Knight in Shinning Suit

Knight in Shinning Suit
(S2): Pertemuan tak terduga


__ADS_3

Theoden sudah dipindahkan di ruang perawatan dan masih belum sadarkan diri. Laurie terus menjaganya.


“Sudah ibu duga pasti kamu ada di sini.”


Laurie memeluk ibunya.


“Aku rasa kamu menyukai pria ini bukan?’’


Wajah Laurie tersipu malu, karena ibunya telah mengetahu isi hatinya.


“Itu benar.”


“Apa dia penyelamatmu sehingga kamu suka padanya?’’


“Pada awalnya seperti itu, tapi lama kelamaan aku mulai jatuh cinta kepadanya.”


“Tapi kita tidak tahu siapa dia. Mungkin dia sudah menikah atau sudah mempunyai kekasih.”


“Aku tahu. Makanya aku ingin dia cepat sadar dan mengatakan siapa dirinya. Aku ingin menikah dengannya.”


“Laurie,”seru ibunya terkejut.


“Aku serius. Bukannya Ayah dan Ibu menginginkan aku segera menikah dan sekarang aku sudah menemukan pasangan hidupku.”


“Tapi kita tidak tahu siapa dia.”


“Ibu tidak perlu mengatakannya berulang kali. Aku sudah tahu itu.”


Ibunya menghela nafas panjang.


“Ibu akan membicarakan ini pada ayahmu.”


“Terima kasih, Bu.”


Ibu Laurie beranjak pergi sebelum menutup pintu ibunya menatap mereka berdua sebentar dan kemudian pintu di tutup pelan-pelan. Laurie terus memandangi Theoden tanpa henti. Dahi Theoden terbalut oleh perban dan kepalanya mulai bergerak-gerak.


“Kiana…Kiana…Kiana.’’ Theoden mengigau terus menyebutkan nama Kiana.


“Siapa Kiana? Kenapa kamu selalu memanggil namanya?’’


Di hati Laurie ada perasaan cemburu.


“Apa Kiana sangat berarti dalam hidupmu?’’


“Kiana…Kiana…Kiana.”


Laurie mulai menangis dan kemudian mengenggam tangan Theoden.


🥀🥀🥀


Empat hari kemudian Kiana dan Hendrik pergi ke Belanda. Kiana sejak beberapa terakhir ini terlihat cemas tidak bisa tidur dan tidak nafsu makan. Di pesawat pun Kiana terlihat lesu dan selalu memasang wajah sedih. Malam telah tiba dan mereka telah tiba di Belanda. Mereka dijemput oleh Rupert dan mengantarkan mereka ke hotel untuk beristirahat. Hendrik sangat mencemaskan Kiana dan juga mencemaskan kesehatannya.


“Kamu tidak apa-apakan?’’


“Aku baik-baik saja,’’jawabnya lesu.


Kiana kemudian naik ke tempat tidur dan menutupi dirinya dengan selimut sampai kepala. Hendrik menatapnya sesaat dan menghela nafas. Sementara itu di rumah sakit Theoden terbangun dan matanya bergerak-gerak. Ia membuka matanya.


Pemandangan disekitarnya masih kabur dan ia memegangi kepalanya, karena terasa sangat pusing.


“Aku di mana?Apa yang terjadi denganku?’’


Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Laurie terkejut melihat Theoden sudah sadar spenuhnya. Theoden menatap bingung wanita yang ada dihadapannya. Laurie segera memanggil dokter dan tidak lama kemudian dokter berdatangan dan memeriksa kondisi Theoden.


“Bagaimana keadaannya?’’tanya Laurie cemas.


“Keadaannya sudah mulai membaik, tapi...’’


Dokter itu terlihat cemas.


“Tapi kenapa?’’


“Dia hilang ingatan.”


Laurie berdiri terpaku dan matanya terbelalak.


“Dia hanya amnesia sementara saja. Sewaktu-waktu ingatannya akan kembali, tapi kami tidak bisa memastikan kapan ingatannya kembali.”


“Oh begitu. Terima kasih.”


Laurie melesat pergi ke kamar perawatan Theoden dan dilihatnya pria tampan itu sedang melihat ke arah luar jendela.


“Halo!’’sapa Laurie.


Theoden menolehkan kepalanya dan tersenyum manis pada Laurie.


“Dokter, bilang kamu tidak ingat apa-apa?’’


Theoden menanggukan kepalanya pelan.


“Jadi kamu juga tidak tahu siapa namamu ?’’


Theoden mengangguk lagi.


“Sebaiknya kamu istirahat saja dulu. Besok kita bicarakan lagi.”


Laurie menyelimuti Theoden dan pergi meninggalkan kamar, kemudian langkahnya terhenti, lalu menoleh ke arah Theoden lagi.


“Apa kamu kenal orang yang bernama Kiana?’’


Theoden diam sesaat dan matanya berkaca-kaca. Ia menggelangkan kepalanya. Laurie merasa lega , kemudian dia keluar dan menutup pintunya pelan-pelan. Theoden kembali sendirian di kamarnya entah kenapa nama Kiana sepertinya mempunyai arti khusus baginya.


‘Kiana…Kiana…Kiana.”


Theoden terus mengulang-ulang nama itu dan berusaha untuk mengingatnya dan ia merasa nama itu sangat berarti baginya. Ia memegangi kepalanya dengan kedua tangannya dan dia merasa sakit dan pusing. Keadaan di sekelilingnya berputar-putar, kemudian dia memejamkan matanya dan berbaring dengan nafas yang tidak teratur menahan sakit dikepalanya. Beberapa menit kemudian rasa sakitnya mulai berkurang. Theoden merasakan ada kerinduan yang mendalam pada nama itu.


🥀🥀🥀


Dua minggu sudah berlalu Theoden sekarang tinggal di rumah Laurie. Keadaan Theoden sudah membaik hanya saja ingatannya belum pulih. Untuk sementara mereka memanggil Theoden dengan sebutan William sampai Theoden dapat mengingat kembali namanya.


Kiana, Hendrik, dan Rupert masih mencari keberadaan Theoden. Beberapa hari yang lalu Rupert mendapatkan informasi dari polisi kalau Theoden berada di rumah sakit Prebyteran ,tapi langkah Rupert kembali terlambat satu langkah, Theoden sudah meninggalkan rumah sakit itu sehari sebelum Rupert datang ke sana. Kiana pun harus menelan kekecewaannya lagi, lalu Kiana pun pingsan. Hendrik dan Rupert menjadi panik dan membawa Kiana ke rumah sakit. Dokter menyatakan Kiana sedang hamil. Mereka terkejut dengan hasil pemeriksaan itu.


“Selamat untukmu! Akhirnya aku akan segera mendapatkan cucu.”


“Sayang sekali Theoden tidak ada di sini,”kata Kiana sedih.

__ADS_1


“Theo, pasti akan senang dengan berita kehamilanmu.”


Kiana tersenyum sedih.


“Pihak rumah sakit memberitahu siapa orang yang sudah membawa pergi Tuan Theoden dan mereka memberikan alamat rumahnya.”


“Bagus kita mencari alamat itu besok, karena Kiana harus istirahat dulu.”


🥀🥀🥀


Theoden sudah begitu dekat dengan keluarga Laurie dan hubungannya dengan Laurie pun semakin dekat. Theoden merasa kalau Laurie adalah gadis yang baik. Setiap hari Laurie menemani Theoden walaupun hanya sekedar bicara.


Angin bulan April terasa begitu menyejukan Theoden sedang duduk di kursi yang berada di halaman belakang rumah sambil membaca sebuah koran. Laurie datang dengan membawa sebaki kue dan juga dua cangkir teh. Ia tersenyum melihat kedatangannya.


“Halo William, kamu sudah lebih baik hari ini?’’


“Iya. Terima kasih.”


“Aku sudah membuatkan kue kering untukmu. Ayo coba!Aku ingin tahu pendapatmu?’’


Theoden meletakan korannya di atas meja lalu mengambil kue dan mencicipinya.


“Bagaimana?’’


“Rasanya enak aku suka.”


Laurie tersenyum senang di puji Theoden. Tangannya mulai meremas-remas ujung roknya dan menatap gugup pria di sampingnya.


“Aku harus mengakui sesuatu padamu.”


Theoden terlihat terlihat asyik menikmati kue .


“Aku mencintaimu.”


Theoden yang sedang makan kue tersedak dan terbatuk-batuk.


“Kamu tidak apa-apa?’’tanyanya khawatir sambil menepuk-nepuk punggung Theoden. Laurie memberikan air minum kepadanya.


“Maaf.Aku tidak bermaksud membuatmu tersedak seperti ini.”


“Kamu tidak perlu minta maaf. Kamu tidak salah hanya saja pernyataanmu sangat mengejutkannku.”


Theoden menatap Laurie tajam dan lurus.


“Kamu sungguh mencintaiku?’’


Laurie menganggukan kepalanya sambil masih menundukkan kepalanya.


“Kamu tidak tahu siapa aku sebenarnya dan begitu pun juga dengan diriku sendiri. Selama ini aku berusaha untuk mengingat siapa diriku ynag sebenarnya.Apa aku orang baik atau orang jahat.”


“Aku yakin kamu orang baik. Aku sangat yakin akan hal itu.’’


“Terima kasih. Kamu sudah mau mencintaiku dan kamu sudah sangat baik padaku selama ini, tapi aku tidak mencintaimu. Selama ini aku hanya menganggapmu sebagai adik perempuanku. Maaf.”


Wajah Laurie terlihat sangat sedih dan mulai menitikkan air mata. Theoden pun jadi merasa bersalah telah membuatnya bersedih.


“Aku akan mencoba mencintaimu,’’katanya kemudian.


Laurie langsung menatap Theoden dengan wajah senang.


Theoden menganggukan kepalanya, lalu gadis itu memeluk Theoden.


“Terima kasih. Aku harap kamu pada akhirnya akan mencintaiku.”


Laurie menghapus air matanya, lalu menarik tangan Theoden.


“Kita mau kemana?’’


“Aku akan memperlihatkan kebun mawarku padamu. Aku rasa bunga mawarnya sudah mekar. Sejak awal aku ingin sekali menunjukkannya padamu.”


Mereka berjalan menjauhi halaman belakang rumah. Laurie berjalan sambil memeluk lengan Theoden dengan wajah gembira. Di depan terlihat sebuah pagar tanaman yang menjulang tinggi yang dipenuhi oleh berbagai macam bunga mawar. Pintu masuknya sangat tinggi terbuat dari kayu. Mereka berdua masuk dan Theoden terpesona melihat kebun mawar itu dan semilir angin membawa keharuman bunga mawar.


“Kamu menyukainya?’’


“Iya. Aku sangat menyukainya.”


Matanya menyapu keseluruh taman itu dan dia melihat bunga mawar merah. Dia merasa tidak asing lagi dengan mawar itu. Selama beberapa saat dia memandanginya. Tiba-tiba sekelebat bayangan seoarang wanita melintas di kepalanya dan dia sangat senang menerima bunga mawar merah, tapi Theoden tidak bisa melihat wajahnya, karena tidak terlihat jelas.’’Siapa wanita itu? Apa aku mengenalnya?’’


Theoden merasa kesakitan dan kedua tangannya memegang kepalanya. Laurie terlihat sangat cemas melihatnya yang kesakitan dan akhirnya Theoden pingsan.Hari sudah malam ketika Theoden kembali membuka matanya dan masih merasakan pusing dikepalanya. Laurie berlari ke arahnya dan tersenyum.


’’Syukurlah kamu sudah sadar.”


🥀🥀🥀


Keesokan harinya keadaan Theoden sudah jauh lebih baik dan sudah bisa pergi jalan-jalan ke luar rumah. Seperti hari ini dia memutuskan pergi jalan-jalan sendirian, karena Laurie sedang pergi ke luar kota bersama dengan teman-temannya. Theoden dengan wajah senang tampak menikmati suasana kota tempat dia tinggal sekarang. Dia melihat berbagai macam toko yang memajang barang mewah dan elegan.


Dia melewati sebuah toko perhiasan ,kemudian sekelebat ingatannya kembali. Ia melihat dirinya sendiri sedang memakaian sebuah cincin kepada seorang wanita. Theoden terlihat pucat dan tubuhnya sedikit menegang.


’’ Siapa dia? Dan perasaan apa ini?’’


Theoden kembali melanjutkan perjalanannya kembali dan tiba-tiba....


Bruukkk...


“Awwww.....’’


Theoden terkejut dan wanita yang ditabraknya terlihat kesakitan.


“Anda tidak apa-apa nona. Maafkan saya.”


Wanita itu melihat pria yang telah menabraknya dan matanya terbelalak karena terkejut.


“Theoden,”seru Kiana terkejut.


Kiana tidak pernah menyangka akan bertemu dengan suaminya di jalanan ketika sedang mencari alamat rumah di mana suaminya tinggal. Ayah mertuanya dan Rupert sedang berada di mobil menuggunya kembali dari mini market untuk membeli minuman. Theoden terkejut ketika wanita itu memanggil namanya dengan sebutan Theoden.


“Aku akhirnya menemukanmu dan ternyata kamu baik-baik saja. Syukurlah!’’


Kiana langsung memeluknya dan air mata bahagia mengalir dipipinya, karena sudah kembali menemukan suaminya lagi. Theoden langsung melepaskan pelukan Kiana dengan kasar. Kiana terkejut dengan reaksi suaminya.


“Ada apa?’’tanya Kiana heran.


“Siapa kamu?’’


Kiana jadi semakin bingung dengan pertanyaan suaminya.

__ADS_1


“Kamu sudah tidak kenal denganku lagi? Ini aku, Kiana.”


“Kiana?”


“Iya Kiana.”


Theoden tiba-tiba merasakan getaran yang kuat, karena selama ini dia merasa nama itu mempunyai arti dalam hidupnya hanya saja dia sekarang tidak mengingatnya.


“Sepertinya nona salah orang. Aku bukan Theoden, tapi namaku William.’’


Ia tahu itu bukan nama dia yang sebenarnya.


“Itu tidak mungkin. Aku yakin kamu adalah Theoden.”


“ Maaf sekali lagi aku tidak kenal Anda dan sudah aku bilang aku bukan Theoden.”


Hati Kiana sedih, karena orang yang dicintainya telah melupakannya dan tidak mengingatnya sedikit pun. Orang-orang disekitar sudah meperhatikan mereka berdua, lalu Kiana mengajak Theoden untuk berbicara di tempat yang lebih nyaman.


Kiana sama sekali tidak mengerti dan bingung kenapa Theoden tidak mengingatnya. Mereka duduk disebuah taman terdekat. Mereka duduk berdampingan. Kiana menatap Theoden tajam dan memperhatikan setiap bagian wajahnya untuk meyakinkan dirinya kalau dia memang suaminya.


Theoden merasa tidak enak terus diperhatikan oleh Kiana dan entah kenapa jantungnya berdetak semakin cepat. Hal ini tidak pernah dirasakannya ketika setiap kali Laurie menatapnya atau ketika dia sedang berada di samping Laurie, tapi dia merasakan yang berbeda ketika ada di dekat wanita yang ada di sampingnya sekarang.


Kiana tiba-tiba mengendus tubuh Theoden. Cuping hidungnya bergerak-gerak. Theoden pun menjadi gugup, ketika Kiana mengendus-ngendus tubuhnya. Kiana tersenyum senang, karena ia yakin pria yang di sampingnya adalah suaminya, karena iasangat mengenal aroma tubuh suaminya, tapi Kiana merasa ada yang aneh dengan suaminya yang tidak mengenalnya. Ia ingin sekali mengetahui apa yang telah terjadi pada Theoden setelah mengalami perampokan dan jatuh dari tangga.


“William.”


Theoden langsung menatap Kiana dan wajahnya masih merona merah.


“Kamu tinggal di sini?’’


“Iya.”


Theoden menganggukan kepalanya.


“Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu bekerja atau hanya liburan di sini?’’


“Aku juga tidak tahu.”


“Kenapa bisa tidak tahu?’’tanya Kiana antusias.


“Sebenarnya aku tidak tahu apa yang aku sedang lakukan di sini, karena aku sudah lupa tujuanku ke sini seiiring dengan hilangnya ingatanku.”


Kiana terkejut dengan perkataan Theoden


“Hi..hilang ingatan?’’tanyanya gugup.


“Iya. Aku hilang ingatan.”


Kiana menutup mulutnya dan matanya mulai berkaca-kaca. Sekarang ia benar-benar yakin 100% kalau dia memang suaminya. Orang yang sangat dia rindukan.Kiana senang, karena sudah menemukan suaminya kembali juga sekaligus sedih, karena suaminya sekarang tidak dapat mengingatnya lagi, tapi Kiana tidak mau menyerah begitu saja. Ia ingin membantu Theoden mengembalikan ingatan tentang dirinya.


“Apakah ada seseorang yang kamu ingat dari ingatan masa lalumu?’’


“Tidak,’’jawabnya mantap dan membuat Kiana semakin sedih.


“Maaf sudah banyak bertanya padamu.”


“Itu tidak masalah.”


Theoden tersenyum lembut kepada Kiana dan Kiana juga membalas senyumannya. Selama beberapa saat mereka saling memandang dan lama kelamaan membuat wajah mereka merona merah. Mereka segera memalingkan wajah dan menjadi merasa canggung.


“Boleh aku berteman denganmu?’’tanya Kiana.


“Tentu saja. Aku senang bisa berteman denganmu.”


Theoden menjulurkan tangannya dan Kiana meraih tangannya, lalu mereka bersalaman.


“ Aku Kiana. Kamu bisa memanggilku, Kiana.”


“Baik. Kiana. Kamu bilang kamu kenalku apa itu benar?’’


“Itu benar. Namanya Theoden MacAllister. Dia sangat mirip denganmu. Oleh sebab itu ketika aku bertemu denganmu, aku memanggilmu Theoden. Dia telah hilang di Belanda. Aku datang kevsini untuk mencarinya.”


Kiana menatap sedih suaminya. Walaupun sekarang dia ada dihadapannya, ia tidak bisa leluasa melepaskan kerinduannya kepada suaminya. Jauh di lubuk hatinya dia ingin sekali memeluknya dan juga menciumnya dan Kiana berusaha menahannya sampai dia ingat lembali kepadanya. Ia mengelus perutnya.


“Apa aku ada kemungkinan kalau aku pria yang kamu maksud?’’


“Mungkin saja.”


“Aku akan berusaha mengingat siapa diriku.”


“Itu bagus.”


Theoden melihat jam tangannya dan jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. “Maaf aku harus segera pulang. Aku sudah terlalu lama pergi pasti mereka mencemaskanku.”


“Mereka siapa?’’


“Orang-orang yang selama ini merawatku. Mereka sangat baik sudah aku anggap sebagai keluargaku sendiri. Kamu mau mengunjungi tempat di mana aku tinggal?’’


“Boleh juga. Ayo!’’


Kiana menelepon Hendrik dan menceritakan semuanya sekilas, bahwa ia sudah menemukan Theoden dan sekarang sedang menuju di mana suaminya tinggal. Hendrik begitu senang, Kiana sudah menemukan Theoden. Selama dalam perjalanan Theoden sesekali melirik Kiana yang berjalan di sampinganya. Jantungnya masih saja berdebar-debar.


“Dia sangat cantik. Ah apa yang telah aku pikirkan,’’katanya dalam hati. Ia harus mengakui kalau bersamanya ia merasa nyaman dan merasa sudah merasa akrab dan mengenal Kiana lama sekali.


“Mungkinkah aku adalah Theoden MacAllister. Orang yang yang sedang dicari olehnya. Entah kenapa aku menjadi berharap kalau aku adalah pria itu. Kiana oh Kiana aku tidak bisa membohongi perasaanku kalau kamu sudah membuatku terpesona, ketika pertama kali bertemu denganmu di pusat perbelanjaan.”


Beberapa menit kemudian mereka berdua sudah berada di depan sebuah rumah mewah dan besar.


“Di sini aku tinggal. Kamu masuk dulu?’’


“Tidak usah. Aku juga harus segera kembali ke hotel. Ini sudah sore lain kali saja.”


Wajah Theoden terlihat kecewa. Ia merasa tidak rela kebersamaannya dengan Kiana akan berakhir. Seperti teringat sesuatu Kiana kemudian menuliskan sesuatu di secarik kertas.


“Ini,’’katanya sambil menyerahkan secarik kertas kepada Theoden.


“Itu alamat hotelku dan juga nomor ponselku, jika kamu membutuhkan pertolongan atau teman bicara hubungi aku kapan saja. Pasti aku akan datang.”


Theoden tersenyum.


“Terima kasih.”


“Kalau begitu sampai jumpa!’’


Kiana melangkah pergi. [ ]

__ADS_1


__ADS_2