
5 tahun kemudian
Joshua yang sedang menikmati teh bersama Phillippa di halaman belakang mansionnya sambil memperhatikan Kiana bermain dikejutkan oleh deringan suara ponselnya. Wajahnya mengerut melihat layar ponselnya, melihat nomor yang tidak dkenalnya. Ia ragu-ragu menjawab panggilan itu.
“Halo!”
“Joshua,”panggil seorang pria dari seberang telepon.
“Maaf. Siapa ini?”
“Apa kamu tidak ingat aku lagi? Aku Hendrik MacAllister.”
“Hendrik,”seru Joshua terkejut.
Phillippa memperhatikan suaminya dengan penasaran.
“Bagaimana kabarmu, Joshua?”
“Aku baik-baik saja dan kamu?”
Terdengar hembusan napas panjang dari seberang telepon.
“Hariku sangat buruk.”
“Apa yang terjadi?”
“Istriku meninggal hari ini kemarin.”
“Irene?”
“Iya. Irene meninggal dalam kebakaran.”
“Ya Tuhan. Aku…aku sungguh tidak tahu. Maafkan aku. Aku turut berduka cita.”
“Terima kasih. Kami sudah kembali ke New York. Satu minggu yang lalu. Maaf belum sempat mengabarimu."
“Tidak apa-apa. Aku dan istriku akan ke sana.”
“Baiklah. Terima kasih.”
Joshua menutup teleponnya dengan raut wajah sedih. Ia tidak menyangka Irene akan meninggal secara tragis dalam kebakaran. Sejak 5 tahun yang lalu Hendrik dan keluaganya pindah ke Brimingham, Inggris, karena kesibukan masing-masing, mereka menjadi jarang berkomunikasi dengannya. Terakhir Joshua bertemu dengan mereka, yaitu pada pertunangan Kiana dengan Theoden.
“Joshua, ada apa?”tanya Phillippa.
Joshua tersentak dengan panggilan istrinya.
“Hendrik tadi meneleponku. Ia baru saja memberitahuku, kalau istrinya meninggal dalam kebakaran.”
“ Apaa? Ini tidak mungkin,”seru Phillippa tak percaya.
Phillippa mengenggam tangan suaminya
“Kita akan ke sana sekarang .”
“Tentu saja. Aku akan bersiap-siap dulu.”
Phillippa memanggil Kiana yang sedang asik bermain di halaman dan gadis kecil itu segera menghampiri ibunya.
“Ibu,”panggilnya.
“Ganti pakaianmmu. Kita akan pergi.”
“Pergi kemana?”
“ Kita akan mengunjungi teman ayah di sana.”
Kiana mengangguk dan tangan mungilnya menggenggam tangan ibunya. Phillippa sempat melirik ke arah suaminya sebelum masuk, Joshua masih terdiam dengan raut wajah sedih.
🥀🥀🥀
Kediaman keluarga McAllister
Hendrik masih menatap jasad istrinya di dalam peti mati. Irene terlihat sangat cantik dengan gaun putihnya, meskipun sebagian wajahnya telah rusak karena terbakar. Tetesan air mata kembali membasahi wajahnya. Hatinya terpilin sakit melihat istrinya terbaring sudah tidak bernyawa lagi. Dua hari yang lalu, mereka baru saja merayakan hari pernikahan mereka yang ke-11 tahun.
Hendrik tak menyangkan akan kehilangan istrinya begitu cepat. Di seberang ruangan, ia melihat Theoden, putra satu-satunya dengan Irene terlihat menunduk sedih. Semalaman Theoden menangis memanggil-manggil ibunya dan baru bisa tidur saat menjelang subuh.
Sejak anak itu bangun, Theoden tidak bicara sedikit pun dan hanya tatapan kosong yang ia perlihatkan. Hendrik merasa sangat cemas dengan keadaan anaknya. Theoden sangat dekat dengan ibunya dan anak itu merasa shock kehilangan ibunya secara tiba-tiba.
Seorang wanita bertubuh semampai mengenakan pakaian hitam dengan rambut pirang digelung ke atas menyentuh bahu Hendrik.
“Aku turut berduka cita atas kematian istrimu.”
“Terima kasih, Catherine.”
“Aku sangat terkejut dengan berita kematian Irene padahal aku baru saja bertemu denganya kemarin siang dan kami sempat makan siang bersama. Irene adalah sahabatku dan sekarang aku telah kehilangan dia untuk selamanya.”
Catherine menghapus air matanya dengan saputangan. Ia meletakkan sekuntum bunga mawar putih di peti mati, lalu duduk kembali di samping Hendrik. Seorang wanita muda yang berdiri di sudut ruangan memandang Catherine dengan tatapan tidak suka.
__ADS_1
Sejak ia muncul dikehidupan keluarga MacAllister selalu terjadi masalah dalam kehidupan rumah tangga Hendrik dan Irene.
“Dasar wanita bermuka dua,”gumamnya.
Wanita itu yakin bahwa Catherine merasa senang dengan kematian Irene. Ia tahu niat busuk wanita itu untuk merebut Hendrik dari Irene, tapi sayangnya Catherine terlalu pintar untuk menyembunyikan niatnya itu.
“Kamu masih membenci Catherine?”tanya seorang pria yang membuatnya terkejut.
“Ternyata kamu, Billy.”
“ Catherine adalah wanita yang sangat cantik.”
“Dia memang sangat cantik, tapi hatinya busuk.”
“Dari mana kamu tahu dia memiliki hati busuk?”
“Aku sudah beberapa kali menangkap basah Catherine mencoba menggoda Hendrik, tapi Irene tidak percaya kepadaku. Dia bilang Catherine adalah wanita dan ibu yang baik.”
“Sejujurnya aku juga tidak suka dengannya. Entahlah ada sesuatu dalam diri wanita itu yang membuatku tidak suka.”
“Aku tidak akan memberikan wanita itu mendekati kakakku. Aku tidak rela jika mereka menikah, karena aku yakin Catherine hanya menginginkan uang kakakku saja.”
“Jika memang Catherine seperti yang kamu katakan, aku juga tidak setuju jika Hendrik menikahinya.”
“Kita berdua adalah adiknya. Kita harus menjaga Hendrik dari Catherine.”
Lucinda menatap Catherine dengan pandangan jijik. Ia tidak akan membiarkan wanita itu menikahi kakaknya dan menjadi ibu tiri Theoden, keponakannya. Ia memiliki alasan kenapa ia tidak menyukai Catherine.
Seminggu yang lalu sebelum kematian Irene, Lucinda tidak sengaja mendengar percakapan Catherine yang sedang berkunjung ke rumahnya sedang berbicara dengan seseorang di telepon dan wanita itu mengatakan, ia akan merebut hati Hendrik dari Irene dan menikahinya supaya ia bisa hidup mewah lagi bersama anak perempuannya yang masih berumur 5 tahun.
Catherine Hamilton datang kekehidupan keluarganya 6 bulan yang lalu disebuah acara pesta amal. Di sanalah Hendrik dan Irene bertemu dengan Catherine, janda beranak satu. Suaminya meninggal, karena serangan jantung dan meninggalkan banyak hutang, sehingga semua aset berharganya harus dijual untuk membayar hutang-hutang suaminya dan hanya meninggakan sedikit uang untuk mereka. Lucinda yakin dengan kematian Irene, wanita itu akan lebih gencar mengejar Hendrik.
🥀🥀🥀
Joshua akhirnya tiba di kediaman MacAllister dan pemakaman Irene telah selesai dilaksanakan, ketika ia tiba di sana. Joshua tidak sempat melihatnya untuk terakhir kalinya. Ia memeluk Hendrik begitu mereka bertemu. Hendrik begitu senang melihat Kiana yang sudah tumbuh menjadi gadis kecil cantik.
“Putrimu sangat cantik,”kata Hendrik.
“Terima kasih. Di mana Theoden?”
Theoden tiba-tiba muncul dari belakang Hendrik dengan mata merah habis menangis.
“Hai Theoden! Sekarang kamu sudah besar ya .”
“Senang bisa bertemu dengan Anda lagi Tuan Waldgrave.”
“Aku juga.”
“Benar. Ini Kiana. Kamu ingat tidak, kalian pernah bertemu saat Kiana masih bayi,”kata Phillippa.
“Iya aku ingat. Aku Theoden.”
Theoden menjulurkan tangannya kepada Kiana.”
“Aku Kiana.”
Hendrik kemudian membawa Joshua dan Phillippa ke ruang kerjanya.
“Theo, ajak Kiana bermain.”
“Baik ayah.”
“Ayo Kiana!”kata Theoden.
Kiana mengangguk dan mengikuti Theoden.
Di ruang kerja, Hendrik menceritakan tentang kematian Irene. Kemarin siang Irene temukan meninggal di gudang yang berada di bagian halaman belakang mansionnya. Tidak ada yang tahu kenapa Irene sampai berada di dalam gudang itu dan untuk apa ia berada di sana, karena gudang itu adalah gudang kosong yang sudah tidak dipakai lagi dan rencananya gudang itu akan dirobohkan.
Tidak lama kemudian terjadi kebakaran di gudang itu dan Irene terjebak di dalamnya dan menurut saksi mata dari salah seorang pelayan, bahwa Irene berjalanan sendirian ke halaman belakang dengan terburu-buru dan pada akhirnya ditemukan tewas di dalam gudang.
“Aku tidak tahu kenapa Irene pergi ke sana? Apa yang ia lakukan di sana?”
“Apa kamu sudah memeriksa CCTV?”
“Aku sudah melakukannya dan Irene pada pukul 8 pagi pergi ke gudang dan masuk ke sana. Setelah setengah jam tiba-tiba gudang terbakar dan tidak ada yang tahu apa penyebab gudang itu terbakar.”
“Apa ada orang yang mencurigakan yang datang ke sana sebelum Irene?”
“ Tidak ada. Sekitar gudang tidak ada siapa pun.”
“Apa yang dikatakan polisi?”
“Polisi mengatakan itu hanya konsleting listrik.”
“Jika polisi mengatakan itu, terbakarnya gudang adalah sebuah kecelakaan dan kebetulan istrimu ada di dalam.”
“Aku juga memang berpikir seperti itu. Aku sudah menerima kepergian istriku sekarang semoga Theoden juga.”
__ADS_1
“Theoden pasti akan menerima kepergian ibunya.”
🥀🥀🥀
Kiana dan Theoden sedang makan kue .
“Enak tidak kuenya?”tanya Theoden.
“Sangat enak.”
“Kamu bisa makan bagianku.”
“Ini untukku?”
“Iya ambil saja.”
“Terima kasih.”
Kiana langsung menghambur ke pelukan Phillippa begitu ia melihat ibunya.
“Baiklah. Sudah saatnya kami untuk pulang,”kata Joshua.
“Terima kasih atas kedatangan kalian.”
Joshua mengangguk.” Jaga dirimu baik-baik! Theoden sangat membutuhkanmu .”
“Tentu.”
Sekali lagi mereka berpelukan sebelum akhirnya meninggalkan kediaman keluarga MacAllister. Hendrik menatap kepergian Joshua dengan senyuman sedih.
”Sampai jumpa lagi!”gumamnya.
“Sampai jumpa lagi, Kiana!”kata Theoden.
Hendrik kembali masuk dan Lucinda melihat kedatangan Catherine dari ruangan lain dan segera menemui Catherine. Wanita itu tersenyum melihat Lucinda.
“ Hai Lucinda!”
“Apa maumu?”tanya Lucinda dengan suara ketus.
“Aku ingin bicara denganmu.”
Lucinda menautkan kedua alisnya, merasa penasaran apa yang akan dikatakan oleh Catherine.
“Baiklah. Ikuti aku!”
Lucinda membawa Catherine ke kamarnya yang didominasi oleh warna cream dan pink di lantai dua, lalu ia menutup pintu.
“Jadi apa yang kamu inginkan?”tanya Lucinda.
“Aku ingin menikah dengan kakakmu, Hendrik.”
Lucinda membelalakan matanya, ia tidak menyangka Catherine akan seberani itu untuk menyatakan keinginanannya.
“Kamu sudah gila.”
“Aku tidak gila. Sejak aku bertemu dengan Hendrik, aku mencintainya.”
“Bohong. Kamu hanya mencintai harta kakakku.”
“Terserah apa katamu, tapi yang jelas aku tidak akan menyerah dengan keinginanku. Theoden butuh seorang ibu.”
“Tapi aku tidak rela, jika kamu menjadi ibunya,karena kamu bukan wanita baik-baik.”
Catherine tersenyum.” Terserah apa katamu, Lucinda. Aku tidak seperti yang kamu pikirkan. Sejak pertama kali kita bertemu, kamu memang tidak pernah menyukaiku. Kamu selalu berprasangka buruk terhadapku.”
“Tapi kamu memang memiliki niat jahat terhadap keluargaku.”
“Bagaimana denganmu?”
“Apa maksudmu?”
Catherine semakin mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Lucinda.
“Kamulah yang telah membunuh Irene.”
Tubuh Lucinda membeku dan wajahnya menjadi pucat.
“Jangam menuduh sembarangan! Mana mungkin aku membunuh kakak iparku sendiri. Kamu sudah gila.”
“ Kemarin pagi, aku melihatmu bertengkar dengan Irene di gudang. Kalian bertengkar dan kamu membakar gudang itu dengan merusak listrik. Aku tidak tahu apa yang kalian pertengkarkan saat itu yang jelas Irene sangat marah kepadamu.”
“Aku tidak melakukannya.”
“Kamu masih menyangkalnya juga. Baiklah. Aku memilki bukti kejahatanmu dan aku akan memberitahu Hendrik soal ini.”
“Jangan lakukan itu!”
__ADS_1
Catherine tersenyum penuh kemenangan.”Jadi kamu mengakui perbuatanmu, Lucinda.”
Lucinda mengangguk dengan gugup. [ ]