Knight in Shinning Suit

Knight in Shinning Suit
(S2): Mansion misterius


__ADS_3

Keesokan harinya Theoden membuat janji bertemu dengan Kiana sore hari di taman bermain. Kiana duduk diayunan sambil menunggu Theoden datang. Ia penasaran kenapa Theoden menuruh datang ke taman ini yang tidak jauh dari mansion MacAllister dan ia juga memperhatikan anak-anak bermain.


Kiana tersenyum melihat anak-anak itu. Ia ingin memiliki anak dengan Theoden, tapi ia belum kunjung hamil juga. Seseorang menutup matanya. Kiana terkejut dan berusaha melepaskan kedua tangan yang menutupi matanya.


“Theoden,”panggilnya sambil berusaha untuk melepaskan kedua tangan yang menutupi matanya.


Orang itu mencium leher Kiana.


“Hentikan malau dilihat orang!”


“Jangan pedulikan!”


Theoden melepaskan tangannya dari mata Kiana, lalu memberikan senyuman untuk istrinya, lalu ia duduk di ayunan di samping Kiana.


“Kenapa kamu menyuruhku datang ke sini?”tanya Kiana.


Theoden memasukan tangannya ke dalam jas dan mengeluarkan amplop putih panjang, lalu memberikannya kepada Kiana.


“Apa ini?”


“Buka saja.”


Kiana membuka amplop itu dengan tidak sabar dan ia bingung mendapatkan dua buah tiket pesawat.


“Apa ini?”


“Masa kamu tidak tahu apa itu?”


“Aku tahu ini tiket pesawat, tapi kenapa kamu memberikannya kepadaku?”


“Kita akan pergi ke Austria. Kita akan bulan madu.”


Kiana membelalakan matanya, lalu memeluknya dan sekali lagi mengucapkan terima kasih,kemudian mereka berjalan-jalan sebentar dengan bergandengan tangan,dan tidak terasa waktu berlalu dengan cepat.


🥀🥀🥀


Kiana dan Theoden sedang menikmati pemandangan di kota Salzburg. Mereka mengunjungi beberapa bangunan bersejarah. Mereka mengunjungi Salzburg castle merupakan salah satu istana terbesar di Eropa,Salzburger dom(the city’s chathedral) merupakan bangunan kejayaan barok dan Hellbrunn palace.Mereka juga mengunjungi sound of music gazebo di Hellbrun Schloss( Istana Helllbrun) dan mereka berdansa di dalam gazebo itu


Salzburg terletak di tepi sungai Salzach dibagian utara pegunungan Alpen dan kotanya disebut kota tua atau biasa disebut Altstadt adalah sebuah kota yang didominasi oleh bangunan berarsiktektur barok. Bangunan yang terkenal adalah Festung Hohensalzburg.


Kota ini dikelilingi oleh dua gunung yang lebih kecil yaitu Monschberg dan Kapuzenerberg. Gunung-gunung ini menjadi paru-paru hijau bagi kota tersebut. Kiana dan Theoden terpesona dengan pemandangan yang disajikan kota itu. Ketika hari menjelang malam mereka kembali ke hotel.


Kiana berbaring di tempat tidur, menunggu Theoden mandi.


Kiana menyadari sesuatu dan ia bangun. Wajahnya terasa panas. Ia mulai menyadari kalau malam ini adalah malam pertamanya dengan Theoden di Austria. Jantung Kiana berdegup semakin kencang dan menjadi gugup. Ia berusaha menyembunyikan kegugupannya dan sibuk dengan pikirannya sendiri.


“Kiana.”


“Kiana terlonjak kaget dan menoleh ke arah suaminya.


“Kamu baik-baik saja? Tadi kenapa kamu begitu kaget ketika aku memanggilmu? Apa ada yang sedang kamu pikirkan?’’


“Ti...ti..tidak ada apa-apa. Sungguh,’’kata Kiana gugup.


Kiana langsung cepat-cepat pergi ke kamar mandi.


“Aduuh,bagaimana ini. Kenapa aku jadi gugup begini.”


Kiana membuka pakaiannya dan masuk kedalam bath tub. ia asyik memainkan busa sabun dan meniup-niupnya. Kamar mandi di penuhi oleh gelembung sabun. Kiana sudah berada di kamar mandi selama satu jam dan juga belum keluar. Theoden khawatir dan mengetuk pintu.


“Kiana, apa kamu tidak apa-apa?’’


Theoden meraih pegangan pintu dan pintu tidak terkunci,lalu Theoden mendengar Kiana sedang bernyanyi dan melihat banyak gelembung sabun yang berterbangan. Theoden tersenyum.


“Apa yang kamu lakukan?’’


Kiana terkejut dengan kedatangan suaminya dan berusaha menutupi badannya dengan busa sabun.


“Kenapa ada di sini? Kamu mengintipku mandi ya?’’


“Kamu sudah berada terlalu lama di kamar mandi. Aku sudah mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban.”


Theoden mendekati Kiana dan gadis itu semakin berusaha menutupi badannya dengan busa sabun.


“Cepatlah selesaikan mandimu nanti masuk angin. Aku menunggumu.”


Theoden memasang senyum jahil.


Beberapa menit kemudian Kiana keluar dari kamar mandi dan Theoden sudah berada di tempat tidur. Kiana naik ke tempat tidur dan menutupi dirinya dengan selimut. Beberapa saat terjadi keheningan wajah keduanya berubah merah.Theoden mulai memeluk Kiana dan menciumnya dengan lembut sementara tangannya terasa sebagai lahar panas menjelajahi seluruh tubuh Kiana dan Theoden mematikan lampunya.


Keesokan paginya Kiana terbangun dalam pelukan suaminya dan ia tersenyum sekarang di hatinya ada perasaan bahagia yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Kiana memandangi wajah suaminya dan mengecup bibirnya. Wajah Kiana merona merah melihat tubuh telanjangnya dan cepat-cepat pergi ke kamar mandi. Theoden bangun dan tidak menemukan istrinya di tempat tidurnya, lalu ia melihat Kiana keluar dari kamar mandi dan Theoden tersenyum.Setelah mereka berpakaian rapi, sarapan pagi telah diantarkan oleh pelayan ke kamar.


Setelah makan mereka memutuskan untuk kembali berjalan-jalan dan mengunjungi tempat yang belum sempat dikunjungi mereka kemarin. Kali ini mereka pergi ke taman Mirabella dan bermain catur raksasa di Mozart square, lalu mereka juga mengunjungi taman bir. Mereka berbulan madu di Austria selama seminggu dan tidak terasa bulan Madu mereka sudah berakhir. Keesokan paginya mereka pulang ke New York.


🥀🥀🥀

__ADS_1


Keesokan paginya Hendrik menyambut mereka dengan gembira,lalu Kiana menceritakan tentang bulan madu mereka.


“Ayah senang bulan madu kalian berjalan lancar.”


“Perjalanan kami sangat menyenangkan.”


Kiana kembali teringat bulan madu mereka.Bagaimana mereka menghabiskan hari-hari mereka di sana dengan adegan panas mereka di ranjang. Wajah Kiana menjadi merah.


“Kenapa kalian tidak melakukannya dari dulu?”tanya Hendrik.


“Kami tahu dan kami menyesal tidak melakukannya sejak kami menikah,”jawab Theoden.


“Semoga setelah ini kalian akan memberikan aku cucu.”


“Ayah,”seru Theoden.


“Hari ini aku memutuskan untuk ke rumah orangtuaku.Aku ingin menjenguk mereka.”


“Baiklah,”kata Theoden.”Sudah waktunya aku pergi ke kantor.”


Setelah Theoden pergi, Kiana masuk ke mobil pergi menuju rumah orangtuanya. Kedatangan kiana disambut ibu dan adiknya, Kana.


“Kakak Kiana,”seru Kana.


“Halo Kana!”


“Aku senang kakak datang.”


Kana memeluk Kiana.


“Bagaimana kabarmu?”tanya Phillippa.


“Aku baik.”


Phillippa memeluk Kiana dengan penuh kerinduan.”Ibu senang kamu datang. Kami sangat merindukanmu.”


“Aku juga.”


Kiana kembali memeluk Ibunya.


Setelah mereka berbicara banyak, Kiana pergi ke kamarnya. Ia langsung melompat ke tempat tidur. Ia begitu merindukan kamar lamanya dan tidak ada yang berubah. Matanya menyapu ke seluruh kamarnya. Kana begitu senang bisa berada di kamar lamanya lagi.


Kiana membuka lemari pakaiannya bermaksud untu membereskan pakaiannya supaya lebih tertata lagi. Ia tidak menyangka pakaiannya begitu banyak dan ada beberapa pakaian yang tidak terpakai lagi. Kiana memutuskan untuk menyumbangkan pakaiannya itu. Ia menemukan kardus kecil disudut dalam lemari pakaiannya. Kiana membukanya dan isinya berupa kenangan-kenangan semasa sekolahnya dulu. Ia membawanya ke tempat tidur dan menumpahkan seluruh isinya.


Kiana menemukan banyak foto bersama teman-temannya di depan sebuah mansion tua tempat mereka menginap bersama teman-temannya saat liburan. Tubuhnya merinding saat mengingat liburan yang tidak terlupakan itu. Ia pergi berlibur beberapa bulan setelah Theoden mengalami kecelakaan.


Pagi-pagi sekali Kiana dan Marget, temannya tiba di bandara untuk iburan bersama teman-teman sekelasnya ke Los Angeles. Pak Roger, gurunya dan beberapa temanya sudah berada di sana sambil menunggu kedatangan murid yang lain. Setelah semuanya berkumpul mereka menunggu panggilan untuk masuk kedalam pesawat.


“Apa calon suamimu itu sudah mengizinkanmu pergi?”bisik Marget. Tida ada tteman-teman sekelasnya yang tahu bahwa Kiana sudah memiliki tunangan kecuali Marget.


“Theo, sudah mengizinkanku pergi, lagi pula aku tidak perlu izinnya, karena dia belum sah sebagai suamiku.”


Setelah setengah jam menunggu mereka masuk ke pesawat. Kiana dan Margaret duduk paling depan. Ini ketiga kalinya Kiana pergi ke Los Angeles. Matanya menerawang keluar jendela pesawat sambil menopangkan dagunya dengan tangannya di jendela. Setelah menempuh perjalanan kuran lebih 3 jam, Kiana dan rombongan telah sampai di Los Angeles.


Mereka dijemput oleh satu bis kecil dan tidak lama kemudian bis itu mulai berbelok dan jalanan mulai menanjak.Bis berhenti disebuah mansion mewah berwarna putih. Mereka keluar dari bis dan memandang mansion megah di depan mereka. Kiana dan teman-temannya menatap Mansion itu dengan tatapan takjub.


“Indah sekali,’kata salah satu teman Kiana.


“Pak guru, apa kita akan menginap di sini,’’tanya Kiana.


“Kita akan menginap di sini,’’kata Pak Roger dan mulai masuk ke halaman depan mansion yang kemudian diikuti oleh Kiana dan teman-temannya .


Pintu depan mansion terbuka dan dibalik pintu muncul seorang pelayan wanita yang sudah tua.Mereka tercengang melihat kemewahan mansion dan mata mereka memandang ke sekelilingnya. Pelayan itu mengantarkan mereka ke kamar masing-masing. Kiana sekamar dengan Margaret.


“Oh ya, aku harus memberitahu orangtuaku dan Theo kalau aku sudah sampai.”


Kiana mengeluarkan Hpnya dari tasnya dan dengan cepat mengirim pesan kepada orangtuanya dan Theo yang isinya dirinya telah sampai di Los Angeles. Mereka berdua berjalan berkeliling di dalam mansion. Mereka melihat teman-teman yang lain sedang bercengkrama di ruang tamu lantai bawah.Tiba-tiba saja Margaret merasakan ada yang tidak beres dengan mansion ini. Tubuh Margaret tiba-tiba merinding.


“Kiana, apa kamu merasakan ada hal yang aneh dengan mansion ini?’’kata Margaret.


“Tidak ada yang aneh.”


“Siapa pemilik mansion ini ya?’’


“Aku tidak tahu. Tapi hebat juga kita bisa menyewa mansion mewah ini pasti harganya sangat mahal.”


“Tidak juga.’’kata Pak Roger tiba-tiba dari arah belakang mereka.


“Maksud Anda harga sewa mansion ini sangat murah?’’tanya Margaret memasang wajah terkejut.


“Benar. Tadinya kita akan menginap di hotel, karena hotel sudah penuh dan tidak bisa menampung kita makanya aku menyewa mansion ini. Tadinya aku kira harganya sangat mahal ternyata sangat murah. Akhirnya aku menyewanya selama seminggu.”


“Mansion ini sangat bagus, tapi entah kenapa aku merasakan kalau di sini ada yang tidak beres dan membuatku merinding,’’ kata Margaret.


Kiana menjadi takut mendengar perkataan Margaret.

__ADS_1


“Cuaca di luar cerah, jika kalian ingin jalan-jalan diluar,’’kata Pak Roger sambil menuruni tangga.


“Aku ingin jalan-jalan sebentar,”kata Kiana.


“Aku ingin istirahat saja,”kata Margaret


“Baiklah. Aku jalan-jalan sendirian saja.”


Kiana menuruni tangga satu-satu dan pintu utama terbuka dengan lebar. Sinar matahari masuk kedalam rungan kemudian sinar itu perlahan-lahan menghilang seiiring Kiana kembali menutup pintu.Di luar matahari bersinar dengan terang dan udara terasa hangat.


Kiana membuka pintu gerbang mansion, lalu mulai menuruni bukit. Ia melihat beberapa burung gagak sedang bertengger di pohon dan kabel listrik.Akhirnya ia berada di tengah kota, semua orang memandanginya dan berbisik-bisik setelah dia menuruni bukit.


Kiana merasa bingung dengan tatapan bisik-bisik orang di sekitarnya, lalu salah seorang wanita setengah baya mendekati Kiana.


“Apa Anda tinggal di mansion itu?’’


“Iya. Memangnya kenapa?’’


Wajah wanita itu berubah pucat dan memegang lengan Kiana dan tangannya gemetar.


“Sebaiknya kamu pergi dari mansion itu.”


“Memangnya kenapa?’’


“Mansion itu berhantu dan beberapa hari yang lalu istri dan anak penyewa mansion itu meninggal. Suaminya sangat sedih, lalu pergi dari ssini. Selama berbulan-bulan tidak ada yang mau menyewanya, akhirnya mansion itu disewakan dengan harga yang sangat murah.”


Tubuh Kiana gemetar mendengar cerita wanita ini.


“Suaminya menemukan menemukan jasad istri dan anaknya hanya tulangnya saja, sedangkan daging mereka meleleh, ’’kata wanita itu melanjutkan ceritanya.


“Apa cerita itu benar?’’


Kiana menelan ludahnya berkali-kali.


“Itu benar. Makanya aku menceritakan semua ini kepada Anda, nona, sebaiknya Anda dan teman-teman Anda pergi dari sana sebelum ada korban jatuh.Seandainya mansion itu tidak dibangun lagi pasti tidak akan ada lagi korban yang jatuh.”


Seketika ingatan Kiana kembali ke masa lalu d imana pada saat itu Kiana kecil sedang menyaksikan kobaran api dari mansion bersama ibunya dibalkon kamar hotelnya.Iya mansion itu pernah terbakar 12 tahun lalu pikirnya, lalu Kiana melihat ke arah bukit dengan tatapan takut dan cemas.


“Terima kasih atas peringatan Anda, tapi kami sekarang tidak mungkin meninggalkan mansion itu.”


Wanita itu melepaskan lengan Kiana dan berlalu pergi. Kiana berjalan kembali menyusuri jalan sambil mengenak masa kecilnya. Tempat ini tidak banyak berubah ketika terakhir kali datang kesini dengan ibunya,” pikir Kiana. Ia kemudian melihat sekilas ke arah mansion yang masih terlihat jelas. Mansion itu berdiri dengan kokoh di atas bukit.


Kiana berada di sebuah taman. Terlihat banyak orang yang sedang bermain atau pun bercengkerama , memperhatikan kegembiraan orang-orang itu. Kiana duduk di bawah pohon sambil memandangi danau dan banyak orang yang berperahu di sana.


“Nona. Anda tidak naik perahu?’’kata suara yang berasal dari belakang Kiana.


Kiana terkejut dan berbalik badan. Dilihatnya seorang pria tua tersenyum padanya. Kiana pun membalasnya lagi dengan senyuman.


“Tidak. Aku takut naik perahu sendirian.”


“Apa nona turis di sini?’’


“Iya. Boleh aku tanya sesuatu?’’


“Tentu saja. Silahkan!’’


“Apa benar mansion yang berdiri di bukit itu berhantu?’’tanya Kiana sambil menunjukkan dengan jarinya.


“Hmmm...bagaimana ya? Ada yang mempercayainya dan ada juga yang tidak. Mansion itu sudah menelan banyak korban .Aku rasa mansion itu menyimpan kejahatan dan sebuah kutukan di masa lalu. Aku juga tidak mengerti kenapa mansion itu harus dibangun kembali.Aku dengar mansion itu akan segera dijual oleh pemiliknya yang baru.Tapi aku rasa akan sulit untuk menemukan pembelinya.’’


Kiana menatap mansion itu dari kejauhan.’’Temanku juga merasa kalau ada yang aneh dengan mansion itu.”


Kiana melihat jam tangannya.


“Aku harus segera kembali pasti teman-temanku mencemaskanku.Aku sudah terlalu lama pergi.’’


“Semoga liburan Anda di sini menyenangkam.”


“Terima kasih.”


Kiana berbalik pergi tanpa menoleh lagi ke belakang sedangkan pria tua itu tetap memperhatikan punggung Kiana dengan tatapan cemas.


🥀🥀🥀


Malam telah tiba suasana di ruang depan mansion terlihat sangat ramai. Kiana hanya duduk diam dikursi. Mereka tidak tahu apa-apa tentang apa yang telah terjadi di sini. Kiana takut dan tubuhnya gemetar.


“ Ada apa?’’tanya Margaret.


“Mansion ini berhantu.”


“Apa maksudmu?’’


“Aku mendengar cerita dari penduduk di sini kalau mansion ini berhantu. Istri dan anak penyewa mansion ini meninggal, makannya pemiliknya menyewakan dengan harga yang sangat murah, bahkan kabarnya mansion ini akan segera di jual.”


“Benarkah?Pantas saja dari tadi aku merasa ada yang tidak beres di sini.”

__ADS_1


Mereka berdua merinding dan memeluk dirinya sendiri. [ ]


__ADS_2