
Joshua tersayang,
Jika kamu membaca surat ini, itu artinya aku sudah tidak ada di dunia ini lagi. Sesuatu yang buruk telah terjadi padaku dan aku sudah tidak tahan lagi untuk menghadapi semuanya. Aku diperkosa dan sekarang aku hamil. Aku mencemaskan putriku. Ada sebuah rahasia yang aku simpan bersama suami selama bertahun-tahun, jika terjadi sesuatu kepadaku dan suamiku, aku hanya ingin kamu memberitahukannya kepada putri kami, Phillippa. Awalnya kamilah yang akan memberitahunya, jika dia sudah lebih besar lagi, tapi sekarang aku meragukannya kalau kami sendiri yang memberitahunya.
Phillippa bukanlah anakku dan Valentine, tapi anak Nicole dan Valentine. Ini memang terdengar gila, tapi kenyataannya seperti itu. Anakku dan Valentine telah meninggal saat dilahirkan. Kejadian itu berawal ketika Nicole menjebak Valentine untuk tidur dengannya dalam keadaan mabuk berat. Saat aku dan orangtua valentine tahu, kami sangat marah. Awalnya aku mengira Valentine sudah mengkhianatiku dan kami hampir bercerai, tapi setelah kebenaran terungkap dan semua itu bukan kesalahannya, aku memaafkan meskipun hatiku kecewa. Tak lama kemudian aku hamil dan Nicole pun hamil. Semua orang membicarakan Nicole, karena hamil di luar nikah. Kami merahasiakan ayah bayinya.
Pada waktunya kami melahirkan, anak perempuanku meninggal dan anak perempuan Nicole lahir dengan selamat. Orangtua Valentine memiliki ide gila untuk menukar bayi kami. Seolah-olah bayi Nicolelah yang meninggal. Awalnya kami menolak, tapi orangtua Valentine memaksa kami. Akhirnya kami setuju. Aku menganggap anak Nicole adalah anakku sendiri dan aku menyayanginya. Sampai kapan pun kami akan selalu menyayanginya.Jika kamu bertemu dengan putriku, tolong beri tahu dia tentang siapa ibunya yang sebenarnya.
Genevieve
Joshua masih memandangi surat Genevieve untuk kesekian kalinya, karena tidak percaya apa yang dikatakannya di dalam suratnya ini. Ia juga baru menyadari nama putri Genevieve sama dengan nama gadis pianonya, tapi nama Phillippa adalah nama yang umum dan banyak orang yang menggunakan nama itu. Ia melipat suratnya dan memasukkannya kembali ke dalam amplop. Joshua kembali teringat pertemuannya dengan Nicole dimakam, itu artinya bayi yang dimakamkan di sana adalah anak Genevieve yang sebenarnya.
🎵🎵🎵
Phillippa merasakan sekujur tubuhnya sakit saat ia tersadar setelah jatuh dari jurang dan kakinya terkilir. Kepalanya pusing dan pandangannya menjadi kabur . Ia menyentuh wajahnya dan darah merah segar memenuhi telapak tangannya. Ia terkejut dan ingin menjerit, tapi tidak ada suara apa pun keluar dari mulutnya. Cepat-cepat ia pergi dari sana dengan menyeret tubuhnya .
Wajahnya meringis kesakitan setiap kali ia menyeret tubuhnya menjauh. Ia tidak ingin ditemukan oleh bibinya kalau tidak ia akan dibunuh. Entah sudah berapa lama ia menyeret tubuhnya dan sekarang ia sudah berada di lapangan terbuka disuatu tempat dan dari kejauhan ia melihat sinar lampu senter. Ia ingin berteriak meminta pertolongan, tapi tidak ada satu kata pun yang mampu ia ucapkan dan sekali lagi kegelapan menyelimuti dirinya. Ia kembali jatuh pingsan.
Phillippa terbangun dari mimpi buruknya dan sinar matahari pagi telah menerobos masuk melalui jendela . Gadis itu duduk di tempat tidurnya dengan menarik kakinya sampai ke dagu berusaha menenangkan dirinya . Setelah dirinya tenang, ia segera berganti pakaian, karena ia harus mengikuti ujian yang terakhir kalinya.
Satu jam kemudian Phillippa sudah berada di Waldgrave Music School dimana ujian sedang berlangsung. Peserta ujian yang lolos hanya 50 orang. Di sela waktu menunggu namanya dipanggil, ia kembali mendapatkan buket bunga tulip merah dari penggemar rahasianya. Gadis itu merasa senang menerimanya tidak peduli siapa pun orangnya, penggemar rahasianya telah memberikan semangat dan dukungan kepadanya. Ia berharap suatu hari nanti ia bisa bertemu dengannya.
Namanya kemudian dipanggil, Phillippa masuk ke ruangan dan ia memainkan musik Twinkle Twinkle Little Star dengan sangat baik. Semua orang yang berada di ruangan itu memberikan tepukan tangan yang meriah. Tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata pria yang dikenalnya meskipun ia belum pernah berkenalan dengannya.
Setelah menunggu dua jam lebih akhirnya siapa saja yang lulus ujian diumumkan. Phillippa mencari namanya di selembar kertas yang ditempelkan di dinding. Ia senang saat namanya berada di sana.
"Selamat untukmu, Phillippa! Kamu mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di sini."
__ADS_1
Phillippa terkejut melihat Mr. Smith.
"Sudah aku duga kamu akan lulus,"katanya lagi.
Mr. Smith melihat buket bunga Tulip merah ditangan gadis itu dengan tersenyum."Pasti penggemarmu sangat senang mengetahui kamu lulus ujian. Mungkin nanti kita akan sering bertemu."
Setelah mengatakan itu Mr. Smith pergi dan gadis itu masih tidak mengerti dengan perkataan terakhir pria itu. Phillippa cepat-cepat menemui Angelica di toko bunga untuk memberitahukan kelulusannya. Angelica sangat senang dan langsung memeluknya dan nyonya Whitelock juga turut senang dan ikut memeluknya.
"Selamat untukmu!"seru Angelica. Mereka berpelukan lagi. Mereka memutusan untuk merayakan kelulusan Phillippa dengan makan malam di restoran Firoza.
🎵🎵🎵
Joshua datang ke kantornya dengan wajah berseri-seri senang dan tak luput dari perhatian Sandra. Ia senang gadis pianonya lulus dengan nilai terbaik.
"Apa kamu sudah membuatkan janji makan malamku bersama Barbara?"
"Sudah. Malam ini di restoran Firoza."
"Apa Anda benar-benar akan mengencaninya?"
"Tentu saja. Tidak ada salahnya, kan. Dia wanita yang baik dan mungkin akan menjadi awal yang baru buat kami."
"Semoga makan malam Anda nanti menyenangkan."
"Terima kasih."
Sebelum pergi meniggalkan ruangan, Sandra melihat setangkai bunga tulip di sofa. Ia mengerutkan dahinya dan merasa penasaran.
__ADS_1
🎵🎵🎵
Pada saat makan malam Barbara begitu senang, ketika Joshua mengajaknya makan malam bersama. Ia mempunyai harapan yang sangat besar Joshua akan menerima cintanya. Bayangan pernikahan selalu muncul dibenaknya akhir-akhir ini. Wajahnya berseri ketika Joshua datang mengenakan stelan jasnya yang rapih. Ia begitu tampan dan mempesona. Hampir semua wanita melirik ke arahnya. Barbara merasa menjadi perempuan yang sangat beruntung bisa berkencan dengannya. Senyumannya selalu membuat jantung Barbara berdegup kencang.
"Maaf membuatmu menunggu."
"Tidak apa-apa. Aku baru saja datang."
"Apa kamu sudah memesan makanan?"
"Baru jus jeruk saja."
"Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik."
"Maaf tiba-tiba aku mengajakmu makan malam. Aku tahu pasti kamu sedang sibuk berlatih bermain piano."
"Tidak perlu minta maaf. Aku senang menerima undangan makan malam darimu." Barbara tersipu malu dan ia mulai merasa wajahnya memanas bisa seakrab ini dengan Joshua, presiden direktur Waldgrave Entertainment.
Joshua menutup buku menunya setelah memesan beberapa makanan. Ia pun kembali menatap wanita dihadapannya."Aku sudah memikirkan ini baik-baik selama beberapa hari mengenai perasaanmu padaku dan aku memutuskan untuk mengenalmu lebih dekat dulu sebelum akhirnya kita melanjutkan hubungan lebih serius lagi."
Hati Barbara sangat kegirangan mendengar keputusan Joshua dan ia mempunyai kesempatan membuat pria itu jatuh cinta kepadanya." Baiklah. Aku setuju."
Tidak lama kemudian makanan yang dipesan sudah datang dan ketika mereka sedang menikmati makan malam, ia melihat Phillippa dan dua orang wanita lainnya masuk ke restoran mengambil tempat duduk tidak jauh dari mereka. Joshua selama sesaat terpesona dengan kecantikan gadis pianonya itu. Cacat di wajahnya disembunyikan dengan baik dibalik rambutnya. Tapi meskipun tidak disembunyikan pun gadis itu tetap cantik.
"Ada apa?"tanya Barbara.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa."
Joshua kembali kepada makanannya sambil sesekali melirik ke arah Phillippa.[ ]