
Hendrik menunggu kepulangan Theoden dan Kiana dengan gelisah, karena sudah lewat tengah malam mereka belum pulang. Tidak lama kemudian terdengar suara mobil dan ia merasa lega ketika keduanya sudah pulang.’’Kalian berdua dari mana saja?’’
“Kami makan malam bersama,’’jawab Theoden sambil mengendong Kiana yang terlelap tidur.
“Sebaiknya kamu segera bawa istrimu ke kamar.”
“Selamat malam!’’
“Selamat malam!”
Hendrik memperhatikan Theoden menaiki tangga. Ia senang melihat Theoden bahagia dngan pernikahannya. Awalnya Hendrik meragukannya. Theoden membaringkan Kiana dengan lembut ditempat tidur, lalu ia mengecup ringan kening Kiana.
Kicauan suara burung membangunkan Kiana dari tidurnya yang nyenyak. Ia tersenyum berseri melihat suaminya baru saja keluar kamar mandi dengan sudah berpakaian rapih.Hatinya masih sering berdebar tidak karuan saat bertemu pandang dengannya apa lagi kencan semalam membuatnya semakin mencintai suaminya.
“Pagi sayang!’’
“Pagi!’’
Rona pipi Kiana yang masih kemerah-merahan itu dicium dengan lembut dan kepalanya dibelai dengan manja. Kiana sangat menyukainya dan tidak ada salahnya ia ingin selalu diperhatikan dan sedikit dimanjakan oleh suaminya. Mereka berdua turun langsung masuk ke ruang makan. Seperti biasa Hendrik selalu tiba di sana terlebih dahulu. Selesai makan pagi seperti biasa Kiana mengantarkan suaminya sampai pintu depan.
Theoden melihat Kiana melambaikan tangannya dengan senyuman termanis yang pernah ia lihat. Hatinya diselimuti oleh kehangatan dan juga cinta. Setelah Theoden pergi, Kiana kembali masuk dan bersiap-siap ke rumah Hiroko untuk belajar Ikebana. Khusus hari ini Kiana akan belajar di rumah gurunya, tapi sebelum ke rumah gurunya, ia akan pergi ke rumah sakit untuk mengambil tes kesehatannya
Mobil terpakir tepat didepan pintu masuk rumah sakit.
Kiana masuk sendirian dan beberapa menit kemudian ia keluar dengan membawa sebuah amplop putih besar, lalu pergi ke kantor suaminya. Kiana langsung memberikan tes kesehatannya kepada suaminya.
“Ini hasil tes kesehatanku.”
Theoden cukup puas setelah membaca hasilnya, tapi Kiana tidak mengatakan apa pun tentang penyakit amnesianya pada Theoden.’’Hasil tesnya bagus’’.
“Apa aku bilang, aku baik-baik saja. Apa sekarang kamu bisa merasa puas setelah melihat tes kesehatanku?’’
Theoden memeluk Kiana.’’Tentu saja dengan begini aku bisa tenang.” Sesaat keduanya saling berpelukan hanya diam tidak ada kata yang terucap.
Mereka membiarkan diri masing-masing menikmati kebersamaan yang tercipta. Suara ketukan mengagetkan mereka berdua dan cepat-cepat mereka melepaskan diri.’’Masuk!’’
“Maaf. Sudah waktunya Anda pergi rapat,”kata Carrie.
“Baik. Aku akan segera ke sana.”
“Sebaiknya aku pergi. “
“Baiklah Hati-hati di jalan!”
Kiana mengangguk.
Mobil terus melaju sampai akhirnya berhenti dikediaman Hiroko Takamura guru seni merangkai bunganya. Hari ini Kiana ada ujian untuk merangkai bunga. Ia pun merasa gugup. Di ruangan besar dan terbuka itu Hiroko menyambutnya dengan ramah dan tersenyum penuh keibuan. Kiana pun mulai merangkai bunga.Satu jam telah berlalu dan hasil rangkaian bunganya sudah selesai.’’Sepertinya kamu sudah banyak kemajuan , itu bagus.”
“Benarkah?’’
“Benar. Kalau kamu sering banyak latihan pasti bisa meskipun masih ada banyak bunga yang tidak serasi. tapi ini sudah lebih baik dari yang sebelumnya.Pelajaranku hari ini sudah selesai. Kamu boleh pulang.”
“Terima kasih atas bimbingannya. Saya permisi dulu.”
🥀🥀🥀
Seseorang yang tidak dikenal datang dan langsung menarik Kiana ketika akan keluar rumah Takamura. Pria asing itu mengancam Kiana di bawah pisaunya. Sopir yang mengantar Kiana sangat terkejut.
’’Jangan mendekat,’’teriak pria itu. Perlahan-lahan sopir itu mencoba mendekatinya dan pria itu semakin mundur kebelakang.
Tidak berapa lama beberapa polisi datang.’’Dia adalah buronan kami,’’kata salah seorang polisi berbadan tegap dan besar.’’Dia adalah seorang perampok yang baru saja merampok sebuah toko perhiasan tidak jauh dari sini. Dia lolos dan kami berusaha mengejarnya. Dia menyendera seseorang agar dia dapat lolos dari kami.”
Sopir itu dapat melihat pria itu sangat ketakutan. Ia cepat-cepat menghubungi Theoden.
“Lepaskan wanita itu!’’teriak polisi itu.
“Tidak.’’
Tubuh Kiana bergetar dan diwajahnya terpancar rasa takut.
“Jangan coba-coba mendekat kalau tidak aku tidak segan-segan melukai wanita ini.”
Sementara itu Rudolfo yang sedang mencari rumah Takamura untuk bekerja sebagai tukang kebun melihat keributan di depan rumah yang akan ditujunya.
Ia terkejut melihat Kiana yang telah dijadikan sandera. Ia pun segera menolongnya.
Polisi tidak ada pilihan lain selain menuruti perkataannya. Pria itu sudah mulai berjalan menjauh. Pria itu tidak menyadari Rafel telah berdiri di belakangnya dan dia pun langsung mencekik pria itu .
Kiana terlepas dan segera berlari ke arah Polisi. Kiana telah beruraian air mata. Rasa takut benar-benar telah menyelimuti dirinya. Sementara itu pria itu sedang terlibat perkelahian dengan Rafel. Pria itu tidak mau menyerah dan terus melawan sampai pada akhirnya dia dapat kembali meraih pisaunya yang telah terjatuh dan berlari ke arah Kiana yang tak terlindungi. Teriakan Rafel menyadarkan para polisi setelah melihat perampok itu berlari ke arah Kiana.
Kiana melihat salah satu tangannya berlumuran darah dan dia kembali teringat dengan pemandangan masa lalunya di mana dia melihat ceceran darah dimana-mana dan perlahan-lahan pandangan matanya mulai gelap dan sebelum matanya menutup , ia dapat melihat orang-orang menghampirinya dan berteriak-teriak memanggil namanya dan juga nama suaminya.
🥀🥀🥀
Kiana perlahan-lahan membuka matanya. Kepalanya terasa pusing dan ia berusaha bangun. Pintu terbuka dan Theoden masuk.Ia segera menghampiri istrinya dan memeluknya. Lehernya dibenamkan di leher Kiana. Gadis itu merasakan cairan hangat di pundaknya. Suaminya menangis. Theoden melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Kiana dengan tangannya.
“Sykurlah kamu baik-baik saja. Aku sangat ketakutan tadi.”
“Aku baik-baik saja.”
Theoden menekankan bibirnya di bibir Kiana, lalu memeluknya lagi.
“Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku berada di rumah sakit?’’
“Kamu pingsan.”
Kiana terlihat linglung, lalu ia teringat dengan kejadian di luar rumah Takamura.’’Aku melihat tanganku berdarah.”
Kiana pun menyadari sesuatu. Ingatannya telah kembali sepenuhnya.
“Tenangkan dirimu! Tangan dan tubuhmu baik-bai saja. Tidak ada yang terluka.”
“Lalu darah siapa yang ada di tanganku?”
“Darah seorang pria yang telah menolongmu.”
“Benarkah itu? Sekarang dia ada di mana? Aku ingin bertemu dengannya.”
“Dia ada diruang perawatan. Lukanya tidak cukup serius, dia hanya terluka di bahunya saja.”
Kiana memaksakan untuk bangun, tapi Theoden berusaha menahan Kiana agar tetap berada ditempat tidur.
’’Biarkan aku menemuinya. Aku akan tenang setelah aku menemuinya.”
Tatapan Kiana penuh dengan permohonan.’’Baiklah. Aku akan mengantarkanmu menemuinya.”
Kamar Rafel tidak jauh darinya hanya beda 2 kamar. Di sana Kiana melihat seorang pria yang sedang menungguinya. Pria itu dan Rafel terkejut dengan kedatangan Kiana.
“Terima kasih sudah menolongku.”
“Saya senang Anda sudah sadar,”kata Rafel.
‘Aku tahu siapa Anda?”
Rafel dan pria di sampingnya nampak terkejut.
“Sayang, apa kamu mengenal pria ini?”tanya Theoden.
“Aku mengenalnya.”
“Katakan siapa aku?”
“Rudolfo Grimaldi anak kakek Harvey Grimaldi.”
Rudolfo tersenyum.
“Akhirnya ingatanmu telah pulih.”
Theoden nampak semakin bingung apa yang terjadi.
“Ceritanya panjang. Aku akan menceritakan semuanya kepadamu di rumah nanti,”kata Kiana kepada Theoden.
“Aku sudah ingat kembali.”
“Aku minta maaf ssudah pernah mencoba membunuhmu dan aku sudah membayar semua perbuatanku di penjara. Aku benar-benar sangat menyesal.”
Kiana sebenarnya membenci Rafel yang tidak lain kakeknya juga, karena sudah membunuh ayahnya, tapi ia melihat rasa penyesalannya. Kiana ingin memberikan kesempatan kedua untuk kakeknya ini.
“Aku maafkan.”
“Sungguh?”
“Iya. Tapi jangan ulangi lagi.”
“Aku janji.”
__ADS_1
“Rudolfo suda benar-benar menyesali perbuatannya,”kata pria asing di samping Rudolfo.
“Anda siapa?”
“Saya lupa memperkenalkan diri. Saya Rafel Rhodes, pengacara keluarga Grimaldi.”
Kiana mengangguk.
🥀🥀🥀
Dua hari kemudian Kiana sudah kembali berada dirumahnya. Selama Kiana sakit, Theoden merawatnya dengan sabar. Kiana sangat bahagia suaminya begitu memperhatikannya . Ia sekarang dapat merasakan kebahagian kalau dirinya begitu dicintai oleh suaminya. Kiana tahu suaminya menunggu jawaban darinya tentang siapa Rafel.
Kiana pun memutuskan untuk memberitahu Theoden. Ia meceritakan semuanya termasuk ingatannya yang hilang. Setelah mendengar semuanya. Theoden memeluk istrinya.
“Maafkan aku baru memberitahumu sekarang.”
Theoden tersenyum.
“Tidak apa-apa yang penting sekarang kamu baik-baik saja.”
“Terima kasih.”
“Hanya saja aku tidak menyangka pria itu adalah kakekmu juga dan aku terkejut kamu bagian dari keluarga Grimaldi yang kaya itu dan kamu adalah pewarisnya. Ini sangat luar biasa.”
“Aku juga tidak menyangka kakek Harvey akan mewariska semua hartanya kepadaku.”
Theoden nampak cemas.
“Ada apa?”
“Aku sangat cemas, jika Steve muncul dan menyakitimu.”
“Aku juga memikirkan itu.”
“Mulai sekarang jangan sering-sering keluar rumah, jika tidak ada yang penting.”
Kiana mengangguk. Kiana tersipu malu ditatap Theoden dan jantungnya berdetak dengan kencang. Theoden tersenyum lembut dan menatap penuh cinta pada Kiana . Itu sudah cukup membuat suhu wajah Kiana meningkat.
🥀🥀🥀
Kiana jatuh tersungkur. Semua orang yang ada di dalam kantor Theoden menoleh ke arah Kiana. Perusahaan suaminya mendapatkan kehormatan dijadikan tempat untuk percobaan film sebelum ditayangkan di bioskop. Theoden mengajaknya untuk melihat film tersebut.
“Anda tidak apa-apa ?’’tanya seorang petugas keamanan.
“Aku baik-baik saja,’’jawab Kiana
Petugas keamanan membantunya berdiri dan Kiana berjalan dengan terpincang-pincang.’’Sepertinya kakiku terkilir.”
“Sebaiknya Anda duduk di sini dulu.”
Kiana memegang kakinya yang sakit.’’Aaawww...kenapa aku bisa ceroboh seperti ini. Padahal sebentar lagi pertunjukan film akan segera di mulai.”
Sementara itu di dalam ruangan Theoden tampak gelisah menunggu kedatangan Kiana.’’Saya akan keluar untuk mencari keberadaan Kiana. 10 menit lagi film akan diputar dan para tamu undangan sudah datang semua.”
“Baik. Carilah Kiana!”
Carrie segera keluar dan dia berpapasan dengan petugas keamanan.’’Maaf nona Carrie. Nyonya Kiana tadi terjatuh dan kakinya terkilir sekarang dia sedang duduk di lobi.”
“Baik terima kasih.”
Carrie berlari menuju lobi.’’Nyonya Kiana, Anda baik-baik saja?’’
Kiana menganggukan kepalanya. Carrie memeriksa keadaan kaki Kiana yang terkilir.’’Sakiittt...’’teriaknya.
“Sepertinya keadaan kaki Anda tidak begitu parah. Apa Anda bisa berjalan?’’
Kiana berdiri dan berjalan dengan perlahan-lahan. Wajahnya meringis kesakitan ketika kakinya dibawa berjalan. Akhirnya Kiana tiba di ruang pertunjukkan film yang akan diputar. Kedatangannya langsung disambut oleh Theoden.
“Kamu kenapa?’’
“Aku terjatuh.”
“Ha...ha...ha..kau ceroboh sekali. Apa kakimu masih sakit? Biar aku periksa.”
“Tidak perlu tadi Carrie sudah memeriksanya sepertinya sebentar lagi kakiku akan sembuh.”
“Baiklah. Terserah kamu saja.”
Theoden membantu Kiana berjalan menuju kursi yang sudah disediakan untuknya. Tidak lama kemudian pertunjukan percobaan film pun dimulai.
“Apa kakimu sudah baikan?’’tanya Theoden.
“Sudah. Apa Anda tidak lihat kalau saya sudah bisa berjalan?’’
“Aku melihatnya.”
Tidak lama kemudian ada kiriman mawar merah untuk Kiana. Ia terlihat sangat senang , lalu dia membaca pesannya.
Untuk istri tercintaku dan belahan jiwaku
Dari suamimu
Kiana memeluk bunga mawar merahnya.
“Kamu suka?”
“Tentu saja. Terima kasih.”
Kiana mengecup pipi suaminya dengan perasaan bahagia yang meluap. Ia ingin bisa selamanya bersama dengannya. Saat Kiana duduk, ia mengambil sebuah buku kecil dan senyuman menghiasi wajahnya. Dibukanya buku itu.
“Aku harus segera mempraktekkaan instruksi yang ada di buku ini supaya aku dan Theoden selalu bisa bersatu.”
Kiana terkekeh. Ia mendapatkan buku itu dari sebuah kiosk kecil di pinggir jalan sebelum ia menuju kantor suaminya. Saat itu Kiana kehausan dan menyuruh sopirnya untuk berhenti . Ia membeli minuman di mesin minuman dan ia melewati sebuah kiosk. Ada satu judul buku yang menarik perhatiannya. Mantra untuk bisa bersatu dengan pria yang dicintai. Ituah judul yang tertulis di buku. Kiana langsung membelinya.
Keesokan paginya Kiana terbangun dan segera membersihkan diri. Theoden telah pergi ke kantor pagi-pagi sekali, karena ada rapat. Kiana mulai melakukan instruksi mantra untuk menjadi satu dengan orang yang dicintainya.Ia pergi ke kantor suaminya tanpa diantar oleh sopirnya. Di tengah perjalanan menuju kantor Theoden, Kiana cepat-cepat memakan satu buah strawberry, mengikat benang merah di jari kelingkingnya, berhentilah berjalan dan melompat-lompat dengan satu kaki sambil mengucapkan mantra tiga kali.
Hanamana osharamusa
Tulislah nama orang yang disukai di secarik kertas warna biru berbentuk bujur sangkar, masukan di kantong kirimu pada saat kamu akan bertemu dengannya. Kiana sudah menyebutkan nama pria yang dicintainya sebanyak 100 kali ketika bangun pagi.
Kiana sudah berada di kantor Theoden. Ia kemudian segera menemuinya. Baru saja Kiana akan menuju ruangan Theoden di lantai atas, ia terkejut melihat suaminya berjalan bersama Carrie menuju ke arahnya. Kiana pun sembunyi dibalik dinding. Sebuah strawberry dimasukan dimulutnya.
Deg....deg...deg...
Semoga aku bisa bersatu dengannya. Jadi satu...jadi satu...jadi satu...
Perlahan-lahan Maya keluar dari tempat persembunyiannya .
Cuuuppp!
Theoden
Perlahan-lahan Kiana membuka matanya dan dia senang dapat mencium suaminya di depan banyak orang.Tubuh Kiana pun ambruk.’’Kianaaa,’’teriak Carrie, sedangkan Theoden tetap berdiri ditempat dalam keadaan masih terkejut.
“Kiana, kamu kenapa?’’
“Eh aku pingsan.”
“Cepat panggilan ambulance!’’
“Tuan Theoden, Anda jangan berdiri saja di sana, cepat bantu saya.”
“Eh...eeeeehhhhh.....Ada apa denganku?Kenapa aku bisa berada di dalam tubuh Theoden. Theoden masih saja sibuk dengan dirinya sendiri.’’Bagaimana ini?’’
“Hei Kiana kenapa kamu bisa berada dalam tubuhku?’’
“Mana aku tahu.”
“Diam jangan bicara dengan mulutku. Kenapa kamu mendadak menciumku di depan banyak orang?”
“Aku hanya ingin menciummu untuk mempraktekan mantra untuk bisa bersatu dengan orang yang aku cintainya.”
“Apaaa?”
“Sepertinya mantranya berhasil. Kita benar-benar bersatu dalam satu tubuh, tapi bukan ini yang aku inginkan Aku mengira kita akan tetap terikat selamanya bukan bersatu salam satu tubuh begini.”
“Kamu ini ada-ada saja mempraktekan mantra yang tidak jelas asal usulnya.”
“Jadi aku harus bagaimana?”
“Aku juga tidak tahu. Kita pikirkan agar kamu keluar dari tubuhku. Kalau begini aku bisa gila tidak bisa melihatmu lagi atau pun memelukmu lagi.”
Carrie dan beberapa orang lainnya menatap bingung Theoden yang sedang sibuk berbicara pada dirinya sendiri.
“Anda baik-baik saja?’’tanya Carrie.
__ADS_1
“Eh iya, aku baik-baik saja.”
“Aaaarrrggghhh.Seharusnya bukan begini. Aku tidak mauuuuuu.Aku ingin segera keluar dari tubuhmu.”
Theoden menutup kedua telinganya.
“Kamu berisik sekali, jangan berteriak-teriak dalam tubuhku.”
“Rasanya tidak nyaman berada di tubuhmu.”
“Siapa suruh kamu masuk ke dalam tubuhku.”
“Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?’’Tanya Kiana.
“Kita pulang saja.”
“Pulang? Aku tidak mau pulang. Aku ingin pergi kerumah sakit melihat tubuhku yang sedang dirawat di sana.”
“Sayang, kamu ini berisik sekali.”
Beberapa orang yang berpapasan dengan Theoden menatap heran ke arahnya, karena Theoden terlihat asyik berbicara pada diri sendiri.Tentu saja hal itu membuat dirinya menjadi malu. Cepat-cepat Theoden menuju pelataran parkir.
“Theo, aku tidak ingin pulang. Kamu harus membawaku ke rumah sakit. Pokoknya harus pergi kerumah sakit sekarang juga.”
Theoden tidak mendengarkan perkataan Kiana yang sedang bicara di dalam tubuhnya.’’Kamu berisik.”
“Aku tidak peduli,’’kata Kiana ketus.
Theoden mulai menjalankan mobilnya.’’Ingat kamu jangan menganggu konsentrasiku dalam mengemudi kalau tidak kita berdua bisa celaka.’’
Selama perjalanan Kiana tidak bersuara sedikit pun dan membuat Theoden menjadi sedikit lebih tenang. Mobilnya telah memasuki halaman kediaman MacAllister. Theoden keluar dan kedatangannya disambut oleh beberapa pelayannya.’’Selamat datang!’’
Theoden segera pergi ke kamarnya dan masih belum terdengar juga suara Kiana.’’Kiana....Kiana....Kiana...’’
Tetap tidak ada jawaban.’’Kianaaaa.’’teriaknya.
“Berisiiiiikkkkk,’’kata Kiana gemas sekaligus kesal.
“Kenapa kamu tidak menjawab panggilanku tadi?’’
“Tadi aku sedang tidur dan kamu sudah menganggu tidurku.”
“Maaf. Aku tidak tahu kalau kamu sedang tidur.”
“Ini dimana?’’
“ Apa kamu tidak bisa melihatnya. Ini kamar ita.”
“Kenapa kamu tidak pergi ke rumah sakit?’’
“Kita akan pergi ke sana besok. Meskipun kita pergi ke sana sekarang itu tidak ada gunanya dan yang perlu kita lakukan sekarang adalah menenangkan pikiran kita dulu. Kamu tahu, tiba-tiba kamu ada dalam tubuhku itu sudah membuatku shock.”
“Baik. Kita akan pergi ke rumah sakit besok dan kita harus mencari cara agar aku dapat kembali ketubuhku.”
“Aku tahu.”
“Tungguuu!’’teriak Kiana tiba-tiba.’’Apa yang akan kamu lakukan?’’
“Tentu saja melepaskan pakaianku. Aku mau mandi.”
“Jangan lakukan itu. Aku tidak ingin melihatmu telanjang,’’kata Kiana setengah berteriak.
‘’Berissssiiiikkk. Kau tahu teriakanmu tadi membuat telingaku hampir pecah.Salahmu sendiri kamu masuk tubuhku. Lagi pula kamu sudah sering melihatku telanjang,’’gerutu Theoden.
“Itu benar. Siapa yang ingin masuk ke dalam tubuhmu. Aku tidak ingin masuk ke dalam tubuhmu,’’bela Kiana.’’Huuuuhhh...’’
“Kalau begitu aku juga tidak ingin kamu masuk ke dalam tubuhku. Kenapa juga kamu harus percaya dengan mantra itu? Tanpa mantra pun kita akan terikat selamanya.”
“Maafkan aku. Apa nanti tidak aneh kamu tidak segera menjenguk istrimu di rumah sakit?”
“Aku sudah menyuruh Carrie untuk menjagamu di sana.Tapi untuk saat ini kamu sepertinya harus bersabar berada di dalam tubuhku.Selama kamu berada di dalam tubuhku, apa kamu bisa membaca isi hati dan pikiranku?’’tanya Theoden .
“Tidak.” Theoden mendesah lega.
“Tapi....’’
“Tapi apa ?’’
“Aku merasakan kamu sangat mencintaiku. Aku senang.”
“Apa kamu juga mengetahui isi pikiran dan hatiku?’’
“Tidak.”
“Itu bagus.”
Theoden kembali akan membuka pakaiannya dan kemejanya hampir terlepas.’’Hei porno.’’
Kiana langsung mengambil alih tubuh Theoden dan kembali memasangkan kemeja ketubuhnya.
’’Apa yang kamu lakukan? Aku ingin berganti pakaian.’’
“Meskipun aku sudah sering melihatmu telanjang, tapi tetap saja aku malu.”
Theoden berusaha kembali mengambil alih tubuhnya dan kembali membuka kacing kemejanya. Kiana kemudian mengambil alih tangan kiri Theoden dan mengancingkan kemejanya kembali.Tangan kanan Theoden dan tangan kiri yang di kuasai Kiana berusaha untuk menahan tangan kanan Theoden untuk melepaskan kemejanya.
Akhirnya tangan kanan dan kiri Theoden saling berkelahi berusaha untuk memasang dan melepaskan kemeja.Tangan tangannya berusaha untuk menahan tangan kirinya yang terus saja memasangkan kancing kemeja.’’Aku tidak akan membiarkan kamu untuk melepaskan kemeja.”
“Kita lihat saja nanti.”
Akhirnya Kiana mencubit keras-keras tangan kanan Theoden sampai kesakitan.’’Baiklah. Aku menyerah. Aku memamg tidak bisa menang darimu. Kamu sudah bisa menguasai tangan kiriku dan jangan coba-coba menguasai mulutku juga atau jangan-jangan kamu akan menguasai seluruh tubuhku.”
“Itu mungkin saja.”
“Kamu ini,”kata Theoden gemas.
Theoden mengambil sebotol wiski dan menuangkannya ke dalam gelas.’’Hei jangan-jangan kamu akan meminumnya.”
“Tentu saja aku akan meminumnya. Aku haus.”
“Jangan lakukan itu!”teriak Kiana .
Theoden tersentak kaget. “Kamu ini kenapa lagi?’’
“Kamu jangan meminumnya. Aku tidak minum itu. Nanti aku bisa mabuk. Aku juga haus. Minum air mineral saja.”
“Aku tidak mau.”
Theoden tetap tidak mau beranjak dari kursinya.’’Theo, ambikan aku air mineral’’
“Aku ingin minum wiski.”
“Pokoknya tidak boleh. Asal kamu tahu ya sekarang tubuhmu juga adalah tubuhku.”
Kiana kemudian mengambil alih kedua kaki Theoden dan mulai berjalan.”Kita mau ke mana?’’
“Ke dapur?’’
Kiana mengambil air mineral dari dalam lemari es. Seorang pelayan masuk.’’Tuan Theoden, apa ada yang Anda butuhkan?’’
“Aku hanya butuh air mineral saja dan aku sudah mengambilnya dari lemari es.”
“Kiana kembalikan tubuhku. Minggir kamu!’’
Kiana pun kembali terdepak dan Theoden kembali menguasai tubuhnya. Theoden pergi ke balkon kamarnya . Angin sore menerpa wajahnya dengan lembut.
“Pokoknya selama aku berada di dalam tubuhmu dilarang keras minuman beralkohol. Aku tidak ingin sakit ketika aku keluar dari tubuhmu nanti, jadi karena sekarang aku berada di tubuhmu setiap pagi dan malam hari Anda harus minum susu. Itu sudah menjadi kebiasaanku.”
“Hei mungil, kenapa aku harus menuruti perintahmu untuk minum susu dua kali sehari? Ini tubuhku dan kamu tidak berhak.”
“Tubu...’’
“Tubuhku adalah tubuhmu juga. Pasti itu yang ingin kamu katakan padaku.”
“Baguslah kalau kamu sudah mengerti.”
“Semoga secepatnya kamu keluar dari tubuhku dan kembali ketubuhmu yang asli.”
“Aku juga ingin segera keluar dari sini. Kita masuk, di luar terasa dingin.”
Theoden masuk ke dalam kamar dan duduk santai di sofa sambil membaca beberapa dokumen.”
“ Aku mengantuk.”
“Tidur saja. Dengan begitu aku bisa tenang tidak mendengar suaramu yang berisik itu.”
__ADS_1
Selama beberapa menit dalam dirinya terasa lebih tenang dan Theoden cepat-cepat pergi mandi dan berganti pakaian selama Kiana masih tidur di dalam dirinya. [ ]