Knight in Shinning Suit

Knight in Shinning Suit
(S2): Pernikahan


__ADS_3

2 Hari kemudian


Sinar matahari terasa sangat hangat dikepala Kiana. Dia memandang keluar jendela berharap Theoden akan datang. Dia sudah sangat merindukannya. Selama 2 hari ini dia sangat sulit menghubunginya tidak seperti biasanya.


Biasanya kalau mereka tidak dapat bertemu mereka saling menelepon dan bertukar pesan, tapi kali ini berbeda. Sama sekali tidak ada kontak. Kiana sudah mencoba berkali-kali meneleponnya,tapi selalu tidak ada jawaban.


Kiana juga pernah meneleponnya ke kantor, tapi Carrie bilang Theoden sedang tidak ada ditempat. Seperti pagi tadi Kiana menelepon kantor dan Carrie kembali bilang Theoden sedang pergi keluar. Ia merasakan Theoden seperti menghindar darinya. Ada rasa sedih dihatinya. Air matanya mulai mendesak keluar.


Kiana memutuskan jalan-jalan menghirup udara segar dan mencoba untuk menghilangkan pikiran buruknya.Tanpa terasa kakinya melangkah ke taman bermain. Di sana banyak sekali anak-anak yang bermain. Kiana duduk di salah satu ayunan yang kosong. Wajahnya terlihat sedih dan tatapannya kosong.


Hari sudah sore Kiana kembali ke mansionya dan di sana dia melihat mobil Theoden terparkir dengan hati senang Kiana segera masuk.


“Theoden,”serunya.


Theoden berada di sana sedang berdiri dan Kiana merasa ada yang aneh dengannya.


“Ada apa? Kamu tidak seperti biasanya? Kenapa selama 2 hari ini kamu susah dihubungi?’’


Kiana mengajukan banyak pertanyaan.


“Aku ingin membatalkan pernikahn kita.”


Kiana bagaikan disambar petir.


“A..apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”


“Apa kamu tidak dengar. Aku membatalkan pernikahan kita,’’jawab Theoden dingin.


“Tapi kenapa kamu membatalkannya?’’


Theoden menelan ludahnya.


“Karena setelah aku pikiran selama 2 hari ini menikah denganmu adalah sebuah kesalahan.”


“Apa? Apa aku sudah membuat kesalahan besar kepadamu, sehingga kamu membatalkan pernikahan kita.”


Theoden mngepalkan kedua tangannya.


“Carilah pria lain yang lebih mencintaimu, karena kamu berhak untuk hidup bahagia.”


“Apa katamu? Mencari pria lain? Semudah itukah kamu mengatakan itu padaku. Mencari pria lain,’’kata Kiana tertawa hambar.


Kiana menatap Theoden lekat-lekat.


“Itu terserah padamu. Selamat tinggal!’’


Kiana kemudian menahan lengan Theoden.


“Aku mohon jangan pergi,’’kata Kiana dengan pandangan memelas.


Theoden tidak bergeming sedikit pun.


Carrie yang berdiri di luar mendengarkan setiap percakapan mereka dan mulai menitikan air mata atas perbuatan bosnya kepada Kiana. Theoden menatapnya dingin dan kemudian pergi meninggalkan Kiana.


Theoden dan Carrie sudah berada dimobil.


“Kenapa Anda melakukan semua ini?”


“Kiana lebih baik membenciku. Itu akan lebih mudah bagiku untuk meninggalkan Kiana selamanya.”


“Tuan Theoden.”


Theoden menitikan air mata yang kemudian cepat-cepat dihapusnya kembali. Hendrik pun marah ketika Theoden tiba-tiba membatalkan pernikahannya dengan Kiana. Mereka berdebat di kamar Theoden.


“Ayah tidak terima ini.”


“Maafkan aku ayah.”


“Kamu sudah membuat malu ayah pada keluarga Kiana.”


“Maaf.”


“Sebenarnya apa yang terjadi?”


“Maaf. Aku tidak bisa memberitahu ayah.”


“THEODEN,”teriak ayahnya marah.


“Aku memiliki alasan kuat untuk membatalkan pernikahanku.”


Hendrik memandang Theoden dengan kesal, lalu pergi meninggalkan kamar.


🥀🥀🥀


3 hari kemudian


Sejak Theoden mengatakan putus dengannya, Kiana selalu terlihat melamun dan tidak ada gairah dan semangat hidup. Phillippa dan Joshua merasa cemas dengan keadaan Kiana seperti ini.


“Kiaa sebaiknya kamu pergi jalan-jalan sebentar mungkin itu akan dapat membantumu.”


Kiana beranjak dari tempat duduknya di pinggir jendela dan membuka pintu kamarnya dan Phillippa hanya bisa mengeleng-gelengkan kepalanya.


Theoden yang sedang berkutat dengan pekerjaannya, tiba-tiba Scott menerobis masuk dan langsung mencengkram kerah kemeja Theoden


“Kenapa kamu melakukan itu pada Kiana? Dasar pria yang tidak berperasaan. Aku jadi ragu, apa benar kamu tidak benar-benar mencintai Kiana.”


Theoden memegang kedua tangan Scott yang masih mencengkram kerah kemejanya dan menarik kuat tangan pria itu. Theoden menatap dingin Scott.


“Kalau kamu ingin Kiana Ambil saja. Kiana sekarang untukmu. Kamu boleh menikahinya kalau kamu mau.”


Scott tidak dapat menahan amarahnya dan langsung memukulnya.


“Kurang ajar.”


Carrie yang mendengar keributan di kantor segera masuk dan terkejut melihat Theoden terduduk di lantai.


“Ada apa ini?’’teriak Carrie.


“Atasan Anda memang kurang ajar dia pantas mendapatkan pukulan dariku. Aku menyesal telah meninggalkan Kiana dan menyerahkan dia pada Anda hanya untuk disakiti oleh Anda.”


Scott melangkah pergi dan dia tiba-tiba mengehnatikan langkahnya.


"Aku ingin sekali menikah dengannya, tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak ada kesempatan untuk bisa menikah dengannya.”


Scott berlalu pergi begitu saja. Carrie membantu Theoden berdiri dan mengobati luka di bibirnya.


“Sebaiknya kita hentiakn semua ini. Ini akan menyakiti Anda dan juga Kiana pada akhirnya. Aku tahu Anda sangat mencintainya. Kenapa Anda tidak bisa berterus terang kepadanya alasan sebenarnya Anda meninggalkannya’’.


“Aku tidak ingin membuat Kiana sedih dan menderita. Lebih baik begini saja.”


Carrie menatap bosnya dengan tatapan kasihan.


Kiana berjalan menyusuri kota New York dan entah sudah berapa lama ia berjalan-jalan tanpa arah seperti ini. Kaki sudah pegal dan tubuhnya sudah sangat lelah. Kiana akhirnya duduk disalah satu bangku taman sambil memperhatikan orang-orang. Air matanya mulai keluar lagi. Hari sudah sore, Kiana beranjak dari kursinya.


Matahari sudah hampir tenggelam. Ia berjalan menuduk sambil menendang-nedang batu kerikil.


Langkahnya berhenti melihat Theoden berjalan dengan seorang wanita cantik dan mereka berjalan sambil bergandengan tangan dan wanita itu bersikap manja pada Theoden. Kiana hanya berdiri terpaku melihat pemadangan itu.


Wajahnya sudah dibasahi oleh air mata dan hatinya seperti sayat-sayat oleh pisau dan penglihatannya, kabur karena matanya dipenuhi oleh air mata. Kiana ingin sekali memangil namanya, tapi suaranya tertahan ditenggorokkan.Ia hanya berdiri dengan tatapan pilu dan sedih, ketika mobil yang membawa Theoden dengan wanita itu pergi dan makin lama makin kecil dari pandangannya.


Kiana berlari sambil menangis.


“Theo, bodoh...bodoh...bodoh...aku benci kamu.”


Kiana berjalan pulang dan menabrak seseorang.


“Maaf.’’


Kiana membungkukan badannya berkali-kali.

__ADS_1


“Kiana.”


Kiana menatap wajah pria di depannya.


“Scott."


“Kamu habis menangis? Matamu sembab. Apa karena calon suamimu?Aku tahu dari berita di koran.”


Kiana menganggukan kepalanya dan Scott tiba-tiba memeluknya. Kiana terkejut, ketika Scott memeluknya tiba-tiba. Kiana mengajak masuk Scott dan di sana mereka bicara dengan senang. Sesaat Kiana melupakan kesedihannya.


Semantara itu di kediaman MavAllister, Theoden duduk dipinggir tempat tidurnya sambil memandangi amplop coklat besar ditangannya, kemudian dia mengambil beberapa lembar kertas dari amplop tersebut. Butiran-butiran air mata terus berjatuhan dari kedua matanya.


‘’Kenapa harus aku? Disaat aku akan menggapai kebahagiaan dengan wanita yang aku cintai."


Theoden melempar kertas itu dan kemudian berbaring di tempat tidur.


"Kiana, aku sangat merindukanmu. Aku rindu kehangatan tubuhmu dan juga setiap sentuhan dan belaian darimu. Maafkan aku sudah menyakiti hatimu. Maafkan aku Kiana. Maafkan."


Akhirnya Theoden tertidur dengan mengeluarkan air mata.


🥀🥀🥀


Theoden sedang melamun di kantornya dan melihat tanggal di kalendernya yang berada di atas meja kerjanya. Dikalender itu ada bulatan warna merah yang menandai hari pernikahannya yang seharusnya akan dilaksanakan 2 hari lagi. Theoden menatap kalender itu dengan tatapan sedih.


‘’Semuanya sudah berakhir."


Theoden kembali menyimpannya di atas meja.Tidak berapa lama kemudian suara ponselnya berbunyi.


‘’Selamat siang! MacAllister di sini."


‘’Saya dokter Roberts. Apakah kita bisa bertemu dengan Anda di rumah sakit sekarang, karena ada hal yang sangat penting yang ingin saya bicarakan dengan Anda."


‘’Apa ini mengenai penyakit saya?’’


‘’Benar."


‘’Baik saya akan kesana segera."


Theoden mengemudi dengan cepat ke rumah sakit. Kurang dari setengah jam ia sudah berada di rumah sakit.


"Anda Tuan Theoden MacAllister?’’tanya perawat itu.


"Benar."


"Silahkan masuk!’’


Theoden masuk ke dalam ruangan dokter dan melihat dokter Roberts sedang duduk sambil menulis.


"Silahkan duduk!"


"Saya ingin minta maaf pada Anda."


Theoden hanya bengong tidak mengerti dengan perkataan dokternya.


"Ini murni kesalahan rumah sakit yang telah salah mendiagnosa penyakit Anda."


:Apa maksud Anda?’’


"Ternyata Anda tidak mengidap kanker otak."


Theoden berdiri.


"Apaaa?’’pekik Theoden kaget.


"Hasil tes Anda tertukar dengan pasien lain."


Theoden jatuh terduduk kembali saat mendengarkan penjelasan dokter. Matanya berkaca-kaca.


"Karena hasil tes kesehatan Anda terukar kami jadi salah mendiagnosa penyakit Anda. Ini adalah hasil tes kesehatan Anda yang sebenarnya."


Dokter Roberts menyerahkan amplop kepada Theoden. Theoden cepat-cepat membuka amplop itu dan membacanya.


"Anda sehat-sehat saja. Tubuh Anda tidak mengidap penyakit apa-apa."


"Anda hanya kelelahan saja karena terlalu banyak pekerjaan dan pola makan Anda tidak teratur. Sekali lagi atas nama rumah sakit dan saya memninta maaf pada Anda. Untuk menebus kesalahan kami, kami akan membebaskan biaya pemeriksaan Anda. Kami akan mengembalikan uang pemeriksaan kepada Anda."


Theoden tersenyum dan wajahnya kembali ceria. Ia menjabat tangan dokter Roberts.


"Terima kasih dokter. Terima kasih."


Theoden langsung melesat pergi dan pergi menuju rumah Kiana. Dalam waktu 15 menit ia sudah tiba di rumah Kiana. Phillippa membukakan pintu dan terkejut melihat kedatangan Theoden.


‘’Untuk apa lagi Anda datang ke sini?’’tanya Phillipps galak.


"Saya ingin bertemu dengan Kiana."


"Kiana tidak ada. Sebaiknya kamu pergi."


Dengan perasaan kecewa Theoden melangkah pergi.


"Theoden."


Theoden langsung menoleh dan tersenyum, karena ternyata Kiana ada di rumahnya.


"Kenapa Anda berbohong padaku?’’


‘’Karena aku tidak ingin mendengar kamu menyakiti Kiana lagi."


‘’Maaf. Kedatanganku ke sini bukan untuk menyakitinya lagi. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengannya."


"Ibu biarkan kami bicara,’’kata Kiana.


‘’Baiklah. Kalau itu maumu."


Ibu Kians pergi keluar dan menutup pintu mansion.


Theoden meraih tangan Kiana dan langsung mendekapnya. Kiana sangat terkejut dengan sikap Theoden, lalu Kiana mendorongnya. Theoden tahu Kiana masih marah kepadanya.


‘’Aku minta maaf, karena sudah menyakiti hatimu. Aku melakukan itu, karena ada alasannya."


"Sekarang katakan apa alasannya?’’


Kiana menatap marah Theoden.


"Aku membatalkan pernikahan kita karena aku menyangka diriku terkena kanker otak."


"Apa?’’


"Iya. Itu benar. Makanya aku berusaha untuk membuatmu membenciku. Aku tidak ingin membuatmu sedih karena penyakitku."


Kiana mulai menangis.


"Tapi syukurlah ternyata hasil tesku tertukar dengan orang lain dan aku tidak mengidap kanker otak."


‘’Benarkah itu ?’’


"Iya itu benar."


Theoden menghapus air mata Kiana dan membelai wajahnya.


"Kita akan tetap menikah besok lusa."


Terlihat wajah ceria di wajahnya dan langsung memeluk Theoden.


‘’Jadi apa kamu sudah memaafkanku?’’


"Iya."


"Terima kasih."

__ADS_1


Scott yang berdiri di depan pintu menangis. Akhirnya Kiana dapat bersatu lagi dengan Theoden.


"Aku senang kalain dapat bersama lagi’’katanya tiba-tiba dari pintu depan.


"Scott,’’kata mereka bersamaan.


"Semoga kalian dapat hidup bahagia. Aku ucapkan selamat pada kalian."


"Terima kasih,’’kata Theoden.


Hari pernikahan Kiana dan Theoden pun tiba. Kiana terlihat sangat cantik dengan gaun pengantinnya. Phillippa menangis bahwa putri kecilnya sudah akan menikah.


“Ibu jangan sedih.”


“Ibu tidak sedih. Ibu bahagia.”


Kiana memeluk ibunya.


“Setelah kamu menikah jaga dirimu baik-baik.”


Kiana mengangguk. Joshua kemudian muncul di ruang ganti. Ia terpesona dengan kecantikan putrinya. Senyuman bahagia tersungging di wajah Joshua. Ia bangga memiliki putri secantik Kiana.


“Apa kamu sudah siap?”tanya ayahnya.


“Aku siap.”


Kiana memeluk lengan ayahnya dan keluar dengan senyuman. Ia berharap pernikahannya dengan Theoden akan berlangsung dengan lancar. Semua orang telah menunggu di halaman belakang mansion MacAllister.


Theoden terlihat sangat tampan dengan tuxedo warna putihnya dan dia tersenyum saat melihat Kiana datang bersama dengan ayahnya.Kiana tidak tahu apa senyuman itu tulus atau hanya pura-pura saja mengingat ia dan Theoden menikah tidak berdasaran cinta.


Upacara pernikahan berlangsung dengan lancar. Kiana dan Theoden telah sah menjadi suami istri. Theoden mencium pengantin wanitanya. Kiana merasa gugup dan jantungnya berdetak dengan kencang saat bibir Theoden yang dingin menyentuh bibirnya. Ini adalah ciuman pertamannya dengan seorang pria.


Semua tamu bertepuk tangan dan mereka memberikan ucapan selamat kepada pengantin. Hendrik begitu bahagia melihat Theoden telah menikah. Phillippa dan Joshua langsung memeluk Kiana.


“Selamat sayang,”kata Phillippa.


“Semoga kamu bahagia,”kata Joshua.


“Bunga ini untuk kakak,”kata Kana.


“Terima kasih. Aku sayang kalian.,”kata Kiana, lalu memeluk mereka.


“Jaga putriku baik-baik!”kata Joshua.


“Tentu saja,”kata Theoden.


“Jika kamu tidak menginginkan putriku lagi,pulangkan Kiana secara baik-baik kepada kami, tapi aku harap pernikahan kalian akan berlangsung selamanya.”


Kiana mendekati Theoden setelah keluarganya pergi menjauh.” Hari ini kita akan memulai sebuah kehidupan baru."


Suara musik pesta pernikahan mereka mengumandang di telinga mereka berdua, seolah-olah melukiskan hati mereka berdua yang sekarang sedang diliputi oleh kebahagiaan


Scott tersenyum melihat wanita yang dicintainya telah hidup bahagia.


"Terima kasih Kiana Selamat tinggal. Aku tidak pernah melihat kalian lagi, karena aku akan segera meninggalkan dunia ini karena penyakit kanker otakku,"gumamnya.


Scott pergi meninggalkan ruang resepsi pernikahan dan kembali ke Inggris.


“Sekarang kamu sudah menjadi suamiku, jadi kamu harus menjaga sikapmu kepada semua wanita.”


Theoden tertawa.


“Apanya yang lucu?”


“Raut wajahmu itu lucu, jika sedang cemburu.”


“Aku tidak…”


“Sebaiknya kita menyambut para tamu kita.”


Theoden mengenggam tanga Kiana, lalu menariknya.


🥀🥀🥀


Hendrik tersenyum melihat Theoden dan Kiana sedang berdansa dengan tamu undangan yang lain. Joshua dan Phillippa duduk di dekat Hendrik.


“Mereka terlihat bahagia, bukan?”kata Hendrik.


“Benar,”jawab Joshua.


“Aku harap mereka segera memiliki anak.”


“Kiana masih muda,”kata Phillippa.


“Jika Kiana sudah siap memiliki anak, kenapa tidak?”kata Hendrik.


Hendrik kembali memandangi pengantin baru yang sedang berdansa. Ia mengingat pernikahannya dengan Irene.


“Andai saja Irene masih hidup, pasti dia juga akan senang melihat Theoden menikah.”


“Aku sudah mendengar tentang kematian Irene sebenarnya dari Theoden. Beberapa hari yang lalu, ia bercerita kepada kami tentang kematian ibunya saat ia menemui kami d New York.”


“Aku juga sangat terkejut ketika mengetahui adiku sendiri yang sudah membunuh istriku. Sekarang Lucinda di penjara. “


Phillippa tiba-tiba teringat dengan Nicole. Ia belum bertemu dengannya lagi sejak terakhir kedatangannya ke mansion Waldgrave. Phillippa berharap ia bisa segera memaafkan Nicole suatu hari nanti.


🥀🥀🥀


Kiana membaca novel di kamarnya untuk mengisi waktu luangnya. Sejak ia menikah dengan Theoden satu tahun yang lalu dan menetap di kediaman MacAllister. Kiana tidak bekerja lagi. Ia menutup novelnya yang ternyata kisah cintanya yang berakhir menyedihkan.


’’Aaaaaaa....sebentar lagi keretanya akan segera pergi,”teriaknya setelah melihat jam.


Kiana cepat-cepat keluar kamarnya, lalu masuk ke mobil yang sudah disiapkan untuk diantarkan ke stasiun kereta. Ia ingin pergi sendirian menuju St.Mary Cemetery tanpa diantar sopir.


Sesampainya di stasiun Kiana mendengar pengumuman kereta yang akan membawanya ketempat tujuan akan segera berangkat. Kiana berlari-lari menuju kereta.


’’Tungguu.....’’teriaknya.


Akhirnya Kiana berhasil masuk sebelum pintu tertutup secara otomatis. Ia menghela nafas lega dan kemudian mencari tempat duduknya.


🥀🥀🥀


Kiana mengenggam beberapa tangkai bunga. Ia menaiki beberapa anak tangga dan tidak lama ia sudah berada di makam sahabatnya yang meninggal 3 tahun yang lalu. Kiana meletakan bunga dan duduk di depan makam, menangkupkan kedua tangannya dan berdoa. Ia mengelus-elus batu nisan yang terukir nama sahabatnya, Margaret.


Bagi Kiana, Margaret adalah sahabat terbaiknya yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Ketika Kiana mengetahui Margaret meninggal, ia sangat sedih. Penyakit radang paru-paruya telah merenggut nyawanya. Kiana selalu mencurahkan isi hatinya kepada Mika mulai dari pekerjaan sampai masaah cinta. Setelah kepergiannya Kiana begitu merasa kehilangan sosok Mika.


“Margaret, aku datang. Maaf aku baru mengunjungimu lagi di sini. Akhir-akhir ini aku sibuk dengan urusan pekerjaanku dan pernikahanku. Hidupku sudah cukup bahagia bersama keluarga yang menyayangiku dan aku juga telah menemukan pria yang aku cintai. Dia adalah Theoden MacAllister dan dia ternyata pria yang aku temui di Yunani."


Ingatan Kiana melayang ke-2 bulan yang lalu saat ia menemukan foto Theoden dengan dirinya saat ia berusia 10 tahun di Yunani. Kiana menemukan foto itu secara tidak sengaja saat ia akan membereskan album foto Theoden yang berantakan untuk disusun kembali dalam sebuah album. Di sanalah ia menemukan foto itu.


Kiana begitu terkejut mengetahui Theoden adalah pria yang ia temui di Yunani. Hatinya bersorak senang ternyata suaminya adalah pria yang ia temui di Yunani. Kiana ingin sekali mengatakan hal ini kepada Theoden.


“Dulu aku tidak mencintainya, tapi setelah aku tahu Theoden dan mengenalnya, aku jatuh cinta kepadanya. Sekarang aku jadi sangat mencintainya, dia adalah belahan jiwaku dan aku ingin bersama dengannya. Theoden sangat baik padaku selama aku menjadi istrinya, selalu memperhatikanu dan melindungiku. Berada di sisinya aku merasa nyaman dan aman. Aku takut jika suatu hari nanti aku akan kehilangan semua itu."


Kiana meneteskan air matanya dan kemudian berdiri. Ia juga mengunjungi makam ibunya Theoden dan meletakkan bunga di makamnya. Tiba-tiba langit menjadi gelap dan suara petir saling bertautan, angin berhembus kencang menerbangan daun-daun kering. Kiana cepat-cepat pergi sebelum hujan turun dengan deras. Sebelum mencapai gereja, hujan sudah turun dan Kiana berlari terburu-buru menuju gereja untuk berteduh.


Kiana menepuk-nepuk pakaiannya yang terkena hujan dan melihat ke langit yang kelabu. Sesekali Kiana dapat melihat kilatan petir.’’Sepertinya hujan turun akan lama. Bagaimana ini?’’


Kiana memeluk dirinya dan akhirnya masuk ke dalam gereja. Di dalam ada beberapa pendeta yang sedang membersihkan lantai. Gereja tersebut sangat bersih dan juga terawatt. Kiana dapat melihat sekilas di belakang gereja terdapat banyak pohon mapel yang daunnya masih terlihat hujau, dia dapat membayangkan jika musim gugur tiba pasti warnanya akan sangat indah dan gereja akan dipenuhi oleh warna kuning keemasan dan juga merah.


‘’Maaf nyonya, silahkan duduk di sana,’’kata salah seorang pendeta muda sambil menunjukkan sebuah kursi di dekat meja.


“Terima kasih.”


Salah seorang pendeta, kemudian membawakan sepoci teh panas.’’Silahkan diminum.”


“Maaf jadi merepotkan.”


“Itu tidak masalah. Di luar sedang hujan deras pasti nyonya kedinginan, teh panas setidaknya dapat menghangatkan tubuh Anda kembali.”

__ADS_1


Kiana tersenyum. “Terima kasih banyak.”


Segelas teh hijau panas yang uapnya masih mengepul berada dihadapannya. Kedua tangannya ditempelkan pada gelas tersebut dan perlahan-lahan ia meminumnya. [ ]


__ADS_2