
Joshua ditemani sekretarisnya menyusuri lorong gedungnya menuju ruang latihan piano untuk mengontrol persiapan konser piano yang akan diadakan besok lusa dan semua karyawannya yang tiap kali berpapasan dengannya memberi hormat dan salam. Konser ini akan menjadi konser piano pertama Barbara Bourignon dalam naungan Waldgrave Entertainment. Ia melihat Barbara sedang memainkan piano dengan penuh semangat. Alunan melodinya terdengar sangat indah. Ia sedang memainkan musik La Campanella, Liszt Paganini no.3.
"Sangat indah,"kata Sandra, sekretarisnya sambil membetulkan posisi kacamatanya.
"Iya. Sangat indah."
"Permainan pianonya begitu sangat indah. Aku yakin konser pianonya akan sukses."
"Bagaimana dengan penjualan tiketnya?"
"Sangat bagus sudah terjual habis."
Joshua mendekati Barbara setelah selesai memainkan piano. Barbara langsung mengucapkan salam.
"Semuanya berjalan lancar?"tanya Joshua.
" Iya. Semuanya berjalan lancar. Terima kasih sudah mau datang." Wajah Barbara bersemu merah. Sejak dulu ia selalu menganggumi Joshua sang Presiden Direktur. Ketampanannya membuat jatungnya selalu berdegup kencang.
Joshua mengangguk."Teruskan latihannya!"
Tiba-tiba ekspresi wajah Joshua melemparkan tatapan mengancam. "Jika permainan pianomu nanti tidak sebagus latihan. Aku tidak akan segan-segan memutuskan hubungan kerjasama kita."
"Aku mengerti."
Joshua keluar ruang latihan diikuti oleh sekretarisnya.
"Saya rasa Barbara jatuh cinta kepada Anda."
Langkah Joshua terhenti. "Itu tidak mungkin. Bagaimana dia bisa jatuh cinta padaku?"
Joshua kembali berjalan dengan langkah cepat." Aku hanya tahu saja, karena aku wanita."
"Jangan katakan kalau kamu juga jatuh cinta kepadaku."
"HAH. Tentu saja tidak."
"Aku tahu itu. "
"Lalu kenapa Anda tanyakan itu kalau sudah tahu jawabannya."
"Aku hanya ingin mendengar dari mulutmu saja." Joshua menyunggingkan senyumannya.
"Terserah Anda saja." Sandra memandang bosnya dengab wajah tertekuk.
🎵🎵🎵🎵
__ADS_1
Joshua diundang makan malam oleh sepupunya, Fabian. Kedatangan Joshua disambut senang oleh Raina yang langsung berlari dan memeluknya. Joshua menggendong Raina dan mencium pipinya dengan gemas. Ia pun menyerahkan sebuket bunga untuk Miya dan sekuntum bunga mawar untuk Raina.
"Aku senang kamu datang,''kata Fabian yang berdiri disamping Miya sambil merangkul istrinya dengan mesra.''Sejak dari tadi Raina terus menanyakanmu, betul kan, sayang?''
Fabian menatap istrinya dengan mesra yang lagi-lagi membuat Joshua merasa iri oleh kemesraan mereka berdua.
"Benar. Raina terus menanyakanmu. Katanya ia merindukanmu padahal baru kemarin kalian bertemu."
Joshua melihat ke arah Raina yang masih dalam gendongannya."Kamu merindukanku?''tanya Joshua.
Raina terlihat malu-malu. "Kalau begitu paman Joshua pulang saja."
"Jangan!''teriak Raina spontan.
Joshua tersenyum.''Aku juga merindukanmu, Raina."
Raina tersenyum membuat hati Joshua menghangat.
"Sebentar lagi makan malam siap. Bagaimana kalau kita berbicara sebentar sampai makan malam siap,''kata Fabian.
"Tentu."
"Raina, bisakah kamu pergi menemui kakek dan nenek dulu."
Joshua menikmati segelas wine yang diberikan oleh Fabian sedangkan Miya hanya bisa menikamati segelas jus jeruk .Joshua memperhatikan pasangan suami istri di depannya yang terlihat begitu mesra. Fabian tidak melepaskan rangkulannya dari istrinya sejak dia datang, lalu bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman.
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian,''katanya dengan mimik wajah serius.
Fabian dan Miya balas memandang Joshua dengan serius. Joshua berdeham sebelum mulai bicara. "Izinkan aku menikahi putri kalian." Fabian dan Miya tidak mengatakan apa pun dan tidak menunjukkan reaksi apa pun.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Empat detik. Lima detik. Enam detik.
''HAAAH,''teriak mereka bersama. Mereka berdua kemudian memukuli Joshua.
"Sudah ....sudah hentikan."Joshua dapat bernapas dengan lega setelah mereka berhenti memukul dirinya.
"Jangan sekali-kali melamar putriku. Tidak aku izinkan Raina menikah denganmu,''kata Fabian dengan wajah sangar.
"Lihatlah sang Ayah yang sedang melindungi putrinya,''kata Joshua, lalu tersenyum jahil. "Aku hanya bercanda. Kenapa kalian begitu menganggapnya serius." Joshua berdecak kesal sekaligus senang sudah menjahili mereka berdua.
"Cari saja wanita lain untuk kamu jadikan istrimu,''ujar Fabian, lalu meneguk minumannya yang tinggal setengahnya.
"Kalau masalah itu tidak perlu cemas. Aku pasti akan segera menikah,''kata Joshua dengan senyuman misteriusnya. Seorang pelayan kemudian memberitahukan kepada mereka, makan malam telah siap.
🎵🎵🎵🎵
__ADS_1
Tristan kembali datang ke rumah Phillippa malam harinya. Pria itu begitu bingung melihat Phillippa yang baru pulang bekerja tidak mau menemuinya.''Apa yang terjadi?''
Phillippa menulis dengan cepat dan Tristan membacanya.
Sebaiknya kamu jangan menemuiku lagi.
"Tapi kenapa Philly, apa aku sudah berbuat salah kepadamu? Apa karena aku menciumnu? Kalau masalahnya itu, aku minta maaf." Tristan langsung memeluk Phillippa dan membisikkan sesuatu yang membuatnya terkejut.''Aku mencintaimu."
Phillippa langsung menatap Tristan tidak percaya atas pernyataan cintanya. Apakah Tristan sungguh mencintainya atau hanya mau mempermainkan perasaannya?
"Aku tahu kamu pasti tidak akan percaya, tapi kamu harus percaya."
Tristan kembali menciumnya dan Phillippa membiarkannya. Mungkin yang dikatakan Angelica benar kalau Tristan memilih dirinya daripada Charlotte bukan, karena merasa kasihan. Sekali lagi ia mempercayai Tristan. Phillippa tersenyum kembali.
Keesokan paginya Phillippa datang ke toko musik dengan perasaan senang. Ia kembali memainkan piano. Tanpa ia ketahui Joshua sedang memperhatikannya di ruangan lain dan Mr. Smith duduk di samping Phillippa. Alunan musik Mozart Pachebel Canon In D mengalun dengan sangat indah dan sangat berwarna. Joshua telah dibuat terkesima oleh permainan pianonya. Apa yang dikatakan oleh temannya benar. Gadis itu punya bakat dalam bermain piano. Setelah selesai memainkan piano gadis itu cepet-cepat pergi. Joshua keluar dan Mr. Smith tersenyum kepadanya merasa puas memamerkan calon muridnya yang baru.
" Bagaimana menurutmu?"
"Dia luar biasa. Aku suka. Aku akan datang lagi untuk mendengar permainan pianonya lagi. Sepertinya aku mulai penasaran dengan gadis itu."
Lalu Joshua bergumam yang menyerupai bisikan," Gadis piano."
🎵🎵🎵🎵
Hari demi hari berlalu hubungan Tristan dan Phillippa semakin dekat seperti tidak ada yang dapat memisahkan mereka. Gosip tentang hubungan mereka sudah menyebar dan membuat gerah Charlotte. Gadis itu tidak terima Tristan lebih memilih Phillippa daripada dirinya. Ia tidak terima jika gadis itu telah memenangkan cinta Tristan. "Apa bagusnya dia?''gumamnya kesal.''Dia cuma gadis bisu, cacat dan miskin. Mereka bukan pasangan serasi."
Charlotte melihat Phillippa sedang membeli buah-buahan di mini market, ia langsung menyeretnya untuk ikut bersamanya dan membawanya ke tempat sepi. Di sana Charlotte melepaskan Phillipa dengan kasar sampai gadis itu tersungkur ke tanah.
''Sepertinya kamu tidak mendengarkan perkataanku waktu itu. Aku peringatkan sekali lagi , jauhi Tristan!''
Phillippa langsung menulis dan memperlihatkannya kepada Charlotte.
Kenapa kamu membenciku? Apa salahku kepadamu? Kenapa aku harus menjauhi Tristan?
Charlotte tertawa dengan keras. "Kamu bodoh atau pura-pura tidak mengerti. Itu sudah jelas aku mencintai Tristan dan aku tidak ingin kamu dekat-dekat dengannya. Kenapa aku membencimu? Itu sudah jelas. Aku tidak suka wanita cacat sepertimu. Bagaimana Tristan bisa memilih wanita jelek sepertimu atau otaknya sudah rusak tidak bisa membedakan mana wanita cantik dan bukan,''katanya dengan suara keras.
Charlotte hendak memukul Phillippa, tapi ada tangan kekar dan kuat milik seorang pria yang menahannya. Mereka terkejut dengan kedatangan pria asing yang tiba-tiba. Phillippa mengenalnya. Ia pernah bertabrakan dengannya di depan toko musik Mr.Smith.
"Aku tidak akan membiarkanmu memukulnya."
Pria itu menatap Charlotte dengan tatapan membunuh yang membuat gadis itu ketakutan dan langsung berlari.
"Apa kamu baik-baik saja?"tanyanya.
Phillippa mengangguk, lalu langsung pergi dengan berurai air mata sudah banyak orang yang mengejeknya, karena kecacatan fisiknya seharusnya ia sudah terbiasa mendengarkan hal itu, tapi perasaannya tetap merasa sakit. Sesekali ia menoleh kebelakang melihat pria itu masih berdiri di sana sedang memandanginya. [ ]
__ADS_1