
"Maaf tuan Joshua.''
"Iya Jacques."
"Tuan Fabian dan istrinya telah datang."
"Aku akan segera menemui mereka."
Jacques membungkuk dan segera mengundurkan diri. Setelah menghabiskan sarapan paginya, Joshua bangkit berdiri. Fabian dan Miya duduk di sofa dan terlihat cemas saat Joshua datang. Joshua memandangi mereka satu persatu.''Jadi apa yang ingin kalian bicarakan kepadaku?''
Joshua kemudian mengambil tempat duduk di depan Fabian dan Miya. Miya membuka mulutnya hendak bicara, tapi Fabian sudah mendahuluinya.''Aku ingin memberitahumu sesuatu yang sangat penting,''kata Fabian.
" Apa?"
"Kami sudah menemukan buku harian Jeanette,"kata Fabian, lalu menyerahkannya kepada Joshua. ia membacanya sekailas, lalu menutup buku itu.
"Ternyata dia mencuri sprema ayahku dan Raina mempunyai saudara kembar." Joshua tidak bisa menutupi keterejutannya.
🎵🎵🎵
Phillippa baru saja datang untuk memulai pelajaran musiknya dengan berlari-lari, karena sudah terlambat, ia secara tidak sengaja menabrak seorang wanita.
" Kalau jalan hati-hati!"teriak wanita itu marah. Wanita itu mengerang kesakitan dan buku yang dibawanya berceceran kemana-kemana.
"Celine, kamu tidak apa-apa?"tanya teman perempunnya bernama Erina.
Celine mengerang kesakitan."Sepertinya kakiku terkilir."
"Sebaiknya kita ke ruang kesehatan."
Celine mengangguk dan Erina membantunya berdiri, sedangkan Phillippa menatap wanita itu dengan perasaan bersalah. Celine akhirnya menatap Phillippa dengan pandangan galak.
"Kenapa kamu tidak minta maaf padaku,"seru Celine marah. Wanita itu terkejut melihat kecacatan di wajah Phillippa, karena rambut yang menutupinya tersibak. Erina juga ikut terkejut dan mereka akhirnya memandang jijik kepadanya.
"Hei! Kenapa diam saja? Apa kamu bisu?"
Cepat-cepat Phillippa menulis dengan tangan gemetar dan mereka berdua memperhatikannya dengan bingung, kemudian Phillippa menunjukkan tulisannya kepada Celine dan Erina.
Aku minta maaf sudah menabrakmu. Aku tidak sengaja. Maafkan aku. Namaku Phillippa dan aku tidak bisa bicara.
Celine memandang jijik dan rendah kepada Phillippa." Ternyata kamu tidak bisa bicara dan wajahmu jelek sekali. Aku tidak mengerti kenapa kamu bisa bersekolah ditempat ini. Sekolah ini tidak cocok untuk orang-orang sepertimu. Aku tidak terima kamu menabrakmu dan membuat kakiku terluka.Aku akan melaporkan perbuatanmu pada kepala sekolah."
Phillippa panik dan ketakutan. Ia tidak ingin memiliki catatan buruk yang akan membuatnya dikeluarkan dari sekolah.
"Ayo Erina! Kita pergi."
__ADS_1
Phillippa menyandarkan tubuhnya ditembok dengan kaki lemas. Ia menghela napas panjang sebelum pergi ke kelasnya. Mr. Smith telah menunggunya. Phillippa minta maaf atas keterlambatannya.
Mr. Smith tersenyum." Lain kali jangan terlambat lagi."
Phillippa mengangguk.
"Kita mulai pelajarannya."
Alunan musik terdengar dengan sangat indah. Musik gubahan Schumann piano sonata no.2 in G minor menarik pehatian Barbara yang sengaja datang untuk melihat Phillippa yang sudah menarik perhatian Joshua. Barbara mengintip dan tubuhnya beku mendengar permainan pianonya. Ia tidak menyangka gadis itu bisa bermain piano sebaik itu, bahkan dirinya pun belum tentu bisa main sebagus itu. Ada rasa iri yang timbul dalam perasaan Barbara. Musik itu akan ia mainkan di konser berikutnya dua minggu lagi. Setelah musik selesai di mainkan, Barbara langsung pergi.
Phillippa bersiap-siap akan pulang ketika ia mendapat panggilan dari kepala sekolah untuk datang ke kantornya melalui pengumuman suara. Ia menduga pasti masalah yang tadi. Dengan perasaan was-was ia pergi menuju ruang kepala sekolah. Setibanya di sana ia terkejut melihat Joshua. Kesadaran menghentak dirinya, Joshua ternyata kepala sekolahnya dan yang membuatnya shock adalah ia melihat Roland Rosseau, pria yang sudah menghancurkan hidup ibunya dan juga ada wanita yang ditabraknya tadi pagi. Kakinya dibalut perban.
"Masuklah!"kata Joshua kepada Phillippa.
Phillipa masuk meskipun langkah kakinya terasa sangat berat. Ia harus berada satu ruangan dengan pria yang dibencinya. Phillippa tidakk mengerti kenapa pria itu berada di sini.
"Jadi ini orang yang sudah menabrak putriku sampai kakinya terkilir,"kata Roland.
Phillippa terkejut ternyata Roland adalah ayahnya wanita yang ditabrak olehnya. Mereka memandang tidak suka kepadanya, sedangkan Phillippa memandang dengan kebencian dan hal itu menarik perhatian Joshua.
"Apa itu benar kamu sudah menabraknya?"tanya Joshua.
Phillippa mengangguk, lalu menulis.
"Dia harus dihukum,"kata Roland marah.
Phillippa menggeleng-gelengkan kepalanya. Air matanya hampir mendesak keluar dan ia menatap Joshua dengan pandangan memohon.
"Keluarkan saja dia dari sekolah ini."
"Aku tidak bisa melakukannya,"kata Joshua.
"Apa? Tapi kenapa?"
"Karena putri Anda baik-baik saja. Dia hanya pura-pura kakinya terluka."
Beberapa menit yang lalu Joshua mendapat laporan mengenai Phillippa yang sudah menyebabkan Celine terluka, ia segera datang ke sekolahnya untuk mengeceknya. Joshua langsung pergi menuju ruang kesehatan dan ia sengaja mendengar pembicaraan Celine dan temannya.
"Dasar gadis bodoh. Sebentar lagi gadis cacat itu akan dikeluarkan dari sekolah gara-gara telah membuat kakiku terluka, tapi sebenarnya kakiku tidak apa-apa. Tadi itu hanya tabrakan kecil saja tidak akan membat kakiku sampai terluka parah."
"Kenapa kamu melakukan itu?"tanya Erina.
"Karena aku tidak suka kepadanya sejak ia masuk ke sekolah ini. Dia menjadi murid kesayangan Mr. Smith. Aku juga kan ingin menjadi muridnya. Dia guru pianis terhebat di sekolah ini. Aku tidak menyangka dibalik wajahnya yang tertutup rambut, wajahnya cacat dan bisu. Aku terkejut melihatnya tadi."
Joshua merasa geram dengan kata-kata Celine, lalu pergi secara diam-diam.
__ADS_1
"Benarkah itu, Celine?"tanya Roland.
Celine mengangguk.
"Kenapa kamu melakukan ini?"
"Karena aku tidak suka kepadanya,"kata Celine dengan wajah cemberut.
Phillippa merasa lega, karena Celine telah berbohong tentang kakinya yang terluka, lalu diam-diam melirik ke arah Joshua. Wajah gadis itu merona merah setelah baru menyadari pria itu sangat tampan dalam setelan jasnya. Bagi Phillippa sekarang Joshua terlihat seperti ksatria yang selalu menolongnya hanya ksatria itu tidak memakai baju zirah yang mengkilap tapi dalam setelan jasnya.
"Kamu sudah membuat ayah malu saja. Ayo pulang!"
Roland dan putrinya pulang setelah meminta maaf dan hal ini tidak akan terjadi lagi. Phillippa pun mengucapkan terima kasih kepada Joshua, karena sudah membongkar kelicikan Celine.
"Kamu tidak perlu berterima kasih, karena itu sudah tugasku. Sekarang kamu boleh pergi."
Phillippa meninggalkan ruangan dan Joshua mendesah lega. Sekarang ia harus memikirkan untuk menemukan saudara kembarnya Raina bersama Fabian dan Miya. Rencananya mereka akan mencarinya besok pagi.
🎵🎵🎵
Keesokan paginya sesuai rencana mereka berkumpul di Castalia mansion dan mereka pergi bersama ke panti asuhan Saint Monica. Sesampainya di sana mereka bertemu dengan kepala panti asuhan. Setelah mendengar cerita Fabian, kepala panti asuhan membenarkan bahwa dulu ada bayi dengan tanda lahir di punggungnya ditinggalkan di sana.
"Bisakah kami menemui anak itu?"tanya Joshua.
"Sayangnya tidak bisa, karena anak itu sudah meninggal sejak satu minggu ditemukan. Bayi itu terkena pneumonia parah."
"Ya Tuhan,"seru Miya terkejut.
"Apa anda bisa mengantarkan kami ke makamnya?"tanya Joshua.
"Tentu saja. Makamnya tidak jauh dari sini."
Makam itu terletak di halaman belakang gereja tua dekat panti asuhan. Kepala panti menunjukkan makam itu di dekat pohon willow. Di batu nisan tertulis nama Emira tanpa ada nama keluarga. Joshua menitikan air matanya untuk yang kedua kalinya ia kehilangan seorang adik.
"Aku turut berduka cita,"kata Fabian sedih. Ia juga sangat menyayangkan saudara kembar Raina harus meninggal, tadinya Fabian berencana untuk mengadopsinya juga.
"Aku ingin batu nisan ini diperbaiki dan tertulis nama keluargaku,"kata Joshua kepada kepala panti asuhan."
"Tentu. Akan saya lakukan ssesuai keinginan Anda."
"Aku akan kemari lagi setelah makam adikku diperbaiki."
"Baiklah. Saya akan menyuruh orang untuk memperbaikinya dan memasang batu nisan yang baru."
Sebelum pergi Joshua meletakkan setangkai bunga mawar merah. [ ]
__ADS_1