
"You are the sunshine of my life, you take the clouds away and make me a rainbow every day. You're in my heart where you'll forever stay."
Lola Pearl Vance
Pantai terlihat begitu cerah bagaikan dicuci bersih oleh badai yang terjadi semalam. Burung-burung bernyanyi dengan merdunya di atas kilauan pantai berwarna biru cerah. Aroma pantai yang khas dan udara yang sejuk membuat Kiana merasa pikirannya kembali jernih setelah ia melewati masa-masa sulit dalam hidupnya.
Mata mungil jernihnya memandang jauh keseberang pantai dengan tatapan penuh rindu akan seseorang. Pria yang sudah membuat hari-harinya ceria . Pria yang sudah membuatnya merasa dicintai dan mencintai, pria yang sudah memperkenalkannya tentang cinta sejati. Cinta dalam hidupnya, cinta yang ia tahu tidak akan pernah mati sampai ia meninggal nanti.
’’Aku tidak pernah menyesal telah bertemu dan mengenalmu. Tidak akan pernah. Terima kasih sudah memberikan cinta dan kehangatanmu padaku. Kamu bagaikan matahari abadi yang selalu menyinariku setiap saat, setiap waktu. Aku akan selalu mencintaimu di mana pun kau berada,’’bisik hatinya.
Suara ombak yang besar membentur batu , menerpa pasir dalam suatu empasan putih yang keras memecahkan lamunannya. Ia tersenyum dan menggapai masa depan bersama orang-orang yang ia cintai dan sayangi. Rasa cinta dan kasih sayang yang akan ia berikan untuk kedua malaikat kecilnya. Kehidupan yang damai telah ia peroleh dan tidak ingin siapa pun menganggu ketenangannya lagi tekadnya dalam hati.
Kiana sudah merasa puas dan bahagia apa yang telah ia peroleh sekarang. Ia duduk di pasir sambil menikmati hembusan angin sepoi-sepoi yang terasa sejuk menembus kulitnya, mendengarkan suara ombak yang membentur-bentur batu karang.
Kiana tersenyum ketika anak laki-lakinya berlari ke arahnya dengan wajah gembira sambil memegang ember penuh kerang di tangan kanannya dan sekop kecil di tangan kirinya dengan wajah dan tangan yang kotor.
’’Mamaaaa......’’
Kiana merentangkan kedua tangannya dan memeluknya.
‘’Lihat !’’
"Wah kerangnya banyak sekali. Anak mama hebat."
Kepalanya dielus dengan penuh kasih sayang.
"Papa membantuku mencarinya."
Kiana memandang anaknya yang baru berusia delapan tahun dengan wajah senang.
‘’Di mana papa?’’
Telunjuk kecil Allesio mengarah ke sesosok laki-laki yang sedang berjalan bersama seorang gadis kecil .’’Itu papa."
Gadis kecil yang digandeng laki-laki itu langsung berlari ke arah Kiana dengan wajah gembira dan langsung mencium pipi Kiana berkali-kali dan memeluknya.
’’Kenapa mama tadi tidak ikut bergabung bersama kami mencari kerang?’’
"Maafkan sayang, tadi mama hanya ingin menyendiri, tapi tadi kalian bersenang-senang bukan?’’
"Tadi kami membuat istana pasir. Aimi dan kak Alessio membantu papa membuatnya, tapi sayang istana pasirnya tidak bertahan lama, tiba-tiba saja ombak besar merusaknya padahal kami sudah susah payah membuatnya."
Wajah Aimi cemberut. Kiana melirik ke arah laki-laki yang sudah berada di depannya dengan wajah lelah, lalu pandangannya beralih pada Aimi anak perempuannya yang berusia delapan tahun. Alessio dan Aimi adalah anak kembar kesayangannya yang sudah membuat hari-harinya terasa bahagia.
"Sepertinya menu makan siang kita hari ini adalah kerang."
‘’Aimi akan membantu mama memasak."
Allesio yang tadi diam tidak mau kalah dengan adiknya.’’Aku juga akan membantu mama."
"Kalian berdua boleh membantu mama, tapi kalian bersihkan dulu diri kalian."
Kedua anak itu berlari ke dalam rumah.
"Pasti sangat lelah menemani Aimi dan Alessio bermain."
"Mereka berdua anak-anak yang sangat lincah, tapi aku menikmati bermain bersama mereka."
Tiba-tiba saja laki-kali itu menarik-narik pipi Kiana dengan gemas.’’Jangan terlihat murung terus, aku lebih suka melihat kamu tersenyum."
"Theo, awas kamu ya."
Theoden cepat menghindar sebelum Kiana berusaha untuk mencubit pipinya. Kiana pun berlari mengejarnya. Ia jongkok, karena lelah mengejar suaminya yang berlari sangat cepat masuk ke dalam rumah.
Sudah sembilan tahun berlalu sejak ia menikah, kehidupannya cintanya pun berjalan lancar. Kiana menerima lamaran pria yang dicintainya dan akhirnya menikah dan memiliki anak kembar yang lucu. Saat-saat itu adalah hari yang tidak pernah ia lupakan. Ia sering mengingat saat-saat itu dan berakhir dengan wajah yang merona merah.
"Terima kasih sudah menjadi pendukungku selama ini dan juga memberikan semangat untukku,’’bisik hatinya.
__ADS_1
Kiana menoleh ke arah kanan dan melihat Allesio dan Aimi tertidur pulas setelah makan siang berlalu, sedangkan Theoden membaca sebuah buku sambil tiduran di sofa yang menghadap ke perapian. Ia menatap Kiana begitu lekat yang sedang mengelus-elus kepala Aimi yang tertidur dipangkuannya.Tidak lama kemudian Kiana juga ikut tertidur di sofa yang menghadap pemandangan ke arah laut.
🥀🥀🥀
"Senyuman manismu membuatku jantungku selalu berdebar. Kiana , aku ingin selalu berada di hatimu dan menjadi satu-satunya pria yang menempati hatimu. Kamu tahu, aku selalu mendapati diriku tersenyum tanpa alasan yang jelas ketika sedang memikirkanmu. Aku seperti orang bodoh hanya karena cinta.
Hanya kamu satu-satunya wanita yang membuatku hatiku bergetar dan merasakan apa itu artinya cinta. Aku mencintaimu Kiana, kau adalah satu-satunya alasanku untuk hidup, bisik hatinya.
Sore harinya Kiana membereskan pakaian suami dan anam-anaknya yang berantakan di kamar.
" Bantu mama membereskan pakaian ini."
"Baiikk,’’seru keduanya bersamaan.
"Kenapa papa tidak disuruh membantu mama? Seharusnya papa yang membantu mama,’’tanya Allesio
"Papa sedang sibuk."
"Papa dari tadi hanya membaca buku,’’ujar Aimi.
"Betul." Allesio memberi persetujuan.
Tiba-tiba Theoden sudah berada dihadapan mereka . ‘’Kalian sedang membicarakan papa ya."
Mereka bertiga tertawa terkikik.
🥀🥀🥀
Phillippa ditemani Joshua mendatangi rumah Nicole. Kedatangan mereka yang tiba-tiba sangat mengejutkannya. Nicole tidak menyangka kalau Phillippa akan datang menemuinya. Tubuhnya kini telah semakin renta. Nicole berjalan menggunakan tongkat menghampiri Phillippa.
"Aku senang kalian datang. Akhirnya setelah 9 tahun aku menunggu, kalian mau datang menemuiku."
Nicole mempersilahkan mereka duduk.
" Aku datang ke sini untuk mengatakan bahwa aku sudah memaafkanmu."
"Perbuatanmu di masa lalu begitu sulit aku maafkan sehingga memakan waktu 9 tahun untuk dapat memaafkanmu."
" Aku mengerti. Perbuatanku di masa lalu memang sangat buruk. Aku sudah banyak menyakitimu dan membuat hidupmu menderita."
Nicole menitikan air matanya.
" Aku juga berterima kasih kamu sudah mau menolongku waktu itu,"kata Phillippa.
" Itu sudah tugasku sebagai seorang ibu meskipun terlambat."
Phillippa mengenggam tangan Nicole.
"Kita membuka lembaran baru."
Nicole mengangguk, kemudian Phillippa memeluk Nicole.
"Ibu,"panggil Phillippa.
Nicole terharu mendengar Phillippa memanggilnya ibu.
"Aku ingin ibu tinggal bersama kami."
"Tinggal bersama kalian?"
"Iya."
"Apa tidak apa-apa?"
"Tentu saja tidak apa-apa."
"Terima kasih."
__ADS_1
🥀🥀🥀
Di suatu tempat di New York, Amy sedang berbicara dengan suaminya.
" Jadi pria yang kamu cintai itu sudah menikah dengan Kiana?"tanta Steve.
" Benar. Bukankah Kiana itu adalah cucumu?"
" Iya. Kiana sudah mengambil warisan ayahku."
" Jadi apa yang akan kamu lakukan?"
" Tentu saja mengambil apa yang menjadi milikku."
"Aku akan membantumu."
"Benarkah?"
"Tentu saja. Aku ingin Theoden kembali kepadaku dan kamu bisa membunuhnya kalau perlu."
" Kamu memang wanita pintar."
"Aku dengar Kiana, Theoden, dan anak-anak mereka sedang berlibur di villa dekat pantai. Bagaimana kalau kita ke sana?"
" Baiklah."
"Kamu bisa menculik Kiana dan aku akan menghibur Theoden dan anak-anaknya ketika Kiana menghilang."
Mereka berdua tersenyum senang, lalu tidak membuang waktu lagi mereka menuju ke sana, tapi di tengah perjalanan menuju ke sana, mobil mereka bertabrakan dengan mobil lain dan masuk ke jurang.
Amy dan suaminya, Steve Grimaladi dinyatakan meninggal. Rudolfo yang mengetahuinya dari berita di TV langsung menuju tempat kejadian. Selama ini Steve telah mengubah namanya menjadi George Herald dan Rudolfo mengenalinya dari wajahnya yang ditayangkan di Tv.
🥀🥀🥀
Kiana mengangkat roknya, lalu berputar-putar di atas pasir pantai dan tertawa seperti anak-anak. Gerakannya terhenti ketika ia melihat sesosok pria tinggi mengarah kepadanya. Nafas Kiana tercekat melihat Theoden berjalan ke arahnya.
"Theoden."
"Kiana."
Tanpa menunggu lagi Kiana langsung memeluknya dan ia pun memeluk Kiana kembali dengan erat.
"Aku mencintaimu, Kiana."
Theoden mengecup bibir Kiana.
"Aku tahu. Kamu selalu membisikkan kata cinta padaku tidak hanya dengan bibir, tapi juga dengan jiwamu. Cintaku."
Sekali lagi mereka pun berciuman. Lekat dan kuat, kemudian mereka bergandengan tangan menyusuri pantai dengan wajah bahagia.
Terdengar suara teriakan Aimi ketika melihat Kiana dan Theoden mendekati rumah.’’Papaaaaa......’’
Theoden berlari dan langsung mengendong dan memeluk Aimi erat-erat buah cintanya dengan Kiana dan menciuminya berkali-kali. Allessio berlari ke arah orangtuanya dan Kiana menggendongnya.
Mereka saling berpandangan satu sama lain, lalu mereka pun tertawa.
Kiana, I love you forever and always, because you are my prefect soulmate.
🥀🥀🥀
Dear Readers!
Season 2 susah tamat semoga kalian menyukainya. 😁.
Terima kasih vote, like,dan komennya 🤗.
Sampai jumpa lagi !👋
__ADS_1