
Pada malam harinya Kiana kembali ke rumah dan mendapati banyak tamu. Ia senang ayah dan ibunya telah kembali. Mereka sedang berkumpul di ruang keluarga.
“Ibu. Ayah,”panggil Kiana.
“Kamu sudah pulang?”tanya Phillippa
“Iya. Pekerjaanku di kantor sudah selesai. Kapan kalian kembali?”
“Tadi siang,”jawab Joshua.
Kiana kemudian meihat wanita asing yang duduk di samping Kana.
“Ini Hera. Wanita yang sudah merawat Kana selama ini,”kata Phillippa.
“Kami ingin mengatakan sesuatu kepadamu,”kata Joshua.”Duduklah!”
Kiana duduk di sebelah kakeknya.
“ Kana sebenarnya adalah adikmu yang hilang,”kata Joshua.
Kiana melonjak terkejut dan kedua pupil matanya melebar.
“Kana adalah adikku?”
“Benar, sayang,”kata Phillippa dengan wajah senang.
Kana lalu memeluk Kiana.
“Ternyata kamu adalah kakakku. Aku senang.”
“Aku juga senang.”
Kiana memeluk Kana. Akhirnya setelah sekian lama Kiana dapat memeluk adikknya sendiri.
“Selamat datang di rumah!”kata Kiana.
Kana tersenyum, lalu kembali memeluk Kiana.
🥀🥀🥀
Keesokaan paginya Mary terbangun oleh suara dering telepon dengan mata yang masih mengantuk , ia mencari-cari telepon di balik selimutnya dan akhirnya ia berhasil meraih gagang telepon yang tidak jauh berada di meja samping tempat tidurnya. Samar-samar terdengar suara seorang pria ketika ia menjawab telepon itu. Pada awalnya Mary tidak menyadari siapa yang telah menelponnya, tapi beberapa detik kemudian, ia baru tersadar dan segera bangun.
“Theoden, itukah kamu?’’tanyanya dengan suara setengah berbisik.
“Iya ini aku.”
Salah satu tangannya mencengkaram selimutnya.” Bagaimana?”
“Aku sudah menemukannya. Seperti yang Bibi Mary katakan.”
“Benarkah?”
“Iya aku menemukan rekaman asli CCTV dan aku sudah melihatnya. Bibi Lucindalah pelakunya.”
Mary memejamkan matanya.”Itu sangat bagus. Sekarang apa yang akan kamu lakukan?”
“Aku akan memberitahu ayah soal ini.”
“Apa kamu yakin?”
“Tentu saja. Ayah harus tahu yang sebenarnya.”
“Dari mana kamu mendapatkan rekaman asli itu?”
“Aku menemukannya di kamar Bibi Lucinda.”
“Kamu hebat sekali Theoden.”
“Bibi Lucinda sangat pintar setelah perbuatannya terekam. Ia langsung mengambil rekaman asli dan menukarnya dengan yang palsu.”
“Kapan kamu akan memberitahu ayahmu?”
“Malam ini. Setelah makan malam.”
“Aku harap semuanya akan baik-baik saja.”
Mary menutup telepon. Ia ingin sekali berada di sana saat Theoden membongkar kejahatan Lucinda. Akhirnya Irene akan mendapatkan keadilan setelah bertahun- tahun rahasia itu tertutup rapat.
Mary cepat-cepat turun dari tempat tidurnya ketika jam sudah menunjukan angka 9. Ia bergegas merapikan diri, lalu pergi dengan terburu-buru. ’’Kamu mau kemana?’’tanya suaminya yang terheran-heran melihat istrinya pergi dengan terburu-buru.’’Ke rumah Billy. Aku harus pergi.”
“Tapi kamu masih sakit sebaiknya istirahat saja dulu.”
“Aku harus tetap pergi. Aku harus menemui seseorang.”
“MARY.”
Merry tetap pergi tanpa mempedulikan teriakan suaminya yang melarangnya pergi. Saat ini tidak ada seorang pun yang boleh mencegahnya untuk pergi untuk menemui Lucy pikirnya. Ia ingin bertemu dengannya dan memastikan kalau itu adalah benar-benar Lucy Holmes mantan tunangan Theoden untuk memenuhi rasa penasarannya. Di dalam mobilnya ia menelepon seseorang dan terdengar suara seseorang tidak lama kemudian.
’’Billy, ini aku Mary.Aku ingin bertemu dengan calon istrimu.”
Sesaat terjadi keheningan di telepon.
“Calon istriku ada di rumahku. Kamu bisa menemuinya di sana, tapi untuk apa kamu menemuinya.”
“Saat ini aku tidak bisa mengatakannya padamu, lain kali aku akan menceritakannya. Terima kasih.”
Mary langsung menutup teleponnya.
🥀🥀🥀
__ADS_1
Mobil yang ditumpangi Mary memasuki halaman rumah Billy. Terlihat seorang pelayan menyambut kedatangannya.’’Selamat siang nyonya! Saya diberitahu oleh tuan Billy mengenai kedatangan Anda kemari tadi.”
“Kedatanganku kemari untuk bertemu dengan Lucy Holmes.’’
“Sayang sekali, saat ini nona Lucy tidak dirumah. Dia baru saja pergi.”
“Pergi? Kemana?’’
“Ke butik untuk mencoba gaun pengantinnya. Kalau Anda mau, Anda bisa menunggunya di dalam.”
“Baiklah, aku akan menunggunya.”
“Mari ikuti saya!’’
Mary dibawa ke sebuah ruangan luas yang terbuka yang langsung menghadap sebuah taman . Dua orang pelayan wanita yang menggunakan yukata memberikannya sepoci teh dan juga kue-kue. Satu jam telah berlalu, tapi masih belum ada tanda-tanda Lucy akan pulang.Ponselnya telah berkali-kali berbunyi dan semua panggilan itu berasal dari suaminya, tapi ia lebih memilih untuk tidak menjawabnya.
Dua jam telah berlalu Mary sudah merasa tidak sabar menunggu kedatangan Lucy. Dia terperanjat ketika ada seseorang memanggilnya, lalu membalikkan badannya. Suaminya berada di depannya’’Kamu.”
“Rupanya kamu ada di sini.”
“Sedang apa di sini?’’
“Menjemputmu pulang. Aku sangat cemas , sebaiknya kita pulang!’’
“Aku tidak akan pulang sekarang, aku sedang menunggu seseorang.”
“Kalau ingin bertemu dengan Billy di rumah saja. Aku akan memanggilnya untuk datang ke rumah.”
“Aku ke sini bukan untuk bertemu dengannya, tapi dengan....’’
“Dengan siapa?’’
“Dengan....sudahlah aku mohon biar aku di sini dulu setelah bertemu dengan calon istri Billy. Ada yang ingin kubicarakan dengannya. Aku akan segera pulang. Jangan cemas!”
“Baiklah.”
“Terima kasih.”
Mary tersenyum kepada suaminya.
“Aku akan di sini menunggu. Kita pulang bersama.”
“Terserah kamu saja.”
Mary telah kembali ke rumah saat matahari sudah mulai tenggelam dan salah seorang pelayan mengatakan kalau ada tamu telah datang mencarinya.
“Terima kasih. Aku akan segera menemuinya.”
Lucy masuk ke ruang tamu dan ia terkejut melihat Mary. Entah sudah berapa lama ia tidak bertemu dengan wanita itu. Mary juga terkejut melihat Lucy. Dugaannya benar calon istri Billy adalah mantan tunangan suaminya. Apa Billy tahu tentang hal ini?” pikir Mary.
“Halo Lucy!”
“Aku juga. Aku terkejut kamu calon istri Billy. Di mana suami dan anakmu?”
“Mereka sudah meninggal.”
“Maafkan aku. Aku tidak tahu.”
“Tidak apa-apa.”
“Waktu Billy memberikan undangan pernikahannya kepadaku, aku membaca namamu. Aku pikir kamu adalah Lucy yang lain yang kebetulan memiliki nama yang sama. Itu sebabnya aku datang ke sini untuk memastikannya dan dugaanku benar.”
“Ya. Itu memang aku. Sekarang Anda sudah tahu.”
“Bagaimana kamu bisa menikah dengan Billy?”
Lucy kemudian menceritakan tentang kecelakaan mobil yang dikendarai oleh suaminya saat akan melakukan liburan. Suami dan anaknya tewas dalam kecelakaan itu, sedangkan ia koma selama tiga tahun.
Merry sangat terkejut mendengar cerita Lucy. Ia merasa kasihan kepadanya atas apa yang terjadi.
“Billy sudah banyak membantuku selama ini. Aku berhutang budi kepadanya.”
“ Jadi kamu menikah untuk membayar kebaikannya?”
Lucy mengangguk.
“Kamu tidak mencintainya?”
Lucy mengangguk lagi.
“Billy adalah pria yang baik. Tidak pantas kamu kecewakan nantinya.”
“Aku tahu itu.”
“Kamu juga sudah membuat Danil kecewa dan patah hati karenamu. Gara-gara kamu selingkuh, Danil sangat sedih dan hampir depresi. Dia sangat mencintaimu, Lucy.”
“Maafkan aku. Aku jatuh cinta kepada Akira dan sadar tidak pernah mencintai Danil.”
“Kamu juga tidak mencintai Billy. Apa nanti kamu juga akan selingkuh?”
“Aku tidak akan melakukannya lagi kali ini.”
“Kamu harus memegang janjimu itu. Apa Billy tahu tentang hal ini?”
“Dia tidak tahu apa-apa.”
“Kenapa kamu tidak memberitahunya?”
“Aku tida ingin membuatnya kecewa.Biar saja dia tidak tahu.”
__ADS_1
“Cepat atau lambat Billy akan tahu, karena Danil adalah suamiku sekarang.”
“Aku tahu itu.”
Mary menghembuskan napas panjang, lalu berdiri.”Aku pulang dulu.”
“Aku akan mengantar Anda sampai pintu depan.”
Mary mengangguk. Sesampainya di depan rumah, Mary telah ditunggu oleh suaminya. Danil terkejut melihat Lucy begitu pun juga dengan Lucy melihat Danil di dalam mobil. Mary kemudian menceritakan kenapa Lucy ada di rumah Billy.
“Jadi begitu Itu sebabnya kamu datang ke sini untuk memastikan Lucy yang akan menikah dengan Billy adalah Lucy, mantan tunanganku.”
Mary mengangguk. Danil kemudian turun dari mobil dan menghampiri Lucy. Ia pun memberikan ucapan selamat kepadanya dan sudah mengikhlaskan Lucy pergi dari hidupnya.
“Karena pengkhianatanmu aku menemukan wanita yang mencintaiku dan aku juga mencintai Mary. Aku harap kamu bahagia bersama Billy.”
“Terima kasih dan maafkan aku.”
“Aku sudah memaafkanmu.”
Danil kembali masuk ke dalam mobilnya.
🥀🥀🥀
Keesokan paginya Lucy telah bangun dan tengah bersiap-siap menghadiri upacara pernikahannya. Ia merasa gugup, karena sebentar lagi dia akan menjadi istri Billy. Lucy kembali teringat pada Akira dan juga Rinji .
Matanya mulai berkaca-kaca hendak menangis, tapi Lucy menahannya tidak ingin make upnya luntur. Jam sudah menunjukan pukul 11 siang. Lucy bersiap-siap untuk pergi ke altar. Para tamu undangan telah berdatangan ke kediaman McAllister di Jepang dan hanya keluarga calon suaminya yang datang.
Upacara dan pesta pernikahan dilangsungkan di rumah keluarga Billy. Mereka mengadakan pesta kebun yang meriah. Cuaca di hari pernikahan sangat mendukung dan seperti memberkati pernikahan mereka berdua, padahal kemarin cuaca tidak begitu baik langit terlihat kelabu, tapi sekarang langit kembali menjadi biru cerah.
Mary telah tiba bersama suaminya dan mereka duduk dibarisan tengah. Billy terlihat lebih tampan mengenakan tuxedo warna putihnya dan selalu tersenyum.
Suara musik pernikahan mengalun indah dan merdu. Lucy yang memakai gaun pengantin terlihat sangat cantik. Suara musik berhenti dan suasana menjadi hening. Mary hanya diam menatap lurus pada Lucy dan Billy di depan altar.
“Hentikan!” teriak seorang wanita yang membuat semua orang terkejut terutama Lucy, karena ia tahu wanita yang berteriak itu adalah ibunya Akira, suaminya.
“Lucy tidak boleh menikah, karena dia adalah wanita bersuami.”
“Suaminya telah meninggal,”jawab Billy.
“Tidak”
Lucy dan Billy terkejut.
“Apa maksudmu?’’tanya Lucy penasaran dengan mata berkaca-kaca.
“Akira, anakku masih hidup. Dia berada di Nagasaki bersama dengan anakmu Rinji.”
“Apaaaaa...’’teriak keduanya bersamaan.
“Itu sebabnya kalian berdua tidak boleh menikah, karena Akira masih hidup. Dia tidak tahu kalau kamu masih hidup, Lucy. Akira mengira kamu telah meninggal begitu pun juga aku pada awanya, tapi setelah aku membaca tentang pernikahan kalian di koran,aku terkejut, kamu masih hidup. Akira dan Rinji tidak meninggal dalam kecelakaan. Mereka selamat meskipun waktu itu mereka terluka parah.”
“Ini tidak mungkin,’’kata Lucy.
Billy yang sejak dari tadi mendengar penjelasan wanita asing itu tidak mampu berdiri lagi kedua kakinya terasa lemas dan akhirnya dia jatuh terduduk. Semua orang yang melihatnya terkejut dan tidak mengerti apa yang telah terjadi di depan altar.
Akhirnya upacara pernikahan ditunda dan orang tua Billy meminta maaf pada para tamunya. Mereka kemudian masuk kesebuah ruangan keluarga yang terbuka luas. Wanita asing itu dan keluarga Billy telah duduk, Lucy masih menangis dan Billy duduk dengan perasaaan shock.
Semua orang menatap wanita itu yang diketahui bernama Megumi untuk mendengarkan penjelasan secara langsung. Lucy mendekati Megumi dan berkata, “Apa benar Akira masih hidup?’’tanyanya dengan suara terisak-isak sambil sesekali menghapus air matanya untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi.
Megumi mengangguk lemah. Wanita itu pun lalu bercerita mengenai setelah kecelakaan itu. Mobil yang dikemudikan Akira terguling ke jurang dan Akira berserta Rinji berhasil diselamatkan, tapi mereka tidak menemukan Lucy di mana pun. Orang-orang mengira kalau Lucy terlempar keluar dari mobil dan mereka berusaha mencarinya, tapi Lucy tidak ditemukan.
“Aku sudah mencari informasi ke polisi dan keluarga Akira dan mereka mengatakan Akira telah meninggal,”kata Billy.
“Mereka telah salah paham,”kata Megumi.
“Apa maksud Anda, nyonya?”
“Pada hari itu telah terjadi dua kecelakaan mobil dan pengemudinya memiliki nama yang sama, yaitu Akira. Mungkin polisi itu memberitahumu tentang kecelakaan yang lain dan memberitahu keluarganya kepada Anda.”
“Apa Akira tahu aku masih hidup?”
“Dia belum tahu. Rencananya aku akan memberitahunya setelah menghentikan pernikahan kalian.”
“Aku ingin bertemu dengan Akira dan Rinji.”
“Aku akan membawamu kepadanya.”
Orang-orang yang berada di sana hampir tidak mempercayai Megumi terutama Billy yang terkejut mendengar ceritanya. Megumi mendekati Billy dan memegang kedua tangannya.
“Biarkan Lucy kembali pada suaminya. Aku tahu Anda mencintai Lucy, tapi suaminya belum meninggal. Memang berat harus merelakan orang yang kita cintai pergi, karena aku juga pernah merasakannya. Jadi aku mohon biarkan Lucy pergi ke sisi suaminya dan juga anaknya.”
Billy menitikkan air matanya, lalu memejamkan matanya. Setelah perasaannya tenang dan berusaha untuk tegar, ia mendekati Lucy, lalu memeluknya dengan erat, kemudian melepasnya. “Pergilah! Aku tidak akan menahanmu di sini. Kamu masih mencintai suamimu bukan?’’
“Billy.’’
“Kamu jangan cemaskan aku. Aku akan baik-baik saja mungkin kamu bukan wanita yang ditakdirkan untukku meskipun aku tadi hampir mempercayai kalau kamu adalah wanita yang dipilihkan oleh Tuhan untukku.”
Lucy masih menangis terisak-isak.’’Lucy, kalau kamu masih mencintai suamimu pergilah, meski aku akan kehilangan menantu, tapi aku sangat berterima kasih sudah mau berusaha untuk mencintai anakku,’’kata ibunya Billy.
“Lucy, kamu tidak perlu menangis lagi seharusnya kamu senang suami dan anakmu masih hidup dan sekarang mereka sedang menunggumu. Kita batalkan saja pernikahan ini. Apa kamu setuju, Billy?’’tanya ibunya Billy.
Billy hanya mengangguk lemah.
Sementara itu di luar rumah seseorang telah memparkirkan mobilnya secara sembarangan dan seseorang keluar dari mobil dengan terburu-buru. Ia pun langsung masuk ke halaman rumah dan dia terkejut ketika semua orang tidak ada.’’Kemana mereka? Apa upacara pernikahannya telah selesai.’’ Aku terlambat.”
Ia jatuh terduduk di lantai bebeatuan taman, lalu ia mendengar suara orang dari samping halaman dan di sana ia melihat para tamu sedang berbicara.’’Pesta pernikahannya belum dimulai, tapi di mana pengantinnya?’’tanyanya dalam hati. Tidak lama kemudian Lucy dan Billy keluar dari rumah masih menggunakan pakaian pengantin.’’Itu mereka.”
Ia berjalan mendekati mereka.’’Halo dokter, selamat atas pernikahan Anda, tapi aku tidak akan rela menyerahkanmu pada wanita lain meski sekarang wanita ini sudah menjadi istrimu.”
__ADS_1
Ia menodongkan pistolnya ke arah Lucy dan tidak lama kemudian suara tembakan terdengar dan sangat memekikkan telinga.Tidak lama kemudian sesosok tubuh terjatuh bersimbah darah dan terdengar teriakan dari para tamu memenuhi taman. [ ]