Knight in Shinning Suit

Knight in Shinning Suit
Tulip merah


__ADS_3

Joshua memarkirkan mobilnya secara sembarangan di halaman depan mansionnya setelah pulang dari Castalia mansion. Ia segera menuju kamar ayahnya, Thomas Waldgrave yang  sedang berbaring di tempat tidur dengan tabung oksigen di hidungnya. Ia terkejut dengan kedatangan Joshua yang tiba-tiba.


"Aku ingin menanyakan sesuatu pada ayah?"tanyanya.


"Apa yang ingin kamu tanyakan?"tanyanya dengan napas sesak.


"Apa ayah pernah menyimpan ** di bank **?"


"Kenapa kamu menanyakan itu?"


"Jawab saja ayah. Iya atau tidak ?"


"Iya."


Joshua memejamkan matanya. "Apa ayah pernah mendonorkan sprema ayah kepada wanita lain?"


"Tentu saja tidak pernah."


"Baiklah. Memangnya ada apa?"


"Aku hanya ingin memastikan sesuatu saja. "


Joshua kemudian mencabut beberapa helai rambut ayahnya yang membuat pria tua itu terkejut.


"Apa yang kamu lakukan?"


"Maaf ayah aku akan menjelaskannya nanti."


Joshua terburu-buru keluar sambil memegang rambut ayahnya. Jika pemikirannya benar bisa jadi Raina adalah adiknya. Ia masih teringat kata-kata Fabian kalau gadis kecil itu sangat mirip dengannya. Di saku celananya juga ada rambut Raina. Joshua kembali mengemudi menuju rumah sakit untuk melakukan tes DNA. Ia bisa mengetahui hasilnya dalam 2 minggu lagi. Deringan ponselnya berbunyi tepat di saat ia telah keluar dari rumah sakit.


"Selamat sore Mr. Smith!"


"Pesanan pianomu sudah selesai. Bisakah datang ke tokoku besok pagi?"


"Baik. Aku akan datang."


Joshua menutup ponselnya dan kembali ke mobilnya.


***


Keesokan paginya Joshua datang sesuai janjinya dan tanpa sengaja ia bertubrukan dengan seorang gadis. Ia terkejut melihat cacat di wajahnya. Joshua terheran-heran melihat gadis itu pergi tanpa mengatakan apa pun. Pintu toko berbunyi ketika Joshua masuk.


"Halo Joshua!" sapa Mr. Smith.


"Bagimana kabarmu, Peter?"


"Aku sangat baik."

__ADS_1


"Siapa gadis tadi?"


"Yang mana?"


"Yang baru saja keluar dan wajahnya cacat."


"Oh dia Phillippa. Dia hanya seorang gadis yang suka bermain piano di sini."


Joshua mengerutkan dahinya.


"Oh ya."


Mr. Smith memandang Joshua sesaat, lalu bekata,"Permainan pianonya sangat bagus dan dia sangat berbakat."


"Benarkah?"tanyanya penasaran, karena Joshua selalu percaya apa yang dikatakan oleh Peter salah satu mantan guru besar di sekolah musiknya. Peter tidak mudah memuji permainan piano orang lain kalau orang itu benar-benar bagus dalam bermain piano.


"Jika kamu mendengar permainan pianonya, kamu akan dibuat terkesima."


"Siapa namanya?"


"Phillippa."


"Phillippa,"ulang Joshua.


" Asal kamu tahu saja gadis itu bisu. Besok pagi-pagi kamu datang ke tokoku dan dengarkanlah gadis itu bermain piano."


"Aku bermaksud untuk merekomendasikan gadis itu kepadamu agar dia bisa bersekolah di sana melalui jalur beasiswa."


"Tentu saja, jika di lulus ujian."


"Aku sangat yakin dia akan lulus. Dia memiliki potensi untuk menjadi pianis terkenal."


"Sekarang di mana piano-pianoku?"


"Ah ya. Aku hampir lupa. Ikut aku!"


Joshua mengikuti Peter di belakangnya menuju ruangan toko lainnya. Di sana banyak paino-piano berjajar yang terbungkus plastik siap diikirimkan. Joshua merasa senang, ia tidak perlu mencemaskan kekurangan piano lagi saat ujian beasiswa nanti.


"Kerja bagus. Aku tahu kamu masih bisa diandalkan."


"Aku tahu kamu sangat membutuhkan piano-piano itu, karena murid sekolahmu semakin bertambah banyak."


"Apa kamu tidak ingin mengajar piano lagi di sekolahku?"


"Sekarang ini aku lebih suka mengurus toko musikku."


"Aku akan menaikkan gajimu."

__ADS_1


"Ini bukan masalah gaji. Aku sudah tua, Jo."


"Kamu belum terlalu tua. Keahlianmu dalam bermain piano masih sangat aku butuhkan. Ayolah terima saja tawaranku."


Peter berpikir sejenak dan mempertimbangkannya."Baiklah. Tapi dengan satu syarat. Aku ingin Phillippa menjadi salah satu muridku."


"Baiklah. Aku setuju."


Peter kembali memandang Joshua. Ia memperhatikan temannya itu dengan seksama. Joshua yang menyadari sedang diperhatikan oleh temannya itu, langsung nampak risih.


" Ada apa?"


"Kamu banyak berubah."


"Oh ya."


"Kamu tidak seperti dulu lagi. Tidak lagi bersikap dingin. Aku senang dengan dirimu sekarang. Kamu lebih terbuka dan ramah kepada orang lain."


Joshua kemudian teringat dengan Miya dan Raina. Kedua wanita itulah yang sudah mengubah hidupnya selama ini. Ia tersenyum menanggapi perkataan Peter.


🎵🎵🎵🎵


Phillippa telah sampai di toko bunga. Happy Flower terletak antara dua gedung tinggi di tengah kota. Senyumannya selalu menghiasi wajahnya saat mengingat kejadian tadi pagi bersama Tristan. Ia kemudian teringat Angelica dan merasa bersalah. Phillippa menginggit bibir bawahnya dan memutuskan untuk menceritakan semuanya kepada temannya itu.


Toko bunga masih sepi. Phillippa mulai membereskan beberapa bunga yang akan di jual hari ini setelah semuanya selesai, toko mulai di buka. Suara bel pintu terdengar, Angelica muncul dari balik pintu. Phillippa mendekatinya. Sebelum ia bicara, Angelica sudah mulai bicara duluan. "Aku tahu kemarin kamu berjalan-jalan dengan Tristan dan sepertinya kalian berdua terlihat akrab." Angelica sesaat menatap Phillippa seolah mengerti apa yang akan ditanyakan olehnya.''Aku tahu dari orang-orang yang melihat kalian. Gosip selalu menyebar dengan cepat." Gadis itu menundukkan kepalanya, lalu ia menyerahkan secarik kertas.


Maaf.


"Kenapa harus minta maaf. Kamu tidak bersalah,''kata Angelica dengan senyuman seperti biasanya. "Kalau kalian berdua saling menyukai, itu tidak masalah bagiku. Mungkin aku harus mencari pria tampan lainnya.Tristan untukmu saja." Phillippa merangkul Angelica. "Sudah-sudah. Saatnya kita bekerja."


Gadis itu mengangguk.


Angelica terlihat gembira seperti biasanya. Phillippa ikut merasa senang melihatnya.Sore harinya Phillippa dan Angelica pulang bersama-sama setelah meenutup toko. Tatapannya tertuju pada bunga Tulip merah. Ia teringat kepada ibunya yang sangat menyukai bunga itu, karena ayahnya sering memberikannya. Bunga Tulip merah melambangkan sebuah cinta yang mendalam dan merupakan simbol kasih sayang yang sempurna. Perasaan sedih menyelimuti dirinya setiap kali ia mengingat ibunya.


Di tengah jalan mereka dihadang oleh Charlotte dan gengnya. Charlotte menatap marah kepada Phillippa.''Hai gadis bisu, jelek! Berani-beraninya kamu dekat dengan Tristan. Aku tahu kemarin kalian berdua berjalan-jalan sambil bergandengan tangan. Sebaiknya kamu jauhi Tristan atau....''


"Atau apa?''seru Angelica geram.


"Kamu tidak perlu ikut campur."


"Philly adalah temanku, jadi aku berhak ikut campur kalau ada seseorang yang memperlakukannya tidak baik."


Charlotte mencibir kesal, lalu tatapannya beralih ke Phillippa.''Jika kamu tidak menjauhi Tristan, kamu akan menyesal. Tristan adalah milikku, jadi kamu sebaiknya menjauhinya. Tristan tidak pantas bersama dengan gadis bisu, jelek dan miskin sepertimu. Dia hanya merasa kasihan kepadamu."


Charlotte kemudian pergi dengan sikap angkuhnya. Angelica terlihat kesal dan akan memukul Charlotte, tapi Phillippa mencegahnya. Ia tidak mengerti kenapa Philly hanya berdiam diri saja diejek seperti itu. "Tidak perlu dengarkan dia. Charlotte hanya iri kepadamu. Tristan lebih memilihmu dari pada dia."


Phillippa hanya mengangguk meskipun ada kata-kata Charlotte yang mengusik hatinya yaitu Tristan merasa kasihan dengan keadaannya. Apa benar begitu? Setetes air mata mulai jatuh, Phillippa cepat-cepat menghapusnya. Ia tidak ingin dikasihani oleh siapa pun dan terlihat seperti wanita yang tidak berdaya, kemudian ia mengayuh cepat sepedanya. Angelica menyusulnya dari belakang dan terus melihat temannya itu menghilang dari pandangannya. Angelica hanya mendesah pasrah. [ ]

__ADS_1


__ADS_2