Knight in Shinning Suit

Knight in Shinning Suit
(S2): Pertemuan tak terduga


__ADS_3

New York


Thomas tengah menjalankan kursi rodanya menuju dapur.’’Cody, temani aku berjalan-jalan di luar. Aku merasa bosan berada di rumah.”


“Baik Tuan Thomas.”


Cody keluar dapur sambil mendorong kursi roda.’’Anda mau pergi kemana?’’


“Ke taman, lalu beli es krim.”


Di depan rumah sopirnya telah menunggu dan telah membukakan pintu mobil untuknya.Di dalam mobil Thomas tampak terlihat melamun.


CKIIIITTT!!!


Cody dan Thomas terkejut. Tubuhnya terlempar ke depan dengan rem mendadak yang dilakukan sopirnya .’’Ada apa ini?’’tanya Thomas marah.


“Maaf Tuan tiba-tiba saja ada seseorang lewat lalu terjatuh di pinggir jalan, saya hampir saja akan menabraknya.”


“Seseorang?Cepat lihat orang itu!’’


Cody dan sopirnya turun. Mereka melihat seorang anak kecil terkapar dijalan tidak sadarkan diri.


“Tuan ada anak kecil pingsan di jalan,’’lapor Cody.


“Bawa anak itu masuk!’’perintahnya.


Sopirnya mengendong seorang anak , lalu memasukannya ke dalam mobil dengan pakaian yang sudah kotor dan terdapat beberapa robekan di bawah roknya . Wajah dan tubuhnya terlihat kotor.’’Apa yang Anda akan lakukan terhadap anak ini?’’


“Kita tidak mungkin membiarkannya di jalan. Kita akan membawanya ke rumah sakit.”


Mobil pun segera melaju menuju rumah sakit. Thomas dan Cody menunggu di depan ruang gawat darurat menunggu hasil pemeriksaan dokter.’’Semoga anak itu akan baik-baik saja. Apa anak itu tidak memiliki orang tua?’’kata Cody.


“Setelah anak itu sadar, kita akan menanyakannya dan kita akan mengantarkan dia ke rumahnya.”


Dokter keluar dari ruangan pemeriksaan. Thomas langsung mendekati dokter tersebut.’’Bagaimana keadaan anak itu?’’


“Tidak ada luka yang serius hanya luka goresan saja.’’


Thomas bernafas lega, lalu dokter itu melanjutkan kata-katanya lagi.’’Sepertinya anak itu sangat kelelahan dan tidak makan selama beberapa hari.”


Cody dan Thomas saling berpandangan.


“Anak itu boleh pulang sekarang, tidak perlu menginap di rumah sakit.”


“Terima kasih dokter.”


“Syukurlah dia tidak apa-apa,’’kata Cody lega.


Thomas dibantu Cody memasuki ruangan. Di depan mata mereka terbaring sesosok tubuh mungil yang tidak berdaya dan masih tidak sadarkan diri. Raut wajahnya terlihat sangat tenang.


Thomas dapat melihat wajahnya dengan jelas setelah tubuhnya di bersihkan oleh perawat. Wajahnya begitu tidak asing di mata Thomas dan mengingatkannya pada seseorang.


“Phillippa,”bisik hatinya.’’Kenapa anak ini mirip dengan Phillippa? Mungkin ini hanya kebetulan saja anak ini mirip dengan Phillippa,”bisik hatinya.


Entah kenapa dihatinya mulai muncul perasaan sayang dan kasihan pada anak di hadapannya.Sebelumnya dia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini terhadap seorang anak yang baru saja ditemuinya.


“Cody, tolong belikan beberapa pakaian untuk anak ini.”


Tanpa menunggu perintah lagi Cody langsung melaksanakan perintah Tuannya sedangkan Thomas tetap menungguinya sampai sampai sadar.


Menit demi menit telah berlalu, anak itu mulai membuka matanya perlahan-lahan. Ada perasaan takut di matanya, karena dia terbangun di tempat yang asing. Thomas tersenyum melihatnya sudah sadar.’’Syukurlah kamu sudah sadar. Aku menemukanmu jatuh pingsan di jalan.”


“Ini di mana?’’


“Di rumah sakit.”


Anak itu mulai menangis.’’Aku ingin pulang.”


Thomas berusaha menenangkannya.’’Kamu akan segera pulang. Aku akan mengantarkanmu pulang ke rumah. Siapa namamu?’’


“Kana.”


“Jadi namamu Kana?”


Kana mengangguk.


“Jangan biarkan mereka menemukanku di sini, Anda harus menolongku,’’katanya panik dan sinar matanya memancarkan rasa takut yang begitu dalam.


“Kana tenanglah!Siapa mereka? Apa ada orang jahat yang menganggumu?’’


Kana menangguk pelan masih dengan wajah berlinangan air mata.’’Ada orang jahat yang menculikku, tidak hanya aku saja, tapi ada beberapa anak lainnya juga. Mereka memperlakukan kami dengan kasar, kami disekap disebuah gudang bekas di sebuah pelabuhan,lalu aku melarikan diri dari mereka dan aku berhasil.Kana merasa asing dengan kota ini, jadi tidak tahu kemana harus pergi.”Tangisan Kana kembali pecah.


“Di mana orang tuamu?’’


“Mereka sudah meninggal ketika Kana masih bayi.”

__ADS_1


“Lalu Kana selama ini tinggal dengan siapa?’’


“Dulu Kana tinggal dengan Bibi Laurel, karena dia jahat akhirnya masuk rumah sakit jiwa, lalu Kana tinggal dengan tante Hera. Tante Hera sangat baik dan mau mengadopsiku, menjadikan Kana sebagai anaknya.”


Thomas mendengarkan ceritanya dengan penuh ketertarikkan.Dia merasa kalau anak ini begitu menyenangkan dan juga pandai bicara.Kemudian Thomas membayangkan Kiana, cucu perempuannya saat Kiana masih kecil.’’Sekarang di mana tantemu?’’


“Tanteku tinggal di Los Angeles.”


“Los Angeles,”tanya Thomas terkejut. Kana menganggukkan kepalanya dengan cepat.’’Jadi sebelumnya Kana dari sana , lalu diculik dan dibawa ke New York?’’


“ Ini New York bukan Los Angeles?’’tanya Kana dengan pandangan polosnya.


Thomas tersenyum sambil mengusap kepala Kana.’’Benar.”


Kana kembali menangis dan berteriak-teriak ingin pulang. Thomas bersusah payah menenangkannya.’’Sudah jangan menangis! Nanti aku akan menghubungi tantemu dan menyuruhnya untuk menjemput Kana.”


Tangisan Kana berhenti.’’Benarkah?’’


Thomas menangguk.


’’Janji?’’


Thomas mengangguk lagi.’’Ayo kita kaitkan jari kelingking.” Kana mengulurkan jari kelingkingnya.


“Apa itu perlu?’’


“Tentu saja, supaya kakek tidak melanggar janji.”


“Aku tidak akan pernah melanggar janjiku pada seseorang, tapi baiklah kalau itu keinginanmu.” Thomas mengaitkan jari kelingkingnya.Kana kemudian tersenyum.’’Nama kakek siapa?’’


“Thomas Waldgrave.”


“Kakek Thomas,”panggilnya.


Pintu terbuka dan Cody masuk dengan membawa tas belanjaan.’’Kamu sudah kembali?”


“Ini barang yang Anda minta.”


“Letakkan di atas meja sana,’’katanya sambil menunjuk ke arah meja yang berada di samping tempat tidur.


“Kana, mulai hari tinggal di rumah kakek untuk sementara sampai tantemu datang menjemput. Bagaimana?’’


“Apa itu tidak apa-apa Kana tinggal di rumah kakek?’’


“Baiklah, Kana mau.”


“Sekarang ganti pakaianmu dulu.”


Thomas menyuruh perawat untuk membantu Kana berpakaian. Kana terlihat cantik ketika mengenakan pakaian baru yang baru saja ia belikan untuknya.Pipinya yang gemuk dan merona merah terlihat begitu menggemaskan.


’’Ayo kita pergi!’’kata Thomas.


Kana berjalan di samping kursi roda Thomas dengan wajah ceria meskipun hatinya merasa sedih dan rindu, karena berada jauh dari tantenya.


Mobil yang membawa mereka berhenti disebuah restoran.


Restoran itu terlihat begitu mewah dan elegan. Beberapa orang pelayan menyambut kedatangan mereka dan membawa mereka kesebuah ruangan pribadi. Di restoran inilah Thomas sering gunakan untuk bertemu para kliennya, jadi tidak heran kalau para pelayan di sini mengenalnya.Ruangan itu menghadap ke sebuah taman yang indah dan terdengar suara gemericik air dan suara dentingan bambu.Tidak lama para pelayan berdatangan sambil membawa begitu banyak makanan.’’Wah, banyak sekali makanannya,’’komentar Kana.


’’Kana, makanlah yang banyak, pasti sekarang perutmu minta diisi.”


Kana mengangguk dan mulai makan. Thomas terlihat senang melihat Kana makan dengan lahap.Sebagai makanan penutupnya dihidangkan segelas es krim coklat untuk Kana.


“Kamu suka dengan hidangan penutupnya.”


“Sangat suka,”katanya riang.


Thomas terus memperhatikannya.


“Kalau sudah selesai makan es krimnya. kita pulang!’’


Kana akhirnya cepat-cepat menghabiskan es krimnya.


🥀🥀🥀


Sebuah mobil memasuki halaman mansion dan terpakir tepat di depan pintu masuk. Langit masih terlihat cerah dan biru terang. Burung-burung terlihat terbang beriringan dan sesekali menghembuskan angin sejuk. Cody membantu Thomas turun dari mobil dan Kana menunggu di depan tangga masuk. Kana sangat terpesona ketika mulai memasuki mansion. Mata kecilnya menelusuri setiap bagian rumah yang tertangkap oleh matanya.’’Rumah kakek besar sekali.”


“Kamu menyukainya?”


Kana mengangguk.’’Jadi kakek tinggal di rumah besar ini?’’


“Iya.Ayo ikut kakek!’’


Tanpa bertanya lagi Kana mengikutinya dari belakang dan Thomas membawanya ke sebuah taman.


“Di rumah tante Hera dan Bibi Laurel tidak memiliki kolam ikan sebesar ini.”

__ADS_1


“Kana bisa membantu kakek memberikan makan ikan-ikan ini kalau Kana mau.”


“Tentu saja Kana mau bantu kakek Thomas.”


Kana tersenyum senang, lalu Cody datang menghampirinya.’’Maaf Tuan, Kamar mana yang harus kami sediakan untuk nona Kana.”


“Pakai saja kamar di sebelah kamar Kiana. Kamar itu sudah terlalu lama kosong, lagi pula kamar yang lainnya belum dibersihkan.”


“Saya mengerti.”


Thomas melihat Kana yang sedang asyik melihat ikan dan satu tangannya masuk ke dalam kolam. Kana tertawa geli ketika tangannnya menyentuh beberapa ekor ikan.’’Kana,’’panggil Thomas. Kana menoleh dan berlari ke arah Thomas.


“Kana tahu nomor telepon tantemu di Los Angeles?”


“Kana tahu.”


“Sekarang beritahu kakek. Kakek akan memberitahu tantemu kalau Kana bersama kakek di sini.”


Kana mengangguk senang. Thomas segera mencatat nomor telepon yang dikatakan Kana.


“Kakek akan segera menghubungi tantemu. Sebaiknya Kana sekarang istirahat di kamar saja.”


“Baiklah.”


Thomas memanggil salah satu pelayannya dan menyuruhnya untuk mengantarkan Kana ke kamar.’’Kana, ini Delilah, kalau perlu sesuatu kamu bisa memanggilnya.”


“Kana mengerti.”


“Sekarang masuklah dan istirahatlah!’’


Delilah membantunya melepaskan sepatunya dan membaringkannya di tempat tidur.’’Sekarang tidurlah!”


Tidak lama setelah Delilah keluar, Kana langsung terlelap tidur. Wajah mungilnya terlihat begitu damai setelah beberapa hari berkeliaran di jalan tanpa tujuan.


🥀🥀🥀


4 hari yang lalu


Kana terbangun disebuah kamar yang begitu asing dan dia melihat ada banyak anak bersamanya. Kepalanya masih terasa pusing. Kamar besar itu hanya memiliki dua jendela dan kedua-duanya disegel oleh papan kayu yang tidak begitu rapat sehingga sinar matahari masih bisa masuk.


Sebagian dari anak-anak tersebut menangis. Kana berjalan ke arah jendela dan mengintip di balik jendela itu. Pemandangan disekeliling hanya terlihat gunung dan hutan. Rasa takut mulai menyelimutinya. Butiran-butiran air mata mulai jatuh.’’Tante Hera. Tolong aku!’’


BRAAAKK!!!


Pintu terbuka dan beberapa pria bertubuh kekar masuk, membuat Kana dan anak-anak lainnya ketakutan.’’Ayo semuanya berdiri!’’teriak pria berbadan gempal dan botak.Dengan rasa takut mereka semua berdiri dan satu persatu para pria itu membawa anak-anak keluar dan memasukan mereka ke dalam mobil.


Di dalam mobil Kana duduk meringkuk dan tidak bicara satu patah kata pun. Dia berharap semuanya akan segera berakhir dan tidak mau mengalami mimpi buruk seperti ini lagi. Entah sudah berapa lama mobil terus melaju Kana sudah tidak perduli lagi. Dia berharap ada satu kesempatan untuk dapat melarikan diri bersama anak-anak lainnya dari mereka.


Mobil berhenti disebuah bandara yang tidak terlalu besar. Dari kaca jendela Kana dapat melihat seorang pria berjas turun dari sebuah mobil mewah memberikan sebuah bungkusan kepada salah satu penculik.


Anak-anak disuruh keluar dari mobil dan masuk ke dalam pesawat pribadi yang telah disiapkan. Salah satu dari anak-anak itu ada yang menolak naik pesawat dan memberontak. “Lepaskan aku...lepaskan aku....aku tidak mau naik,’’teriaknya.


Pria yang bertubuh tinggi dan berambut gondrong menampar anak itu. kemudian menyeretnya masuk dan mendudukannya di kursi pesawat. Kana hanya diam melihat kejadian itu. Tidak bisa berbuat apa-apa.Air matanya kembali berjatuhan dan beberapa anak juga kembali menangis dan membuat para penculik marah.’’Diam!’’


Anak-anak berhenti menangis dan menatap marah ke arah mereka.Pesawat mulai terbang dan Kana sama sekali tidak tahu kemana pesawat ini akan pergi. Setelah menempuh perjalanan panjang, Kana telah berada disebuah kota yang sangat asing baginya.


Dia keluar dari mobil dan digiring bersama beberapa anak lainnya masuk ke dalam sebuah gudang bekas di dekat pelabuhan.Selama satu hari Kana berada di sana. Sampai suatu ketika ada kesempatan melarikan diri berada di hadapannya. Saat itu beberapa orang yang menjaga mereka sebagian sedang pergi keluar, saat itu Kana mulai merencanakan pelariannya bersama anak-anak lainnya.


Kesempatan itu datang ketika akan makan siang. Saat pintu gudang terbuka dan seorang pria membawa panci besar berisi sup datang, Kana langsung berdiri dari kursinya dan mendorong jatuh pria tersebut dibantu oleh anak-anak lainnya. Pria itu menjerit terkena sup panas. Suasana di dalam gudang menjadi kacau.


Anak-anak lainnya memukul pria-pria lainnya dengan kekuatan yang mereka miliki. Mencakar dan mengigit tangan mereka. Kana dengan sekuat tenaga keluar dari gudang dan berlari kencang, tapi anak-anak lainnya kembali berhasil di tangkap.’’Cepat lari!’’teriak salah seorang anak.


“Cepat kejar anak itu jangan sampai dia lolos.”


“Baik.”


Kejar-mengejar pun berlangsung di pelabuhan. Kana terus saja berlari tanpa mempedulikan rasa lelahnya, yang dia perdulikan sekarang hanya berlari dan berlari secepat mungkin dari para penculik itu. Kana berlari tanpa arah tujuan yang penting saat ini dia dapat lolos dari pria yang mengejarnya. Itulah yang dipikirkannya sekarang. Sudah berapa jauh berlari, Kana pun tidak tahu.


Kana mulai memasuki kota dan dia berusaha untuk mencari tempat tersembunyi. Pria itu masih terlihat mengejarnya.Kana mulai memasuki pemukiman penduduk yang terlihat sepi. Keberuntungan kali ini berada di pihaknya. Dilihatnya sebuah pintu rumah yang terbuka dan tanpa pikir panjang Kana masuk ke dalamnya.


“Di mana anak itu? Aku yakin tadi dia lari ke sini. Sial!’’


Pria itu berlari lagi berusaha mencarinya. Kana dapat bernafas lega ketika pria itu sudah pergi.Tiba-tiba dia dikagetkan oleh suara dari arah belakangnya.’’Kakak siapa?’’tanya seorang anak kecil.


“Maaf. Kakak bukan siapa-siapa. Kakak akan segera pergi dari sini.”


Setelah Kana yakin keadaannya sudah aman, dia pun pergi.


Hari sudah mulai sore dan udara sudah mulai dingin, Kana masih berkeliaran di jalan tanpa tujuan. Perutnya berbunyi setelah tadi berlari tanpa henti dan mulai dirasakan kakinya terasa pegal. Kana melewati sebuah toko roti dan aroma harumnya dapat tercium keluar. Berkali-kali perutnya berbunyi .Kana akhirnya pergi dari depan toko roti dan pergi kesebuah taman.


Dia melihat keran air di sana, tubuh kecilnya langsung menyambar keran tersebut dan minum dengan lahap. Kini pakaian dan tubuhnya sudah terlihat kotor dan tetes-tetes hujan mulai berjatuhan. Kana berusaha untuk mencari tempat berteduh.


Akhirnya dia berteduh disebuah kiosk koran yang berada tidak jauh dari taman. Tubuhnya mulai kedinginan. Air matanya kembali jatuh.Ketika malam tiba Kana tidur di kursi taman dengan perut lapar dan tubuhnya kedinginan. Matanya terpejam sambil mengeluarkan air mata.’’Ayah...Ibu....’’


Dua hari sudah Kana berada dijalanan dengan kondisi tubuh yang lemah. Kepalanya terasa pusing dan jalannya sudah tidak seimbang lagi . Dia berada di pinggir jalan bermaksud untuk menyeberang menuju taman yang berada didepannya, lalu dikagetkan oleh mobil yang meluncur ke arahnya ketika sedang menyeberang. Seketika itu pandangan matanya gelap dan jatuh pingsan. [ ]

__ADS_1


__ADS_2