Knight in Shinning Suit

Knight in Shinning Suit
(S2): Rumah dengan pohon wisteria ungu


__ADS_3

Theoden melepaskan pelukannya dan menatap mesra Kiana yang sekarang telah menjadi kekasih hatinya sekaligus istrinya.’’Kamu tahu hari ini sepertinya hari yang paling bahagia untukku.Ini semua rasanya bagaikan mimpi dan aku tidak berani memeikirkan kalau semua ini adalah mimpi.”


“Aku juga berpikir begitu. Kalau benar ini adalah mimpi maka ini adalah mimpi yang sangat indah dan aku tidak mau mimpi ini berakhir. Theoden, tolong cubit pipiku yang keras!’’


Theode mencubit pipit Kiana.’’Aaaaawww...sakit’’.


Bekas cubitan Theoden terlihat membekas dipipinya.’’Salahmu sendiri menyuruhku mencubitmu dengan keras.”


“Seharusnya jangan terlalu keras mencubitnya.”


Kiana cemberut dan mengerucutkan bibirnya.’’Maaf...maaf...’’


Kiana tersenyum.’’Ternyata ini bukan mimpi. Apa Anda juga ingin aku cubit?’’


“Baiklah."


Kiana mencubit pipi Theoden dengan sangat keras.’’ Aaaaawww...sakit. Kamu mau membalas cubitanku tadi ya?’’tanya dengan mata yang melebar.


Kiana hanya tersenyum.’’ Sakit ya, sambil mengusap pipi Theoden yang tadi dicubit.


CUP!


Kiana mengecup pipi Theoden yang sakit.’’Apa sakitnya sudah sembuh?’’tanyanya dengan wajah merona merah.


Theoden hanya terpaku ditempat tidak bergerak sama sekali setelah mendapatkan kecupan dari Kiana.Ia menelan ludahnya tidak kentara. Theoden menatap Kiana begitu intens.’’Kiana,’’gumamnya.


Debaran jantungnya berdetak semakin cepat. Perlahan-lahan ia menyentuh pipinya. Ada perasaan hangat dan bahagia menjalar kesuluruh tubuhnya.


“Sudah tidak sakit lagi.Ciumanmu itu sangat ampuh dan merupakan obat mujarab.”


“Sepertinya aku telah salah menciummu tadi.”


Kiana cemberut. Kedua sudut bibir Theoden melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman, lalu tatapannya beralih ke luar jendela.


“Di luar masih turun hujan, sayang sekali kita tidak bisa jalan-jalan.”


“Iya sayang sekali. Cuaca hari ini tidak bagus.”


“Aku bersyukur dapat di pertemukan denganmu dan aku tidak dapat membayangkan bagaimana hidupku tanpa kehadiranmu disisiku,”kata Theoden.


Theoden kembali menyentuhkan tangannya pada wajah Kiana. Gadis itu merasa senang mendengarnya dan hendak menangis karena bahagia. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Theoden akan mencintainya sedalam itu. Kiana mengenggam tangan Theoden diwajahnya.


“Theo, terima kasih sudah mau mencintaiku.”


“Seharusnya aku yang berterima kasih padamu, karena mau menerima perasaanku padamu. Aku janji akan selalu membuat hidupmu bahagia Kiana, istriku.”


Kiana mengangguk pelan.


“Aku percaya. Tapi bagaimana kamu bisa mencintaiku? Bukannya kamu mencintai wanita lain, yaitu cinta pertamamu itu?”tanya Kiana.


“Karena cinta pertamaku itu adalah kamu, Kiana.”


“Aku?”tanya Kiana tidak percaya.


“Iya, sayang.Aku sudah mencintaimu ketika aku bertemu denganmu di Yunani.”


“Aku tidak percaya ini. Selama ini aku mengira cinta pertamamu bukan aku, tapi wanita lain.”


“Ketika aku mengetahu bahwa kamu adalah gadis kecil yang aku temui di Yunani, aku sangat terkejut.”


“Dari mana kamu tahu kalau aku gadis kecil yang kamu maksud?”


“Boneka Teddy Bear. Aku mengenali bonekamu itu, karena aku yang membelikannya untukmu sebagai hadiah ulang tahun.”


“Jadi begitu.”


“Bagaimana denganmu? Siapa cinta pertamamu?”


“Kamu, Theo.”


“Eh…”


“Aku mencintaimu sejak kita bertemu di Yunani.” Wajah Kiana merona merah.


“Aku kira itu bukan aku.”


“Aku menemukan foto kita berdua di album fotomu saat aku akan membereskan foto-fotomu yang tercecer. Aku baru mengetahu kalau kamu adalah pria yang aku temui di Yunani dan pada saat itu aku menyadari bahwa kamu adalah cinta pertamaku.”


“Ternyata kita ditakdirkan bersama.”


Selama beberapa detik mereka saling memandang satu sama lain. Theoden perlahan-lahan mulai mendekatkan bibirnya pada Kiana dan hampir menyentuhnya kalau saja mereka berdua tidak dikejutkan oleh suara di belakangnya.


“Maaf sudah menganggu kemesraan kalian sebaiknya kita kembali ke kamar hotel karena, restoran akan segera tutup.Apa kalian menyadarinya atau tidak, di restoran ini hanya tinggal kalian berdua,’’kata Carrie.


Wajah keduanya memerah.


“Saya mengerti saat ini kalian berdua sedang di mabuk asmara sampai-sampai kalian tidak menyadari kalau restoran ini akan segera tutup,’’sindir Carrie. Mereka bertiga pun segera beranjak dari restoran menuju kamar hotel. Pintu lift terbuka.’’Saya akan segera pergi ke kamarku. Selamat malam!’’


“Malam Carrie!’’


Mereka berjalan sambil bergandengan tangan menuju kamar. Tiba-tiba saja Kiana berhenti melangkah. Theoden menoleh ke belakang dan melihatnya tengah berjongkok. “Sayang, ada apa?’’tanyanya dengan wajah cemas. Carrie pun ikut mendekati Kiana yang sudah berjalan mendahului mereka.


“Kepalaku merasa pusing.”


“Pusing?’’


Kiana mengangguk pelan.

__ADS_1


“Pandangan di sekeliling menjadi berputar-putar.”


“Kamu terlihat pucat, sebaiknya aku panggilkan dokter sekarang.”


“Tidak perlu. Sekarang sudah merasa tidak pusing lagi.”


“Tapi Kiana, bagaimana pun kamu harus diperiksa. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk denganmu,’’kata Theoden yang masih terlihat cemas.


“Apa yang dikatakan Tuan Theoden benar. Sebaiknya dokter memeriksa keadaan Anda.”


Theoden menatapnya dengan pandangan memohon. Kiana tahu kali ini dia tidak bisa menentang keinginan suaminya.


“Baiklah, panggilkan dokter untukku.”


Theoden melirik Carrie.’’Tolong ya Carrie.”


Theoden membantu Kiana berdiri, lalu mengendongnya.


“Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!’’


Theoden tidak mendengarkan Kiana. Sesampainya di kamar Theoden membaringkan Kiana ditempat tidur, lalu menyelimutinya masih dan memandangnya dengan tatapan cemas.


“Maaf sudah membuatmu cemas. Sekarang aku baik-baik saja. Mungkin karena tadi aku kelelahan saja.”


“Sungguh?’’tanya Theoden tidak percaya.


“Sungguh.”


Theoden meremas tangan Kiana dengan lembut masih dengan perasaan tidak tenang. Ia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padanya. Dibelainya kepala Kiana dengan perasaan sayang.Tidak lama kemudian Carrie dan seorang dokter perempuan cantik masuk ke dalam kamar. Kiana menyuruh Theoden untuk keluar kamar, karena ia malu jika harus nanti membuka pakaiannya dan dengan terpaksa ia keluar kamar dengan Carrie. Hanya tinggal Kiana dan dokter berada di kamar.


“Apa akhir-akhir ini Anda sering merasa pusing?’’


“Satu bulan sudah terjadi enam kali. Saya rasa karena lelah saja, karena akhir-akhir ini kurang memperhatikan kesehatan tubuh saya, tapi kadang saya merasakan akan pingsan setiap kali saya merasa pusing dan disekitar menjadi gelap.”


“Ada baiknya jika Anda segera check up ke rumah sakit’,’kata dokter.


“Saya akan melakukannya.”


“Saya sarankan sebaiknya secepatnya untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.”


“Saya mengerti.”


“Istirahatlah yang cukup. Semoga Anda cepat sembuh.”


Dokter itu keluar kamar dan Theoden sudah menunggunya dengan cemas menuntut penjelasan dari dokter.


“Bagaimana keadaannya?’’


“Untuk saat ini istri Anda baik-baik saja, tapi saya sudah menyarankan untuk segera check up ke rumah sakit untuk mengetahui kesehatannya secara detail.”


Wajah dokter itu terlihat sedikit cemas.’’Istri Anda merasakan serangan pusing dikepalanya sudah terjadi enam kali dalam sebulan ini dan saya rasa ini bukan hal yang wajar dan selalu hampir pingsan setiap kali ia merasakan pusing.”


“Carrie tolong antarkan dokter sampai depan.”


“Baik.”


Theoden masuk ke dalam kamar dan kedatangannya disambut oleh senyuman Kiana yang mampu membuat hatinya bergetar. Ia duduk dipinggir tempat tidur dan membelai kepala Kiana.


“Aku akan mengantarkanmu pergi kerumah sakit.”


“Sepertinya dokter itu sudah mengatakan semuanya padamu. Jangan cemas. Aku baik-baik saja.”


Meskipun Kiana mengatakan baik-baik saja, Theoden merasa tidak tenang sebelum melihat hasil tes kesehatannya.’’ Aku tahu. Sekarang tidurlah! Aku akan menemanimu sampai kau tertidur.’’


Sepanjang malam Theoden terus mengenggam tangan istrinya dan memeluknya. Di wajahna tersirat rasa cemas akan keadaan Kiana. Sewaktu ia bertemu dengan Kiana di gereja, wajahnya terlihat pucat. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi, Sebelum tidur Theoden mengecup bibir Kiana agak lama, lalu terlelap tidur di samping istrinya.


Kiana terbangun ketika sinar matahari sudah mulai masuk ke kamarnya. Ia tersenyum melihat Theoden tidur di sampingnya. Ini pertama kalinya mereka tidur bersama. Kiana beranjak dari tempat tidurnya dan mulai membersihkan dirinya. Setelah berpakain rapih, ia menuju balkon menghirup udara segar. Sebuah suara mengejutkannya.


“Pagi Kiana!’’


“Pagi!”


“Sepertinya cuaca hari ini cukup cerah. Bagaimana kalau kita berjalan-jalan sebentar sebelum kita pulang pulang?’’


“Apa ini ajakan kencan?”tanya Theoden.


“Bisa dikatakan begitu.”


Theoden tersenyum dikulum.


Bibir Kiana mengerucut. Dimata Theoden sekarang Kiana begitu mengemaskan dan mempesona. Ia ingin sekali menarik Kiana ke dalam dekapannya.


“Aku akan menemanimu jalan-jalan. Aku akan berganti pakaian dulu.”


Theoden masuk ke kamar mandi. Kiana menyentuh dadanya.Debaran jantungnya masih terasa berdetak dengan kencang, karena sejak dari tadi ia terus ditatap oleh suaminya.


’’Sudah siap!’’kata Theoden.


“Aku sudah siap!’’


Carrie telah menunggunya di depan mobil, mereka berdua akhirnya masuk. Theoden duduk lebih merapatkan diri dengan Kiana dan membuat gadis itu merasa gugup dan canggung. Theoden pun menyadari kegugupan dan kecanggungan Kiana terhadap dirinya. Ia pun merasakan hal yang sama. Lengan kiri Theoden direntangkannya di belakang kepala Kiana. Carrie melihat tingkah atasannya melalui kaca spionnya dan dia terkejut ketika Theoden membalas tatapan Carrie. Akhirnya Carrie kembali berkonsentrasi mengemudi. Berkali-kali Theoden mengecup kepala Kiana dan melingkarkan tangan kanannya di tubuh Kiana.


“Theo, jangan seperti ini.”


Kiana berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Theoden dengan jantung yang berdegup kencang.


“Biarkan saja, Kiana. Aku sedang ingin memelukmu seperti ini.”

__ADS_1


Kiana pun tidak bisa apa-apa dalam dekapan erat Theoden. Theoden mendekapnya begitu erat seolah-olah dia tidak ingin Kiana pergi dari sisinya. Ia tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa ada Kiana di sisinya. Dikecupnya sekali lagi kepala Kiana kemudian berkata,”aku sangat mencintaimu, Kiana.” Lalu mendekap Kiana lebih erat lagi.


“Aku juga sangat mencintaimu,”bisik Kiana.


Theoden tersenyum bahagia.Mobil berhenti di suatu tempat di lapangan parkir luas di depan sebuah supermarket. Theoden turun dari mobil dengan mengandeng tangan Kiana.


“Sekarang kita akan pergi ke mana?’’tanya Theoden sambil berjalan sedangkan Carrie mengikutinya dari belakang.


“Bagaimana kalau kita pergi ke taman kota saja.”


“Terserah kamu saja, sayang.”


Wajah Kiana kembali merona setiap kali Theoden memanggilnya dengan sebutan sayang. Ia menunduk tidak ingin Theoden melihat wajahnya sekarang. Orang-orang yang berjalan disekitar mereka, melihat ke arah mereka. Kiana semakin menundukkan kepalanya.


“Theoden,”panggilnya.


“Apa?’’


“Bisakah kamu melepaskan tanganku?’’


“Tidak mau. Kenapa? Apa kamu tidak suka?’’


“Bu...bukan begitu. Sepertinya orang-orang sedang memperhatikan kita.”


“Biarkan saja dan jangan pedulikan tatapan mereka pada kita. Kamu adalah istriku, jadi tidak perlu kamu hiraukan mereka.”


Kiana kembali diam membiarkan dirinya merasakan kehangatan tangan Theoden.Tidak terasa mereka pun sampai di taman kota. Langit biru cerah disertai dengan burung-burung camar yang berterbangan.


Mereka duduk di bangku taman. Kiana menghirup udara segar. Pandangan Theoden menerawang jauh ke depan.


“Takdir sudah mempertemukan kita, karena aku yakin kalau kamu adalah wanita yang ditakdirkan untukku.”


Mereka berdua berjalan kembali dan langkah mereka membawanya ke suatu jalan lebar yang tidak terlalu ramai. Kiana berhenti melangkah dan pandangannya lurus ke depan tanpa berkedip sedikit pun.


“Kiana…Kiana.”


Kiana tetap diam tidak mendengar Theoden memanggilnya.’’Kiana, sayang.”


Theoden menggerak-gerakan tangannya di depan mata Kiana, tapi Kiana masih diam tidak bergerak.


“Kiana, kakek sayang kamu.”


Kiana tiba-tiba tersadar dari lamunannya.


“Theo, apa tadi kamu mendengar suara seseorang?’’


Theoden menatap kekasihnya dengan wajah heran.’’Suara apa? Aku tidak mendengar suara apa-apa.”


“Tapi aku mendengarnya dengan jelas.”


“Kiana, kamu jangan menakutiku.”


“Aku tidak menakut-nakutimu, tadi aku mendengar suara. Sungguh.”


“Suara itu mengatakan apa padamu.”


“Suara itu bilang,’’Kiana, kakek sayang kamu.”


Kiana kemudian bergidik dan memeluk dirinya.


Theoden tersenyum jahil.’’Mungkin arwah kakekmu mendatangimu dan mungkin saja arwahnya di dekatmu.”


“Theodeeen, kamu jangan menakut-nakutiku.”


Kiana memukul-mukul tubuh Theoden, meskipun ia tahu kalau suaminya sedang menggodanya.


Hentikan Kiana. Sakit’’.


“Salahmu sendiri.”


Kiana mengerucutkan bibirnya, lalu Theoden memeluknya.


“Jangan cemberut lagi! Wajahmu jadi jelek kalau cemberut terus.’’


“Kakekku kan masih hidup.”


Angin dingin bertiup menerbangkan beberapa kelopak bunga wisteria ungu yang berasal dari rumah besar dan mewah yang berada diujung jalan. Kiana melepaskan pelukannya, lalu berjalan mendekati rumah itu. Selama beberapa saat ia terus memperhatikan rumah itu yang terlihat sangat sepi seperti tidak seorang pun yang tinggal disana.


“Rumah yang bagus,’’komentar Theoden.


Kiana merasakan perasaan hangat sekaligus menyedihkan ketika melihat rumah yang dipenuhi oleh bunga wisteria ungu. Tanpa Kiana ketahui penyebabnya, ia menitikkan air mata.’’ Kiana, kenapa kamu menangis?’’


Kiana menghambur ke dalam pelukan Theoden dan menangis sejadi-jadinya. Perasaan sedih yang teramat sangat tanpa diketahui oleh dirinya kini menyeruak dihatinya. Theoden terlihat bingung dengan Kiana yang tiba-tiba menangis.’’Sudah sayang jangan menangis lagi. Malu dilihat orang.”


Theoden membawanya pergi dari sana dan sekarang mereka berdua sudah berada disebuah kafe.’’Perasaanmu sudah lebih baik?’’tanya Theoden dengan pendangan cemas.


Kiana mengangguk pelan.’’Kenapa tadi tiba-tiba menangis?’’


“Aku juga tidak tahu, tapi aku merasakan perasaan sedih dan menyakitkan yang tiba-tiba aku rasakan.”


“Itu aneh.Kamu tiba-tiba merasakan perasaan itu.”


“Ini memang aneh.”


“Setelah makan siang kita pulang. Sekarang pesan makan siangmu.”


Kiana mengangguk lagi, lalu membaca daftar menu.Mereka berdua keluar dari kafe setelah menyantap makan siang dan Carrie sudah menunggunya di mobil.’’Carrie, kita kembali ke rumah.’’

__ADS_1


Carrie segera menyalakan mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang. [ ]


__ADS_2