
“Kenapa kamu membunuh Irene?”
“Dia tahu rahasiaku.”
“Rahasia?”
Lucinda menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya ia bercerita meskipun ia tidak ingin Catherine mengetahuinya, tapi ia tidak memiliki pilihan lain, karena Catherine memegang bukti kejahatannya.
“Irene tahu bahwa aku telah mencuri uang Hendrik sebesar 1 juta Dollar dari perusahaannya.”
Catherine membelala terkejut. “Kamu gunakan apa uang itu?”
“Aku kalah judi.”
“Kamu berjudi?”tanya Catherine tidak percaya.
Lucinda mengangguk dan tertunduk sedih.”Aku tidak memiliki pilihan lain selain mencuri uang perusahaan untuk melunasi semua uangku, jika kakakku tahu, ia akan sangat marah kepadaku. Aku bisa diusir dari rumah ini.”
“Bagaimana Irene tahu kalau kamu yang mencuri uang itu?”
“Dia tidak sengaja mendengar pembicaraanku dengan pemilik kasino di telepon. Irene sangat marah dan menyebabkan salah satu karyawan diperusahaan harus dipecat gara-gara aku telah memfitnahnya.”
“Aku tidak menyangka gadis sebaik kamu bisa melakukan kejahatan seperti ini.”
“Irene sudah memberikan aku waktu untuk bicara jujur dengan Hendrik, tapi aku tidak memiliki keberanian untuk bicara jujur kepadanya. Irene akan mengatakan tentang ini kepada Hendrik setelah sarapan pagi, tapi aku menyuruhnya untuk bertemu di gudang.”
“Apa yang terjadi saat itu?”
“Irene datang dengan wajah kesal dan dia memaksaku untuk bicara jujur kepada Hendrik. Aku berusaha membujuknya untuk tidak mengatakan apa pun kepadanya, tapi Irene tidak mau aku bujuk untuk tutup mulut. Aku menjadi sangat kesal dan marah. Akhirnya aku menguncinya di gudang dan merusak listrik dan terjadilah kebakaran itu.”
“Jika Hendrik tahu kamu telah membunuh Irene, dia akan sangat marah kepadamu dan kamu akan masuk penjara. Kamu juga akan dicoret dari anggota keluarga MacAllister.”
“Aku tahu itu.”
“Aku akan mengajukan penawaran untukmu.”
Lucinda mendongak.
“Penawaran apa?”
“Jika kamu membantukku untuk bisa menikahi Hendrik, rahasiamu akan aman bersamaku. Aku tidak akan mengatakan apa pun tentang hal ini. Bagaimana?”
“Apa kamu mencintai kakakku?”
“Aku tidak mencintainya.”
“Lalu kenapa kamu bersikeras ingin menikah dengannya?”
“ Karena Hendrik dapat memenuhi kebutuhan hidupku dan putriku.”
Lucinda menyeringai, karena akhirnya ia tahu niat Catherine menikahi kakaknya hanya karena harta.
“Bagaimana Lucinda? Apa kamu menerima tawaranku?”
“Jika aku menolak?”
“Aku akan memberitahu kakakmu.”
“Baiklah. Aku akan membantumu, tapi kamu harus memegang janjimu.”
“Tentu saja, Lucinda.”
Catherine meninggalkan kamar Lucinda dan ia begitu sangat kesal. Lucinda tidak menginginkan semua ini terjadi. Ia tidak ingin kakakknya menikah dengan Catherinr, tapi ia tidak memiliki pilhan lain lagi.
Phillippa memperhatikan Kiana yang sudah terlelap tidur di kamar . Ia mengecup kening Kiana sebelum akhirnya ia membaringkan tubuhnya di samping gadis kecil itu. Joshua pun berbaring di samping Phillippa dan memeluk istrinya dengan erat.
__ADS_1
“Selamat malam! Aku mencintaimu.”
“Aku juga mencintaimu.”
Joshua mengecup kepala Phillippa sebelum terlelap tidur.
🥀🥀🥀
5 tahun kemudian
Theoden sudah menginjak umur 16 tahun dan kesibukannya pun semakin bertambah banyak selain urusan sekolahnya ia juga mengurus pekerjaan ayahnya. Setiap hari sepulang sekolah dia pergi ke kantor ayahnya untuk belajar tentang seluk beluk peusahaan keluarganya.
Hendrik sering membawanys ke acara-acara penting dan juga mengenalkannya pada relasi-relasi bisnis penting ayahnya. Theoden juga belajar bagaimana caranya bernegosiasi dengan orang. Meskipun kehidupannya terasa membosankan , ia tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang anak yang menuruti semua perintah ayahnya.
Dia sudah menetapkan hati untuk menjadi penerus ayahnya untuk mengelola perusahaan keluarganya. Pada saat makan malam Theoden dan Hendrik makan bersama seperti biasanya.
’’Theoden, minggu depan kamu ikut dengan ayah ke Yunani.”
Theoden langsung menatap ayahnya.
“Di sana aku akan menemui beberapa relasi bisnis penting.Salah satunya adalah investor terbesar bagi perusahaan kita. Kebetulan dia akan menikahkan anak perempuannya dan aku diundang untuk menghadirinya. Aku ingin memperkenalkanmu dengannya.”
“Bagaimana dengan sekolahku?’’
“Aku akan meminta izin pada gurumu agar kamu tidak bisa masuk kelas selama seminggu’’.
“Baiklah terserah ayah saja.”
Tidak terasa hari keberangkatan mereka ke Yunani segera tiba. Setelah pulang sekolah Theoden segera mengerjakan semua tugas sekolahnya kemudian membereskan barang-barang yang akan dibawanya. Ia menghabiskan sisa waktunya di hari itu dengan menyiapkan segala keperluannya untuk pergi ke Yunani keesokan harinya.
Sebelum makan malam Theoden memutuskan untuk pergi berjalan-jalan disekitar rumahnya. Dia pergi ke mini market untuk membeli beberapa makanan kecil, ketika dia akan kembali ke rumah, langit sudah mulai gelap dan udara terasa menjadi sangat dingin.Ia berjalan sambil meminum coklat panas.
Minumannya terjatuh setelah mendengar teriakan seorang wanita.Jantungnya berdebar kencang setelah melihat seorang anak kecil yang akan tertabrak mobil, karena anak itu berlari untuk mengambil bola. Theoden segera menjatuhkan belanjaanya dan lari mengambil anak itu dari tengah jalan.
Suara benturan tubuh Theoden yang menabrak tong sampah terdengar sangat keras di jalanan yang sunyi. Anak itu terus mendekap Theoden dengan erat dengan mata terpejam.Ibu si anak langsung berlari mendekati begitu pun juga pengendara mobil tadi.
“Ibuuu,’’teriaknya sambil terisak. Di wajahnya masih terlihat rasa takut akan kejadian tadi.
“Apa kalian baik-baik saja?Apa ada yang terluka?’’kata si pengemudi mobil.
“Saya baik-baik saja’’jawab Theoden.
“Sepertinya anakku juga tidak ada yang terluka,’’jawab si ibu. Si pengemudi mendesah lega.’’Syukurlah!’’
“Maaf, aku harus segera pulang,’’ujar Theoden.
“Terima kasih sudah menyelamatkan anakku.”
Theoden tersenyum dan mengangguk kemudian pergi.Si ibu menatap punggung Theoden dengan tatapan terima kasih.
“Mari saya antar pulang!’’kata si pengemudi mobil.’’Siapa namamu anak manis?’’
“Akira Amamiya.”
“Nama yang bagus.”
Akira tersenyum. Rasa takutnya mulai menghilang perlahan-lahan dari wajahnya yang imut.
🥀🥀🥀
Theoden tiba di rumah dengan tangan kiri yang terasa sakit akibat benturan tadi.’’Malam Tuan Theoden, ayah Anda sudah menunggu Anda di ruang makan.”
Theoden segera pergi ke ruang makan dan menemukan ayahnya yang sudah duduk sambil meminum jus jeruk.’’Aku kira ayah akan makan di kamar.”
“Kamu dari mana tadi?’’
__ADS_1
“Menghirup udara segar di luar,’’jawabnya. Theoden meringis kesakitan.’’Kamu kenapa?’’
“Aku baik-baik saja, tadi tanganku hanya terbentur saja.”
Hendrik menatapnya dengan pandangan penuh selidik. Ia pun melanjutkan makannya lagi. Mereka berdua kembali tampak muram.
“Aku sudah selesai.”
“Tidurlah lebih cepat. Besok pagi kita berangkat.”
“Aku mengerti.”
Theoden duduk di tempat tidur dan melihat tangan kirinya yang sakit dan ternyata ada lebam. Ia menekan menekan lebam itu dan terasa sakit.
“Tuan Theoden, ini Florie.”
“Masuk!’’
“Ini pakaian Anda untuk dipakai besok.”
“Simpan saja di sana. Terima kasih.”
“Semoga perjalanan Anda menyenangkan besok.”
Florie meninggalkan kamar Theoden. Setelah membersihkan diri, ia memutuskan untuk tidur lebih awal. Keesokan paginya, cuaca sedikit berubah. Sinar matahari musim dingin lenyap dan digantikan dengan kabut tebal. Di bawah ayahnya dan Catherine, ibu tirinya yang dinikahi ayahnya dua tahun yang lalu telah menunggu. Mereka makan pagi dengan tenang. Beberapa menit kemudian mereka telah selesai makan dan mereka pun menuju bandara.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh akhirnya mereka tiba di Yunani dan sekarang mereka dalam perjalanan ke Santorini. Birunya laut dan pemandangan disekitarnya membuat Theoden terpesona. Hendrik tersenyum samar melihat keantusiasan anaknya melihat pemandangan disekitarnya.
“Theoden, apa kamu senang datang kemari?’’
“Tentu saja,’’jawabnya .
Matanya tetap memandang lautan lepas berwarna biru. Airnya tampak berkilauan tertimpa sinar matahari.
Kapal penyebrangan yang mereka tumpangi sudah menepi di pulau Santorini. Mereka langsung menuju hotel yang berada di atas. Sebelum mereka mencapai hotel , mereka harus melewati jalan yang berliku-liku dan menanjak. Theoden dapat melihat arsiktektur rumah yang sangat unik dan semua dinding bangunan berwarna putih dan atapnya berwarna biru.Tidak hanya atap , pagar dan jendelanya juga berwarna biru.
Mereka telah tiba dihotel yang mereka tuju. Theoden mendapat kamar bagus dan pemandangannya mengarah ke lautan lepas. Kamarnya tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil. Di dekat jendela ada sebuah tempat tidur berukuran sedang .
Angin sepoi-sepoi yang berasal dari lautan masuk ke dalam kamar melalui jendela yang telah dibukanya tadi. Dindingnya berwarna putih polos dan hanya di hiasi oleh sebuah lukisan dewa-dewi Yunani dan juga terdapat sebuah sofa empuk dan di Tv.
Theoden menuju balkon kamarnya. Angin kencang berhembus menerpa dirinya. Aroma air laut sangat terasa. Dibalkon itu ada satu meja bundar terbuat dari kayu dengan empat buah kursi dan juga ada dilengkapi dengan jacuzzi.
Pada malam harinya Theoden dan ayahnya menghadari pesta resepsi pernikahan teman relasi ayahnya.
“Theoden, ini Tuan Hellios Lizardis. Dia adalah tuan rumah dipesta ini.”
“Halo tuan Lizardis!’’kata Theoden, lalu menjulurkan tangannya dan tuan Lizardis menyambut uluran tangannya. Theoden tersenyum.’’Senang bisa berkenalan dengan Anda.”
“Saya juga . Kamu anak yang tampan juga menyenangkan.’’
“Terima kasih.”
“Theoden, tinggalkan kami berdua!’’
Theoden pergi menjauh dan mengambil beberapa makanan yang tersedia di meja.
“Anda beruntung mempunyai anak setampan dan sepintar dia.”
“Tentu saja. Dia adalah penerusku berikutnya dan mengenai kerjasama kita, saya sudah menyiapkan beberapa dokumen yang tinggal Anda tanda tangani.”
“Baiklah. Besok siang kita bertemu lagi di rumahku dan jangan lupa bawa dokumennya.”
“Tentu.”
Seorang pelayan lewat di depan mereka berdua sambil membawa beberapa gelas minuman . Hendrik mengambil dua gelas dan yang satunya diberikan kepada tuan Lizardis.
__ADS_1
’’Ayo bersulang untuk kebahagiaan putri Anda dan juga kesuksesan kerjasama kita.”
Mereka mengadukan gelasnya. [ ]