Knight in Shinning Suit

Knight in Shinning Suit
(S2): Mansion misterius 2


__ADS_3

Setelah makan malam selesai Kiana dan Margaret pergi ke kamar untuk beristirahat. Suasana di dalam mansion semakin menyeramkan ketika malam semakin larut.Malam ini Kiana tidak bisa tidur, sedangkan Margaret sudah terlelap tidur.Ketika Kiana akan memejamkan matanya samar-samar mendengar suara orang berjalan dan suara tawa anak-anak padahal di sini tidak ada anak-anak.


Tubuh Kiana semakin merinding, lalu ia menyembunyikan diri dalam selimut.


Kiana tidak bisa tidur. Ia mendengar musik waltz mengalun. Margaret masih terlelap tidur. Kiana mencoba memejamkan matanya dan menghitung domba berkali-kali. Kiana dapat tidur, ketika jam menunjukkan jam2 pagi. Keesokan paginya Kiana bangun kesiangan dan matanya sedikit ada lingkaran hitam.


“Kam kenapa?’’


“Semalaman aku tidak bisa tidur. Aku mendengar banyak suara di mansion ini. Ada suara musik dan suara anak-anak.”


“Aku tidak mendengar apa-apa.”


“Tentu saja tidak dengar, karena kamu tidurmu sangat nyenyak.”


Kiana pergi ke kamar mandi dan berganti pakaian. Di ruang makan teman-temannya sudah berkumpul untuk makan pagi. Tidak lama kemudian pelayan membawa sup dan bau harumnya menguar keseluruh ruangan.Mereka pergi ke jalan-jalan di kota dan berfoto-foto.Ketika matahari sudah mulai tenggelam mereka kembali ke mansion dan makan malam telah disediakan.


Di ruang makan terdengar canda tawa mereka. Kiana pergi ke kamar lebih awal dan duduk di meja rias membersihkan wajahnya. Ia dikejutkan oleh suara ketukan dipintu.


“Masuk!’’


“Nona ini air minum Anda.”


“Terima kasih.”


Pelayan wanita membungkuk pada Kiana, lalu menutup kamarnya lagi. Kiana naik ke tempat tidur dan ketika akan memejamkan matanya, Kiana melihat seorang wanita . Ia bangun dan jantungnya berdegup dengan kencang.


Wajahnya yang cantik terlihat buruk, kulit wajahnya mengelupas dan hitam, karena gosong. Wanita itu semakin mendekati Kiana. Gadis itu semakin mundur ketakutan. Kiana ingin berteriak , tapi suaranya tidak bisa keluar seperti tertahan di tenggorokan. Wanita itu sudah menaiki tempat tidur dan menatap Kiana penuh kemarahan dan juga kebencian.


“Pergi dari sini!’’teriak Kiana sambil melemparkan bantalnya ke arah wanita itu.


Kiana merasa ingin muntah melihat wajah wanita itu dan kedua tangannya terjulur ke arah leher Kiana dalam sekejam tangan kurus wanita itu sudah mencekiknya. Kiana memberontak dan berusaha melepaskan tangan wanita itu darinya. Nafasnya sudah terasa sesak dan cekikan wanita itu semakin erat. Kiana sudah hampir kehilangan nafasnya. Tiba-tiba Margaret membuka pintu dan wanita itu menghilang dari hadapannya.


Kiana terbatuk-batuk kecil .


“Kamu tidak apa-apa?’’


“Apa tadi kamu melihat wanita yang mencekikku?’’


“ Apa maksudmu? Aku tidak melihat siapa-siapa di sini.”


“Tadi ada wanita yang mencekik leherku.”


“Apaa?Kiana kamu jangan bercanda. Itu tidak lucu.’’


“Aku tidak bercanda.”


“Mungkin itu hanya halusianasimu saja.”


“Entalah tapi itu terasa nyata bagiku.”


“Sebaiknya sekarang kita tidur jangan membicarakan itu lagi.”


“Pasti kamu tidak percaya padaku,’’Kata Kiana cemberut.


“Kamu benar. Aku tidak percaya padamu.”


Kiana langsung menarik selimutnya sampai kepala. Kiana sudah tertidur, tapi lagi-lagi dia dibangunkan oleh suara yang berada di mansion ini. Kiana turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju pintu kamar. Ia membuka pintu kamar pelan-pelan dan kepalanya melihat keluar kamar.


Sepanjang lorong kamar gelap diikejauhan hanya ada seberkas cahaya lampu dan suasana sangat hening sekali sehingga Kiana dapat mendengar suara sekecil apa pun.


Pertama Kiana mendengar jeritan dan kemudian mendengar suara tangisan. Tidak lama kemudian mendengar suara orang tertawa dan suara musik mengalun. Tiba-tiba saja dia melihat sebuah bayangan transparan menghilang di balik tembok. Tubuh Kiana membeku di tempat dan menutup mulutnya. Ia terpana melihat semua itu.


Tidak lama seorang pelayan pria lewat dengan membawa setumpuk handuk dan tiba-tiba saja bayangan transparan itu berubah jadi sebuah gumpalan asap putih dan menyerang si pelayan itu dan asap itu membawa pergi pelayan dengan cara diseret. Kiana tidak bisa bergerak. Kakinya bergemetar hebat dan tubuhnya menjadi lemas dan hampir terjatuh dan dengan sigap tangannya memegang tembok agar tidak terjatuh.


Kiana ingin sekali berteriak tapi suaranya tidak mau keluar. Mulut Kiana terbuka tertutup tapi tidak ada suara sedikit pun yang keluar.


Kiana pingsan di depan pintu kamar. Suara jatuh tubuh Maya membuat Margaret terbangun. Ia terkejut mendapati Kiana pingsan di dekat pintu.


“Kianaaa.”


Margaret cepat-cepat menghambur mendekati Kiana dan berusaha untuk menyadarkannya. Margaret pergi ke kamar Pak Roger yang berada tiga kamar dari kamarnya. Pak Roger membaringkan Kiana di tempat tidur.


“Kiana bangun. Ayo bangun,’’kata Pak Roger sambil menepuk-nepuk pipinya.


Akhirnya Kiana sadar dan melihat Pak Roger sedang menatapnya cemas.


“Syukurlah kamu sudah sadar. Apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa pingsan?’’


“Kalau aku ceritakan apa kalian akan percaya kepadaku?’’


”Kami akan mencoba mempercayai ceritamu,’’kata Pak Roger.


Margaret menganggukan kepalanya, lalu Kiana menceritakan semuanya pada mereka berdua. Mereka memperlihatkan raut wajah tidak percaya.


“Kalau dilihat dari ekspresi kalian pasti kalian tidak percaya padaku,’’kata Kiana dengan wajah cemberut.


“Sebaiknya kita tidur lagi ini masih malam. Kita bicarakan ini besok saja.”


Pak Roger berbalik pergi dan menutup pintu. Margaret naik ke tempat tidurnya.


“Bolehkah aku tidur satu tempat tidur denganmu malam ini?’’


“Baiklah . Kamu boleh tidur denganku malam ini.”


“Terima kasih.”


Kiana langsung naik ketempat tidur Margaret.


🥀🥀🥀


Kiana sedang membaca naskah sambil memakan kue kering. Raut wajah nampak sangat lelah yang disebabkan oleh kejadian di mansion. Kiana tidak tahu apakah dirinya akan sanggup tinggal lebih lama lagi di mansion setelah melihat hantu. Menjelang sore Kiana kembali ke mansion dan ia menjadi penakut.


Kiana harus selalu diantar-antar kemana pun ia akan pergi di dalam mansion. Seperti saat ini Margaret mengantar Kiana pergi ke toilet.Saat makan malam Kiana tidak banyak bersuara seperti biasanya.Makanannya hanya ditatap saja dan juga diaduk-aduk tidak dimakan sedikit pun.


Kiana terlihat lesu sejak kejadian itu. Ia tidak bisa menghilangkan bayangan wanita itu dari kepalanya dan tenggelam dalam lamunannya.Disaat-saat seperti ini Kiana merindukan Theoden.


“Kiana,”panggil Margaret.


“ Kamu membuatku kaget saja.”


“Kiana semangatlah!Lupakan kejadian tadi malam mungkin itu hanya halusinasimu saja.”


“Halusinansiku? Aku rasa tidak. Bagaimana kalian menjelaskan pelayan yang telah hilang. Sekarang polisi sedang mencarinya. Pelayan itu telah di culik oleh hantu,’’kata Kiana marah, karena tidak ada yang mau mempercayainya.

__ADS_1


“Entalah Kiana, aku tidak percaya hal seperti itu.”


Kiana melirik Margaret dengan kesal.


🥀🥀🥀


Kiana dan teman-teman yang lain sedang menonton TV. Margaret senang Kiana dapat tertawa ketika meonton drama komedi yang sekarang sedang ditayangkan. Malam sudah semakin larut masing-masing sudah mulai memasuki kamar begitu juga Kiana dan Margaret dan ketika semua orang sudah tidur, Kiana masih belum bisa tidur.


Suasana kamar sudah sangat hening. Kiana kembali mendengar suara-suara aneh lagi.Tubuhnya mulai gemetaran lagi. Kiana yang penasaran turun dari tempat tidurnya dan pelan-pelan membuka pintu.Suara jantungnya yang bertalu-talu dapat terdengar di telinganya.Telapak tangannya basah. karena keringat.


Kiana melongokkan kepala keluar kamar. Di luar kamar gelap. Ia melihat ke kiri dan ke kanan.Tiba...tiba....Mata Maya terpana apa yang sedang dilihatnya.Ada kabut yang berkumpul pertama-tama sedikit kemudian menjadi banyak, lalu kabut itu perlahan-lahan membentuk wajah-wajah hitam, karena hangus terbakar.


Wajah-wajah yang tidak berbentuk lagi dengan kulit yang mengelupas dan yang terlihat hanya daging merah yang mengeluarkan tetes-tetes darah. Wajah-wajah tanpa mata. Tidak jauh dari sana hantu wanita yang mencekiknya waktu itu menyeringai. Mereka bergerak mendekatinya dan Kiana tidak bisa bergerak sama sekali. Otaknya tidak menuruti keingannya untuk bergerak.


“Jangan mendekat...jangan mendekat....’’


Tangan-tangan berkerut, panjang, bengkok dan memiliki kuku yang panjang mulai menyentuh wajah Kiana. Gadis itu sangat ketakutan. Ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Tangan-tangan itu sudah menyentuh lehernya. Kiana merasakan denyut nadinya di pangkal leher dan juga pelipisnya.


“TIIIIIIDAAAAAAAAAAAKKKKKKKK.”


Teriakan Kiana menggema keseluruh mansion dan membangunkan semua orang. Lampu-lampu mulai dinyalakan dan mereka melihat pemandangan yang aneh di depan matanya. Ada rasa takut dan terkejut.Secepat kilat bayangan wajah-wajah itu menghilang.Pak Roger mendekati Kiana yang sudah terjatuh terduduk dan wajahnya sudah penuh dengan air mata.


“Kiana kamu tidak apa-apa?’’


Kiana hanya diam dan hanya menangis.Pak Roger menuntun Kiana kembali masuk ke kamarnya dan membaringkannya di tempat tidur.


“Kiana, maaf sebelumnya aku tidak mempercayaimu.”


“Aku juga’’kata Margaret.


“Kami semua melihatnya, jadi kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa pada mereka. Seharusnya aku tidak menyewa tempat ini. Maaf. Aku tidak tahu sejarah mansion ini dan aku sebenarnya sudah mendengar desas-desus tentang mansion ini sebelum aku menyewanya, Karena aku tidak percaya hantu maka aku menyewa mansion ini, karena harganya sangat murah dan bisa menampung banyak orang.


“Anda jangan minta maaf padaku.”


“Terima kasih.”


Keesokan siangnya Kiana sedang asyik menikmati pemandangan disekitarnya. Ia duduk di atas sebuah batu. Ia melihat kembali ke arah mansion dan ekspresi wajahnya menjadi sedih bercampur takut, lalu pikirannya beralih pada Theoden. Selama 4 hari Kiana belum menghubunginya dan mendengar kabar sedikit pun darinya. Hatinya sudah mulai merindukannya lagi.


“Ternyata kamu ada di sini. Pak Roger mencarimu,”kata Margaret.


“Baik.”


Maya berdiri dan membersihkan pakaiannya.Pak Roger sedang memberikan pengarahan pada murid-murid lainnya.


“Anda mencariku?"


“Kiana, jangan-jangan jauh dari kami. Aku tidak ingin hal yang buruk menimpamu lagi setelah kejadian tadi malam.”


“Baiklah.”


🥀🥀🥀


Kiana memutuskan untuk sedikit berjalan-jalan di halaman sekitar mansion. Ia menatap mansion yang begitu tinggi, lalu Kiana melihat seseorang berdiri dipinggir jendela di lantai paling atas. Ia memicingkan matanya.


“Bukankah dia pelayan yang hilang itu.”


“TIIIDDDDAAAAKKK!’’jerit Kiana.


Tubuhnya menghantam batu di bawahnya. Kiana menghampiri tubuh pelayan itu dan menjatuhkan diri di sampingnya dengan wajah yang bersimbah air mata.Pelayan itu mengerang. Pelayan itu mengeluarkan banyak darah. Darahnya mengalir seperti aliran sungai dan membentuk genangan darah di teras mansion. Kiana membalikan badannya yang telengkup dan ia menjerit tertahan.


Wajahnya sudah tidak berbentuk lagi yang ada hanyalah segumpal daging penuh dengan darah.Salah satu matanya melesak kedalam tengkorak kepalanya dan mata yang satunya telah terlepas yang ada hanyalah lubang gelap dan tulang-tulang yang patah menyembul keluar dari kulit dan dagingnya.


Kiana hanya menatapnya terpana. Tidak lama orang-orang berdatangan dan mereka terkejut dengan apa yang dilihatnya.


“Panggil polisi dan ambulance,”kata Pak Roger.


Kiana merasa mual dan ingin muntah. Mulut pelayan itu mengeluarkan darah yang berbuih dan tubuhnya sudah tidak lagi bergerak. Kiana menangis. Margaret membantu Kiana berdiri dengan kaki yang masih gemetaran.Kaki dan tangannya berlumuran darah dari pelayan itu.


“Kiana, sebaiknya kamu membersihkan diri dulu.”


Tanpa berkata apa-apa Kiana menuruti perkataan Margaret. Pak Roger dan lainnya menunggu kedatangan polisi dan ambulance.Tidak lama kemudian polisi datang dan miminta keterangan dari mereka. Kiana sudah membersihkan dirinya dan duduk dengan tatapan kosong. Margaret sangat mencemaskan Kiana.


Tok...tok...tok...


“Masuk!’’kata Margaret.


Pak Roger masuk dan mendekati Kiana.


‘’Kamu tidak apa-apa ?’’


Kiana hanya diam seolah-olah tidak mendengar perkataan gurunya. Margaret membaringkan Kiana di tempat tidur . Margaret dan Pak Roger keluar dari kamar.


“Sepertinya keadaan Kiana tidak mungkin untuk memberikan keterangan pada polisi.”


“Sepertinya tidak mungkin. Sebaiknya mereka menanyakannya besok saja. Kiana sekarang butuh istirahat.”


“Ini salahku seharusnya aku tidak menyewa mansion ini. Sekarang kita berkemas-kemas.”


“Eh.”


“Kita akan mencari penginapan lain. Aku juga tidak ingin berada di mansion ini lebih lama lagi.”


“Aku juga. Mansion ini sudah mulai membuatku ketakutan. Aku akan bersiap-siap untuk pergi.”


“Setengah jam lagi kita berkumpul di ruang depan.”


“Baik.”


Margaret segera masuk kamar dan membereskan barang-barangnya dan juga barang-barang Kiana.Setelah semuanya selesai Margaret membangunkan Kiana. Mereka berdua menuruni tangga. Semua orang sudah berkumpul dan bersiap untuk pergi.


Pintu utama Mansion terbuka angin dingin bertipu dengan kencang dan masuk ke dalam mansion. Sekali lagi Kiana menatap mansion yang kini sudah berada di belakangnya.Kini mansion itu gelap dan terlihat lebih menyeramkan.


Terlalu banyak kematian di dalam mansion itu pikir kiana. Akhirnya mereka tiba di sebuah penginapan yang tidak jauh dari mansion itu berada.Keesokan paginya Kiana terbangun oleh suara kokok ayam. Ia meregangkan tubuhnya. Selama 4 hari Kiana belum pernah tidur senyenyak malam kemarin. Ia membuka tirai jendela. Sinar matahari menyeruak masuk ke dalam kamar. Margaret terbangun dan mengucek-ngucek matanya.


“Pagi!’’


“Pagi!’’


“Aku senang melihatmu tersenyum kembali.Apa kamu sudah merasa lebih baik?’’


Kiana menganggukan kepalanya.Setelah selesai berganti pakaian, turun ke bawah. Aroma kopi menyebar ke seluruh ruang makan penginapan. Mereka makan pagi dengan tenang seperti tidak terjadi apa-apa. Ketika akan pergi tour, polisi datang untuk meminta keterangan dari Kiana, lalu ia menceritakan semuanya pada polisi setelah merasa puas dengan keterangan yang di dapat dari Kiana, polisi itu pergi.

__ADS_1


Hari ini adalah hari mereka tour wisata terakhir dan ketika matahari akan tenggelam, mereka kembali ke penginapan untuk beristirahat. Kiana membuka pintu masuk dan dia berdiri terpaku, matanya menatap penuh kerinduan pada orang yang tengah berdiri di lobi penginapan.Tatapan Kiana terus terpaku pada pria yang ada dihadapannya sekarang.Pria itu membuka kedua lengannya lebar-lebar.


“Theoden.’’ Kiana berlari ke arahnya dan memeluknya.


Theooden mendekap Kiana dengan erat dan mendapatkan banyak tatapan heran kepada mereka berdua.


“Aku merasa lega melihatmu baik-baik saja.Ketika aku mendengar ada yang meninggal di mansion yang kamu tempati. Aku langsung datang ke sini.”


“Sekarang aku baik-baik saja.Aku sangat merindukanmu.”


Kiana membenamkan wajahnya di dada Theoden, lalu Kiana memperkenalkan Theoden kepada teman-temannya dan mengatakan kalau Theoden adalah calon suaminya. Semua teman-temannya terkejut dan menatap Kiana tidak percaya.


Pada saat makan malam Kiana kembali mengingat pelayan itu ketika ia masih berada di sana. Dia sudah melayaninya dengan baik. Kiana hanya mengaduk-aduk makanannya dan menatap piring dengan tatapan sedih.


“ Kamu kenapa?Apa makanannya tidak enak?’’tanya Theoden cemas.


“Bukan begitu. Hanya saja ingatanku tentang kematian pelayan itu masih melekat dikepalaku.”


“Kamu berada ditempat dan waktu yang tidak tepat waktu itu. Aku mengerti kejadian itu tidak akan mudah kamu lupakan.”


“Ada hantu wanita yang hampir membunuhku.”


Kiana membuka kerah bajunya yang menutupi lehernya dan memperlihatkan pada Theoden bekas cekikan tangan di lehernya. Theoden memperhatikannya dengan teliti dan jari-jarinya menelusuri leher Kiana .


“Apa sakit?’’


“Tentu saja sampai aku tidak bisa bernafas.”


“Aku senang kamu masih hidup sekarang. Kalau aku tahu kamu akan menginap di sana pasti akan aku larang. Maaf, aku baru tahu setelah menonton berita. Aku sudah tahu dari dulu tentang mansion itu kalau di sana memang ada yang tidak beres.Kepemilikan mansion sekarang tidak diketahui siapa pemiliknya . Sepertinya mereka merahasiakannya,tapi aku akan segera mengetahuinya.”


“Jangan katakan kalau kamu sedang menyelidiki siapa pemilik mansion itu.”


“Itu benar. Kamu jadi semakin mengenal diriku.”


“Tentu saja,’’kata Kiana tersenyum.


Setelah makan malam selesai Kiana, Theoden, dan Margaret akan masuk ke kamar, tiba-tiba terjadi keributan. Semua orang di penginapan berhamburan keluar.Di atas bukit menjadi terang benderang dan ada asap tebal membumbung tinggi.


“Mansion itu terbakar lagi,’’kata Theoden menatap nanar api yang menjilati seluruh mansion itu.


Lidah-lidah api terus malahap mansion itu .


Samar-samar terdengar suara-suara kesakitan dari mansion itu. Gelapnya malam telah berubah menjadi terang benderang di atas bukit itu. Kiana menutup mulutnya. Beberapa jam lalu dia dan teman-temannya masih tinggal di sana dan sekarang mansion itu telah terbakar.


“Ini seperti waktu itu.”


Theoden menoleh ke arah Kiana dengan tatapan bingung.


“Apa maksudmu?’’


“Ini kedua kalinya aku melihat kebakaran di mansion itu hanya saja waktu itu aku menontonnya bersama ibuku di balkon kamar hotel dan sekarang aku menyaksikannya bersama denganmu.”


“Jadi 12 tahun yang lalu kamu pernah ada di sini.”


“Iya,’’kata Kiana tanpa mengalihkan pandangannya dari mansion yang terbakar.


“Aku juga sama denganmu ini adalah kedua kalinya aku melihat mansion itu terbakar.”


Kiana memalingkan wajahnya ke Theoden.


“Aku menyaksikannya bersama dengan teman-teman sekelasku saat kami berlibur di sini.”


“Ternyata kita dulu berada ditempat yang sama menyaksikan kebakaran sebuah mansion. Tapi lokasinya yang berbeda.”


“Saat itu kamu umur berapa?’’


“8 tahun.”


Kemudian terdengar suara sirine meraung-raung dalam kegelapan malam. Beberapa mobil pemadam kebakaran menuju ke sana.


🥀🥀🥀


Keesokan paginya Kiana melihat kalau mansion itu sudah tinggal puing-puing saja. Sebagian sudah rata dengan tanah.


“Sebentar lagi kita akan pergi dari sini. Kamu sudah membereskan barang-barangmu?’’


“Sudah. Apa hantu-hantu yang aku lihat iku terbakar?”


“Aku tidak tahu. Aku harap hantu-hantu itu ikut terbakar, karena aku tidak ingin hantunya menyakitimu lagi.”


Theoden merangkul bahu Kiana .


“Ah, rupanya kalian berdua ada di sini,”kata Margaret.”Maaf.Apa aku telah menganggu kalian? Kami akan segera pergi untuk pulang.


“Sama sekali tidak,”kata Kiana.


“Ayo!”kata Theoden.


“Apa kamu akan pulang bersama kamu?”tanya Kiana.


“Iya. Tentu saja.”


Di dalam pesawat Kiana terlihat melamun.Kenangan di Los Angeles tidak akan pernah dia lupakan, kenangan baik maupun buruk.. Mereka berdua pun tertidur.


Suara ketukan dipintu membuat lamunan Kiana tentang wisatanya ke Los Angeles bersama teman-teman sekolahnya dulu buyar.


“Masuk!”


“Seorang pelayan wanita membawakan kue dan minuman untuknya.


“Terima kasih.”


Pelayan itu kemudian pergi. Kiana mengambil kue kering sambil kembali melihat foto\=fotonyalamunan Kiana tentang wisatanya ke Los Angeles bersama teman-teman sekolahnya dulu buyar.


“Masuk!”


“Seorang pelayan wanita membawakan kue dan minuman untuknya.


“Terima kasih.”


Pelayan itu kemudian pergi. Kiana mengambil kue kering sambil kembali melihat foto-fotonya. Sampai sekarang mansion yang ia tinggali bersama teman-temannya itu masih sangat misterius dan mansion itu tidak pernah dibangun kembali oleh pemiliknya, karena takut menelan korban lagi.


Kiana tidak tahu apa yang dulu terjadi di sana sehingga mansion itu berhantu dan ia berpikir ada kejadian buruk yang pernah terjadi di sana. Ia juga tidak mengerti mengapa ada hantu wanita yang mencoba membunuhnya. Kiana harap hantu-hantu itu tidak akan pernah muncul dihadapannya untuk selamanya. [ ]

__ADS_1


__ADS_2