
Seharian itu Kiana menghabiskan harinya di kantor Theoden dengan membaca beberapa majalah dan juga berbagai macam cemilan. Ketika sore menjelang Kiana memutuskan untuk pulang, karena ia ingin membuatkan makan malam untuk suami dan ayah mertuanya walaupun di luar langit sudah berubah menjadi kelabu dan hujan akan segera turun.
Theoden sempat bersikeras agar ia tetap berada di sini dan tidak perlu memasak untuknya.
“Kita akan pulang sama-sama. Aku tidak akan membiarkan istriku pulang kehujanan.”
Tiba-tiba langit berubah menjadi sangat kelam, angin dingin bertiup sangat kencang, tidak lama gerimis menyibak celah-celah hitamnya awan dan hujan pun turun dengan sangat derasnya. Terdengar desau angin yang kencang sekali. Beberapa kali halilintar mengelenggar dan menimbulkan suara yang memekikkan telinga. Kiana merasa lega tidak jadi pulang melihat cuaca di luar.
🥀🥀🥀
Besok paginya Kiana dibangunkan oleh suara alarm. Ia cepat-cepat bangun dan segera berpakaian.Ketika akan menuju pintu, Kiana terpaku berdiri. Kepalanya terasa kembali sakit. Serpihan siluet kenangan kembali terlintas dikepalanya.Kini Kiana melihat ketika dirinya masih kecil bersama seorang kakek sedang bersenda gurau dengannya,lalu berikutnya ia melihat seseorang sedang memegang pisau yang sudah berlumuran darah.
Kiana jatuh terduduk di lantai sambil mengerang kesakitan.Perlahan-lahan nafasnya mulai teratur seiiring rasa sakit dikepala mulai menghilang.’’Siapa mereka sebenarnya?’’
Kiana dikejutkan oleh suara ketukan di pintu.’’Siapa?’’
“Ini Florie.”
“Masuklah!’’
Florie terkejut melihat Kiana duduk dilantai dengan wajah pucat.’’Anda baik-baik saja?’’tanyanya sambil membantu Kiana berdiri.
Kiana mengangguk.’’Terima kasih.”
Aku kesini untuk memberitahu makan pagi telah siap. Tuan Hendrik dan Tuan Theoden sudah berada di ruang makan.”
“Aku akan segera ke sana.”
Kiana melihat keduanya sudah mulai makan.’’Selamat pagi!’’
“Pagi Kiana!’’sapa Hendrik ramah. Kiana mengambil tempat duduk di samping Theoden.
Kiana mulai mengambil roti panggang dan mengolesinya dengan selai stroberi. Theoden telah menyelesaikan sarapan paginya begitu pun Kiana. Theoden merangkul pinggang Kiana dan adegan itu terlihat oleh Hendrik. Pria tua itu tersenyum. Kiana bergelayut manja di lengan suaminya, sesekali Theoden mengecup kepala istrinya sampai pintu depan.
Kiana dapat merasakan setiap sentuhan dan ucapannya selalu bermakna cinta yang teramat dalam. Ia tidak akan sanggup jika harus kehilangan Theoden, takut kehilangan pasangan jiwanya. Ia dulu tidak mengerti apa itu cinta, tapi setelah ia mengenal Theoden dan jatuh cinta kepadanya baru pertama kalinya ia takut akan kehilangan seseorang selain orangtuanya.Ia sama sekali tidak menyangka kalau dirinya akan teramat sangat mencintai Theoden.
“Aku pergi dulu.”
Sebelum masuk ke dalam mobil, Theoden mengecup bibir Kiana. Setelah Theoden pergi, Kiana cepat-cepat pergi ke kamar dan menelepon ibunya. Pada deringan kedua terdengar suara yang teramat ia rindukan.
“Kiana, Ibu senang kamu menelepon, tadi ibu bermaksud untuk meneleponmu. Ibu sangat merindukanmu.”
“Aku juga sangat merindukanmu. Bagaimana kabar Ayah dan Kana?”
“Mereka baik-baik saja. Mereka juga sangat merindukanmu.”
“Aku juga merindukan mereka. Sampaikan salamku kepada mereka.”
“Akan Ibu sampaikan. Bagaimana pernikahanmu dengan Theoden?”
“Kami baik-baik saja. Aku bahagia.”
“Benarkah?”
“Ibu tidak perlu mencemaskanku. Aku mencintai suamiku dan suamiku juga mencintaiku.”
“Senang mendengarnya.”
“Ibu.”
“Ada apa?”
“Apa yang terjadi padaku 8 tahun yang lalu?”
Keheningan terjadi. Tidak ada suara dari Ibunya.
“Ibu, apa Ibu masih di sana?”
“I…iya sayang. Ibu masih di sini.”
“Jawab aku apa yang terjadi kepadaku?”
“Kenapa kamu tanyakan itu?”
“Akhir-akhir aku merasakan pusing dan dokter yang memeriksaku mengatakan aku amnesia.”
“Jadi begitu. Mungkin sudah saatnya kamu mengetahui yang sebenarnya.”
“Mengetahui apa?”
“Sebelum Ibu memberitahumu, ada yang ingin Ibu tanyakan kepadamu.”
“Apa?”
“Apa kamu sudah mengingat sesuatu?”
“Aku melihat ada seorang nenek yang mengaku sebagai nenekku dan ada seorang kakek yang mengatakan sayang keadaku juga ada pisau berlumuran darah.”
Kiana mendengar hembuasa napas panjang dari ibunya.
“Siapa mereka dan apa aku mengenalnya?”
“Iya kamu mengenalnya. Kakek itu adalah Harvey Grimaldi, kakek buyutmu dan nenek itu adalah Cassandra Grimaldi, anak kakek buyutmu dan juga saudara sepupu kakekmu. Harvey Grimaldi adalah adik nenek buyutmu, Willow Bellamare.”
“Apa yang terjadi dengan mereka?”
“Kakek Harvey dibunuh oleh ketiga anak laki-lakinya.”
“Apa? Tapi kenapa?”
Kiana tidak bisa menutupi rasa terkejutnya.
“Karena masalah harta warisan.”
“Apa aku berada di sana saat kakek Harvey dibunuh?”
“Iya. Kamu berada di sana. Waktu itu ibu dan ayahmu menitipkan kamu di sana selama seminggu, karena ayah dan ibu akan pergi berbulan madu untuk kedua kalinya. Bibi Cassandra yang juga nenekmu berusaha menyelamatkanmu. Mereka berusaha untuk membunuhmu.”
Kiana terkejut dan tubuhnya menegang. Ia juga mendengar tangisan ibunya.
“Mencoba membunuhku?”tanya Kiana dengan suara gemetaran.
“Benar.”
__ADS_1
“Kenapa mereka mencoba membunuhku? Apa salahku?”
“Kamu tidak salah apa-apa hanya saja mereka tidak bisa menerima kalau kakek Harvey mewariskan semua hartanya kepadamu.”
“Apaaa?”seru Kiana tidak percaya.
“Kami menemukanmu tidak sadarkan diri di bawah tangga. Ada kemungkinan besar kamu terjatuh. Kami mengira kamu sudah meninggal.”
“Bagaimana dengan anak-anak kakek Harvey?”
“ Stefan dan Rudolfo tangkap, sedangkan Steve berhasil melarikan diri dan sampai sekarang belum ditemukan.”
“Nenek Cassandra?”
“Dia berhasil menyelamatkan diri.”
Kiana bernapas lega.
“Sekarang nenek Cassandra ada di mana?”
“Nenen Cassandra sudah meninggal 6 tahun lalu, karena sakit paru-paru.”
“Kenapa kalian merahasiakan semua ini kepadaku?”
“Waktu itu kamu masih kecil dan kamu tidak ingat apa pun, jadi kami merahasiakan semua ini. Kami tidak ingin membuatmu sedih.”
“Apa rumah kakek Harvey ada phon bunga wisteria ungu?”
“Iya. Dari mana kamu tahu?”
“Beberapa hari yang lalu aku dan Theoden melihat rumah itu sewaktu kami jalan-jalan.”
“Jangan memaksakan untuk mengingatnya! Ibu takut kepalamu akan sakit lagi.”
“Aku tahu.”
Kiana menutup teleponnya. Ia mendesah dan masih tidak percaya dengan cerita ibunya.Sekarang ia mengerti hanya hilang ingatan pada saat kejadian itu saja. Deringan suara ponsel kembali mengejutkannya dan Kiana tersenyum melihat nama suaminya.
“Aku sudah memutuskan mala mini aku ingin kencan denganmu.”
“Kencan? Kenapa tiba-tiba?”
“Aku hanya ingin saja. Bersiap-siaplah sopir akan segera menjemputmu.”
🥀🥀🥀
Kiana tiba di kantor Theoden dan langsung diajak pergi. Mobil kemudian berhenti disuatu tempat.’’Ini di mana?’’
“Ini hotel sayang.”
“Eh, hotel? Tapi untuk apa kita ke sini? Apa kita mau berkencan di sini?”tanya Kiana malu-malu. Theoden tertawa.
“Kenapa kamu tertawa?”
“Kamu pikir aku akan berkencan denganmu di sini. Tidak perlu di hotel di kamar kita juga bisa,”goda Theoden.
Wajah Kiana semakin memerah dan tidak berani menatap wajah suaminya.
“Jadi untuk apa kita kesini?”tanyanya dengan wajah cemberut.
Kiana hanya menganggukan kepalanya.Mereka berdua masuk dan tidak lama kemudian mereka kembali keluar.
“Temanmu itu baik. Aku tidak tahu kalau aku punya sahabat baik seperti dia,’’kata Kiana setelah masuk kedalam mobil.
“Sebenarnya hubungan aku dan Martin dulu tidak terlalu baik, tapi lama kelamaan kami berdua menjadi akrab dan sampai sekarang kami berdua selalu menjaga persahabatan kami.”
“Temanmu itu cukup tampan juga.”
Theoden langsung memasang wajah dingin.’’Tapi kamu lebih tampan, sayang,’’kata Kiana kemudian sambil mengelus wajah Theoden.
Samar-samar terlihat senyuman di wajah Theoden.”Aku ingin mengajakmu kesuatu tempat nanti malam. Di sanalah tempat kencan kita.”
“Tapi ini kan masih sore.”
“Sebentar lagi juga malam. Aku ingin lebih banyak menghabiskan waktu berduaan denganmu.”
“Bagaimana dengan pekerjaanmu?”
“Hari ini pekerjaanku tidak banyak dan aku sudah menyelesaikannya.” Theoden tersenyum lebar.
Mereka berdua telah tiba disebuah restoran yang cukup mewah. Lembayung senja telah melarutkan bayangan. Cahaya bulan mulai bersinar terang menyuguhkan langit yang begitu indah berhiaskan cahaya bintang yang memancarkan penuh cinta. Suasana romantis pun sekejap tercipta diantara mereka berdua. Theoden mulai mengenggam kedua tangan Kiana dan menatapnya mesra. Kiana merasakan debaran jantungnya semakin kuat dan tubuhnya terasa lemas setiap kali suaminya menatapnya seperti itu.
“Kita makan malam dulu di sini.”
“Baiklah.”
Kemudian mereka duduk disalah satu kursi yang disediakan sebelum makanan mereka datang.
“Kiana sayang, kamu akan selalu menjadi kekasih hatiku. Posisimu dihatiku tidak dapat tergantikan oleh siapa pun.”
Kiana tersipu malu dan hidungnya kembang kempis, lalu ditatapnya Theoden dengan mesra. Binar cinta terpancar kuat dari mata gadis itu.
“Theoden,”kata Kiana malu-malu masih dengan wajah merona merah.
“Aku juga sama denganmu. Kamu akan selalu berada dihatiku untuk selamanya.”
“Terima kasih, sayang.” Theoden mengelus wajah Kiana yang masih tersipu malu.
Makanan yang telah dipesan pun datang. Mereka berdua makan dengan dipenuhi canda tawa.
Theoden tersenyum.’’Maukah kamu berdansa denganku?’’
“Baiklah, tapi nanti jangan marah kalau aku akan menginjak kakimu.’’
“Tidak akan.”
Theoden mengulurkan tangannya dan Kiana menyambutnya. Theoden mengetatkan pelukannya di pinggang Kiana. Debaran Jantung Kiana kembali terasa berdetak cepat. Hembusan nafas Theoden begitu terasa di wajahnya, bahkan dia dapat mencium aroma tubuhnya yang wangi. Kiana akhirnya bertemu pandang dengan Theoden. Tatapan mereka berdua saling terkunci. Theoden tercekat.”Kamu cantik sekali Kiana.”
“Kamu baru menyadari aku cantik ya malam ini. Sejak siang tadi memangnya kamu tidak menyadari aku cantik. Sepertinya matamu rabun di siang hari,”sindir Kiana.
Theoden tertawa.”Di siang hari pun kamu cantik.”
Theoden tidak mampu lagi untuk mengalihkan pandangannya pada Kiana.Tanpa ia sadari wajahnya sudah mulai mendekat. Kiana pun tidak mampu bergerak dari tempatnya .Bibirnya hampir menyentuh bibir Kiana.
__ADS_1
PRAAANGG!
Suara piring jatuh mengejutkan mereka berdua.Mereka berdua terlihat salah tingkah, kemudian memisahkan diri. Theoden mengajaknya untuk duduk kembali. Kiana masih merasakan jantungnya melompat tak karuan begitu juga Theoden sedang berusaha untuk menenangkan dirinya kembali.
“Merusak suasana saja,”gerutu Theoden.
“Kenapa kamu tidak meneruskan untuk menciumku tadi hanya gara-gara piring jatuh?”
“Itu membuatku terkejut.”
“Aku juga. Kenapa sampai ada piring jatuh segala. Kamu bisa menciumku di sini.”
Kiana sudah memoncongkan mulutnya ke arah Theoden. Theoden tersenyum geli, lalu mencium Kiana.
“Setelah makan malam aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”
“Kamu akan membawaku kemana?’’
“Ke tempat yang kamu sukai.”
Kiana mengerutkan dahinya, tidak mengerti.”Baiklah.”
Kiana sama sekali tidak ada bayangan kemana suaminya akan membawanya pergi, ia hanya menurut ketika Theoden kembali mengulurkan tangannya untuk mengajaknya pergi. Kiana merasakan kehangatan yang mengaliri tubuhnya.’’Ternyata tangannya begitu hangat,’’bisik hatinya. Sopirnya telah menunggu. Pintu mobil telah terbuka.
”Silahkan masuk!”
Mobil terus melaju kencang. Kota New York di malam hari terlihat begitu indah dari kejauhan kelap-kelip lampu bertebaran dimana-mana. Kiana melirik pria yang ada disampingnya, tatapan matanya terpokus ke depan. Mobil berhenti. Sekeliling begitu gelap hanya diterangi oleh cahaya rembulan. Kiana dan Theoden keluar dari mobil. Kiana masih terlihat bingung dengan tempat yang dikunjunginya.
“Ini dimana?’’
“Tunggu sebentar lagi kamu akan mengetahuinya.”
Kiana terlihat semakin bingung.”Aku akan menunggu.”
Suara bunyi pesan terdengar dan Theoden tersenyum.
“Kiana, tutup matamu ! “
“Eh.”
“Percayalah padaku! Aku tidak akan berbuat yang aneh-aneh padamu.”
“Aku percaya.”
Kiana menutup matanya dan Theoden membantunya berjalan.
“Apakah sudah sampai?’’
Tidak ada jawaban dari Theoden. Kiana berjalan pelan-pelan, lalu kakinya tiba-tiba tersandung. Theoden menahan tubuhnya agar tidak terjatuh dan dalam hitungan detik Kiana sudah berada dalam pelukannya. Theoden terlihat khawatir.
“Kamu baik-baik saja, sayang.”
“Aku baik-baik saja.”
Theoden begitu lega setelah Kiana mengatakan itu.
Kiana kembali berjalan dengan tangan Theoden yang masih memeluk pinggangnya. Theoden berhenti berjalan.’’Apa kita sudah sampai?’’tanya Kiana.
Theoden membuka penutup mata.”Bukalah matamu!”
Kiana membukakan matanya.Satu persatu lampu mulai dinyalakan dan ia telah berada di sebuah taman bermain.’’Wah.....’’
Kiana terpesona dengan gemerlapnya lampu.
“Kamu suka?’’
“Aku suka. Terima kasih.”
Kiana baru menyadari kalau ia hanya berdua dengan suaminya ditaman bermain yang sangat luas ini.
’’Kamu boleh bermain sepuas yang kamu inginkan, bukankah kamu pernah bilang kalau kamu tidak sempat mencoba semua permainan yang ada di sini karena antrian yang sangat panjang. Malam ini taman bermain ini menjadi milikmu. Aku menyewanya untukmu agar kamu dapat bermain sepuasnya.”
Kiana terharu dengan apa yang dilakukan Theoden untuknya.
Kiana teringat waktu musim gugur ia dan temannya memutuskan untuk pergi ke taman bermain untuk merayakan hari ulang tahun sahabatnya, tapi waktu itu taman bermain begitu banyak orang dan harus mengantri, akhirnya dirinya tidak dapat menikmati semua permainan yang ada.
Kiana sekarang begitu senang malam ini di hari suaminya telah memberikan taman bermain untuknya walaupun hanya untuk malam ini saja. Kiana mulai berlarian di dalam taman bermain dengan gembira suara tawanya pecah. Theoden yang melihat itu merasa sangat senang.
’’Kiana, malam ini aku sudah melihat banyak senyumanmu dan tawamu. Aku ingin sekali melindungi senyuman itu dan aku tidak akan membiarkan senyuman itu menghilang darimu, karena aku paling suka melihat senyumanmu itu,’’bisik hati Theoden.
Kiana menatap suaminya yang sejak dari tadi diam ditempat tidak bergerak sama sekali. Ia menarik suaminya untuk ikut menikmati taman bermain. Waktu sudah menunjukkan 12 malam, Kiana masih asyik mencoba berbagai macam permainan yang ada, bahkan sopir Theoden rela menjadi penjual aromanis dan membuatkan Kiana aromanis yang sangat besar.
“Apa kau sudah puas bermain?’’
Kiana mengangguk cepat sambil memakan aromanisnya.’’Aku sudah puas bermain. Terima kasih. Aku tidak pernah melupakan malam ini.’’
Theoden merasa bahagia sudah membuat istrinya senang.
“Ini sudah larut malam. Ayo kita pulang!”
Kiana mengannguk. Ia meraih kedua tangan suaminya, lalu tersenyum lembut. Theoden terhenyak dan ingin sekali menciumnya untuk melindungi senyumannya.
“ Terima kasih kamu sudah membuat hariku ini menyenangkan. Ini kencan kita terhebat dan paling menyenangkan akan selalu aku ingat seumur hidupku.”
Theoden meremas tangan Kiana dengan lembut dan membalasnya dengan senyuman.Wajah Kiana merona.
“Aku bahagia jika kamu bahagia.”
Kiana mencium bibir suaminya. Wajah Kiana merona merah. Sebuah senyuman senang menghiasi bibir Theoden. Ia menarik Kiana ke dalam pelukannya dan mencium istrinya.
“Senyumanmu, air matamu, dan bibirmu yang lembut menawarkan sejuta kenikmatan. Semuanya tentang dirimu ingin rasanya aku memelukmu seperti ini selamanya,”kata Theoden.
Kiana melepaskan pelukannya dan menatap Theoden lekat-lekat.”Terima kasih kamu sudah mencintaiku begitu dalam.”
Kiana membenamkan kepalanya di dada bidang suaminya. Ia menangis, karena bahagia.
“Berada dalam pelukanmu, mungkin aku adalah wanita yang paling bahagia di muka bumi ini,’’kata Kiana. Theoden melonggarkan pelukannya dan kembali mencium istrinya, kali ini mereka berciuman lebih lama menumpahkan rasa cinta yang mereka rasakan.
Theoden memegangi tangan Kiana.Mereka berjalan tanpa ada yang bicara. Taman bermain kembali menjadi gelap. Di setengah perjalanan pulang Kiana mulai mengantuk,akhirnya tertidur lelap. Theoden yang mengetahui itu duduk merapatkan diri dengan Kiana dan mengangkat kepalanya agar dapat bersandar pada lengannya.
” Perlambat jalan mobilnya!’’
Mobil akhirnya berjalan dengan lambat membelah jalanan kota Birmingham dimalam hari.
__ADS_1
“Tidurlah yang nyenyak, sayangku.” [ ]