
Hendrik menyeret Theoden ke ruang kerjanya saat Kiana dan dan orangtuanya telah pergi.
“Ayah penasaran, apa yang sudah kamu katakan kepada Kiana supaya ia mau menikahimu?”
“Aku tidak melakukan apa-apa, ayah. Kiana sendiri yang mau menikah denganku.:
“Benarkah?”tanyanya tak percaya.
“Iya.”
“Ayah senang akhirnya kamu mau menikah dengannya.”
“Kiana adalah gadis yang baik.”
“Tentu saja. Kalau dia bukan gadis yang baik, aku tidak akan memaksamu untuk menikah dengannya. Gadis itu berasal dari keluarga baik-baik. Ayah harus menyiapkan pernikahan kalian.”
“Biar aku saja dan Kiana yang melakukannya. Sebaiknya ayah istirahat saja. Aku tidak ingin kesehatan ayah memburuk pada saat pernikahanku nanti.”
“Baiklah. Ayah akan kembali ke kamar.”
Hendrik bertemu dengan Catherine di kamar. Wanita itu sedang membetulkan riasannya.
“Tadi kamu dari mana saja? Keluarga Waldgrave datang untuk membicarakan pernikahan Theoden dan Kiana.”
“Aku ada urusan di luar. Jadi Theoden akan benar-benar menikahi gadis itu?”
“Benar. Bagaimana menurutmu?”
“Entahlah. Aku rasa Kiana memang gadis yang baik. Semoga saja mereka bisa hidup bahagia.”
“Bagaimana kabar putrimu, Andrea?”
“Dia baik- baik saja.”
“Apa 2 bulan lagi dia bisa kembali dari Jepang?”
“Memangnya kenapa?”
“Theo akan menikah.”
“Secepat itu?”
Catherine menghentikan kegiatannya.
“Benar.”
“ Aku akan memberitahunya kalau kakaknya akan menikah.”
Catherine membalikkan badan menatap Hendrik yang sedang terbaring ditempat tidur. Ia sebenarnya tidak menyukai rencana pernikahan Theoden dan Kiana. Ia ingin menguasai seluruh harta keluarga MacAllister, jika Hendrik dan Theoden meninggal. Tentu saja itu ada dalam rencananya sejak awal. Perlahan-lahan tanpa diketahui oleh siapa pun, Catherine telah meracuni Hendrik sedikit demi sedikit supaya kematiannya tidak dicurigai.
Rencana Catherine hampir berhasil melihat kesehatan Hendrik yang terus menurun, tapi sekarang ia memiliki masalah lain. Theoden akan menikah. Jika ia memiliki anak, harapan untuk menguasai harta mereka akan sangat sulit.
“Ada apa? Kenapa kamu menatapku seperti itu?”
“Tidak ada apa-apa.”
Catherine beranjak dari kursi meja rias.
“Kamu akan pergi lagi?”
“Iya. Aku akan bertemu dengan teman-temanku lagi. Aku akan segera pulang.”
Pintu kamar tertutup dan Hendrik menghembuskan napas panjang. Selama Catherine menjadi istri barunya, wanita itu sangat jarang memperhatikannya tidak seperti Irene yang selalu perhatian kepadanya.
Catherine lebih mementingkan dirinya sendiri dari pada orang lain termasuk suami dan anak-anaknya.
Hendrik sering merasakan kerinduan yang teramat dalam kepada Irene, almarhum istrinya. Selama 16 tahun kematiannya, ia tidak akan pernah bisa berhenti mencintainya. Bagi Hendrik, Irene adalah cinta sejati dan belahan jiwanya. Ia mau menikah dengan Catherine, karena Theoden membutuhkan kasih sayang seorang ibu, tapi ternyata Catherine tidak bisa memenuhinya.
Di dalam hatinya ada rasa penyesalan telah menikahi Catherine. Hendrik mengira Catherine akan bisa menggantikan posisi Irene sebagai istri dan ibu dari anaknya. Ia mengerti tidak akan pernah ada wanita seperti Irene. Hendrik kembali terbatuk-batuk dan mengambil minum dari nakas samping tempat tidurnya. Entah kenapa akhir-akhir ini kesehatannya selalu menurun dari hari ke hari. Hendrik berpikir untuk kembali menemui dokternya lagi.
🥀🥀🥀
Kiana berdiri di depan jendela kamarnya. Pandangan matanya jauh menerawang ke depan. Ia sama sekali tidak menyangka akan segera menikahi dengan pria yang diam-diam ia cintai. Keputusan telah dibuat dan ia harus menjalankannya. Kiana berharap semoga keputusannya tidak salah menerima pernikahan ini.
Pasti orang-orang di sana akan menganggapnya wanita bodoh dan mau-maunya menerima pernikahan ini. Ia bisa saja menolaknya secara mentah-mentah.
Kiana ingin memberikan kesempatan kepada dirinya sendiri untuk lebih mengenal calon suaminya, meskipun ia sudah mengenalnya cukup lama dalam 5 tahun terakhir ini. Theoden mungkin adalah pria yang selama ini ia tunggu dan yang selalu ia nantikan, tapi apakah benar begitu?
Kiana duduk di tempat tidurnya sambil menghela napas panjang, lalu memejamkan matanya dan membayangkan wajah tampan Theoden di benaknya. Pria itu memang sangat tampan dengan kharismanya sendiri. Bibirnya terlihat sangat seksi. Kiana membuka matanya dan mengeleng-gelengkan kepalanya. Apa yang kamu pikirkan, Kiana? Erangnya dalam hati.
Suara ketukan di pintu membuatnya terkejut.
“Masuk!”
Phillippa muncul dari balik pintu dan Kiana tersenyum melihat ibunya datang, lalu duduk di samping Kiana.
“Apa aku menganggumu?”
“Tidak. Aku senang Ibu ada di sini.”
Kiana memeluk ibunya. Ia paling suka dengan kehangatan pelukan ibunya. Ketika ia sudah menikah nanti pasti ia akan sangat merindukan pelukan ibunya. Tiba\-tiba air matanya menetes.
“Ada apa?”tanya Phillippa cemas.
__ADS_1
Kiana menggelengkan kepalanya.”Hanya saja nanti aku akan sangat merindukan Ibu setelah aku menikah.”
Phillippa mengelus rambut putrinya dengan sayang.” Aku juga akan sangat merindukanmu. Mansion ini akan terasa sangat sepi tanpa kehadiranmu.”
Kiana kembali memeluk ibunya.
“Seharusnya Ibu dan Ayah memiliki anak lagi, sehingga kalian tidak kesepian ketika aku tidak ada.”
“Kamu kan tahu, rahim ibu harus diangkat, karena masalah komplikasi kehamilan saat Ibu melahirkan adikmu dan adikmu telah diculik entah oleh siapa.”
“Aku tahu itu. Semoga adik Kiana cepat ditemukan. Bagaimana kalian mengadopsi seorang anak saja?”
“Kami belum memikirkan hal itu, tapi kami akan membicarakannya dengan ayahmu.”
“Aku sayang Ibu.”
“Ibu juga sayang Kiana.”
“ Apa Ibu bahagia bersama ayah?”
“Tentu saja. Ibu sangat bahagia bisa menikah dengan ayahmu.”
Kiana memandang ibunya.”Kiana bisa melihatnya. Kalian berdua saling mencintai.”
🥀🥀🥀
Phillippa baru saja keluar dari dapur, seorang pelayan segera menghampirinya.
“Ada yang ingin bertemu dengan Anda?”
“Siapa?”
“Seorang wanita. Namanya Nicole Bellamare.”
Tubuh Phillippa membeku dan seolah-olah ada sebongkah batu besar dihantamkan ke atas kepalanya.
“Ni…Nicole Bellamare.”
“Iya nyonya. Itu yang dikatakannya.”
“Di mana dia sekarang?”
“Ada di luar.”
Phillippa tidak menyangka Nicole telah bebas dari penjara dan ia sangat ketakutan, jika Nicole akan menyakitinya lagi seperti yang ia lakukan dulu. Nicole sudah membuatnya hampir kehilangan nyawanya. Ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang.
“Nyonya,”panggil pelayannya.
“Baik.”
Phillippa menunggu kedatangan Nicole di ruang tamu dengan perasaan gelisah dan takut. Ia kemudian menelepon Joshua yang sedang berada di kantornya.
“Nicole datang ke rumah,”kata Phillippa setelah panggilan teleponnya dijawab oleh Joshua.
“Apaaa?”
“Sepertinya Nicole telah bebas dari penjara. Sebaiknya kamu cepat pulang.”
“Tenangkan dirimu! Aku yakin Nicole tidak akan berbuat jahat lagi kepadamu.”
“Kenapa kamu bisa yakin hal itu?”
Joshua terdiam.
“Percayalah padaku! Aku akan pulang sekarang dan akan menjelaskan semuanya kepadamu.”
“Baiklah.”
Phillippa menutup teleponnya dan menunggu Nicole datang. Tidak lama Nicole datang bersama pelayan. Mereka berdua saling memandang satu sama lain dengan perasaan campur aduk. Bayangan masa lalu kembali hadir dibenaknya. Semua kekejaman Nicole belum bisa Phillippa lupakan.
Penampilan Nicole telah banyak berubah. Rambut putih telah menghiasi kepalanya. Kulit wajahnya telah dipenuhi oleh keriput, tubuhnya sangat kurus, bahkan Phillippa bisa melihat tulang-tulangnya yang menonjol di tubuhnya. Cara berjalannya pun tidak selincah dulu. Nicole mencoba mendekati Phillippa, tapi Phillippa langsung melangkah mundur.
Nicole yang mengerti ketakutan Phillippa terhadapnya langsung menghentikan langkahnya, lalu sebuah senyuman tersungging di wajahnya yang keriput.
“Halo Phillippa! Sudah lama kita tidak bertemu.”
“Apa yang kamu inginkan dariku? Apa kamu ingin menganggu hidupku lagi dan menyakitiku lagi?”
“Aku datang ke sini bukan untuk itu.”
“Lalu apa?”
“Aku datang ke sini untuk meminta maaf kepadamu atas semua perbuatan jahatku di masa lalu.”
Phillippa yang mendengarnya tidak mempercayai hal itu. Seorang Nicole Bellamare meminta maaf kepadanya.
“Aku tahu pasti kamu sulit mempercayainya. Selama ini aku sudah berbuat jahat kepadamu dan sekarang aku sangat menyesalinya.”
Nicole duduk di sofa tanpa disuruh.
“Kehidupan di penjara sudah banyak mengubahku. Aku bukan Nicole yang dulu. Sekarang aku adalah Nicole yang baru. “
“Kapan kamu keluar dari penjara?”
__ADS_1
“Seminggu yang lalu.”
“Aku tak percaya setelah 20 tahun kita akan bertemu lagi di sini.”
“Kamu tidak perlu takut lagi kepadaku. Aku tidak akan menyakitimu.”
Nicole memandang Phillippa dengan mata tuanya. Tatapannya begitu sendu setelah sekian tahun ia merindukan putrinya. Sekarang Phillippa berada di depannya, tapi ia masih belum bisa menjangkaunya. Ada jurang yang masih menganga lebar diantara mereka. Andai saja waktu bisa diputar kembali, ia tidak akan pernah menyakiti Phillippa.
“Maafkan aku. Aku tahu ini tidak akan mudah bagimu, karena aku sudah terlalu banyak menyakitimu.”
Phillippa menatap Nicole dengan pandangan tak percaya.
“Aku mohon maafkan aku.”
Tetesan air mata terjatuh dari kedua pelupuk mata Nicole.
“Aku belum bisa memaafkan. Aku tidak bisa.”
“Aku mengerti, jika kamu tidak ingin memaafkanku. Kesalahanku kepadamu sudah terlalu banyak.”
“ Sekarang pergilah! Aku tidak ingin melihatmu lagi.”
Sebelum Nicole pergi sekali lagi ia memandangi Phillippa berharap Phillippa akan memaafkannya, tapi kenyataan yang ia dapatkan hanya tatapan kebencian.
“Baiklah. Selamat tinggal!”
Nicole berdiri dan berjalan perlahan meninggalkan ruang tamu, lalu ia tiba-tiba berhenti, menoleh ke belakang. Phillippa masih memandanginya dengan kemarahan.
“Ada satu hal lagi yang ingin aku katakan kepadamu.”
“Aku adalah ibumu.”
Pengakuan Nicole membuat Phillippa hampir kena serangan jantung.
“Tidak. Itu tidak mungkin. Pasti kamu bohong,”teriaknya.
“Aku tidak bohong. Aku adalah ibu kandungmu. Genevieve bukan ibumu.”
“Aku tidak tahu apa rencanamu lagi. Kamu mengatakan ini, karena ingin menyakiti perasaanku lagi, bukan.”
“Aku mengatakan yang sebenarnya.”
Philllippa mengeleng-gelengkan kepalanya. Wajahnya telah dibasahi oleh air mata. Kakinya menjadi terasa lemas dan tubuhnya hampir ambruk ke lantai kalau saja tangannya tidak menompang pada kursi.
“Tapi bagaimana mungkin kamu adalah ibuku.”
“Aku akan menceritakan semuanya kepadamu. “
Nicole kembali duduk di sofa. Pandangan matanya menerawang sambil mengingat masa lalunya yang pahit dan tidak mungkin diputar kembali untuk memperbaiki semuanya.
Nicole kemudian bercerita bahwa dulu orangtuanya telah menukarkan bayinya dan bayi Genevive yang sudah meninggal, karena Phillippa lebih baik menjadi anak Genevive dan Valentine. Selama ini Nicole mengira bayinya telah meninggal, lalu ia menghembuskan napas panjang setelah selesai bercerita.
Phillippa terdiam berusaha mencerna semua informasi baru dari Nicole. Ia masih sulit percaya, bahwa selama ini Nicole ada ibunya. Kenyataan Nicole adalah ibunya membuat perasaan Phillippa menjadi lebih sakit.
“Apa kamu ada bukti,bahwa kamu adalah ibuku?”
“Genevive meninggalkan sebuah surat sebelum ia meninggal. Isinya adalah tentang siapa orangtuamu sebenarnya.”
“Apakah Valentine Bellamare adalah ayahku?”
“Valentine Bellmare adalah ayahmu.”
Phillippa memejamkan matanya.
“Yang dikatakan Nicole benar,”kata Joshua, lalu melangkah masuk ke ruang tamu.
“Selamat siang tuan Waldgrave!”sapa Nicole.
“Siang! Aku tidak tahu kalau kamu sudah bebas. Bagaimana kabarmu?”
“Baik.”
Joshua mengecup kening Phillippa dan menuntunnya duduk di sofa.
“Nicole adalah ibumu. Aku sudah tahu hal ini sejak 21 tahun yang lalu,”kata Joshua kepada Phillippa.
“Jadi kamu sudah tahu selama ini?”
“Benar. Maafkan aku, karena sudah merahasiakan semua ini kepadamu. Aku tahu setelah membaca surat Genevive. Saat aku mengetahuinya, aku sangat terkejut dan aku bermaksud untuk memberitahumu, tapi Nicole melarangku.”
“Aku sama sekali tidak mengerti bisa-bisanya kamu merahasiakan hal ini selama 21 tahun kepadaku.”
“Maafkan aku! Aku berpikir lebih baik saat itu kamu tidak tahu tentang hal ini, karena kamu sedang sakit. Aku tidak ingin menambah beban pikiranmu dengan mengetahui Nicole adalah ibumu.”
“Aku tidak tahu harus berkata apa lagi.”
“Ada satu hal lagi yang belum kamu ketahui.”
“Apa lagi?”tanya Phillippa kesal.
Joshua memandang sekilas kepada Nicole dan Nicole tahu Joshua akan mengatakan apa kepada Phillippa.
“Nicolelah yang sudah mendonorkan sumsum tulang belakangnya untukmu, sehingga kamu bisa sembuh dan kembali sehat.”
Pengakuan Joshua membuatnya kembali terkejut. [ ]
__ADS_1