Knight in Shinning Suit

Knight in Shinning Suit
(S2): Billy dan Lucy


__ADS_3

Kana terus menceritakan kepada tantenya kenapa dirinya sampai ada di sini tanpa henti saat mereka berada di kamar tamu. Hera hanya mendengarkannnya dan sesekali memperlihatkan wajah sedih, karena Kana sudah mengalami hal buruk. Hera langsung memeluknya.


’’Maafkan tante ya Kana karena tante tidak bisa melindungi Kana.”


“Tante Hera tidak perlu meminta maaf. Ini bukan salah tante Hera.”


Kana menghapus air mata dari pipi tantenya.’’Sekarang Kana baik-baik saja dan Kana senang tinggal di sini, kakek Thomas sangat baik. Kana juga akhirnya bisa bertemu dengan ayah dan ibu.”


“ Nanti malam mau tidur dengan tante?’’


Kana menganggukan kepalanya dengan cepat. “Mau. Selama ini Kana tidur di kamar yang besar sendirian kadang-kadang Kana merasa takut, karena kamar itu terlalu besar untuk Kana. Ayo akan Kana tunjukkan kamarnya!’’


Kana turun dari tempat tidur dan meraih tangan tantenya dan menariknya keluar kamar. Suara langkah kaki terdengar dari tangga dan semakin mendekat. Seorang pelayan perempuan muncul di atas tangga membawa beberapa selimut putih bersih yang baru dicuci.’’Selamat sore!”sapanya.


“Selamat sore !’’


“Saya baru saja membawakan selimut bersih untuk Anda.”


“Kalau begitu letakkan saja di kamar.”


Pelayan itu pergi dan masuk ke dalam kamar.


“Ayo tante Hera!’’


Kana begitu terlihat semangat ketika mengajaknya untuk memperlihatkan kamarnya kepada tantenya.


“Nah ini kamar Kana. Besarkan?’’


“Iya besar.”


Mata Hera memperhatikan setiap sudut kamar itu. Langit-langit kamar yang tinggi. Tempat tidur yang besar yang terbuat dari kayu terbaik. Sebuah sofa beludru berwarna krem yang menghadap ke sebuah perapian di samping jendela kamar yang besar dan lantainya dihiasi oleh karpet persia yang mahal.


“ Kana menyukai kamar ini walaupun terlihat besar untukku dan lihat dari balkon ini Kana dapat melihat bintang di malam hari. Setiap malam sebelum tidur Kana selalu memandangi bintang-bintang dari sini.”


Hera memeluknya dengan perasaan sayang dan membelai rambutnya. Besok pagi ia sudah harus pergi dan aada kemungkinan dalam waktu yang lama ia tidak akan bertemu dengan Kana lagi. Ia melepaskan pelukannya dan memandang wajah mungil Kana.


“Tante sayang Kana.”


“Kana juga sayang tante.”


Hera tersenyum lembut sambil mengelus-elus bagian belakang kepala Kana, lalu ia meraih kembali tangan Hera dan berjalan menuju tempat tidur . Mereka berdua duduk di sana.


“Tante sebaiknya istirahat dulu.”


“Tante akan istirahat.”


Hera pergi ke kamarnya dan meninggalkan Kana di kamar.


🥀🥀🥀


Theoden langsung keluar mobil begitu berhenti di depan pintu masuk. Ia segera pergi ke lantai dua dan pergi ke kamar Lucinda. Di kamar tidak ada siapa pun. Theoden segera saja memeriksa kamar Lucinda untuk mencari pasangan jepit rambut yang mungkin milik Bibinya itu. Ia mengobrak-abrik meja rias dan menemukan kotak yang menyimpan semua aksesoris milik Lucinda.


Isi kotak itu ditumpahkan di atas kasur dan Theoden mencari-cari jepit berbentuk pita. Ia pun menemukannya dan sama persis. Tangannya gemetar ketika mengambil jepit itu. Apa yang dikatakan oleh Bibi Mary benar adanya. Lucinda telah membunuh ibunya. Theoden memutuskan menunggu Lucinda di kamarnya.


Lucinda terkejut melihat Theoden berada di kamarnya. Terlebih lagi keadaan tempat tidurnya yang berantakan.


“Apa yang terjadi? Dan apa yang kamu lakukan di sini?”


Theoden bangkit dari sofa, lalu menunjukkan jepit rambut kepada Lucinda.


“Apa Bibi mengenal jepit rambut ini?”


“Tentu saja. Itu milikku.”


“Ada seseorang yang menemukan jeit rambut ini disekitar gudang.”


Wajah Lucinda berubah pucat.


“Siapa?”


“Bibi tidak perlu tahu siapa. Apa Bibi yang sudah membunuh ibu?”


Pertanyaan Theoden yang tida disangkanya itu membuat wajah Lucinda menjadi semakin pucat dan ketakutan.


“Itu…”


“Awalnya aku tidak tahu siapa pemilik jepit ini, tapi sekarang aku tahu, karena aku menemukan pasangannya di dalam kotak itu.”


“Jepit itu tidak bisa jadi bukti kalau aku yang membunuh ibumu.”


“Yang dikatakan Bibi memang benar. “


“Aku tidak membunuh ibumu,”sangkal Lucinda.


“Baiklah kalau Bibi tidak mau mengaku. Aku akan mencari kebenarannya.”


Theoden dengan marah meninggalkan Lucinda di kamar. Setelah Theoden pergi, Lucinda cepat-cepat menemui Catherine di kamarnya. Wanita itu terkejut dengan kedatangan Lucinda di kamarnya.


“Ada apa?”tanya Catherine yang sedang membaca majalah mode.


“Theoden mencurigaiku sebagai pembunuh ibunya.”

__ADS_1


Catherine langsung menutup majalahnya.”Apa kamu bilang?”


“Theoden mencurigaiku yang telah membunuh Irene,”ulang Lucinda.


Catherine cepat-cepat menuju pintu kamar memastikan tidak akan ada orang yang mendengar.


“Bagaimana Theoden bisa mencurigaimu?”


Lucinda kemudian menceritakan pembicaraannya dengan Theoden.


“Kamu ceroboh sekali.”


“Aku tidak menyadari kalau jepit rambutku hilang di gudang itu. Selama ini aku pikir hilang di tempat lain.”


“Apa kamu mengakuinya?”


“Tentu saja tidak.”


“Apa dia percaya?”


“Tidak. Theoden akan berusaha mencari


kebenarannya.”


“Ini benar-benar sangat gawat. Theoden tidak boleh tahu.”


“Apa yang harus kita lakukan?”


“Untuk saat ini kita tidak akan melakukan apa pun dulu.”


“Aku yakin Theoden akan terus menaruh curiga kepadaku.”


“Yang aku takutkan Theoden akan bercerita kepada ayahnya.”


“Jika kakakku tahu, kita berdua akan diusir dari rumah ini.”


“Kita akan bersikap seperti biasanya. Seolah-olah Theoden tidak mengatakan apa pun.”


Lucinda mengangguk.


“Sekarang pergilah!”


Lucinda pergi dari kamar Catherine dan kembali ke kamarnya. Ia mulai bimbang dan resah, berjalan mondar-mandir di kamarnya. Ia memang memiliki niat untuk mengakui yang sebeanrnya, suapaya tida dihantui oleh perasaan bersalahnya, tapi sekarang setelah melihat kemarahan Theoden, Lucinda menjadi takut.


🥀🥀🥀


Terdengar suara langkah terburu-buru di sepanjang koridor rumah yang berlantaikan papan kayu. Seorang pelayan berpakaian yukata dan sebuah nampan yang berisi sepoci teh dan dua cangkir dengan semangkuk kecil gula. Ia meletakkan nampan itu di atas meja taman yang terbuat dari besi dan bercat putih disetiap pinggirannya ada hiasan sulur-sulur daun Ivy. “Ini tehnya Tuan.”


Perlahan-lahan pelayan itu pergi dan orang yang dipanggil tuan oleh pelayan itu adalah majikannya yang telah berusia 45 tahun. Pria itu menuangkan tehnya ke dalam cangkir, lalu meminumnya secara perlahan sambil melihat seorang wanita yang tengah merawat berbagai macam bunga mawar.Tatapan pria itu begitu teduh dan binar cinta yang menar-nari dimatanya ketika melihat wanita pujaan hatinya yang dua hari lagi akan resmi menjadi istrinya.


Ia sudah tidak sabar lagi untuk segera menjadikannya sebagai istrinya. Ia teringat akan pertemuan pertamanya 5 tahun lalu disebuah rumah sakit. Saat itu ia sedang menjalani sebagai dokter jaga di ruang gawat darurat dan di sanalah ia bertemu dengannya, wanita yang telah mencuri hatinya ketika pertama kali melihatnya dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan keadaan yang memprihatinkan .


Wajahnya pucat dan ada banyak darah di dahinya yang telah mengering. Wanita itu mengalami suatu benturan keras dikepalanya yang menyebabkan dia koma selama 3 tahun.Selama itu pula ia dengan sabar merawatnya sampai tersadar kembali dan saat-saat yang ditunggunya itu datang. Wanita pujaan hatinya telah terbangun dari tidurnya yang panjang .


“Halo cantik!’’sapanya.


Wanita itu masih berusaha untuk mengetahui dirinya berada.’’Apa ini rumah sakit? Apa yang telah terjadi denganku?’’tanyanya dengan suara parau.


“Ini rumah sakit dan kamu mengalami sebuah kecelakaan. lalu koma selama tiga tahun.”


“Aku koma? 3 tahun?’’


“Benar. Sebaiknya jangan banyak bergerak dan bicara dulu. Aku akan memeriksamu, selama tiga tahun ini aku adalah doktermu.”


Lalu dokter itu memeriksa keadaanya dan wanita itu terlihat malu-malu ketika dokter tampan itu memeriksa dirinya.’’Sepertinya kamu akan baik-baik sekarang. Kamu beruntung ditemukan oleh warga dan cepat membawamu kesini. Siapa namamu?’’


“Lucy Holmes.”


“Nama yang bagus. Namaku Billy MacAllister.”


Billy melihat Lucy seperti terkejut akan sesuatu.


“Di mana Akira dan Rinji?’’teriaknya.


“Siapa Akira dan Rinji?’’


“Mereka adalah suami dan anakku. Di mana mereka?’’tanyanya dengan bercucuran air mata.


“Aku tidak tahu di mana suami dan anakmu.”


“Aku harus mencari mereka.”


Lucy dengan tergesa-gesa mencoba bangun dan turun dari tempat tidur, tapi seketika tubuhnya menjadi limbung.


“Sebaiknya kamu tenang dulu .”


“Anda tidak mengerti dokter aku harus tahu di mana mereka berdua. Apa mereka baik-baik saja atau tidak. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk menimpa mereka berdua bagaimana?’’


“Baik...baik...aku akan mencari informasi tentang mereka berdua, tapi sepertinya akan sulit sekali, karena ini sudah tiga tahun berlalu, tapi aku janji akan mencari di mana mereka berada.” Lucy kembali terlihat sedikit tenang.


“Terima kasih. Tolong cari mereka untukku!’’katanya dengan pandangan memohon.

__ADS_1


Waktu itu dirinya begitu terkejut kalau wanita pujaan hatinya telah memiliki seorang suami dan juga anak dan harapannya untuk memiliki gadis itu hanya tinggal mimpi. Bagaimana pun ia tidak boleh merasa egois untuk menyembunyikan Lucy dari suami dan anaknya, karena ia tidak ingin memisahkan seorang anak dari ibunya.Tapi sisi gelap dirinya mengatakan supaya membawa kabur Lucy dari sini dan tidak perlu mencari suami dan anaknya.


Ide jahat itu sudah beberapa kali mengerogoti pikirannya, tapi ia berusaha untuk membuangnya jauh-jauh.


Billy masih ingat ketika mengatakan kalau suami dan anaknya telah meninggal tiga tahun lalu dan Lucy menuduhku berbohong kepadanya.


’’Itu tidak mungkin. Pasti Anda salah dokter. Suami dan anakku tidak mungkin meninggal. Aku yakin mereka masih hidup disuatu tempat,’’teriaknya histeris dengan suara pilu dan membuatnya merasa kasihan kepadanya.


“Lucy, tenanglah sedikit!’’


Billy memeluk Lucy berusaha untuk menenangkannya, tapi Lucy semakin meronta-ronta liar sambil berteriak nama Akira dan juga Rinji.Selama beberapa hari Lucy tenggelam dalam kesedihan dan Billy berusaha untuk menghiburnya. Di satu sisi ia merasa kasian kepada Lucy tentang kematian suami dan anaknya. Di sisi lain ia merasa senang, karena Lucy kembali menjadi lajang dan ada harapan untuk memilikinya. Billy mengetahui kematian suami anaknya berdaarkan informasi dari polisi dan keluarganya.


Selama berbulan-bulan akhirnya Lucy mau menerima kepergian suami dan anaknya dan ia akhirnya menceritakan tentang kisah hidupnya. Enam bulan setelah Lucy sadar dari komanya, Billy diutus untuk pergi ke Inggris untuk bekerja disalah satu rumah sakit di sana. Ia pun mengajak Lucy untuk pergi bersamanya dan tanpa ia duga Lucy langsung menyetujuinya dan setelah tiga tahun berada di Inggris kini mereka kembali ke Jepang. Mereka berdua akan segera menikah setelah satu tahun yang lalu ia melamar Lucy.


“Lucy, kemarilah! Kita minum teh bersama.”


Lucy yang wajahnya telah memerah, karena terpaan sinar matahari berjalan mendekatinya dengan senyumannya yang selalu membuat hati pria itu berdebar-debar.


🥀🥀🥀


Lucy kembali ke kamarnya setelah minum teh bersama tunangannya. Kamarnya begitu luas ditambah hanya sedikit barang di kamar itu hanya ada lemari dan meja rias. Sebuah kamar bergaya jepang tradisional hanya terdari 10 tatami. Lucy akan selalu membuka pintu fusuma mengarah ketaman dan duduk di sana. “Akira...Rinji...aku merindukan kalian.”


Lucy menangis menumpahkan segala kesedihannya.


’’Akira, aku akan menikah dengan seorang pria yang sangat baik , tapi hatiku tidak bisa mencintai pria itu meskipun aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk dapat mencintainya, tapi tetap saja aku tidak bisa. Seandainya kamu dan Rinji ada di sini mungkin keadaannya akan menjadi berbeda. Aku ingin bertemu denganmu dan Rinji. Apa pun akan kulakuakn asal aku dapat bertemu dengan kalian,”gumam Lucy dan kembali menangis.


🥀🥀🥀


Mary yang baru saja tiba di kediamannnya di Tokyo terkejut menerima telepon dari Theoden, keponakannya, bahwa ia sudah memiliki bukti kejahatan Lucinda. Ia juga merasa senang, akhirnya pembunuh Irene dapat diketahui. Mary kemudian merasakan kepalanya sangat pusing dan vertigonya kambuh lagi dan jatuh pingsan. Para pelayan menjadi panik dan memindahkannya ke kamar dan salah satu pelayannya segera menghubungi dokter.Setengah jam kemudian dokter pun datang.


“Akhirnya Anda datang juga dokter. Nyonya ada di kamarnya.”


“Saya akan kesana.”


Dokter itu segera pergi ke kamarnya. Mary tersenyum ketika dokter itu datang.’’Hai Mary!”sapa Billy.


“Akhirnya kamu datang juga.”


“Kamu selalu membuatku cemas.”


“Maaf. Vertigoku tiba-tiba kambuh lagi.”


Billy mulai memeriksa keadaan Mary, lalu tersenyum.”Kamu harus menjaga kesehatanmu. Jangan terlalu lelah.”


“Aku baru kembali dari Inggris menemui Theoden.”


“Bagaimana kabar anak itu? Aku dengar ia akan segera menikah beberapa hari lagi.”


“Keadaannya baik.”


“Itu bagus. Aku sempat mencemaskan dia sejak ibunya meninggal.”


Billy tersenyum.’’Sebaiknya kamu harus cukup istirahat dan jangan memikirkan apa-apa.”


“Rasanya itu tidak mungkin, sekarang ini aku sedang banyak pikiran dan masalah pekerjaan.”


“Sebaiknya pikiran yang menganggumu hilangkan hanya untuk sebentar saja, kalau terus begini kamu bisa mengalami stress berat.”


“ Ya. Baiklah.”


“Aku akan memberikan resep obat untukmu. Oh ya aku hampir lupa untuk memberikan sesuatu padamu.”


Kening Mary mengerut penasaran apa yang akan diberikan oleh Billy kepadanya.


“Ini.”


“Bukannya ini adalah undangan pernikahan.”


“Benar.”


“Siapa yang akan menikah?’’


Billy tersenyum.’’Aku akan menikah besok lusa. Maaf baru memberikannya padamu sekarang seharusnya aku sudah memberikannya sebulan yang lalu. Aku cukup malu mengatakan kalau undangan pernikahanku tidak cukup akhirnya aku memesan lagi undangan itu, karena aku telah salah menghitung tamu yang akan hadir dipernikahanku.’’


“Selamat untukmu!”


“Terima kasih!”


“Aku tidak menyangka akhirnya kamu akan menikah. Aku kira kamu tidak akan pernah menikah.”


“Aku juga mengira begitu.”


“ Apa Theoden tahu?”


“ Dia tahu. Aku meneleponnya kemarin. Itu sebabnya aku tahu bahwa dia akan menikah juga.”


“Apa dia akan datang?”


“Dia tidak akan datang, karena masih sibuk dengan pekerjaannya dan juga persiapan pernikahannya.”


“Aku pulang dulu dan jangan lupa meminum obatmu.’’

__ADS_1


Mary mengangguk pelan, lalu Billy menghilang dibalik pintu. [ ]


__ADS_2