
Season 2 ini menceritakan tentang Kiana.
Author akan menggunakan alur mundur dan maju jd perhatikan tahunnya supaya ngga pusing 😁
🥀🥀🥀
5 tahun yang lalu
Sebuah mobil sedan bertabrakan dengan mobil container makanan. Kaleng-kaleng yang berisi daging olahan berhamburan keluar. Depan mobil sedan mengeluarkan asap yang cukup tebal dan orang-orang disekitar berteriak ketakutan. Beberapa orang dari mereka segera mendekat untuk segera melakukan pertolongan.
Seorang pria setengah baya tidak sadarkan diri di mobil yang dikendarainya. Darah merah segar mengalir di dahinya, sedangkan sopir truk hanya terluka ringan.Mereka berusaha mengeluarkan pria itu dari mobilnya dan segera membawanya ke rumah sakit.
Theoden yang masih berusia 6 tahun sedang serius belajar di kamarnya mengerjakan beberapa tugas sekolah sampai dia dikejutkan oleh kedatangan pelayan ke kamarnya dengan wajah pucat.
’’Tuan muda, ayah Anda mengalami kecelakaan dan sekarang keadaannya kritis.”
Theoden menjatuhkan pensil yang dipegangnya dan wajahnya terlihat pucat dan shock.
’’Anda pergilah ke rumah sakit, saya akan mengantarkan Anda pergi ke sana.”
Theoden membereskan buku-bukunya masih dengan tubuh yang gemetar. Kedua tangannya terasa lemas . Di dalam mobil tatapan Theoden kosong hanya memandang ke arah luar jendela mobil.Pelayan yang biasa di panggil Florie memandanginya dengan sedih. Beberapa menit kemudian mereka tiba di rumah sakit.
Hendrik, ayahnya masih berada di ruang operasi. Theoden memeluk ibunya, lalu duduk diam dikursi dengan kepala tertunduk.Tidak lama kemudian seorang perawat keluar dan mengatakan kalau mereka telah kehabisan darah yang cocok dengan ayahnya.
“Semoga tuan Hendrik nyawanya dapat tertolong,’’kata Florie.
Theoden tiba-tiba berdiri dan berlari.
’’Tuan Theoden, Anda mau kemana?’’
Theoden tidak menghiraukannya dan terus berlari.Di taman rumah sakit dia duduk dibangku dan pandangannya menerawang ke depan dengan pandangan kosong. Tanpa ia sadari perlahan-lahan air matanya menetes dan seketika langsung membasahi wajahnya.Tidak jauh dari Theoden duduk, seorang pria sedang memperhatikannya dan merasa kasihan kepadanya.
“Kamu baik-baik saja?’’tanya pria itu. Theoden hanya diam.
“Apa ibumu sakit? Atau ayahmu yang sakit?’’
Theoden masih diam.’’Kalau ada masalah kamu bisa menceritakannya sedikit kepadaku mungkin itu bisa sedikit mengurangi beban dihatimu sekarang. Itu pun jika kamu mau. Aku tahu, aku hanya orang asing bagimu dan kita tidak saling mengenal.”
“Ayahku, dia mengalami kecelakaan,’’jawab Theoden tiba-tiba. Kening pria itu berkerut.
“Lalu sekarang bagaimana keadaannya?’’
“Aku tidak tahu. Beberapa saat yang lalu dia masih ada diruang operasi dan mereka telah kehabisan darah yang cocok dengan ayahku.”
“Apa golongan darah ayahmu?’’
“AB.”
“Mungkin aku bisa membantu ayahmu?’’
“Eh...’’
“Antarkan aku pada dokter yang menangani ayahmu. Darah ayahmu sama denganku.”
“Benarkah?’’tanya Theoden sedikit terkejut.Pria itu mengangguk pelan.
“Aku akan bawa Anda menemui dokter.”
Theoden menemukan pelayannya yang sedang menunggu cemas dan melihat Theoden datang dengan pria asing. Matanya melirik curiga ke arah pria itu.’’Pria ini siapa?’’
“Florie, dia bisa menyelamatkan ayah.”
“Apa maksud Anda?’’
“Golongan darahnya sama dengan ayah, jadi dia bisa menyelamatkan ayah.”
“Itu benar,’’kata pria itu.
Sekali lagi Florie melihat pria itu.’’Baiklah, saya membawa Anda pada dokter.”
Pria itu masuk kedalam ruang operasi dengan ditemani perawat yang sebelumnya sudah dipanggil oleh Florie. Beberapa menit kemudian dokter keluar dengan beberapa orang perawat.’’Bagaimana keadaannya?’’
“ Mr. MacAllister baik-baik saja dan nyawanya dapat tertolong.”
“Syukurlah,’’kata Irene, ibunya Theoden.
Theoden pun terlihat lega.
’’Sekarang semuanya akan baik-baik saja,"kata ibunya.
Theoden mengangguk.
Pria itu keluar dan Theoden menghampirinya.’’Terima kasih banyak Anda sudah menyelamatkan ayahku.”
Pria itu tersenyum dan mengacak-acak rambutnya.’’Aku juga turut senang bisa membantu ayahmu.”
“Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Anda,’’kata Irene.
“Aku senang bisa membantu.”
“Kalau boleh saya tahu siapa nama Anda?’’tanya Irene.
“Joshua Waldgrave.”
__ADS_1
Joshua melihat jam tangannya.’’Saya harus segera pergi. Aku sudah terlalu lama meninggalkan istriku yang baru saja melahirkan pasti sekarang dia sedang menungguku.”
Sebelum pergi pria itu menatap Theoden.’’Sampai jumpa anak muda!’’
Pria itu berlalu pergi.
“Tuan Theoden, dia orang baik ya?Kalau tidak ada dia pasti Tuan Hendrik tidak akan selamat," kata Florie.
“Aku ingin melihat keadaan ayah.”
Theoden dan ibunya pergi menuju kamar. Hendrik terbaring tidak berdaya beberapa alat medis terpasang ditubuhnya. Theoden menatapnya dengan sedih.
”Cepat sembuh ayah!”gumamnya.
Sementara itu Joshua masuk ke kamar di mana istrinya berada. Ia mengecup kening Phillippa.
“Apa Kiana sedang tidur?’’
Istrinya menganggukkan kepalanya.’’Dia tidur nyenyak sekali.”
Joshua memandangi bayinya yang terlelap tidur, kemudian memeluk mereka berdua.Di luar salju kembali turun dengan lebat. Ia kemudian menceritakan pertemuannya dengan seorang anak dan mendonorkan darahnya untuk ayahnya. Setelah satu minggu berada di rumah sakit, Joshua membawa pulang istri dan anaknya.
’’Sebelum kita pulang aku ingin bertemu dengan seseorang yang pernah aku ceritakan padamu.”
“Maksudmu Mr. MacAllister?”
“Benar. Kamu tidak keberatan kan?’’
“Tentu saja tidak.”
Theoden yang baru saja pulang sekolah sedang berada di kamar melihat keadaan ayahnya yang sudah mulai membaik sekarang tidak ada lagi peralatan medis yang menempel ditubuhnya.Ayahnya sedang tertidur dan dia tidak berani untuk menganggunya, akhirnya dia keluar dan melihat pria yang dikenalnya datang bersama seorang wanita dan juga bayi yang berada dalam gendongan ibunya.
“Halo Theoden! Bagaimana keadaan ayahmu?’’
“Sudah lebih baik. Terima kasih.”
“Syukurlah. Kenalkan ini istriku, Phillippa dan putriku, Kiana.”
“Halo ! Senang bisa mengenal Anda.”
“Aku juga. Kamu anak yang sangat tampan,”kata Phillippa. Wajah Theoden merona.
“Aku mau melihat ayahnya Theoden sebentar. Kamu tunggu saja di sini.”
“ Baik.”
Phillippa melihat Theoden sedang menatap Kiana dengan tatapan terpesona. Phillippa tersenyum melihatnya. Tidak lama kemudian Joshua keluar dan melihat istrinya sedang berbicara dengan Theoden.
Mereka mengangguk, lalu Joshua meminta tolong pada seorang perawat yang lewat di depan mereka.
“Satu....dua...tiga...’’
“Terima kasih banyak.”
Perawat itu mengangguk kemudian pergi.’’Setelah fotonya aku cetak, aku akan segera mengirimkannya padamu.”
“Baik.”
“Sekarang kami harus pulang dulu. Semoga kita nanti dapat bertemu kembali. Sampai jumpa!’’
“Sampai jumpa!’’
Theoden merasakan kesepian lagi setelah mereka pergi dan dia pun duduk sampai akhirnya salah satu pelayannya datang untuk menjemputnya pulang. Beberapa hari kemudian kesehatan Hendrik mulai berangsur pulih dan dokter sudah mengizinkannya untuk pulang.
Theoden sangat senang ketika ayahnya diperbolehkan pulang.
Satu minggu sejak pulang dari rumah sakit Theoden mendapatkan sebuah surat dan wajahnya sedikit ceria menerima sebuah amplop putih kecil ketika dia mengetahui nama pengirimya Joshua Waldgrave.
Theoden segera membukanya dan ada perasaan hangat muncul dihatinya ketika melihat foto yang sedang dipegangnya . Foto itu terlihat seperti sebuah keluarga bahagia baginya. Foto itu ia simpan disebuah album.Suara ketukan dipintu kamarnya membuatnya terkejut.
“Masuk!’’
“Maaf Tuan Theoden, Tuan Hendrik ingin bertemu dengan Anda.”
“Aku akan segera ke sana.”
“Baik. Permisi!’’
Theoden mendesah, lalu keluar kamar. Sebelum masuk ke kamar ayahnya, ia menarik nafas panjang.
Tok...tok..
“Masuk!’’
“Ada apa ayah?’’
“Bagaimana sekolahmu ?’’
“Baik.”
“Mendekatlah!’’
Theoden merasa ragu, tapi akhirnya mendekat.
__ADS_1
“Theoden, siapa yang sudah memberikan darah kepadaku?’’
“Joshua Waldgrave. Memangnya kenapa?’’
“Ayah sudah berhutang budi kepadanya dan ayah ingin membalas kebaikannya. Apa kamu tahu alamat di mana dia tinggal?’’
Theoden teringat foto yang dikirimkan untuknya dan diamplop itu tertlis alamat rumahnya.’’Aku tahu.”
“Kalau begitu tuliskan alamatnya untukku.”
“Baik.”
Theoden kembali ke kamarnya dan tidak sampai lima menit dia sudah berada kembali di kamar ayahnya.’’Ini ayah.”
“Terima kasih. Sekarang panggilkan Jeff kemari!’’
Theoden keluar kamar dan menemukan Jeff di dapur.
“Jeff, ayah memanggilmu.”
Jeff segera pergi ke kamar Hendrik dan Theoden kembali ke kamarnya. Hendrik sedang memandangi secarik kertas yang sedang dipegangnya.
“Permisi Tuan! Anda memanggil saya?’’
“Masuklah!’’
“Apa yang bisa saya lakukan untuk Anda?’’
“Tolong Antar aku pergi ke alamat ini !”
Hendrik memberikan secarik kertas kepadanya.
“Baik. Saya akan segera mempersiapkan kepergian Anda . Permisi!’’
🥀🥀🥀
Salju yang turun hampir semalaman membuat jalanan di penuhi salju dan menjadi licin. Hendrik dan Jeff pergi ke alamat orang yang dimaksud oleh Tuannya. Setelah satu jam mencari, akhirnya Jeff menemukan alamat yang tertulis di secarik kertas, yaitu sebuah mansion besar. Mereka terkejut melihatnya. Hendrik tak percaya orang yang sudah menyelamatkan hidupnya berasal dari keuarga kaya.
Tadinya Hendrik akan memberikan sejumlah uang kepada penolongnya sebagai imbalan, karena telah menolongnya. Jeff menekan tombol bel dan seorang pria menjawabnya.
“Kami ingin bertemu dengan Tuan Joshua Waldgrave.”
Tidak sampai satu menit pintu gerbang terbuka. Kepala pelayan menyambut mereka dan membawa mereka ke ruang tamu.
“Selamat sore!”sapa Joshua.
“Selamat Sore!”sapa Hendrik.
“Saya terkejut dengan kedatangan Anda ke sini. Saya juga senang Anda sudah sehat kembali.”
“Ini semua karena pertolongan Anda, Tuan Waldgrave. Tujuan saya datang ke sini untuk mengucapkan terima kasih, karena sudah menolong saya.”
“Itu sudah kewajiban saya untuk menolong dan kebetulan golangan darah saya sama dengan Anda. Saat saya melihat Anda di rumah sakit, Anda sedang tidur.”
“Kalau tidak ada Anda, saya tidak akan ada di sini.”
Phillippa kemudian datang bersama bayinya dan Joshua memperkenalkannya kepada Hendrik.
“Bayi Anda sangat cantik. Siapa namanya?”
“Kiana.”
“Nama yang bagus.”
“Terima kasih.”
“Sebagai rasa terima kasihku aku ingin menawarkan sesuatu kepada Anda. Aku ingin menjodohkan putraku, Theoden dengan Kiana.”
Joshua dan Phillippa terkejut.
“Menjodohkan Kiana dengan Theoden,”seru Phillippa.
“Benar. Apa kalian setuju?”
“Terima kasih atas tawaran Anda, tapi aku tidak bisa memaksa putriku untuk menikah dengan putra Anda. Jika Kiana mencintai Theoden, aku akan menyetujui hubungan mereka, tapi jika Kiana jatuh cinta kepada pria lain, aku tidak bisa memaksanya.”
“Anda memang ada benarnya. Saya juga tidak akan memaksakan putraku menikah dengan wanita yang tidak ia cintai, tapi saya ingin Kiana menjadi calon menantuku. Saya ingin Theoden bertunangan dengan Kiana, jika mereka sudah besar, saya akan meyerahkan keputusan di tangan mereka, apa pertunangan ini akan dilanjutkan atau tidak.”
“Kami akan memikirkannya lagi.”
“Saya mengerti. Saya akan datang ke sini seminggu lagi dan saya harap kalian sudah mempunyai jawabannya. Saya permisi pulang dulu.”
Joshua dan Phillippa mengantarkan Hendrik sampai pintu depan.
Satu minggu kemudian Hendrik kembali mengunjungi Joshua untuk meminta jawabannya. Ia juga memperkenalkan Irene, istrinya.
"Jadi apa jawaban kalian?"
“Saya dan istriku menyetujuinya dengan syarat, jika Kiana mencintai pria lain, pertunangan ini batal.”
“Aku setuju.”
Hendrik kemudian memberikan cincin pertunangan untuk Kiana. Di dalam cincin itu tertulis nama Kiana dan Theoden. [ ]
__ADS_1