
Theoden memsuki ruang makan. Seluruh keluarganya telah berkumpul di ruang makan termasuk Lucinda yang selama ini selalu absen untuk makan bersama. Lucinda tidak berani menatap Theoden saat pria itu masuk. Theoden duduk di samping ayahnya. Suasana makan malam sangat hening. Tidak ada satu pun yang bicara. Sesekali Theoden memperhatikan Lucinda dan Catherine. Ia tahu mereka nampak gugup.
Setelah selesai makan malam, Theoden meminta ayahnya, Lucinda, dan Catherine untuk bicara. Wajah Lucinda dan Catherine langsung pucat. Mereka sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh Theoden.
“Apa yang ingin kamu katakana kepada kami?”tanya ayahnya.
“Ini mengenai ibu.”
“Irene?”tanya ayahnya.
Theoden mengangguk.
“Ibu meninggal, karena dibunuh.”
Hendrik sangat terkejut apa yang dikatakan oleh Theoden.
“Apa maksudmu bahwa Irene dibunuh?”
“Iya ayah. Ibu telah dibunuh,”kata Theoden dan pandangan matanya tidak lepas dari Lucinda dan Catherine.
“Katakan oleh siapa?”
“Bibi Lucinda.”
“Apaaa?”kata Hendrik terkejut dan tidak percaya.
Theoden kemudian menceritakan kepada ayahnya tentang kecurigaan bahwa ibunya telah dibunuh oleh Lucinda dan kenapa Lucinda membunuhnya.
“Aku tidak percaya ini,”teriak Hendrik.
Hendrik langsung mendekati Lucinda.
“Kamu tega sekali membunuh Irene, karena dia mengetahui perbuatan kotormu mencuri uang perusahaan.”
“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membunuhnya. Saat itu aku sangat panik, jadi aku…”
“Jadi kamu membunuhnya,”kata Hendrik.
Lucinda menangis dan tubuhnya gemetar.
“Maafkan aku.Maafkan aku.”
Lucinda berlutut di depan kakaknya.
“Selama ini aku selalu dihantui oleh rasa bersalah dan aku sangat menyesalinya.”
“Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu ini, Lucinda,”kata Hendrik.
“Aku akan membayar perbuatanku ini, tapi aku mohon maafkan aku.”
Hendri hanya diam dan menatap marah kepada Lucinda dan tidak lama kemudian polisi datang menangkap Lucinda dan juga Catherine. Hendrik terkejut Catherine ikut ditangkap juga. Theoden pun memberitahu bahwa Catherine selama ini menutupi perbuatan Lucinda supaya dapat menikah dengan ayahnya. Hendrik begitu marah pada Catherine.
“Kamu...”serunya marah.
“Maafkan aku, Hendrik.”
“Selama ini kamu sudah menipuku. Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi. “
“Aku mohon maafkan aku dan jangan biarkan mereka menangkapku.”
“Aku akan menceraikanmu.”
“Tidak.Kamu tidak boleh melakukan itu. Tidak boleh,”kata Catherine panik.
“Bawa dia!”perintah Hendrik pada para polisi.
“Lepaskan aku!”teriak Catherine.
Hendrik memegang dadanya dan merasa kesakitan. Theoden cepat-cepat memberikan obat jantung kepada ayahnya.
“Ayah baik-baik saja?”
Hendrik mengangguk dan ia menyandarkan tubuhnyadi kursi. Ia sama sekali tidak menyangkan adik dan istrinya tega berbuat jahat kepadanya. Selama ini ia sudah mempercayai mereka berdua.
“Aku tahu semua ini pasti membuat ayah terkejut. Awalnya aku juga tidak percaya, tapi setelah melihat bukti yang ada mau tidak mau aku harus mempercayainya. Bibi Lucinda memang sudah tega membunuh ibu.Aku belum bisa memaafkan perbuatannya, karena dia aku telah kehilangan sosok seorang ibu.”
“Maafkan aku, Theo!”
“Ayah tidak perlu meminta maaf. Sekarang semuanya sudah berakhir. Ibu dapat beristirahat dengan tenang, karena pembunuhnya telah ditangkap.”
“Kamu benar. Mulai sekarang kamu harus memikirkan kebahagianmu sendiri. Pernikahanmu akan dilangsungkan sebentar lagi. Ayah harap kamu hidup bahagia dengan Kiana.”
“Tentu, Ayah.”
Theoden mengantarkan ayahnya ke kamar dan meninggalkannya setelah ayahnya tertidur. Ia menghembuskan napas panjang sebelum menutup pintu kamar.
🥀🥀🥀
Kiana sedang berada di butik pengantin dan sibuk memilih gaun untuk dikenakan dipernikahannya nanti. Ia sudah mencoba berbagai macam model gaun, tapi masih belum memutuskan untuk memakai gaun yang mana. Kiana menyukai semua gaun yang sudah dicobanya.Sementara ia masih memilih-milih gaun pengantinya, Theoden sudah memutuskan pakaian yang akan dikenakannya nanti, yaitu toxedo berwarna putih. Theoden melihat Kiana yang sedang kebingungan memilih gaun.
“Putuskan gaun yang akan kamu kenakan nanti!’’
Akhirnya Kiana memilih gaun berlengan sangat pendek dengan sedikit renda di leher dan tangan, kemudian ia kembali mencoba gaunnya dan diperlihatkannya pada Theoden. Theoden terpesona melihat Kiana yang begitu cantik dalam balutan gaun pengantinya.
“Aku suka gaun itu."
Wajahnya merona merah dan pelayan butiknya juga ikut tersenyum.Setelah selesai mengepas pakaian pengantin mereka berdua pergi ke sebuah restoran untuk makan siang yang jaraknya tidak begitu jauh dari butik pengantin. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan dan wajah mereka terlihat gembira.
Dikejauhan gerak-gerik mereka di awasi oleh seorang pemuda tampan bernama Scott Foster. Scott adalah teman sekolah Kiana dulu dan baru saja kembali dari Inggris. Scott jatuh cinta kepada Kiana, tapi gadis itu tidak pernah mempedulikannya.
Perasaannya pada Kiana tidak berubah dan tetap mencintainya. Ia bertekad setelah kembali ke Amerika, ia akan memberitahukan perasaannya pada Kiana, tapi setelah ia mengetahui Kiana akan segera menikah, Scott shock mendengarnya. Ia tidak percaya Kiana akan menikah dengan pria lain. Ada rasa penyesalan yang begitu dalam di hatinya. Ia menyesal kenapa dulu dia tidak memperjuangkan cintanya.
Scott tidak sengaja melihat mereka di sebuah butik pakaian pengantin. Ia melihat Kiana dan calon suaminya terlihat sangat bahagia terutama dengan Kiana. Scott turun dari mobilnya dan mengikuti mereka berdua dari belakang. Kiana masih bersikap manja pada calon suaminya dan dia bergelayutan di lengan calon suaminya yang kokoh. Mareka memasuki sebuah restoran dan Scott pun ikut masuk. Ia duduk tidak jauh dari mereka sambil memperhatikan mereka.
Kiana dan Theoden mulai melihat-lihat daftar menu. Ia mengerenyitkan dahi membaca semua daftar menu di sana dan terlihat kebingungan dan Theoden pun tersenyum.
“Sudah kamu putuskan mau makan apa?’’
’’Belum. Aku sama sekali tidak mengerti semua tulisan menu ini.Aku tidak bisa bahasa perancis,”jawab Kiana sambil membaca menu.
Kiana meletakan daftar menu itu di meja.
“Kalau mau aku akan memilihkan makanan untukmu.”
“Terserah kamu saja.”
Theoden memanggil pelayan dan memesankan makanan mereka.Tidak lama kemudian makanan yang mereka tunggu datang. Theoden memesan makanan escargot dan coq au vin untuk Kiana, sedangkan dirinya memesan makanan caille en sarchopage. Mereka terlihat sangat menikamati makanan yang disajikan dan Scott memperhatikan semuanya.
“ Kiana, kamu terlihat sangat bahagia. Bila kamu benar-benar bahagia aku akan merelakanmu bersama dengan pria yang kamu cintai’,’katanya dalam hati.
Scott mulai menitikkan air matanya. Theoden mengelap bibir Kiana yang dipenuhi saus. Kiana tersenyum dan wajahnya sedikit merona.
“Kamu makan seperti anak kecil saja,’’katanya sambil memasang senyuman jahil.
Kiana cemberut, lalu Theoden mengacak-acak rambutnya.
“Habiskan makanamu!’’perintahnya sambil memasukan makanan ke dalam mulutnya.
Kiana makan dengan lahap dan dalam beberapa menit makanannya sudah habis tidak bersisa.Setelah selesai makan Theoden mengajaknya jalan-jalan disekitar taman sambil menikamati semilir angin. Theoden menggenggam erat tangan Kiana dan mengajaknya sedikit menjauh dari taman.
“Kita ke sana.”
Kiana melihat arah yang ditunjukan oleh Theoden dan Kiana menganggukan kepalanya. Mereka mulai berjalan diantara semak-semak pepohonan yang masih rapat-rapat.
Mereka berjalan sedikit menanjak dan dikiri kanan terdapat pepohonan yang rimbun dan mereka mulai menembus hutan kecil. Terdengar suara burung berkicau. Kiana melihat ke sekelilingnya. Ditanah terlihat titik putih sinar matahari yang tidak sepenuhnya dapat masuk, karena terhalang oleh rimbunan pohon.
Kiana mulai mengenali pepohonan disekitarnya. Ada pohon spruce, mangga, dan pakis-pakis yang batangnya sangat tinggi menjulang kelangit solah-olah membentuk suatu atap untuk jalanan yang mereka lalui. Sinar matahari mulai terlihat jelas, karena sekarang mereka berdua beradi di tepi hutan, Angin mulai bertiup kembali dan membuat rambut Kiana dan Theoden bergerak-gerak.
Langit dan lapangan hijau terbuka nampak begitu menyala seolah bukan warna di alam nyata. Kiana merasakan keindahan yang sulit diterangkan dengan kata-kata. Ia menatap Theoden dan berpikir alangkah dan menarik wajah Theoden ditengah warna biru dan hijau di sekeliling mereka.
“Pemandangannya indah,’’kata Kiana.
__ADS_1
“Benar kan apa yang aku katakan.”
“Kamu sering datang kesini?’’
“Tidak juga."
“Sendirian?’’
Theoden menoleh ke arah Kiana dan membelai pipinya.
“Menrutmu aku datang dengan siapa?’’
“Mungkin dengan mantan pacarmu.’’
Theoden tersenyum.
“Kamu pertama kalinya yang aku ajak ke sini.”
“Benarkah?’’
“Itu benar. Kamu cemburu ya kalau aku mengajak wanita lain k esini?’’
“Aku tidak cemburu,”sangkal Kiana.
“Sejak saat pertama kali aku melihatmu, ketika aku melangkah ke arahmu dan aku sangat yakin aku telah menemukannya.”
“Menemukan apa?’’tanya Kiana tidak mengerti.
Theoden menatap Kiana sebentar.
“Ah bukan apa-apa. Lupakan saja!”
“Aku tidak akan memaksamu untuk mengatakannya.”
Kiana memasang wajah cemberut. Ia menatap Theoden. Saat ini Kiana sedang merasakan cinta di hatinya, di dalam tarikan nafasnya dan di dalam setiap denyut nadinya. Cinta terhadap seorang pria yang dulu tidak dikenalnya dan sekarang pria itu telah menjungkir balikan kehidupannya, pria yang telah membawanya kebahagiaan tidak terhingga, pria yang telah merubah dunianya menjadi semakin berwarna sejak pertemuan pertamanya.
Kiana menatap Theoden lekat-lekat.
Hanya denganmu aku dapat merasakan kebahagiaan
Hanya denganmu aku bisa hidup
Hanya denganmu aku bisa menjadi wanita seutuhnya
Hanya denganmu aku mampu melewati semua permasalahan dalam hidupku
Kiana menghembuskan napas panjang.”Andai saja Theoden tahu perasaanku yang sebenarnya,”bisik hati Kiana.
Theoden tersenyum lembut dan mengacak-acak rambut Kiana yang sudah berantakan tertiup angin.”Andai saja Kiana tahu perasaanku yang sebenarnya, bahwa aku sangat mencintainya,”bisik hati Theoden.
“Sebaiknya kita pulang. Ini sudah sore.”
Kiana menanggukan kepalanya dan mereka pergi dengan bergandengan tangan. Mereka berdua lalu pulang dengan wajah yang masih dihiasi oleh keceriaan.Mereka tidak menyadari Scott terus memperhatikan mereka berdua.
“Sekarang aku sudah sangat yakin kalau mereka saling mencintai. Aku harap kamu bahagia dengannya. Selamat tinggal!”
Scott menyalakan mesin mobilnya dan meluncur pergi.
🥀🥀🥀
Theoden mengantarkan Kiana sampai rumahnya.
“Kamu tidak akan masuk dulu?”
“Tidak. Lain kali saja.”
Kiana nampak sedih. Seketika Theoden merasakan pusing di kepala dan hampir jatuh.
“Theoooo,” teriak Kiana cemas.
Kiana menghampirinya dan membantu Theoden berdiri kemudian mendudukannya di kursi.
“Theo, kamu tidak apa-apa?’’tanya Kiana cemas.
“Kepalaku pusing tiba-tiba.”
“Theo, sebaiknya kamu segera istirahat.”
Kiana terlihat begitu cemas dengan keadaan Theoden dan berkali-kali memeriksa keadaanya. Pelayan membawakan segelas air putih untuk Theoden atas perintah Kiana dan dengan sekali teguk air itu langsung habis. Theoden segera menghubungi rumahnya dan menyuruh sopirnya untuk menjemput.
Masumi duduk dikursi sambil menunggu jemputan datang. Tidak lama kemudian sopir pribadi Theoden.
“Aku pergi dulu. Sampai jumpa!”
Theoden melangkah pergi diiringi oleh suara tertutupnya pintu mansion. Kiana nampak cemas keadaan Theoden.
🥀🥀🥀
Keesokan paginya kepala Theoden terasa pusing lagi dan wajahnya pucat. Sebelum pergi ke kantor dia menyempatkan untuk pergi ke rumah sakit.Di sana dia harus menunggu agak lama, karena pasien lumayan banyak.
Theoden dari tadi terus melihat jam tangannya dan sudah benar-benar terlambat datang ke kantor. Dia mengambil ponselnya dari dalam jasnya dan segera menghubungi Carrie, sekretarisnya, kalau dia akan datang terlambat, dan akhirnya Theoden memasuki ruang dokter dan mengatakn keluhan sakitnya,kemudian dia harus melakukan berbagai macam serangkaian pemeriksaan yang banyak menyita waktunya sampai waktunya makan siang.
Theoden baru menyelesaikan pemeriksaan di rumah sakit. Di duduk disalah satu koridor rumah sakit.
“Akhirnya selesai juga. Aku tidak menyangka akan menjalani berbagai macam pemeriksaan. Aku sudah benar-benarr terlambat, pasti pekerjaanku di sana sudah menumpuk dan Carrie akan mengomeliku.”
Theoden menyandarkan kepalanya ke dinding sambil memejamkan mata sebentar. Theoden beranjak dari kursinya dan pergi. Ketika dia menuruni tangga ekskalator, dia melihat Scott sedang menaiki tangga ekskalator.
“Scott,”gumamnya.
Theoden terus menatapnya sampai dia naik keatas. Scott tidak sadar Theoden melihatnya.
“Apa yang dia lakukan di sini? Apa dia sudah kembali dari Inggris? Kapan dia kembali?’’
Hati Theoden mulai resah, karena Scott telah kembali ke Amerika dan dia mulai takut, jika pria itu akan mengambil Kiana darinya. Rasa cemburu mulai kembali menjalari tubuhnya. Ia tahu, pria itu adalah pria yang selalu mengejar-ngejar Kiana, ketika mereka masih sekolah. Menurut informasi Scott melanjutkan kuliah di Inggris.
Theoden menoleh ke belakang menatap Scott sesaat dan kemudian keluar. Sopirnya telah menunggu di depan pintu.
“Ke kantor!’’perintah Theoden.
Setelah tiba di kantor Carrie telah menunggunya dan memberikan setumpuk pekerjaan pada Theoden. Dia menghempaskan tubuhnya di kursi dan menyandarkan kepalanya di kursi dan menghela nafas panjang.
“Apa Anda kurang sehat hari ini?’’
“Sepertinya begitu.”
“Sebaiknya Anda istirahat saja di rumah,’’saran Carrie.
“Tidak. Pekerjaanku masih banyak dan sebentar lagi aku akan disibukan persiapan pernikahanku, jadi mungkin nanti aku akan jarang pergi ke kantor.”
“Kelihatannya Anda tidak bersemangat hari ini. Apa ada yang menganggu pikiran Anda?’’
“Aku tadi melihat Scott di rumah sakit’’
“Maksud Anda dia sudah kembali?’’
Theoden menanggukan kepalanya.
“Jadi itu yang menganggu pikiran Anda.”
“Aku tidak menyangka dia akan kembali lagi ke sini. Aku takut dia akan merebut Kiana dariku.”
“Anda tidak perlu mencemaskan itu. Sebentar lagi nona Kiana akan menjadi milik Anda secara resmi.”
“Kamu benar. Bagaimana dengan perasaan Scott pada Kiana sekarang? Apa dia masih mencintai Kiana?’’
“Kalau itu saya tidak tahu.”
Theoden kembali menghela nafas panjang.
“Kamu tahu, aku tidak pernah melepaskan Kiana. Tidak akan pernah karena dia hanya milikku seorang. Sekarang kamu boleh pergi.”
__ADS_1
Carrie berbalik dan pergi dari kantor.
🥀🥀🥀
Kiana sibuk mengurusi persiapan pernikahannya . Siang itu Kiana dan ibunya pergi ke hotel untuk melihat sejauh mana persiapan pernikahnnya dan dan juga soal masalah makanan. Kiana yang akan menikah dengan Masumi 2 minggu lagi menjadi semakin sibuk mengurusi segala sesuatunya.
Mereka berdua memasuki sebuah kafe untuk menikamti makan siang dan beristirahat sejenak.
Tidak jauh dari meja Kiana, Scott sedang menikmati makan siang dan laki-laki itu menyadari kehadiran Kiana dan jantungnya berdegup semakin cepat. Kiana terlihat sangat cantik hari ini. Scott sudah berusaha untuk melupakan cintanya pada Kiana, tapi ketika melihat Kiana getar-getar cintanya masih ada. Ternyata dia masih mencintai Kiana.Setelah menghabiskan makannya, Scott mendekati Kiana dan ibunya.
“Siang!’’sapanya ramah.
Mata Kiana terbelalak.
“Scott.”
Kiana memperkenalkan ibunya kepada Scott.
“Senang bisa bertemu dengan kalian.”
“Bukannya kamu masih ada di Inggris?’’
“Aku sudah kembali. Aku dengar kamu akan segera menikah.”
“Itu benar.’’
“Aku ucapkan selamat untukmu.”
“Terima kasih.’’
Kiana tersenyum pada Scott dan membuat jantung pria itu berdebar.
“Ah Kiana,ternyata aku masih mencintaimu. Calon suamimu beruntung sekali mendapatkanmu,’’katanya dalam hati.
“Berapa lama kamu akan berada di sini?’’
“Aku akan tetap tinggal di sini dan tidak akan pergi lagi Ke Inggris.”
“Ternyata begitu. Kamu harus datang pada pesta pernikahanku.”
“Tentu saja.”
“Kamu tidak memesan makanan.”
“Tidak. Aku baru saja selesai makan.”
Kiana kembali memamakan makan siangnya dan Scott terus memperhatikannya. Ibunya memperhatikan Scott yang sedang menatap Kiana makan.
“Kiana, apa masih ada kesempatan untukku untuk mencintaimu kembali dan apakah masih ada kesempatan kamu akan kembali padaku,”kata Scott dalam hati.
Tiba-tiba ponsel Kiana berbunyi dan wajahnya terlihat senang.
“Halo Theoden!’’
Scott merasa tidak suka melihat wajah Kiana senang menerima telepon dari calon suaminya .Ada rasa cemburu dihatinya .
“Baik aku akan segera kesana setelah menyelesaikan makan siangku. Sampai jumpa!”
Kiana melihat Scott sedang melamun.
“Scott, ada apa?’’
“Ah tidak apa-apa. Sebaiknya aku pergi masih ada yang harus ku kerjakan. Sampai jumpa!”
Kiana menatap kepergian Scott dengan tatapan bingung.
“Kiana,”kata ibunya.
“Ada apa, Bu?’’
“Aku rasa temanmu itu mencintaimu.”
Kiana terkejut dengan perkataan ibunya.
“Itu tidak mungkin. Mana mungkin dia masih mencintaiku. Itu sudah lama sekali. Aku sudah menolak cintanya sewaktu kami masih sekolah dulu.”
“Ibu sangat yakin itu. Cara dia tadi memandangmu. Mungkin cintanya padamu masih belum hilang.”
Kiana hanya diam.
🥀🥀🥀
Theoden sedang serius mengetik beberapa laporan dan tiba-tiba Kiana muncul. Wajah Theoden kembali menjadi berseri.
“Pasti kamu sudah lelah untuk mengurusi persiapan pernikahan kita. Maaf aku tidak bisa menemanimu.”
“Kamu tidak perlu meminta maaf.”
“Apa tadi ibumu menemanimu?’’
“Iya. ibu menemaniku dan kami juga bertemu dengan seseorang di sana.”
“Seseorang?’’tanya Theoden heran.
“Aku bertemu dengan Scott.”
Wajah Theoden langsung menegang dan mengeras.
“Kalian bicara apa?’’
“Kami tidak bicara apa-apa. Hanya saling menyapa dan aku mengundang dia pada pesta pernikahan kita.”
“Hanya itu saja?’’Ada rasa tidak percaya dalam nada suaranya.
“Iya hanya itu saja.Tunggu kamu cemburu ya?”kata Kiana tersenyum.
“Tidak,” jawabnya singkat.
Kiana merasa kecewa berharap Theoden punya rasa cemburu.
🥀🥀🥀
3 hari kemudian
Kiana dan Theoden tidak saling bertemu sejak pertemuannya di kantor Theoden. Mereka berdua sibuk dengan pekerjaannya masing –masing. Theoden sibuk mengurusi pekerjaannya di kantor, sedangkan Kiana sibuk mempersiapkan pesta pernikahannya. kiana pulang dengan wajah lelah.
“Selamat datang!”
“Theoden,”serunya terkejut. “Aku senang kamu datang.”
Theoden masih menatap Kiana. Dia begitu merindukan wanita yang ada dihadapannya sekarang.
“Ada apa kamu datang ke sini?”
“Aku ingin bertemu dengan calon istriku.”
“Hanya itu.”
“Iya.”
Kiana mengerutkan dahinya dan memandang heran Theoden.
“Sepertinya aku harus segera pulang ini sudah sore. Aku tidak ingin menganggu istirahatmu lagi.”
Kiana mengantarkan Theoden sampai depan pintu.
“Sampai jumpa!’’
“Sampai jumpa!”
Theoden menaiki mobilnya dan ketika akan mengemudikan mobilnya, ponselnya berbunyi.
__ADS_1
“Baik aku akan segera ke sana.” [ ]