
Menjelang sore Mereka telah tiba di mansion MacAllister. Kiana segera pergi ke kamarnya dan berganti pakaian. Setelah membersihkan dirinya, ia berbaring di tempat tidur, sedangkan Theoden berada di kamar mandi. Samar-samar ia mendengar Theoden sedang bersenandung. Kiana terkekeh pelan mendengar suara sumbang suaminya, kemudian ia duduk di depan jendela sambil menghirup udara sore hari.
“Kiana.”
Spontan Kiana menjauh dari jendela ketika terdengar suara yang tidak dikenalnya memanggilnya.’’Si…siapa?”
Suasana kamar terasa menjadi sangat hening yang terdengar hanya suara angin.’’Kiana....bangun, kita harus keluar dari sini.”
Kiana berdiri terpaku, ia dapat mendengar suara tak dikenalnya yang memangil-manggil namanya.
“Kianaaaaa.....awaaassss.....’’
Kiana semakin membeku ditempatnya. Theoden masuk ke dalam kamar dan melihat Kiana berdiri dalam diam.’’Kiana,’’panggilnya.
BRUK!
Kiana terjatuh.’’Kianaaaa,’’teriak Theoden cemas.
Kiana merasakan kepalanya berdenyut-denyut, lalu sebuah bayangan melintas dikepalanya. Ia melihat seorang wanita terjatuh dan tertimpa sebuah balok. Kiana terus memegangi kepalanya.’’Kiana, kamu kenapa?’’tanya Theoden dengan perasaan cemas.
Nafas Kiana memburu.’’Aku baik-baik saja.”
“Apanya yang baik-baik saja. Jelas-jelas tadi aku melihatmu kesakitan.”
“Tadi aku merasakan pusing dikepala dan sekarang rasa pusingnya telah hilang.”
“Benarkah?’’
Kiana mengangguk dan tersenyum.’’Aku baik-baik saja. Jangan cemas’’.
“Baiklah. Aku percaya, tapi kamu harus menjaga kesehatanmu. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu.”
“Aku tahu.”
🥀🥀🥀
Seorang pria berusia sekitar 50 tahunan baru saja keluar dari pintu gerbang penjara. Ia merentangkan tangannya lebar-lebar sambil menghirup udara kebebasan.’’Ternyata udara diluar memang lebih baik.”
Pandangan matanya terlihat sendu.’’Kiana Wladgrave,’’gumamnya. Ia pun berjalan menjauhi gerbang penjara dengan hanya menenteng ransel disebelah pundaknya. Ia naik bus dan duduk di pinggir jendela.’’Kota ini ternyata tidak banyak berubah,’’gumamnya dalam hati.
Setelah mendekam di penjara, ia mendapat pelajaran yang sangat berarti dalam hidupnya. Ia menyadari selama ini ia telah mensia-siakan hidupnya dengan hal-hal yang tidak berarti dalam hidupnya. Termasuk rencana jahat yang dulu pernah disusun bersama kakak tertuanya yang kini masih berada dalam penjara. Ia sangat menyesali perbuatannya dulu dan ingin memperbaiki segala kesalahannya terutama pada gadis kecil yang dulu pernah tinggal bersamanya, Kiana. Beberapa tahun yang lalu ketamakan hatinya membuat ia buta. Ia bertekad dan berjanji pada diri sendiri untuk memulai hidup baru dari awal lagi.
Gemerlapnya kota New York membuat ia sedikit terpesona.Pria itu turun di halte bis berikutnya dan seorang pria dengan berambut cepak sedikit beruban memakai pakaian setelan jas resmi telah menunggunya di sana.’’Selamat malam Rudolfo Grimaldi!’’
“Malam!’’
“Akhirnya Anda bebas juga. Mari ikut saya!’’
Mereka tiba disebuah kafe yang tidak jauh dari halte bis. ‘’Dua kopi panas,’’kata pria berpakaian jas yang bernama Rafel Rhodes. Pria itu memandang Rudolfo.’’Penampilanmu sudah banyak berubah.”
“Tentu saja. Sekarang aku sudah bertambah tua dan Anda juga sudah banyak berubah. Bagaiamana dengan keluarga Anda? Pasti anak-anak Anda sudah besar.”
“Keluargaku semua baik-baik saja. Anak-anakku sudah besar. Keduanya baru masuk Sekolah Menengah Umum.”
“Kalau aku tidak masuk penjara mungkin sekarang aku sudah menikah dengan kekasihku dan mungkin saja aku juga sudah memiliki anak. Aku dengar mantan kekasihku telah menikah dan hidup bahagia dengan suaminya. Andai saja waktu dapat diulang kembali.” Pandangan Rudolfo kembali terlihat sendu.
“Sepertinya kamu telah menyesali perbuatanmu. Itu bagus. Kamu masih mempunyai kesempatan untuk memperbaiki segalanya atas apa yang kamu perbuat dulu.”
“Akan kulakukan itu. Pertama-tama aku harus meminta maaf terlebih dahulu pada Kiana. Mungkin anak itu tidak akan mudah memaafkanku. Sudah 8 tahun aku tidak bertemu dengannya pasti dia sekarang sudah menjadi gadis dewasa.”
“Kamu benar. Kiana telah tumbuh menjadi wanita dewasa dan juga cantik. Sekarang dia sudah menikah dengan anak dari keluarga MacAllister.”
“Eh, benarkah?’’
“Benar.” Pelayan datang membawakan dua kopi panas.
“Terima kasih,’’kata pria itu. Pelayan itu kemudian pergi.
“Lalu sekarang dimana dia tinggal?’’
“Dia tinggal di mansion MacAllister bersama suaminya.”
“Aku ingin menemuinya.”
“Sebaiknya jangan sekarang karena kondisi Kiana saat ini tidak memungkinkan untuk ditemui olehmu.”
“Kenapa?’’
“Kiana tidak mengenalimu sekarang percuma saja kamu meminta maaf padanya. Ia tidak ingat apa pun tentang kejadian itu.”
Rudolfo meniup kopinya ,lalu meminumnya secara perlahan-lahan.
“Sepertinya Anda tahu banyak tentang Kiana.”
“Karena ini aku selalu mengikuti perkembangan keberadaan Kiana. Kamu kan tahu dia adalah orang yang penting dan sangat berharga, kalau ada orang yang sampai menculiknya itu bisa berbahaya.”
“Anda benar. Jadi apa Kiana sudah menerima semua yang menjadi miliknya sekarang.”
__ADS_1
“Belum. Sebentar lagi dia akan memasuki usia 21 tahun dan saat itu dia akan menerima semuanya.”
“Dulu aku sangat marah dan iri kenapa ayah memberikan semuanya kepada Kiana sedangkan aku dan kakakku tidak mendapatkannya sedikit pun. Sekarang aku mengerti semuanya, ayah tahu kalau aku dan kakak selalu hidup berfoya-foya dan selalu memboroskan uang makanya ayah marah pada kami.”
“Sepertinya gadis itu sudah bahagia dengan hidupnya sekarang. Pasti akan sangat terkejut ketika ia mendapatkan semua uang itu.”
“Jangan katakan kalau Kiana sampai saat ini belum tahu apa-apa mengenai hak warisnya.”
“Tentu saja dia tidak tahu, karena ini masih dirahasiakan. yang bilang padaku. Dialah yang mengurus hak waris ayahmu’’.
“Ayah sangat menyayangi Kiana seperti cucunya sendiri, lalu sekarang bagaimana kabar kakakku? Apa sudah ada berita darinya?’’
“Kakak keduamu bagaikan ditelan bumi. Ia sudah menghilang sejak 8 tahun lalu dan sampai sekarang masih belum ditemukan.”
“Seharusnya kakak menyerahkan diri ada polisi, tapi dia memilih untuk kabur.”
Pria itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.’’Ini.’’
“Apa ini?’’
“Ini adalah uang yang bisa kau gunakan untuk memulai hidup barumu dan mulai sekarang carilah pekerjaan. Uang itu dari ayahmu.”
“Apa?’’
“Ayahmu tahu kalau kau tidak sejahat kakak-kakakmu.Saat kamu minta maaf ketika ayahmu tidak sadarkan diri di rumah sakit sebenarnya ayahmu mendengar semua permintaan maaf dan penyesalanmu dan ia telah memaafkanmu, lalu memberikan uang itu padaku untuk diberikan padamu nanti saat kamu keluar dari penjara.”
“Ayah.” Rudolfo menitikkan air mata. Ia melihat jumlah uang itu.’’Banyak sekali.”
“Uang itu cukup untuk memenuhi segala kebutuhan hidupmu untuk beberapa bulan kedepan.”
“ Tuan Rhodes, terima kasih selama ini Anda sudah banyak membantuku. Anda adalah pengacara yang baik dan juga hebat dan terima kasih sudah mau menjadi pengacaraku karena Anda aku tidak jadi berlama-lama di penjara.”
“Itu sudah menjadi tugasku untuk membantumu. Sekarang pulanglah! Ini kunci apartemenmu. Kamu jangan harap kalau apartemenmu sangat mewah. Apartemen ini ayahmu yang telah menyiapkannya untukmu. Ayahmu sangat menyayangimu dan juga kakak-kakakmu, tapi sayang sepertinya mereka tidak menyayangi ayahmu. Pasti ayahmu berpikir tidak akan meninggalkan apa-apa untukmu. Ayahmu percaya suatu saat kamu akan berubah dan menjadi pria yang bertanggung jawab dan ternyata ayahmu tidak salah.”
Mata Rudolfo berkaca-kaca.’’Aku janji akan menjadi orang baik sekarang.”
“Kamu harus memegang janjimu. Sekarang aku mau pulang dulu. Kalau ada apa-apa hubungi saja aku.”
“Baik.” Pengacara itu pergi meninggalkan Rudolfo di kafe.
🥀🥀🥀
Sinar matahari pagi perlahan-lahan masuk kedalam kamar. Jam beker berbunyi. Kiana bangun dan melihat Theoden yang masih tidur masih memeluknya. Kiana tersenyum bahagia. Ia masih tidak percaya Theoden mencintainya. Kiana mengecup bibirnya. Theoden terbangun dan tersenyum melihat Kiana dengan tatapan penuh cinta.
“Selamat pagi, sayang!”
Kiana bangun merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, lalu menguap. Ia cepat membersihkan dirinya, lalu mereka turun ke bawah untuk sarapan pagi. Hendrik merasa senang melihat kedekatan mereka yang semakin dekat. Kiana mengantar Theoden ke depan pintu setelah selesai sarapan pagi.
“Aku pergi dulu. Hari ini kamu istirahat saja di rumah. Jangan pergi ke mana-mana. Aku takut pusingmu kembali kambuh.”
Kiana mengangguk.”Aku tidak akan pergi kemana-mana. Hari ini aku mulai belajar seni merangkai bunga.”
“Itu bagus.”
Sebelum pergi Theoden mengecup bibir Kiana dengan cepat, lalu masuk ke dalam mobilnya. Kiana kembali masuk dan ia menemukan sebuah kartu di atas tempat tidurnya dengann setangkai mawar merah.
Kiana kekasih hatiku dan juga istriku, hari ini Kamu terlihat sangat cantik.Aku ingin sekali tetap bersama denganmu, tapi sayang pekerjaanku di kantor masih banyak, jadi kukirimkan hari ini cinta suciku untukmu bersama hembusan angin teduh dan kusalurkan kasih sayangku melalui pori-pori jiwaku untukmu.
Yang mencintaimu dan yang selalu merindukanmu,
Theoden, suamimu
Kiana tersenyum senang.’’Theoden, aku juga mencintaimu.”
Seorang pelayan masuk ke kamarnya dan memberitahunya bahwa Mrs.Hiroko Takamura telah datang, guru yang mengajarkannya Ikebana ( seni merangkai bunga ). Kiana emutuskan untuk belajar seni merangaki bunga untuk mengisi waktu luangnya.
“Aku akan segera turun.”
“Baik!’’
Kiana tertegun melihat seorang wanita paruh baya berpenampilan sangat anggun dan cantik dengan pakaian yukatanya yang bermotif bunga sakura sedang serius merangkai bunga.
“Selamat siang nyonya!”sapa Hiroko tersenyum lembut penuh keibuan.
“Siang!”
“Apa kita sudah bisa memulainya?”
“Tentu saja.”
Kiana membawa gurunya ke halaman belakang. Hiroko mulai merangkai bunga.
“Wah, cantik sekali,’’komentar Kiana, ketika Hiroko telah menyelesaikan kegiatan merangkai bunganya.
“Anda pun bisa melakukannya jika mau belajar keras merangkai bunga. Sebelumnya sudah pernah belajar merangkai bunga?’’
“Sama sekali belum pernah.”
__ADS_1
“Mulai sekarang selama satu bulan, Anda akan belajar merangkai bunga dengan saya.”
“Mohon bimbingannya Bu guru Takamura.”
“Di depan Anda telah ada bahan-bahan untuk merangkai bunga. Sekarang cobalah merangkai bunga.”
“Baik.” Kiana mulai merangkai bunga dan Hiroko memperhatikannya dengan seksama.
“Selesai.”
Hiroko menilai hasil rangkaian bunga Kiana yang terlihat acak-acakkan dan juga tidak harmonis.
“Aku tahu pasti hasilnya tidak bagus, bukankah begitu?’’
“Benar. Sepertinya Anda harus belajar dengan giat mulai hari ini.”
Dalam dua jam Kiana belajar seni merangkai bunga dan sering melakukan kesalahan juga teguran dari gurunya dan akhirnya dua jam pun berlalu, Kiana terlihat lelah setelah selesai belajar ikebana. Hari sudah memasuki sore hari lembayung senja sudah terlihat dilangit.
“Bagaimana latihanmu merangkai bunga?’’tanya Hendrik.
“Sangat sulit. Ternyata tidak semudah yang aku bayangkan dan aku tadi telah banyak melakukan kesalahan.” Kiana terlihat cemberut dan Hendrik hanya tersenyum.
“Jangan menyerah. Ini kan baru hari pertama pasti lambat-laun kamu pasti akan bisa melakukannya dengan lebih baik lagi.”
“Baik.” Kiana hanya menuduk lesu.
“Semangatlah!”
Kiana mengangguk.
🥀🥀🥀
Pagi harinya Kiana bangun pagi-pagi sekali dengan mata yang masih mengantuk. Semalam ia ketiduran saat menunggu Theoden pulang dan pagi ini, ia tidak menemuka Theoden di kamar. Kiana pergi ke dapur dan ia terkejut melihat Theoden berada di sana.
’’Pagi sayang!’’sapanya.
Kiana membelalakan matanya terkejut melihat suaminya berada di dapur sedang membuat pancake.
“Aku membuatkanmu pancake.”
“Tidak biasanya kamu memasak memangnya kamu bisa memasak?”tanya Kiana.
“Hanya membuat pancake aku bisa.”
Theoden membawakan dua piring penuh pancake ke ruang makan.
“Ini enak sekali. Aku tidak menyangka pancake buatanmu enak sekali.”
“Makan yang banyak. Aku bisa membuatkannya lagi.”
“Ini sudah cukup banyak.”
Theoden memberikan segelas susu panas pada Kiana.
“Terima kasih.”
Setelah selesai sarapan pagi. Theoden langsung merangkul pinggang Kiana sampai masuk ke dalam kamar.
“Aku merindukanmu. Semalam kamu sudah tidur dan tidak bisa bicara denganmu.”
“Maafkan aku.”
“Seharian di kantor membuatku sangat merindukanmu. Hari ini hari libur, jadi aku bisa berada seharian denganmu. Aku tidak tahan jika tidak bertemu denganmu sehari saja. Aneh rasanya, dulu aku sangat tahan, jika tidak bertemu denganmu selama berhari-hari, tapi sekarang sejak aku tahu kau mencintaiku, setiap waktu aku selalu merindukanmu dan ingin bertemu denganmu.”
“Theo, aku juga merindukanmu.” Dengan gerak cepat Theoden mengecup kening Kiana dan mencium bibirnya yang membuatnya gadis itu terkejut dengan perlakukan Theoden yang selalu bersikap bersama setelah kepulangan mereka dari hotel. Kiana sangat menyukai itu.
“Theo, bagaimana jika ada yang melihatnya?’’
“Tidak akan ada yang melihatnya. Ini kan kamar kita. Tidak ada orang lain di sini.”
“Kamu benar. Aku lupa.” Kiana tersenyum lebar.
“Kamu ini.”Theoden mencubit pipi Kiana dengan gemas.
Kiana kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Theoden yang lebar menikmati kebersamaan mereka.
“Apa kamu masih sering merasakan sakit kepala lagi?’’
“Tidak, hari ini aku tidak merasa pusing.”
“Nanti aku akan mengantarmu ke rumah sakit, jika aku tidak terlalu sibuk dengan urusan kantor.”
“Aku baik-baik saja. Jadi tidak perlu pergi ke rumah sakit.”
“ Bagaimana pun juga kamu harus pergi kerumah sakit. Aku tidak akan tenang sebelum kamu diperiksa secara teliti.”
“Baiklah kalau itu maumu.”
__ADS_1
Theoden mengusap-usap rambut Kiana.’’Aku senang jika kamu menuruti kata-kataku.” [ ]