirian.”


Catherine meninggalkan kamar Lucinda dengan kesal. Lucinda seharusnya sejak awal tidak mengikuti permainan Catherine.


🥀🥀🥀


Keesokan sorenya Joshua, Phillippa, dan Kiana tiba di kediaman keluarga MacAllister. Kedatangan mereka disambut oleh Hendrik denga senang. Mereka kemudian duduk di ruang tamu. Beberapa pelayan membawakan minuman dan makanan.


“Aku senang akhirnya kalian datang lagi ke sini,”kata Hendrik. Ia tersenyum kepada Kiana calon menantunya. Kiana adalah gadis yang sangat cantik dan ia berharap Theoden dapat menikah dengannya.


“Di mana Theoden?”tanya Joshua.


“Sebentar lagi dia akan datang.”


Tidak lama kemudian Theoden datang dengan berpakaian sangat rapih dan tanpa cela. Rambut pirang madunya disisir dengan rapih menggunakan jelly rambut. Stelan jas birunya melekat pas ditubuhnya yang atletis. Mata abu-abunya menatap tajam kepada Kiana.


Gadis itu merasa gugup bertemu dengan Theoden. Kiana tidak pernah menyangka akan jatuh cinta kepadanya. Ia tersentuh oleh kebaikan dan perhatian Theoden kepadanya selama 5 tahun ini. Kiana cukup terkejut dengan ketampanan pria itu. zhantungnya berdebar semakin kencang tiap kali menatap Theoden.


Pria itu terlihat sangat tampan dari biasanya dan jauh di alam bawah sadarnya, Kiana pernah melihat wajah Theoden disuatu tempat, tapi ia tidak ingat.


“Jadi apa keputusan kalian tentang pertunangan antara Kiana dan Theoden?”tanya Hendrik.


“Aku menyerahkan semua keputusan kepada Kiana,”kata Joshua.


“Bagaimana Kiana, apa kamu menikah dengan Theoden?”tanya Hendrik.


Kiana terdiam, lalu ia membuka mulutnya hendak bicara, ketika Theoden berkata,” aku akan menikah dengannya.”


Semua orang yang berada di ruangan itu terkejut dengan keputusan Theoden. Hendrik tidak percaya dengan keputusan anaknya, karena selama ini putranya selalu menolak perjodohan ini.


“Benarkah yang kamu katakan tadi itu, Theo?”


“Iya. Aku sudah memutuskan untuk menikahi Kiana.”


Theoden menyunggingkan senyuman sambil memandang Kiana. Gadis itu merona merah ditatap oleh Theoden. Ia tidak memyangka, Theoden mau menikah dengannya, bahkan sampai sekarang ia tidak tahu apa Theoden mencintainya atau tidak.


“Aku akan menikah dengan Theoden,”kata Kiana yang membuat semua orang terkejut. Semua mata memandang kepadanya.


Theoden senang Kiana mau menikah dengannya. Ia sempat gelisah dan takut, jika Kiana tidak mau menikah dengannya. Sekarang ia merasa lega.


“ Theoden adalah pria baik untuk dijadikan calon suami untukku."


Kiana kembali memandang Theoden.


Theoden tiba-tiba berdiri dan menarik lengan Kiana.”Bisa ikut aku sebentar,”kata Theoden.


Kiana menuruti dan mengikuti kemana Theoden membawanya. Keduanya saling berdiam diri sebelum akhirnya Theoden membuka pembicaraan.


“Aku tahu pasti perjodohan ini sangat sulit untukmu."


“Awalnya Itu benar, tapi sekarang tidak lagi."


Theoden mengerutkan dahinya.


"Apa yang membuatmu mau menikah denganku?"tanya Theoden.


" Itu karena kamu pria baik."


" Hanya itu saja?"


" Iya."


Kiana tidak berani mengatakan perasaan yang sebenarnya, bahwa ia mencintai Theoden.


"Lalu bagaimana denganmu?"


" Aku juga sama denganmu. Kamu wanita baik."


"Aku pikir kamu tidak mau menikah denganku,"kata Kiana.


" Aku juga berpikir kamu tidak mau menikah denganku."


Theoden menatap Kiana dengan intens dan membuatnya merasa tidak nyaman. Kiana merasa tatapan Theoden seolah menelanjangi dirinya.


“Kamu tidak seperti kebanyakan wanita yang aku kenal."


"Benarkah?"


Theoden mengangguk.


"Mereka berlomba-lomba mengejarku untuk dijadikan kekasih mereka atau suami mereka, karean harta keluargaku. Selain itu ayahku ingin kamu yang menjadi istriku, kalau aku memilih wanita lain, ayahku tidak akan setuju. Aku ingin memenuhi permintaan ayahku dan aku juga sudah lelah dikejar-kejar wanita.”


“Itu salahmu sampai dikejar-kejar wanita, karena kamu terlalu tampan,bahkan aku sempat terpesona kepadamu nanti.”


“Wah kamu jujur sekali.”


“Sebenarnya aku tidak ingin memiliki suami tampan seperti kamu, karena itu akan sangat melelahkan jiwa dan pikiranku, karena aku harus menjagamu dari wanita-wanita penggoda dan mencuri-curi perhatianmu.”


“Kamu wanita pencemburu.”


“Itu wajar, jika ada suami digoda wanita lain.”


“Aku tidak akan tergoda oleh wanita lain.”


“Aku tidak percaya. “


“Tapi Kamu tetap menikah denganku."


Theoden tersenyum jahil.


“Kamu juga akhirnya memilihku dari sekian banyak wanita yang mengejarmu."


“Selama kita menikah, aku tidak akan menyentuhmu. Kita akan tidur terpisah, kalau kamu tidak ingin aku menyentuhmu. Aku janji. Ini aku lakukan demi ayahku, karena ayahku sedang sakit."


“Ayahmu sakit apa?”


“Jantung. Setiap saat aku bisa kehilangan ayahku.”


Kiana terdiam. Apa mungkin Theoden adalah pria yang ditakdirkan untuknya? Kiana mengerang di dalam hati. Ia memang mencintai Theoden, tapi ia ragu apakah bisa hidup bahagia dengannya.


Mereka berdua kembali ke ruang tamu di mana orangtua mereka sedang menunggu. Kiana kembali duduk di samping ibunya dan Joshua di samping ayahnya.


“Aku sudah bicara dengan Kiana dan kami akan menikah."


Mereka terkejut. Phillippa dan Joshua menatap putrinya tidak percaya.


“Apa kamu serius akan menikah dengan Theo?”tanya Joshua.


“Iya.”

__ADS_1


Hendrik tersenyum senang dan ia sangat bersemangat menentukan hari tanggal pernikahan dan mereka memutuskan hari pernikahan Kiana dan Theoden adalah dua bulan lagi. [ ]


__ADS_2