Knight in Shinning Suit

Knight in Shinning Suit
(S2): Pertemuan keluarga


__ADS_3

Kana terbangun dengan nafas memburu. Dia melihat kesekeliling ternyata dia berada disebuah kamar yang cukup besar untuknya dan dia kembali teringat pertemuannya dengan seorang kakek yang baik hati menolongnya dan mengajaknya untuk tinggal di rumahnya.


Langit sudah gelap, Kana turun dari tempat tidur dan membuka pintu jendela ke arah balkon. Angin sejuk menerpa wajah dan tubuhnya. Wajahnya melihat ke atas dan merasa takjub.Langit malam yang bertaburan bintang begitu mempesona dirinya. Kemudian dia melihat dua bintang yang paling terang memancarkan sinarnya begitu kuat. Air matanya kembali jatuh.


“Kana,’’panggil seseorang dari belakang.


“Kakek Thomas.”


Kana cepat-cepat menghapus air matanya.’’Apa yang kamu lakukan di sini?’’


“Tidak melakukan apa-apa hanya melihat bintang saja, karena malam ini bintangnya sangat banyak.”


Thomas melihat ke atas dan ternyata benar bintang malam ini terlihat banyak tidak seperti biasanya.


“Lihat kedua bintang yang paling terang itu. Aku menganggapnya sebagai Ayah dan Ibuku yang sedang melihatku dari atas sana.”


Thomas mengerutkan dahinya.’’Kana bisa membayangkan senyuman mereka untukku. Ingin sekali aku meraihnya dan memeluk bintang-bintang itu. Mungkin Kana bisa merasakan pelukan hangat seorang Ibu dan Ayah, karena selama ini Kana belum pernah merasakannya.”


Air matanya kembali berjatuhan. Thomas meraih tangan Kana dan membalikkan tubuhnya.’’Sudah jangan menangis lagi! Ayah dan Ibumu pasti sangat merindukanmu juga. Sekarang kita masuk dan kita sama-sama makan malam.”


Kana mengangguk pelan. Sebelum meninggalkan balkon Kana sekali lagi melihat ke langit.’’Selamat malam ayah...ibu...!’’


🥀🥀🥀


Kediaman keluarga MacAllister


Theoden keluar dari mobil dengan wajah yang lelah dan juga terlihat pucat.’’Selamat datang dan selamat malam Tuan!’’sambut para pelayannya.


Hendrik dan juga ibunya tirinya terlihat di ambang pintu tersenyum kepadanya.


“Bagaimana pekerjaanmu hari ini?’’tanya Hendrik.


“Baik. Pekerjaanku sangat baik,”jawab Thoeden dengan suara lelah.


“Kita sekarang makan malam bersama?”tanya Hendrik.


“ Aku sudah merasa lelah dan ingin beristirahat. Besok aku harus kembali ke kantor dan juga mengurus pernikahanku.’’


“Baiklah. Ayah mengerti. Kamu memang terlihat sudah lelah. Istirahatlah!’’


“Selamat malam Bu, Ayah!’’


“Malam !’’jawab mereka bersamaan.


Theoden memasuki kamarnya di lantai dua. Dia langsung naik ke atas tempat tidur dan dilihatnya banyak surat yang sudah menumpuk di meja. Masih dengan mata yang mengantuk Theoden beranjak dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi.Setelah berpakaian rapi, dia mulai memeriksa setiap surat yang datang sambil menikmati secangkir capuccino panas.


Kebanyakan surat berasal dari perusahannya sampai dia menemukan sebuah amplop putih panjang tanpa ada nama pengirimnya. Theoden cepat membukanya, surat itu hanya berisi satu kalimat yang cukup membuatnya terkejut dan juga cemas.


Pembunuh ibumu adalah Lucinda, Bibimu.


Kedua tangannya bergetar. “Ini tidak mungkin.”


Theoden kembali melihat amplopnya dan membolak-balikannya dengan harapan dia dapat mengetahui siapa yang telah mengirimkannya. Tangannya gemetar dan kertas yang dipegangnya terjatuh ke meja. Wajahnya seketika pucat. Ia penasaran siapa kira-kira yang menulis surat ini dan mengatakan kalau Bibinya, Lucinda yang telah membunuh ibunya.


Theoden tidak percaya Bibinya akan tega berbuat jahat kepada keluarganya sendiri. Ia bertekad akan mencari tahu kebenaran isi surat ini. Malam itu Theoden tidur dalam keadaan gelisah dan terbangun pada keesokan paginya dengan nafas memburu seperti orang yang sudah lari puluhan kilometer, lalu kembali berbaring.


🥀🥀🥀


Kana yang sudah bangun keeseokan paginya turun dari tempat tidur. Gadis kecil itu mencari kakek Thomas. Di depan pintu kamar Kana bertemu dengan Kiana. Kiana terkejut melihat ada gadis kecil yang tak dikenalnya berada di rumahnya.


“Halo! Kamu siapa?”tanya Kiana yang sudah berpakaian rapih bersiap-siap untuk pergi bekerja.


“Aku Kana.”


“Kenapa kamu bisa berada di sini?”


“Kakek Thomas sudah menolongku dan membawaku ke sini.”


“Kakek yang membawanya ke sini,”kata Thomas di kursi rodanya.


“Untuk sementara Kana akan tinggal di sini sampai tantenya menjemput pulang.”


“Apa kakek sudah menelepon tanteku?”


“Kakek sudah meneleponnya.”


“Benarkah?”tanya Kiana kegirangan.


Thomas mengangguk. “Sebentar lagi tantemu akan datang.”


Kiana langsung memeluk Thomas.”Terima kasih.”


Thomas membalasnya denga senyuman dan mengelus kepala Kiana dengan sayang.


“Sarapan pagi telah siap,”kata Thomas.


Di ruang makan Kiana makan dengan lahap. Ia sudah lama tidak memakan makanan enak dan mewah. Selama ini ia hanya memakan sup dan roti hampir setiap hari yang diberikan oleh Laurel.


“Apa Ayah dan Ibu belum pulang?”tanya Kiana.


“Sepertinya belum.”


“Apa kakek tahu, kenapa mereka pergi mendadak ke Los Angeles?”


“Kakek tidak tahu.”


“Kenapa kamu tidak menelepon mereka dan menanyakannya?”


“Aku sudah menelepon mereka dan mereka tidak mau mengatakan apa pun. Mereka akan mengatakannya ketika pulang nanti.”


Thomas terdiam.


“Sepertinya akan ada hal penting yang ingi mereka sampaikan.”


“Ya. Mungkin saja. Bagaimana persiapan pernikahanmu?”


“Semuanya berjalan lancar.”


“Kakek harap keputusanmu menikah dengan Theoden tidak salah.”


“Semoga saja. Baiklah. Aku harus segera pergi.”


Kiana bangkit dari kursi dan mengecup kening kakeknya. Sementara itu Kana masih memakan makanannya. Thomas masih memandangi Kana. Seandainya anak kedua Joshua dan Phillippa masih hidup mungkin sebesar Kana. Andai saja Kana adalah cucunya, ia akan sangat senang.


Thomas kembali teringat dengan percakapannya dengan Hera,tantenya Kana. Saat itu menjelang malam.


“Apa benar Anda bernama Mrs. Hera Kyle?”


“Benar. Anda siapa?”


“Saya Thomas Waldgrave. Saya menemuan Kana di jalan.”


“Benarkah? Sekarang Kana di mana?”


“Ada di rumahku di New York.”


“Tapi bagaimana Kana bisa berada di sana?”


“Ada orang yang menculiknya dan Kana berhasil kabur. Untung saya menemukannya.”

__ADS_1


“Anda tidak berbohong, kan?”


“Tentu saja tidak. Aku tahu nomor telepon ini dari Kana. Kalau Anda tida percaya aku akan mengirim foto Kiana bersamaku.”


Thomas kemudian mengirimkan foto Kiana saat sedang bersama dengannya. Foto itu diambil sesaat mereka telah kembali rumahnya.


“Saya sudah melihatnya. Syukurlah dia baik-baik saja. Terima kasih sudah menolongnya. Saya akan datang ke sana besok pagi.”


“Saya menunggu kedatangan Anda.”


Pembicaraan pun berakhir.


🥀🥀🥀


Kemarin malam di kediaman keluarga Kyle


Setelah Joshua dan Phillippa pulang, Hera mendapat telepon dari nomor yang tidak dikenal. Ia terkejut seseorang telah menemukan Kana dan terlebih lagi Kana ditemukan di New York. Ia bersyukur Kana baik-baik saja dan berhasil lolos dari para penculiknya.


Hera kemudian teringat dengan pasangan suami istri yang baru saja datang menemuinya mencari Kana, ia pun segera menghubungi mereka. Sebelum menghubungi mereka, Hera teringat dengan sesuatu, yaitu nama keluar sang Penelepon sama dengan nama keluarga pasangan suami istri yang menemuinya tadi. Ia pikir itu hanya kebetulan saja kalau mereka memiliki nama keluarga yang sama.


Seorang pria menjawab panggilannya.


“Saya Hera Kyle. Aku hanya ingin memberitahu Anda, Kana telah ditemukan.”


“Benarkah? Ada di mana?”


“New York.”


“Terima kasih sudah memberitahu kami. Besok kami akan kembali ke New York.”


“Apa aku bisa ikut dengan kalian? Aku ingin bertemu dengan Kana.”


“Tentu saja.”


“Terima kasih.”


Hera menutup teleponnya. Ia merasa senang akan segera bertemu dengan Kana lagi, meskipun nanti pada akhirnya ia tidak akan bertemu dengannya.


🥀🥀🥀


“Delilah, di mana Kana?’’tanya Thomas kepada salah satu pelayannya.


“Saya tadi melihat nona Kana berada ditaman sedang bermain.”


Thomas pergi kebtaman dan menemukan Kana sedang bermain dengan ikan-ikannya. Ia terlihat begitu senang dan tidak menyadari kehadirannya.


“Kana.”


“Kakek Thomas.’’


Kana berlari mendekatinya.


“Kakek perhatikan kamu terlihat sangat senang. Kamu suka dengan ikan-ikan itu?’’


“Kana suka. Ikannya banyak dan gemuk-gemuk. Aku rasa ikan-ikan itu terlalu banyak makan.”


“Sepertinya kakek harus mengurangi porsi makan ikan-ikan itu agar tidak obesitas.”


Thomas tersenyum geli dan Kana tertawa, lalu beberapa orang berdatangan dengan membawa ember. “Apa yang akan mereka lakukan?’’tanya Kana keheranan.


“Mereka akan membersih kolam ikan itu.”


“Pasti akan membutuhkan waktu lama.”


Kana terlihat sedang berpikir, lalu sebuah ide muncul dikepalanya.


“Kakek tunggu sebentar di sini, Kana mau melakukan sesuatu.”


Kana mendekati salah salah satu tukang kebun dan membisikkan sesuatu dan tidak lama kemudian ia sudah ada bersama Thomas.’’Apa yang sudah tadi kamu lakukan?’’


“Kakek nanti juga pasti tahu.”


Tidak perlu menunggu lama beberapa mobil penyedot air mulai berdatangan dan tidak butuh waktu lama air dikolam menjadi kering. Thomas menatap Kana penuh arti.


“Anak ini,”bisik hatinya.


Thomas lalu teringat pada Joshua kecil yang saat itu melakukan cara yang sama seperti yang Kana lakukan saat ini, lalu Thomas tersenyum.


“Ide yang bagus dengan begini pekerjaan membersihkan kolam akan menjadi lebih cepat. Cara yang kamu lakukan mirip dengan dia.”


“Siapa?’’tanya Kana mengerutkan keningnya.


“Anak kakek.”


Kana mengangguk mengerti ucapan kakeknya.


“Oh ya kakek ingin memberitahumu kalau tantemu akan segera datang ke sini.”


Mata Kana berbinar-binar terlihat senang.’’Benarkah itu ? Tante Hera akan datang keisni?’’


“Benar.”


Kana langsung memeluk Thomas.’’Terima kasih.Kana sayang kakek.”


“Kamu bisa tenang sekarang, nanti setelah Kana pulang jangan lupakan kakek ya?’’


“Kana tidak akan melupakan kakek.”


Thomas tersenyum dan dirinya sendiri tidak tahu dalam waktu singkat ia sudah menyayangi Kana dan sudah menganggapnya seperti cucunya sendiri.’’Andai saja kakek punya cucu sepertimu pasti akan menyenangkan.”


“Kana mau menjadi cucu kakek.”


“Terima kasih Kana. Kakek sangat senang mendengarnya.”


Mereka berdua sama-sama tersenyum dan Thomas mengusap kepala Kana dengan lembut.


Deg!


“Joshua,’’bisik hati Thomas, ketika melihat sorot mata Kana yang mirip dengan Joshua.


“Ada apa kakek?’’


“Tidak ada apa-apa.” Kana memandang Thomas dengan heran.


🥀🥀🥀


Kediaman keluarga MacAllister


Bunyi alarm berbunyi nyaring. Theoden terkejut ketika jam sudah menunjukkan jam 8 pagi. Ia sempat terbangun, tapi ia memutuskan untuk tidur lagi. Alhasil ia bangun terlambat. Ia cepat-cepat bangun dan membersihkan dirinya, setelah berpakaian rapih, ia keluar dari kamar dan bergegas ke ruang makan. Ayah dan ibu tirinya baru saja menyelesaikan sarapan paginya.


“Selamat pagi!”sapa Theoden.


“Pagi!”sapa Hendrik.


Theoden segera menghabiskan sarapan paginya. Di tengah-tengah sarapan paginya, Theoden merasa ragu sejenak. Apa ia harus memberitahu surat tanpa nama yang isinya mengatakan Bibi Lucinda telah membunuh ibunya.


“Ada apa?”tanya Hendrik melihat Theoden berhenti makan.


“Tidak ada apa-apa.”

__ADS_1


Theoden kembali meneruskan sarapan paginya, lalu ia pergi dengan terburu-buru. Sesampainya di depan perusahaan keluarganya, suara klakson mobil mengejutkannya. Sebuah sedan mewah berwarna hitam berhenti di belakang mobilnya. Seorang wanita paruh baya keluar dari mobil sedan tersebut, lalu mendekati Theoden.


“Halo Theoden! Sudah lama kita tidak bertemu.”


“Bibi Mary,”seru Theoden tidak percaya. Bibi Mary adalah adik ibunya. Terakhir kali Theoden bertemu dengannya saat pemakaman ibunya. Bibinya kemudian pergi ke Jepang dan menetap di sana dalam jangka waktu yang lama.


Mary memeluk keponakannya. “Kamu benar-benar sudah dewasa.” Mary tersenyum.


“Sebaiknya kita bicara di kantorku saja.”


Mary langsung duduk di sofa dan pandangannya menyapu seluruh ruangan kantor.


“Bagaimana kabar ayahmu?”


“Kesehatan ayah kurang baik.”


“Kudengar dia menikah lagi dengan teman ibumu.”


“Itu benar. “


“Apa ibu tirimu adalah ibu yang baik?”


“Tentu. Kenapa Bibi menanyakan itu?”


“Tidak apa-apa hanya ingin tahu saja. Kamu tahu kan banyak ibu tiri yang jahat.”


Theoden tersenyum.


“Selama ini Catherine sudah bersikap baik kepadaku.”


“Itu bagus. Aku datang menemuimu ke sini, karena ada yang ingin Bibi katakan kepadamu.”


“Apa?”


“Akulah yang telah mengirim surat tanpa nama kepadamu.”


“Apaaa?”seru Theoden terkejut.


“Apa kamu sudah menerimanya?”


“Aku sudah membacanya. Apa Bibi serius dengan tuduhan bahwa Bibi Lucinda yang sudah membunuh ibuku?”


“Iya.”


“Aku tidak percaya ini. Tapi bagaimana bisa Bibi Mary menuduhnya seperti itu?”


“Setelah menghadiri pemakaman ibumu, aku melihat Lucinda dan Catherine di depan mansion. Mereka berbicara sebentar, lalu masuk. Waktu itu aku hanya ingin melihat keadaanmu, tapi aku tidak melihatmu di mana pun, bahkan aku pergi ke kamarmu, tapi kamu tidak ada di sana, lalu tanpa sengaja aku mendengar pembicaraaan Lucinda dan Catherine.


Catherine mengatakan bahwa Lucinda telah membunuh ibumu di gudang dengan cara merusak listri sehingga terjadi kebakaran. Lucinda pun akhirnya mengakui perbuatannya. Catherine akan menutupi perbuatan jahat Lucinda, jika Lucinda membantunya menikahi ayahmu.”


Theoden begitu sangat marah saat mendengar cerita bibinya. Rahangnya menegang dan kedua tangannya terkepal sangat erat menahan rasa marah yang mengelegak di dalam dirinya. Bibi Lucinda yang selama ini ia sayangi telah tega membunuh ibunya. Kebencian mulai ia rasakan kepada Lucinda dan ibu tirinya yang sudah menutupi pembunuh ibunya.


“Kenapa Bibi Lucinda melakukan itu?”


“Yang aku dengar, Lucinda memiliki hutang yang sangat besar, jadi dia mencuri uang perusahaan dan ibumu mengetahuinya. “


“Jadi karena itu? Ini tidak bisa dimaafkan, tapi kenapa Bibi Mary tidak melaporkan hal ini kepada ayah atau pun polisi?”


“Aku ingin sekali melakukan itu, karena aku juga sangat marah Lucinda telah membunuh kakakku, tapi Bibi tidak memiliki bukti apa pun.”


Theoden kemudian teringat dengan jepit rambut berbentuk pita itu. Apa mungkin jepit itu milik Bibi Lucinda? Ia akan segera mencari tahu saat ia pulang nanti.


“Terima kasih Bibi sudah mau memberitahukan hal ini.”


“Kamu harus mencari bukti kejahatan Lucinda.”


“Akan segera kulakukan.”


Mary beranjak dari sofa.


“Aku akan pulang. Jaga dirimu baik-baik!”


Mary memeluk Theoden dan pergi. Setelah kepergian Bibinya, Theoden jatuh terduduk di sofa. Ia sangat shock mengetahui kenyataan Lucinda adalah pembunuh ibunya. Ia mengerang kesal. Apa pun dan bagaimana pun caranya, ia harus bisa menemukan bukti itu.


🥀🥀🥀


Siang harinya Joshua, Philippa, dan Hera telah tiba di rumah. Phillippa yang sudah tidak sabaran langsung masuk ke dalam mansion. Ia mencari-cari Kana. Phillippa akhirnya menemukan Kana di halaman belakang dekat kolam ikan bersama dengan ayah mertuanya sedang bermain. Phillippa langsung memeluk Kana membuat gadis kecil itu terkejut begitu pun juga dengan Thomas.


“Akhirnya aku menemukanmu.” Phillippa menangis dan kembali memeluk Kana.


“Siapa Anda?”


“Aku adalah ibumu.”


“Ibuku sudah meninggal.”


“Tidak. Itu tidak benar. "


“Itu benar,”kata Hera.


“Tante Hera.”


Kana dikejutkan dengan kedatangan tantenya dan langsung menghambur ke pelukannya. Hera langsung mengendongnya dan menciuminya.


“Kana rindu tante Hera.”


“Tante juga. Kana baik-baik saja kan?’’


“Kana baik-baik saja. Kakek Thomas sangat baik padaku dan juga pelayan-pelayan di sini.”


“Kamu tidak berbuat nakal kan di sini?”


“Tidak. Kana tidak nakal malah sebaliknya Kana bersikap baik di sini.”


“Anak pintar.”


Hera menurunkan Kana, lalu Joshua memeluk Kana dan lagi-lagi membuat Kana heran.


“Dia ayahmu, Kana,”kata Hera.


Thomas yang mendengarnya sangat terkejut.


“Ayahku?”


“Benar.”


“Tapi ayah dan ibuku sudah meninggal.”


“Tidak. Mereka belum meninggal.”


“Jadi orangtuaku masih hidup?”


“Iya,”kata Hera.


“Ibu. Ayah.”


Joshua dan Phillippa memeluk erat Kana. Phillippa merasa senang akhirnya ia bisa bertemu kembali dengan putrinya yang telah lama hilang begitu pun juga dengan Joshua.


“Apakah diantara kalian yang ingin menjelaskannya kepadaku?”tanya Thomas.

__ADS_1


“Maaf ayah. Kami akan menjelaskan semuanya.”


Mereka kemudian pergi ke ruang tamu, lalu Joshua menjelaskan semua yang terjadi. Setelah mendengar penjelasan Joshua, Thomas terkejut dan merasa senang, karena Kana adalah cucunya sendiri. Kana juga terlihat sangat senang, kakek Thomas adalah kakeknya sendiri. [ ]


__ADS_2