Knight in Shinning Suit

Knight in Shinning Suit
11. Pergi


__ADS_3

Awan hitam menggantung di langit seakan hari itu cuaca ikut bersedih dengan kematian Aegenis. Phillippa memandang sedih ke kuburan ayahnya yang masih baru  Beberapa karangan bunga tergeletak di atasnya. Ia merasakan tetesan air mata jatuh di tangannya. Ia tidak tahu apakah itu tetesan air matanya atau tetesan hujan. Angelica melihat Phillippa dengan tubuh lunglai masih memandangi kuburan ayahnya dan tanpa melihat wajahnya seperti apa, Angelica tahu  betapa temannya itu sangat sedih. Angelica  pun kemudian mendekatinya dan merangkul bahunya.


"Hidup ayahmu sudah tenang sekarang. Kamu jangan terus-terusan bersedih. Ayahmu tidak akan suka melihatmu seperti ini. Sebaiknya kita pulang. Hujan besar akan segera turun."


 Phillippa menurut ketika Angelica membawanya pulang. Sebelum pergi mata Phillippa bertemu dengan mata caramel Tristan . Pria itu memakai pakaian hitam sedang memandanginya. Ia sudah tidak ingin tahu lagi tentang pria itu dan dari gerak-geriknya Tristan  terlihat sekali ingin bicara dengannya, tapi ia tidak ingin memberikan kesempatan untuk membiarkan pria itu bicara kepadanya lagi. Cepat-cepat ia pergi bersama dengan Angelica. Hujan turun dengan deras tepat saat Phillippa telah tiba di rumah , sedangkan Angelica telah kembali ke apartemennya, karena  saat ini ia ingin sendirian. Suasana rumah terasa sepi dan dingin.


Phillippa duduk dan mengedarkan pandangannya ke setiap ruangan yang ada di rumah itu . Ia sekarang sendirian. Tidak akan ada lagi suara ayahnya yang memanggilnya, tidak dapat lagi melihat ayahnya bekerja di kebun sayuran seperti yang biasa  dilakukannya selama bertahun-tahun. Air mata kembali menetes lagi  di wajahnya yang masih belum kering dan kali ini Phillippa menangis sejadi-jadinya menumpahkan semua kesedihan yang ia rasakan.


Lima hari telah berlalu sejak kematian ayahnya, Phillippa masih dirundung kesedihan. Ia mengurung diri di rumahnya. Tidak ingin bertemu dengan siapa pun. Kadang-kadang Mr dan Mrs. Raven datang untuk melihatnya, tapi Phillippa pura-pura tidak tahu kedatangan mereka.  Setiap hari Phillippa selalu menemukan keranjang makanan di depan pintu rumahnya dan ia tahu siapa yang telah mengirimnya. Hari yang cerah di minggu sore, Phillippa memutuskan keluar rumah dan mengambil beberapa sayuran yang masih bisa diambil dari kebun sayur ayahnya dan membersihkan kebun sampai malam tiba. Saat Phillippa akan kembali masuk ke dalam rumah, ia terkejut saat melihat ada dua pria asing di rumahnya memasang wajah sangar membuat gadis itu ketakutan. Phillippa mengenali siapa kedua pria itu. Mereka adalah pria yang pernah berdebat dengan ayahnya beberapa hari yang lalu.


"Pasti kamu adalah putri Aegenis. Mulai besok kamu harus meninggalkan rumah ini,’’kata pria itu dengan suara sangat tajam dan keras. "Rumah ini sudah menjadi milikku. Ayahmu sudah menggadaikan rumah ini kepadaku dan ia tidak bisa membayarnya."


Phillippa menulis dengan cepat disecarik kertas, lalu memberikan kertas itu dengan cepat kepada pria yang sedang bicara dengannya.


Kalau aku pergi dari rumah ini, kemana aku harus pergi? Aku tidak memiliki tempat tinggal lagi selain rumah ini.

__ADS_1


"Itu bukan urusanku dan aku menginginkan rumah ini sudah kosong saat fajar pagi besok."


 Kedua pria itu kemudian pergi. Phillippa hanya menatap nanar kepergian kedua pria asing itu yang telah mengusirnya dari rumah yang selama ini sudah ia tempati bertahun-tahun bersama dengan ayahnya. Gadis itu terduduk lemas di kursi tidak tahu harus berbuat apa. Rumah yang sekarang ditempatinya bukan lagi miliknya dan ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelematkannya.


Angelica datang menemuinya dan menemukan gadis itu sedang menangis. Phlillippa memceritakan semuanya kepada Angelica.


"Tinggalah bersamaku! Aku tinggal sendirian," tawarnya.


Benarkah?


Phillippa mulai membereskan barang-barangnya dibantu Angelica dan ia menemukan kalung liontin emas yang di dalamnya ada foto ayah dan ibunya di kotak kardus yang ia simpan di dalam lemari. Tangannya mengusap kedua foto itu. Aku sangat merindukan kalian gumamnya dalam hati. Ia memasang kalung itu di lehernya dan menyembunyikannya dibalik pakaiannya.


"Apa kamu sudah siap?"


Phillippa mengangguk,lalu meninggalkan rumahnya. Sebelum pergi ia sekali lagi melihat rumahnya dengan perasaan sedih, ia akan meninggalkan rumah ini untuk selamanya dan akan merindukan semuanya yang ada di sini. Udara dingin segera merasuki tubuhnya sampai ke tulang saat ia keluar dari rumah. Mata hijaunya melihat ke arah rumah keluarga Raven, ia akan merindukan Mr dan Mrs. Raven. Phillippa menutup pintu pagar dan mereka berjalan menuju halte bis.

__ADS_1


🎵🎵🎵


Apartemen Angelica berada di lantai 5 dan memiliki pemandangan kota New York. Bangunan-bangunan yang lebih tinggi seakan mengepung apartemennya. Ia menempati kamar yang cukup luas dan dinding kamarnya berwarna krem. Tempat tidurnya berukuran queen size yang dibalut oleh sprei biru tua yang lembut.


"Kamu suka?"


Phillippa mengangguk. Ini pertama kalinya ia berkunjung ke apartemennya. Ia tidak pernah menyangka Angelica memiliki apartemen yang cukup bagus dan luas meskipun dia hanya seorang pelayan toko bunga.


"Apartemen ini warisan dari kakekku. Semoga kami senang tinggal di sini."


Terima kasih.


"Aku akan membuat makan malam. Kamu istirahat saja."


Phillippa kembali mengangguk. [ ]

__ADS_1


__ADS_2