
Setelah menjelang sore, Kiana berpamitan pulang kepada Ayah, Ibu, dan adiknya. Sampai sekarang mansion yang ia tinggali bersama teman-temannya itu masih sangat misterius dan mansion itu tidak pernah dibangun kembali oleh pemiliknya, karena takut menelan korban lagi. Kiana tiba di mansion suami saat malam tiba. Theoden dan ayah mertuanya telah menunggunya untuk makan malam.
“Bagaimana kabar orangtuamu?”
“Mereka baik-baik saja.”
“Senang mendengarnya.”
Setelah makan malam Kiana dan Theoden pergi ke kamar.
“Aku merindukanmu,”kata Kiana sambil memeluk suaminya.
“Aku juga.”
Theoden mengecup kepala Kiana.
“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”
“Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?’’
“Besok aku akan pergi ke Belanda.”
Kiana terdiam dan raut wajahnya berubah sedih dan tidak bereaksi. Theoden memegang tangannya dan menyuruhnya duduk dipangkuannya. Theoden memeluk pinggang Kiana dan merapatkan tubuh istrinya ke tubuhnya dan tangan yang satunya membelai pipi Kiana.
“Jangan sedih. Aku akan segera kembali. Aku pergi tidak lama. Ini urusan pekerjaan.”
“Kenapa mendadak sekali?”
“Kepergianku ke sana memang mendadak. Aku juga tidak tahu harus pergi ke sana.”
“Berapa lama di sana?’’
“ 2 minggu, sayang.”
“Lama sekali. Pasti aku akan sangat merindukanmu.”
“Aku juga akan sangat merindukanmu, karena aku tidak sanggup jika harus berpisah lama-lama denganmu.”
Theoden merasakan tetesan hangat di tangannya. Kiana tidak mampu untuk menyembunyikan kesedihannya lagi walaupun ia sudah mati-matian untuk tidak mengeluarkan air mata.
“Maaf,’’kata Kiana sambil menghapus air matanya.
Theoden mendekap erat tubuh Kiana semakin erat, lalu leher Kiana dihujani oleh ciumannya .
“Sayang, sebaiknya kamu tidur. Ini sudah malam,’’bisik Theoden mesra.
Kiana menganggukan kepalanya meskipun hatinya masih menginginkan berlama-lama bersama Theoden. Apa lagi dia akan segera pergi jauh. Keesokan paginya Kiana bersiap-siap untuk mengantarkan Theoden ke bandara.
“Pagi sayang!’’
“Pagi!’’
Kiana berpikir suaminya terlihat sangat tampan dari biasanya.
“Sudah siap untuk mengantarkanku ke bandara.”
“Iya,’’jawab Kiana sambil menganggukan kepalanya.
Theoden menarik tangan Kiana dan berpamitan pada ayahnya. Di dalam Mobil mereka duduk sambil berpelukan untuk menikmati pelukan terakhir mereka sebelum mereka berpisah jauh.
“Kiana, kamu harus menjaga diri dan kesehatanmu. Aku tidak ingin kamu sakit dan sering-seringlah menghubungiku.”
“Kamu juga harus sering menghubungku.”
“Tentu saja.Aku akan selalu mencintaimu sampai kapan pun. karena kamu adalah cinta sejatiku dan belahan jiwaku.”
“Aku juga akan selalu mencintaimu di mana pun kamu berada.”
“Terima kasih.’’
Theoden tersenyum dan kembali memeluk Kiana lebih erat lagi. Tidak terasa mereka telah sampai di bandara. Pesawat yang akan di naikinya masih ada satu jam lagi. Mereka memanfaatkan waktu yang ada untuk selalu bersama. Akhirnya tiba waktunya bagi mereka untuk berpisah.
Theoden meraih tangan Kiana, lalu menciumnya. Theoden kemudian membelai wajah istrinya dengan tatapan sedih. Kiana tidak kuasa menahan rasa sedihnya dan akhirnya menumpahkan air matanya. Theoden kembali menarik Kiana ke dalam pelukannya.
“Jangan menangis!Aku akan segera kembali padamu.”
Theoden melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya. Kiana mencoba untuk tersenyum meskipun hatinya tidak bisa tersenyum. Theoden mengecup bibir istrinya untuk terakhir kalinya sebelum ia pergi.
“Sepertinya kita harus berpisah sampai di sini,’’kata Theoden sambil membelai wajah dan rambut Kiana.
Butiran air mata terjatuh lagi dari kedua matanya dan Theoden menghapusnya dengan lembut. Sekali lagi Masumi mengecup lembut bibirnya dan berbisik di telinganya.
“Aku mencintaimu.”
Kiana masih memandanginya sampai sosoknya menghilang. Ia kemudian pergi dengan hati sedih. Sebelum pulang Kiana melihat keluar bandara dan menyaksikan pesawat yang membawa suaminya terbang di angkasa.
Keesokan siangnya Theoden sudah tiba di Belanda dan sedang mengantri pemeriksaan paspornya. Ia berjalan ke pintu keluar dan belum melihat ada orang yang menjemputnya dan memutuskan untuk menunggunya di depan ekskalator. Tanpa dia duga sama sekali dua orang perampok mengambil tasnya. Semua benda-benda berharganya ada di dalam tas. Paspor dan beberapa dokumen penting lainnya.
Theoden berusaha mengejar perampok itu dengan bantuan beberapa petugas keamanan bandara, kemudian terjadilah saling kejar mengejar, lalu tanpa sengaja dirinya melihat sesosok seorang wanita yang kelihatan hampir jatuh dari tangga dan dengan sigap Theoden menolong wanita muda itu tapi keberuntungan tidak dipihak Theoden. Ia dan wanita itu terjatuh dari tangga.
Mereka berdua terguling-guling. Kepala Theoden terbentur beberapa kali dan terdengar suara teriakan orang di sekelilingnya ketika melihat kejadian itu.
Theoden tidak sadarkan diri dan dari kepalanya keluar darah merah segar. Wanita yang di tolongnya berteriak. Kiana menjatuhkan gelas yang berisi air yang akan diminumnya dan perasaannya disergap perasaan yang tidak enak. Dadanya terasa sangat sesak dan kesulitan bernafas seperti orang yang terkena serangan asma. Kiana berusaha mengatur nafasnya dan akhirnya dapat kembali bernafas normal tapi hatinya masih merasakan tidak enak.
Berkali-kali Kiana mengelus dadanya.
Tiba-tiba tanpa disadari air mata Kiana keluar dan ia merasa bingung kenapa air matanya tiba-tiba keluar dan ada perasaan yang sangat sedih di dalam hatinya.
“Theoden,”gumamnya lirih.
🥀🥀🥀
Theoden segera di bawa ke rumah sakit dan di masukan dalam kamar darurat. Para dokter berusaha untuk menyelamatkannya. Sementara itu orang yang akan menjemput Theoden di bandara bernama Rupert datang terlambat ke bandara dan tidak menemukan Theoden di mana-mana. Ia mulai tampak cemas dan dia juga sudah menghubungi Theoden, tapi ponselnya selalu tidak aktif. Tidak lama kemudian Rupert melihat beberapa petugas keamanan bandara membawa seorang perampok dan juga barang-barang yang sudah dirampoknya.
Rupert mendengar pembicaraan orang kalau orang yang telah dirampok adalah orang Amerika.Hati Rupert merasa tidak tenang. Dia punya perasaan kalau Theoden adalah orang yang dimaksud. Rupert berusaha mencari informasi pada orang-orang disekitar bandara dan menanyakan ciri-ciri orang yang telah dirampok.
__ADS_1
Rupert merasa lemas, karena ciri-cirinya mirip dengan Theoden, lalu dia mencari tugas keamanan tadi yang berhasil menangkap perampok. Tidak membutuhkan waktu lama ia bertemu dengan beberapa tugas keamananan dan menceritakan semuanya dan akhirnya mereka memperlihatkan barang-barang hasil rampokan itu. Rupert cepat-cepat membuka tas dan dialam tas dia menemukan paspor dan kartu tanda pengenal Theoden. Ia segera mendekati para petugas itu dan menayakan tentang keberadaan Theoden.
“Maaf. Kami juga tidak tahu. Teman Anda tadi ikut mengejar perampok itu dengan kami, tapi kami berpisah ditengan jalan.”
“Terima kasih,’’katanya.
Setelah mendapat ijin dari petugas, Rupert membawa barang-barang Theoden dan memasukannya ke dalam mobilnya. Sekarang Theoden telah menghilang di Belanda. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Rupert melajukan kendaraannya menuju apartemennya dan berharap Theoden akan segera menghubunginya.
“Aku harap tidak terjadi apa-apa dengannya.’’
🥀🥀🥀
Keesokan paginya Kiana dibangunkan oleh suara kicauan burung. Ia bangun dan merentangkan kedua tangannya. Sinar matahari menerobos ke dalam kamar setelah Kiana membukakan tirai jendela. Dihirupnya dalam-dalam udara pagi yang segar. Kiana cepat-cepat berganti pakaian dan sesekali melihat Hpnya berharap ada pesan masuk dari suamianya dan wajahnya terlihat kecewa tidak ada kabar darinya.
“Kenapa sampai sekarang kamu tidak menghubungiku. Aku ingin mendengar suaramu dan aku ingin tahu kabarmu di sana?’’
Kiana keluar kamar , lalu pergi menuju ruang makan. Hendrik sudah berada di sana sedang menyantap sarapan paginya.
“Pagi Kiana!’’sapa Hendrik.
“Pagi!’’
Kiana duduk dikursi makan dengan wajah sedih dan tidak luput dari perhatian Hendrik.
“Ada apa? Wajahmu terlihat lesu dan sedih?’’
“Sampai sekarang Theoden belum menghubungiku. Aku khawatir padanya. Dia sudah janji akan segera menghubungiku ketika sudah sampai di sana.”
“Mungkin sekarang dia sedang sibuk di sana.”
“Apa dia tidak punya waktu sedikit pun untuk menghubungiku.”
“Sudahlah Kiana, kamu jangan bersedih seperti ini. Mungkin sebentar lagi Theoden akan menghubungimu.”
“Semoga saja.”
Kiana makan dengan tenang meskipun hati dan pikiran tidak tenang memikirkan keberadaan suaminya di Belanda.
🥀🥀🥀
Theoden berada di ruang ICU tubuhnya dikeliling oleh selang dan juga infus. Wanita yang berhasil di selamatkan oleh Theoden berdiri di luar melihatnya dari kaca. Pandangannya sedih dan merasa bersalah, karena telah membuat orang terluka gara-gara dirinya.
“Kamu masih ada di sini Laurie?’’
“Iya ayah. Aku hanya ingin tahu keadaan pria itu,’’katanya sambil tidak melepaskan tatapannya pada Theoden.
“Sebaiknya kamu pulang dari kemarin kamu terus berada di sini. Pria itu sudah banyak yang menjaganya di sini nanti kamu dapat ke sini lagi setelah beristirahat sebentar di rumah.’’
Wanita itu menatap ayahnya dan tersenyum tipis.
“Baiklah. Aku akan pulang bersama ayah.”
Ayahnya merangkul bahu wanita itu dan mengajaknya pergi.Para perawat sedang menjaga Theoden dan mendengarnya menyebut-nyebut sebuah nama.
“Hei menurutmu siapa itu Kiana,’’kata perawat itu.
“Aku tidak tahu. Mungkin seseorang yang dia kenal’’kata salah satu perawat yang berada di ruangan ICU.
“Bahkan kita tidak tahu siapa nama pria ini.”
“Mungkin setelah pasien ini benar-benar sadar, kita akan segera mengetahui namanya.”
“Kuharap dia cepat sadar dan segera sembuh. Pria setampan dia tidak cocok di sini.”
🥀🥀🥀
Rupert berjalan mondar- mandir di apartemennya sesekali melihat ponselnya. Semakin lama ia semakin gelisah. Hari sudah hampir menjelang malam dan masih belum ada kabar dari Theoden.
“Tuan Theoden kenapa Anda tidak segera menghubungiku,”gumam Rupert sambil menatap ponselnya.
Rupert mengigit jari dan berjalan mondar-mandir lagi. Ia memutuskan untuk menelepon keluarganya.
🥀🥀🥀
Hendrik yang berada dikamarnya sedang membaca koran terus melirik jam.”Kenapa anak itu belum juga menghubungiku seharusnya dia sudah sampai di Belanda.”
Tok...tok...tok...
“Masuk!’’
“Maaf tuan malam-malam begini saya menganggu istirahat Anda. Ada telepon dari Rupert Limbardi dari Belanda.”
Pelayan itu menyerahkan telepon itu pada Hendrik.
“Selamat malam!’’sapa Hendrik
“Maaf. Malam-malam saya menganggu Anda. Ada kabar yang ingin saya sampaikan pada Anda. Ini mengenai Tuan Theoden.”
Wajah Hendrik menegang.
“Ada apa dengan Theoden?’’tanyanya hampir setengah berbisik.
“Tuan Theoden hilang di Belanda.”
‘’Apaaa?’’Hendrik langsung menegakkan badan.
Lalu Rupert menceritakan semuanya pada Hendrik apa yang terjadi dan Hendrik begitu terkejut setelah mendenngar ceritanya.
“Jadi sampai sekarang belum ada kabar darinya?’’
“Belum ada.”
“Aku akan pergi kesana 3 hari lagi. Kalau ada kabar dari Theoden segera hubungi aku.”
“ Baik.”
__ADS_1
Hendrik terasa lemas dan dia menjatuhkan teleponnya. Pelayan yang bernama Jeff terlihat cemas melihat Tuannya dan mengambil telepon dari atas lantai.
“Apa yang telah terjadi?’’
“Theoden hilang di Belanda setelah di rampok.”
Jeff menutup mulutnya menahan keterkejutannya.
“Jangan mengatakan apa pun dulu kepada Kiana.”
“Baik.”
🥀🥀🥀
Kiana tidak bisa memejamkan matanya sedikit pun. Pikirannya terus ada pada Theoden. Berkali-kali ia mengelus dadanya takut terjadi sesuatu yang buruk padanya.Akhirnya Kiana jatuh tertidur saat mendengarkan suara musik dari jam sakunya. Entah kenapa hatinya begitu tenang setelah mendengarkan musik yang keluar mengalun dari jam itu.
Sementara itu di Belanda hari masih sore. Laurie dengan langkah cepat menuju ruang ICU dan dia melihat pria tampan itu masih tidak sadarkan diri dengan seizin dokter Laurie diperbolehkan masuk.Matanya menatap pilu Theoden yang terbaring lemah.
“Siapa kamu sebenarnya?’’sambil menyingkirkan rambut yang ada dikeningnya.
“Terima kasih sudah menyelamatkanku,’’katanya pelan sambil mengenggam tangannya.
“Aku akan tetap disini sampai kamu sadar.”
Laurie duduk di samping tempat tidur theoden sambil terus memandanginya.
🥀🥀🥀
Sudah satu minggu berlalu sejak hilangnya Theoden, Hendrik belum mendapat kabar darinya. Ia tidak jadi pergi ke Belanda, karena kesehatannya kembali memburuk. Ia duduk termenung dikursi rodanya di kamar sambil menatap taman belakang rumah.
Jeff masuk ke dalam kamar sambil membawa telepon dengan wajah heran Hendrik mengambil telepon itu.
“Halo Tuan MacAllister!’’kata seseorang dari seberang telepon.
“Rupert.”
“Saya ingin memberikan informasi mengenai Tuan Theoden.”
“Katakan! Jangan ada yang ditutupi dariku.”
“Menurut informasi ada seoarang pria Amerika mengalami kecelakaan terjatuh dari tangga demi menyelamatkan seorang wanita dan ciri-cirinya mirip dengan Tuan Theoden dan saya juga sudah menemukan rumah sakit di mana mereka membawanya, tapi aku terlambat. Pria itu sudah dibawa ke rumah sakit lain dan aku kehilangan jejak.”
Tubuh Hendrik terasa sangat lemas.
“Aku akan berusaha mencarinya, jadi Anda tenang saja. Aku pasti akan menemukannya, karena dia masih ada seseorang yang dicintainya menunggu di rumahnya.”
“Aku mengerti. Aku mohon segera temukan dia.”
Hendrik menutup teleponnya dan menyerahkan pada Jeff.
“Antarkan aku menemui Kiana di kamarnya.”
“Baik .”
Di kamar Kiana sedang menyulam sebuah sapu tangan untuk dihadiahkan pada Theoden nanti. Meskipun sekarang hatinya sedang kesal dan marah, karena suaminya belum juga menghubunginya selama seminggu. Kiana sudah sangat merindukannya dan kemudian air matanya menetes jatuh.
“Kenapa tidak juga meneleponku. Kenapa ponselmu selalu tidak aktif. Apa yang telah terjadi padamu?’’
Kemudian terdengar suara ketukan pintu. Kiana bergegas membukanya.
“Ayah,”serunya.
Kiana mundur beberapa langkah supaya ayahnya dapat masuk.
“Ada apa?”
Hendrik menatapnya sedih, karena dia akan memberitahukan kabar buruk mengenai Theoden.
“Kiana telah terjadi seseuatu dengan Theoden.”
“Apa maksud Ayah?”
“Theoden tidak menghubungimu selama seminggu, kan ?’’
“Iya. Dia belum menghubungiku sekali pun.”
“ Dia tidak mnghubungimu karena....’’
“Karena apa?’’
Theoden tidak tega mengatakannya pada Kiana. Dia akan sangat sedih jika telah terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya.
“Ayah katakan ada apa sebenarnya ? Kenapa diam saja?’’tanya Kiana setengah memaksa.
“Theoden menghilang di belanda. Kami tidak tahu keberadaannya sekarang.”
Kiana terdiam dan matanya mulai berkaca-kaca, kemudian dia mengeleng-gelengkan kepala.
“Itu tidak mungkin.”
“Kiana.”
“Pasti Ayah bohongkan?’’
Kiana mulai menangis dan tidak ingin mempercayai apa yang di katakan oleh ayah mertuanya.
“Aku berkata yang sebenarnya.”
Kemudian Hendrik menceritakan kronologis kejadian yang dialami Theoden sampai kemungkinan Theoden mengalami kecelakaan. Air matanya sudah tidak terbendung lagi.
“Pantas saja dia tidak pernah menghubungiku,’’disela isak tangisnya.
‘Bagaimana kalau kita pergi bersama-sama ke Belanda untuk mencari Theoden.”
Kiana berhenti menangis dan mengangguk. [ ]
__ADS_1