
Seorang bocah laki-laki berusia sepuluh tahun memandangi kuburan yang masih baru. Satu persatu orang yang memakai pakaian serba hitam pergi dengan wajah muram. Di seberang tempat ia berdiri, seorang wanita tua bergaun hitam memakai topi bercadar hitam dan dilehernya tergantung sebuah liontin berbentuk malaikat. Kedua tangannya mengenakan sarung tangan berwarna hitam memandang sedih ke padanya, lalu bocah itu melihat seulas senyuman sedih di wajahnya. Wanita tua itu membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu kepadanya, tapi bocah laki-laki itu tidak mendengar apa yang di katakannya.
Ia terkejut ketika seorang pria menepuk bahunya pelan. "Ayo kita pulang!''seru pria itu. Bocah itu menganggukan kepalanya, lalu ia kembali melihat ke seberang kuburan dan wanita tua itu sudah tidak ada lagi di sana. "Ada apa? "tanya pria itu.
"Tidak ada apa-apa, ayah."
Sebelum pergi bocah itu sekali lagi melihat kuburan di depannya dengan sorot mata sedih.''Selamat tinggal, ibu!''
Mereka berdua adalah orang terakhir yang meninggalkan pemakaman itu dan pria itu merangkul bahu anak laki-lakinya yang setinggi pinggangnya menuju mobil. Tetesan-tetesan hujan mulai membasahi kaca mobil dan dalam sekejap hujan turun dengan deras. Bocah laki-laki itu terus memandangi kaca jendela mobil sejak meninggalkan pemakaman.'' Kalau kamu ingin menangis, menangis saja. Ini pasti berat untukmu dan ini juga berat bagiku. Kita berdua telah kehilangannya dan jangan salahkan dirimu, karena ini semua bukan salahmu. Ini adalah kecelakaan." Bocah laki-laki itu menoleh kepada ayahnya.
"Tapi ayah, kalau bukan karena aku pasti ibu akan baik-baik saja. Aku sungguh bodoh tidak berhati-hati saat bermain sehingga menyebabkan ibu meninggal. Ini salahku ayah. Ini salahku. Aku telah membunuh ibu,''teriaknya dan air mata sudah membasahi wajahnya.
"Hentikan Joshua!"teriak ayahnya.''Ini bukan salahmu !"
Joshua terdiam dan menangis sepanjang sisa perjalanan menuju rumahnya. Pintu gerbang menuju mansion terbuka dan ketika mobil yang membawanya telah terpakir di depan pintu, Joshua langsung membuka pintu mobil dan berlari ke dalam rumah. "Tuan muda Joshua,''seru Jacques dengan wajah cemas yang saat itu masih menjadi asisten kepala pelayan.
"Biarkan saja dia!''
__ADS_1
"Tapi tuan....''
"Anak itu akan baik-baik saja. Dia kuat. Yang dia butuhkan sekarang hanya sendirian,''kata Thomas sambil memandang ke atas tangga dengan sedih.
"Baik tuan."
"Aku mau istirahat di kamarku dan jika ada yang mencariku, kamu tahu di mana aku." Jacques memandangi majikannya dengan sedih ketika pria itu menaiki anak tangga dengan lesu ,sedih, dan lelah, lalu ia pergi menuju dapur.''Semoga semuanya akan baik-baik saja setelah ini,''gumamnya.
Sesampainya di dapur para pelayan sedang bergosip mengenai majikannya dan ketika mereka melihatnya, para pelayan itu berhenti bicara. Salah satu di antara mereka langsung menghampirinya.''Bagimana mereka? Apa tuan Thomas dan tuan Joshua baik-baik saja?''tanya pelayan bagian dapur bernama Emma. Jacques menyeberangi ruangan , lalu duduk di salah satu kursi makanan. "Mereka tidak baik-baik saja. Terutama tuan Joshua. Tadi aku melihatnya menangis dan tuan Thomas terlihat sangat sedih dan lelah."
"Kasihan mereka. Seharusnya mereka hidup bahagia menyambut kedatangan anggota baru di keluarga ini. Tuan Joshua begitu terlihat gembira menyambut kelahiran adik perempuannya dan tuan Thomas juga begitu senang menyambut kelahiran anak keduanya. Kalian kan tahu nyonya Jossalyn untuk dapat hamil lagi sampai melakukan inseminasi dan usaha mereka berhasil setelah mereka berkali-kali mencobanya, tapi sekarang anak itu tidak akan pernah lahir. Bahkan mereka berdua menghias kamar bayi. Tapi takdir berkata lain. Nyonya Jossalyn dan bayi dalam kandungannya harus meninggal padahal anak itu akan lahir bulan depan,''kata Emma sedih, lalu menghapus air matanya dengan lengan bajunya. Para pelayan yang ada di dapur terdiam dan suasana menjadi hening.
"Sepertinya rumah ini akan jarang terdengar suara tawa mereka lagi. Rumah ini akan terasa sepi dan muram,''kata Jacques. Para pelayan pun menyetujui perkataan Jacques muda.
🎵🎵🎵
Joshua kecil berdiri memandangi jendela kamarnya yang diterpa oleh hujan deras. Halaman rumahnya telah tergenang oleh air dan lumpur. Sesekali ia terisak menangis memanggil nama ibunya. Di bayangan jendela, ia melihat wajah ibunya yang tersenyum. "Jangan menangis! Ibu sayang kepadamu dimana pun ibu berada. Ibu akan selalu hidup dalam hatimu." Joshua cepat-cepat menoleh ke belakang dan ia hanya mendapati kamarnya yang kosong dan gelap.''Aku sangat merindukanmu." Tangan mungilnya menyentuh jendela.''Dan maafkan aku. Gara-gara aku...ibu jadi...''.Joshua tidak sanggup meneruskan kata-katanya lagi dan sepanjang sisa sore itu Joshua hanya mengucapkan kata maaf dan maaf.
__ADS_1
Malam harinya ia merasa lapar dan ia melongokkan kepalanya dari kamarnya. Koridor terlihat sepi dan gelap. Ia takut untuk keluar dan memutuskan untuk tetap di kamarnya, tapi perutnya kembali bunyi dan ia merasa benar-benar kelaparan dengan tidak mempedulikan rasa takutnya, Joshua berlari di sepanjang koridor menuju dapur, tapi ditengah jalan ia berhenti . Kedua matanya menangkap secercah cahaya yang berasal dari kamar bayi. Pelan-pelan ia berjalan menuju kamar itu.
Joshua mengintip dari pintu yang tidak sepenuhnya tertutup dan di sana ia melihat ayahnya sedang menangis di depan box bayi bertuliskan nama adik perempuannya Alliandra yang di sulap oleh ibunya dalam selembar kain per hurufnya. Sekarang dan untuk selamanya tidak akan ada bayi yang akan tidur di sana. Ayahnya jatuh terduduk dan menangis dengan menyandarkan kepalanya di box bayi. Joshua berdiri diam ditempatnya memandang sedih kepada ayahnya. Setetes air mata kembali mengalir di wajahnya dan Joshua cepat-cepat menghapusnya, lalu ia kemudian pergi dari sana.
Di dapur Joshua mengeluarkan hampir semua isi lemari es dan menaruh semuanya di meja makan di dapur. Ia memakan semua makanan yang ada di meja sambil menangis berharap ia bisa melupakan rasa bersalahnya yang terus menghantuinya. Ibu dan calon adiknya meninggal karena dirinya.
Josephina berjalan mengendap-ngendap menuju dapur sambil memegang sapu dan ia dikagetkan oleh seseorang.''Ternyata kamu, Jelena,''kata Josepina sambil mengelus-elus dadanya. "Apa yang kamu lakukan di sini?''tanya Jelena.
"Tadi aku merasa haus dan bermaksud untuk mengambil air di dapur, tapi sebelum masuk, dapur menyala dan ada seseorang di dalam. Mungkin pencuri." Jelena terkejut, lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya.''Apa kau yakin?''
"Entahlah. Aku belum melihatnya."
"Kita masuk bersama-sama.''
Emma dan Josephina menyerbu masuk dan mereka melihat Joshua. Keduanya terlihat lega ternyata bukan pencuri. Kedua pelayan itu memandang sedih melihat bocah laki-laki makan sambil menangis. Menangisi kepergian ibu dan calon adiknya. Jelena dan Josepina saling memandang dengan raut wajah sedih. Mereka memutuskan untuk meninggalkan Joshua sendirian di dapur .
Joshua yang sudah merasa kenyang dan tidak sanggup lagi memasukan makanan kedalam perutnya, ia membereskan sisa makanan ke dalam lemari es , lalu pergi dari dapur. Di lantai atas, sebelum pergi ke kamarnya, ia melihat ke arah kamar bayi yang masih menyala. Joshua kembali berjalan menuju kamar itu dan ayahnya masih di sana duduk di kursi goyang sambil memeluk boneka Teddy bear berwarna pink. Perlahan-lahan Joshua pergi menuju kamarnya. Di tariknya selimut rajutan ibunya sampai dagu dan ia tidur meringkuk . Joshua....Joshua....jangan salahkan dirimu atas apa yang terjadi pada ibu.
__ADS_1
Joshua terbangun pada tengah malam setelah mendengar suara bisikan ibunya. Ia menyibakkan selimut rajutan ibunya yang sampai sekarang masih ia pakai untuk tidur meskipun sekarang usianya sudah 38 tahun , ia tetap memakai selimut masa kanak-kanaknya yang sudah tidak bisa menutupi seluruh tubuhnya. Baginya selimut itu adalah peninggalan ibunya yang sangat berharga dan ia dapat merasakan kehangatan pelukan seorang ibu dari selimut itu yang dibuat dengan penuh cinta dan kasih sayang untuknya disetiap helaian benangnya.[ ]