
Sore harinya Kiana menyeduh susu coklat panas. Uap panas mengepul dari gelas, perlahan-lahan Kiana meniupnya dan meminumnya pelan-pelan.’’Ah nikmat sekali.”
PRAANNGG!
Gelas yang dipegang Kiana seketika jatuh sekelebat bayangan terlintas dikepalanya. Ia melihat seorang kakek tua tersenyum penuh kasih sayang kepadanya dan bayangan itu kemudian berganti ia melihat kedua tangannya penuh dengan darah dan lantai pun banjir dengan darah.
Kiana merasakan kepalanya sedikit berdenyut, lalu ia kembali ke kenyataan dan masih berdiri mematung ditempatnya. Ia melihat kedua tangannya yang putih bersih tidak seperti yang ia lihat tadi. Tubuhnya gemetar dan memeluk dirinya dengan tangannya.’’Apa itu tadi?’’
Debaran jantungnya berdebar kencang. Ia berjalan pelan-pelan, lalu duduk di tepi tempat tidur. Pintu kamar terbuka, Theoden masuk terkejut melihat Kiana dengan pandangan kosong dan ada pecahan gelas di dekatnya.
’’Kiana...Kiana...’’
Theoden memanggilnya berkali-kali dan mengguncang-guncang tubuhnya, tapi tidak ada reaksi darinya.
“KIANAAA,’’teriaknya. Akhirnya Kiana tersadar dan terkejut melihat Theoden yang sedang menatapnya cemas.
“Ada apa lagi, sayang? Apa ada yang menganggu pikiranmu.
“Tadi aku melihat banyak darah, tapi aku tidak tahu darah siapa itu.”
“Hah?’’
“Aku benar-benar takut.” Tubuh Kiana merinding.
Theoden langsung memeluknya dan berusaha menenangkannya.‘’Tenanglah! Lalu kenapa kamu sampai bisa melihat darah?’’
“Entalah, itu tiba-tiba saja ada dalam kepalaku.”
“Sebaiknya kamu istirahat saja. Aku akan membangunkanmu, jika makan malam telah siap.”
Tanpa berkata apa-apa lagi Kiana membaringkan tubuhnya. Theoden juga membaringkan tubuhnya di samping Kiana dan memeluknya. Kiana pun terlelap tidur. Malam itu Kiana tidur begitu nyenyaknya sehingga Theoden tidak tega untuk membangunkannya.
Sayup-sayup terdengar bunyi alunan musik yang tidak begitu asing baginya. Semilir angin malam berhembus dengan sejuk menyentuh kulitnya. “Di mana aku?’’
Suasana begitu hening yang terdengar hanya suara jangkrik yang saling bersahutan. Matanya memandang bulan purnama.’’Indahnya.”
Matanya menangkap sosok seseorang yang berada di bawah jembatan di dekat aliran sungai, tapi ia tidak dapat melihatnya dengan jelas, karena seluruh tubuhnya terlihat hitam, ia tahu kalau orang itu sedang menatapnya.
“Kiana ternyata kamu ada di sini sudah berapa kali aku bilang jangan keluar malam-malam. Ayo masuk ke dalam rumah!’’
“Eh, siapa Anda?”
“Kiana, ada apa denganmu? Apa kamu tidak mengenali nenekmu lagi.”
Tangannya begitu terasa hangat diantara kulitnya yang dingin. Sudah lama ia tidak merasakan kehangatan tangan ibunya sejak ia menikah. Kelopak bunga wisteria berjatuhan di kepalanya yang ditiup oleh angin malam.
’’Eh rumah ini, aku dan Theoden pernah datang kemari, tapi kenapa wanita yang mengaku sebagai Ibu baptisku mengajakku ke sini?’’bisik hatinya.Pintu gerbang tinggi itu terbuka ketika wanita itu mengarahkan wajahnya ke kamera yang terpasang di depan.
“Kenapa kita masuk ke sini?’’
“Kamu ini bicara apa?’’
“Ini rumahku dan rumahmu juga.”
“Eeehh.”
“Kamu ini aneh sekali Kiana. Apa kepalamu tadi terbentur sesuatu?’’
“Tidak.” Kiana hanya terdiam. Wanita tua itu menyeret dirinya memasuki sebuah kamar yang cukup besar dan mewah. “Ini kan kamar anak-anak,’’pikirnya.
“Tidurlah! Ibu akan membacakanmu sebuah dongeng sebelum kamu tidur.”Ditangannya sudah memegang sebuah buku dan mulai membacakan sebuah cerita.
Tidur Kiana mulai gelisah, lalu tiba-tiba ia melihat ibu baptisnya sedang menatap cemas kepadanya sambil membangunkan dirinya.’’Kiana…Kiana, bangun, kita harus pergi dari sini.”
Matahari menyinari segala penjuru kamar dan sinarnya menyelinap dari balik awan-awan diiringi oleh cicit suara burung. Desir angin sejuk bertiup, merayu sisa-sisa embun yang berjuntaian laksana kilauan intan berlian. Kiana mengerjap-ngerjapkan matanya. Silau mentari pagi mengenai matanya. Ia bangun dan merentangkan kedua tangannya. Ia melihat jam beker di sampingnya dan matanya melebar.
’’Sudah pagi lagi.” Kiana bergegas membersihkan diri dan kemudian berpakaian.
Theoden dan ayahnya teah berada di ruang makan dan mereka serentak mengucapkan ‘’Selamat pagi!’’
“Pagi!’’
“Sebaiknya kamu duduk. Makan pagi telah siap!’’
“Kenapa kamu tidak membangunkanku tadi malam?”
__ADS_1
“Aku tidak tega membangunkanmu, karena tidurmu sangat nyenyak.”
Kiana menyuapkan supnya banyak-banyak ke dalam mulutnya.
Selesai makan Kiana kembali ke kamarnya setelah mendapat kecupan dari suaminya yang pergi bekerja. Theoden baru saja tiba di kantornya dan disambut Carrie dengan memberikan pekerjaan yang banyak.’’Apa jadwalku hari ini?’’
“Anda ada pertemuan dengan wakil dari perusahaan Grimaldi corp untuk membahas mengenai investasi. Ini kesempatan besar untuk perusahaan kita, karena mereka tertarik untuk menanamkan sahamnya di sini.”
“Aku akan segera menemui mereka. Apa masih ada lagi?’’
“Ini mengenai data dari perusahaan Grimaldi corp. Saya rasa mereka bukan seperti yang kita kira selama ini.” Theoden menatap Carrie dengan rasa penasaran.
“Sekarang kamu boleh pergi. Aku akan membacanya dengan teliti.”
Theoden mulai membaca laporan yang diberikan Carrie dan ia mengerenyitkan dahinya setelah membaca beberapa lembar laporan tersebut.Senyuman seringai menghiasi wajahnya yang tampan.
Dilaporan itu tertulis perusahaan Grimaldi corp. Perusahaan yang bergerak disegala bidang bisnis , hotel, industri, otomotif, retail, kesehatan, pertanian , peternakan dan juga properti. Bisinisnya tidak hanya menguasain pasaran Inggris,dan Eropa, tapi juga juga sudah menguasai pasaran Asia. Mereka memiliki kurang lebih 5000 rumah sakit yang terserbar diseluruh Eropa baik rumah sakit kecil maupun besar, mempunyai puluhan ribu hektar lahan pertanian di Eropa, 500 pabrik mobil ,10000 supermarket, 400 pabrik makanan dan minuman, 100 bank dan itu hanya berada di Eropa belum yang berada di Asia.
Theoden menyimpan laporan itu di meja, lalu bersandar pada kursinya yang mengarah ke jendela memandangi birunya langit.Ia tersenyum dan binar matanya penuh kerinduan pada Kiana. Padahal baru beberpa jam yang lalu ia pergi dari rumah. Ia rindu akan pelukan hangatnya dan ciumannya yang memberikan sejuta kenikmatan. Suara deringan ponselnya membuyarkan lamunannya.Ia tersenyum senang.
“Halo sayang!
“Theoden.”
“Iya sayang.”
“Aku hanya ingin mendengar suaramu saja. Maaf kalau sudah mengangggumu.”
“Kamu tidak akan pernah mengangguku. Sebaliknya aku sangat senang, jika kamu meneleponku. Kamu dimana sekarang?’’
“Di rumah.”
“Tidak pergi kemana-mana?’’
“Sepertinya tidak.”
“Sebaiknya kamu pergi memeriksakan dirimu ke rumah sakit. Aku ingin sekali mengantarmu, tapi setelah aku pikir sebaiknya kamu segera ke rumah sakit sendirian. Lebh cepat lebih baik.”
“Aku baik-baik saja. Aku tahu kondisi tubuhku.”
“Aku malas pergi kesana.”
“ Kamu keras kepala. Aku mohon untuk kali ini turuti perkataanku, ini juga demi kebaikanmu.”
“Baiklah, aku akan pergi ke rumah sakit kalau itu membuatmu senang.”
“Terima kasih sayang. Nanti aku akan menjemputmu dan kita akan pergi kesuatu tempat.”
“Baiklah.”
“Sampai jumpa di rumah sakit!”
🥀🥀🥀
Sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan sebuah rumah sakit. Kiana keluar dari mobil dengan perasaan enggan dan akhirnya ia masuk ke rumah sakit. Setelah menjalani berbagai macam pemeriksaan yang membutuhkan waktu lama akhirnya ia tinggal menunggu pemeriksaan yang terakhir yaitu melakukan MRI (magnetic resonance imaging) di kepalanya.
Setelah selesai Kiana duduk menunggu penjelasan dokter. Dokter itu terlihat sudah tua, tapi sifatnya penuh kebapakan.’’Nyonya MacAllister sepertinya Anda pernah mempunyai luka di kepala bertahun-tahun yang lalu.”
“Eh.”
“Otak Anda menyatakan pernah terjadi luka di sana.”
“Tapi aku tidak ingat pernah mengalaminya.”
“Itu wajar karena Anda sekarang menderita amnesia.”
“Apa amnesia ?’’tanya terkejut.
“Benar. Luka yang Anda alami mengenai otak memori Anda sehingga Anda kehilangan sebagian ingatan.”
“Jadi aku amnesia sebagian,’’katanya tidak percaya.
“Apa sampai sekarang Anda belum ingat apa-apa?’’
“Aku tidak begitu yakin.”
__ADS_1
“Sudah bisa dipastikan penyebab Anda sering pusing karena efek samping dari amnesia Anda ketika Anda mengingat sesuatu dari masa lalu Anda atau muncul beberapa potongan ingatan, kepala Anda akan terasa sakit. Itu wajar. Kalau dilihat Anda sudah mengalami amensia selama 8 tahun.”
Kiana terkejut dan hampir tidak mempercayainya.’’Kalau begitu aku amnesia ketika usiaku 12 tahun."
‘’Benar.”
“Pantas aja aku tidak dapat mengingat sebagian masa kecilku.”
“Tapi jangan khawatir amensia anda hanya bersifat sementara bukan permanen. Anda masih mempunyai kesempatan besar untuk sembuh meskipun tidak tahu kapan hal itu akan terjadi.”
“Saya mengerti.”
“Jangan memaksa untuk mengingatnya, biarlah ingatan itu muncul dengan sendirinya.”
“Baik.”
“Ini resep obat untuk sakit kepala.”
Dokter itu tersenyum lembut.’’Sebaiknya Anda mulai sekarang jaga kesehatan Anda’’.
‘’Saya mengerti. Permisi!’’
Kiana keluar ruangan masih dengan rasa tidak percaya dengan penjelasan dokter. Ia amnesia. Kiana berjalan sambil memikirkan penyakit amnesianya dan tidak mendengar seseorang memanggilnya.
“Kiana.”
“Kenapa aku bisa amensia ya? Apa penyebabnya? Aku sama sekali tidak ingat?’’tanyanya dalam hati.
“Kiana.”
Kiana tersadar dan melihat Theoden sedang menatapnya cemas. Theoden segera menarik lengan Kiana, lalu masuk kedalam mobil.’’Kamu ini kenapa? Dari tadi aku panggil tidak menjawab.”
“Maaf, aku terlalu sibuk dengan pikiranku.”
“Kamu ini. Aku kira terjadi sesuatu denganmu. Bagaimana pemeriksaanmu?’’
“Hasinya belum keluar. Mungkin besok lusa. Nanti aku akan mengambilnya.”
Kiana pada akhirnya tidak menceritakan tentang amensianya. Ia tidak ingin membuat suaminya cemas dan dipusingkan dengan masalahnya. Ia harus segera menelepon orangtuanya tentang masalah ini.
“Ada apa?’’
“Ah tidak ada apa-apa.”
“Sungguh?’’
Kiana menganggukan kepalanya, tapi Theoden masih menatapnya curiga.’’Tidak ada yang kamu sembunyikan dariku kan?’’
“Tentu saja tidak ada.”
“Baiklah. Jika ada yang menganggu pikiranmu kamu bisa menceritakannya padaku. Mungkin aku bisa membantumu.”
“Terima kasih. Sekarang kemana kita akan pergi?’’
“Pertama-tama kita akan makan siang dulu.”
Mobil kemudian berhenti disebuah restoran yang agak jauh dari kota di mana tidak banyak orang. Restoran itu begitu sederhana, tapi nyaman untuk bersantap siang. Selesai makan, Theoden membawa Kiana ke kantornya.
“Kenapa kamu membawaku ke sini?”
“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin kamu menemaniku di sini. Lagi pula pasti kamu merasa bosan selalu berada di rumah.”
Theoden nampak sedang memikiirkan sesuatu, lalu ia duduk di samping Kiana.
“Jika aku bukan cinta pertamamu, akankah kamu mencintaiku?”
Kiana menatap suaminya dengan heran.”Kenapa kamu tanyakan itu?”
“Hanya ingin tahu saja.”
“Aku tetap mencintai Anda dan berkali-kali akan jatuh cinta pada Anda dikehidupan sekarang atau pun dikehidupan selanjutnya.”
Theoden merasa lega mendengar jawaban Kiana, lalu memeluknya dengan erat.’’Terima kasih sudah mau memberikan cintamu padaku. Jika kamu tanyakan hal yang sama dan jawabanku sama denganmu.”
Kiana membalas pelukannya dengan erat. Kehangatan tubuhnya memang selalu membuat dirinya terbuai. [ ]
__ADS_1