
Satu minggu yang lalu
Joshua menemui ayahnya pada malam harinya setelah ia pulang dari rumah sakit untuk melakukan tes DNA. Thomas sedang menikmati makan malamnya. Pria itu tidak merasa sesak napas lagi. Joshua bersyukur karenanya. Keadaan ayahnya sudah menjadi lebih baik. Selama bertahun-tahun ayahnya mengidap penyakit asma dan beberapa tahun terakhir ini asmanya sering kambuh dan sudah tidak bisa melakukan pekerjaan berat lagi. Joshua duduk di samping tempat tidurnya.
"Maaf atas kejadian sore tadi. Aku tiba-tiba mengambil rambut ayah."
"Kamu apakan rambutku?"
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu nanti akan aku jelaskan semuanya. Bagaimana kabar ayah?"
"Sudah lebih baik dan mungkin ayah bisa berjalan-jalan sebentar di taman besok pagi. Bagaimana pekerjaanmu di kantor dan sekolah musik?"
"Semuanya berjalan lancar termasuk dengan persiapan konser piano Barbara."
"Bagus.Ayah senang kamu berhasil membuat Barbara mentanda tangani kontrak dengan perusahaan kita." Thomas terdiam seperti mempertimbangkan sesuatu, lalu ia berkata,"Aku ingin kamu menikah dengan Barbara."
"Menikah dengan Barbara?"ulangnya dengan ekspresi wajah terkejut.
"Benar. Dia wanita yang pantas dijadikan istrimu. Dia cantik, baik dan terlebih lagi keluarganya seorang pengusaha kaya, jika kamu menikah denganya akan sangat menguntungkan kita. Pikirkan itu."
"Aku tidak mencintainya."
"Sudah kuduga kamu akan berkata seperti itu. Jangan katakan kamu masih mencintai wanita itu."
"Jika yang ayah maksud Genevieve, aku masih mencintainya, tapi dia sudah meninggal."
Thomas nampak terkejut."Maaf. Ayah tidak tahu."
"Aku akan menikah dengan wanita yang kucintai."
"Cinta akan datang sendirinya, jika kalian sudah menikah. Orangtua Barbara sudah menyetujui, jika anak perempuan mereka menikah denganmu. Jika kamu setuju, mereka akan menyiapkan pertunangan kalian secepatnya. Ayah ingin melihatmu menikah dan memberikan cucu untuk ayah. Ayah sudah tua dan mungkin umur ayah tidak lama lagi. Kamu juga sudah berumur 38 tahun sudah waktunya menikah."
"Aku tahu itu."
"Pikirkan kata-kata ayah. Sekarang ayah ingin beristirahat dulu."
Joshua meninggalkan ayahnya, lalu ia pergi ke kamarnya dan memikirkan kata-kata ayahnya.
🎵🎵🎵
Hari konser pun tiba Joshua dan sekretarisnya memasuki gedung pertunjukkan dimana konser piano akan diadakan. Mereka masuk ke aula konser dan sudah dipadati oleh banyak penonton. Joshua dan sekretarisnya menempati kursi paling depan. Semua penonton bertepuk tangan, ketika para pemain musik mulai berdatangan ke panggung. Barbara duduk di depan piano dan ia sempat memberikan senyuman manisnya ketika melihat Joshua.
"Aku yakin Barbara sudah jatuh cinta kepadamu. Tadi dia memberikan senyuman termanisnya untukmu,"bisik Sandra.
Joshua memberikan pelototan kepada Sandra."Kamu bisa diam tidak sebentar lagi acaranya akan dimulai."
Sandra mendengus kesal."Aku yakin sebentar lagi dia akan menyatakan cintanya kepada Anda."
"Sandraaa..."serunya gemas.
"Baik. Aku akan diam. Tapi jika apa yang aku katakan benar, Anda harus mentraktirku jalan-jalan."
"Kamu ini."
"Aku akan diam."
Suara musik mulai menggema diseluruh aura dan Barbara mulai memainkan musik gubahan Liszt La Campanella. Semua penonton dibuat terhanyut olehnya dan seakan-seakan mereka lupa cara bernapas. Semua penonton berdiri dan memberikan tepukan tangan yang langsung bergemuruh diseluruh sudut ruangan aula, ketika musik selesai dimainkan.
"BRAVO!"teriak para penonton.
__ADS_1
"Dia bermain dengan sangat hebat, bukan?"tanya Sandra.
"Barbara sudah bermain dengan sangat baik, tapi meskipun begitu gadis itu bisa bermain lebih baik."
"Siapa?"
"Kamu ingin tahu saja."
Setelah istirahat sejenak konser kembali dimulai dengan musik gubahan Ravel Miroirs no.4 dan Barbara kembali menunjukkan kemampuannya bermian piano dan ia mendapatkan tepukan tangan meriah dari penonton untuk kedua kalinya. Setelah konser berakhir, Joshua menemuinya di belakang panggung ditemani oleh Sandra.
Barbara terlihat sangat senang ketika Joshua datang menemuinya. Ia langsung berjalan mendekatinya.
"Permainan pianomu sangat bagus."
"Apa Anda menyukainya?"
"Tentu saja."
"Aku senang mendengarnya. Itu sudah cukup bagiku."
"Selamat untukmu!"
"Terima kasih."
Tanpa mengatakan apa pun lagi Joshua kembali ke aula depan dan menyalami beberapa tamunya atas kesuksesan acaranya. Satu hari setelah konser Barbara datang menemuinya di kantor. Ia terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Joshua mempersilahkannya duduk dan memesankan jus jeruk untuknya kepada Sandra.
"Ini suatu kejutan kamu datang menemuiku."
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan Anda."
"Baiklah. Apa yang ingin kamu bicarakan denganku."
"Aku mencintai Anda."
Joshua terkejut, tapi kemudian ia dapat menguasai dirinya lagi.
"Ini sungguh tak terduga."
Mau tak mau Joshua mengakui tebakan Sandra benar kalau Barbara telah jatuh cinta kepadanya, tapi meskipun begitu ia tidak bisa menerima perasaannya begitu saja.
"Terima kasih sudah mau mencintaiku. Aku senang. Tapi saat ini aku belum bisa menjawabnya. Maafkan aku."
Barbara terlihat kecewa."Tidak apa-apa. Aku mengerti. Anda butuh waktu dan aku akan memberikannya."
Tidak lama kemudian Sandra datang membawa jus jeruk. Barbara memiumnya pelan-pelan.
"Aku harap Anda segera memberikan jawabannya."
"Tentu."
Barbara beranjak dari kursinya dan berpamitan pulang."Terima kasih sudah meluangkan waktu untukku. Sampai jumpa."
Setelah Barbara pergi, Sandra langsung mendekati bosnya."Benar kan yang aku katakan pada Anda." Sandra memasang senyum kemenangan.
"Ya. Kamu benar.Puas?"
"Anda harus mentraktirku jalan-jalan."
"Aku tidak menjanjikan apa pun kepadamu. Sekarang tinggalkan aku."
__ADS_1
"Baik."
Baru saja Sandra akan keluar, Joshua memanggilnya kembali."Dari mana kamu tahu Barbara menyatakan cinta kepadaku, sedangkan kamu berada di luar?"
"Maaf Pak. Tadi aku menguping."
"Kamu ini. Sekarang pergilah!"
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Joshua satu minggu yang lalu. Ia masih memikirkan kata-kata ayahnya untuk menikahi Barbara mungkin ia bisa mencintainya setelah menikah dengannya.
"Masuk!"
"Maaf Pak. Ada seorang wanita yang bernama Rosalind Du Coudry yang ingin menemui Anda."
"Rosalind,"serunya terkejut."Suruh dia masuk!"
Sandra keluar dan kemudian Rosalind muncul dari balik pintu. Joshua berdiri dan langsung menyalaminya." Maaf kedatangan saya menganggu Anda."
"Tidak apa-apa. Kita sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kabar Anda?"
"Saya baik,"jawab Rosalind."Sepertinya Anda juga baik-baik saja."
"Aku baik-baik saja. Ada yang bisa kubantu?"
"Saya menemukan surat ini di kamar Genevieve ketika saya sedang membereskan barang-barangnya lagi yang akan diberikan kepada orang lain."
Joshua mengambil surat itu dari tangan Rosalind dan memperhatikan amplop surat itu
"Surat itu ditujukan untuk Anda. Sepertinya belum sempat dikirimkan."
"Terima kasih sudah mau mngantarkannya kepadaku."
"Mungkin isinya penting jadi saya mengantarkannya ke sini. Saya permisi dulu."
Rosalind beranjak berdiri, lalu keluar. Sandra mempehatikan tamu bosnya dengan heran.
"Siapa wanita itu?"
"Kamu selalu ingin tahu saja. Dia pelayan keluarga Bellamare."
Sandra mengangguk mengerti.
"Aku ingin minta pendapatmu tentang Barbara,"kata Joshua.
"Silahkan!"
"Apa aku harus menikah dengannya?"
"Kalau Anda mencintainya kenapa tidak."
"Aku tidak mencintainya."
"Kalau begitu Anda jangan menikah dengannya."
"Bagaimana kalau mulai mengencaninya dulu siapa tahu aku jatuh cinta kepadanya?"
"Itu terserah Anda, jika itu membuat Anda nyaman dan untuk lebih mengenalnya."
"Baiklah. Sekarang kamu boleh pergi."
__ADS_1
Joshua kemudian duduk di belakang meja kerjanya dan membuka amplop surat yang diberikan Rosalind kepadanya. Isi surat itu hampir membuat Joshua terkena serangan jantung. [ ]