Knight in Shinning Suit

Knight in Shinning Suit
Kemarahan Nicole


__ADS_3

"Kamu sudah bangun."


Phillippa terkejut dan segera mencari asal suara itu dan ia menemukannya. Ada seseorang yang sedang duduk di sudut kamar yang gelap. Nicole muncul dari kegelapan dengan tersenyum lebar. Phillippa langsung mundur ketakutan di tempat tidur.


"Halo!''sapa Nicole.


"Aku ada di mana?''


Nicole duduk di kursi berlengan yang berada di samping tempat tidur.''Kita berada di rumahku jauh dari kota New York."


Phillippa kemudian teringat dengan peristiwa di rumah orangtuanya. Nicole telah menjatuhkan vas di kepala Joshua membuatnya tidak sadarkan diri,lalu setelah itu bibinya membawanya pergi dengan paksa, kemudian ia pingsan di dalam mobil, setelah bibinya memberinya obat bius. Wajahnya mulai diselimuti kepanikan dan kecemasan dan langsung melompat dari tempat tidurnya. Lantai yang dingin membuatnya tersentak saat kaki telanjangnya menyentuh lantai.''Aku harus pulang. Joshua...dia...dia...''


Phillippa terdiam. Ia baru menyadari bisa bicara lagi.


Nicole langsung menyambar tangannya.


"Kamu tidak akan pergi kemana pun.''


"Lepaskan aku ! Aku harus pulang. Aku harus mengetahui keadaan tuan Waldgrave. Apa dia baik-baik saja atau tidak?"


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Tidak ada seorang pun yang akan pergi dari sini.''


"Tapi...''


"KaMu akan tetap di sini.''


"Tidak bisa. Aku harus pulang,''kata Phillippa dengan suara putus asa. Butiran air matanya mulai menetes satu persatu. Gadis itu masih berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Nicole, tapi Nicole semakin kuat mencengkeramnya''Kumohon biarkan aku pergi.''


"Tidak. KaMu tidak akan pergi kemana-mana,''seru Nicole marah.


"Aku harus menemui tuan Waldgrave. Aku mencemaskannya,''teriak Phillippa.

__ADS_1


"Kenapa kau sangat peduli dengannya?''


"Karena aku mencintainya.''Napas Phillippa memburu dan dadanya naik turun dengan cepat. Ia tersentak dan terkejut apa yang baru saja diucapkannya. Gadis itu menyentuh bibirnya yang secara tidak sadar mengatakan telah mencintai Joshua.


"Sebaiknya kamu lupakan saja cintamu pada Joshua,, karena kalian tidak akan pernah bersatu.Pria itu tidak mungkin jatuh cinta pada wanita jelek sepertimu. Wajahmu cacat."


Ekspresi wajah Phillippa berubah menjadi muram.


"Aku tahu. Tuan Waldgrave tidak mencintaiku. Dia sudah mempunyai kekasih."


Nicole mulai melepaskan cengkeraman tangannya pada lengan Phillippa dan memandang gadis itu.


''Mungkin itu lebih baik , jika pria itu tidak mencintaimu."


♫♫♫♫


Fabian dan Miya datang menjenguk Joshua di rumah sakit dengan wajah cemas. Napas Fabian terengah-engah saat memasuki kamar.


"Apa kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi? "tanya Fabian cemas. Rosalind segera berpamitan pulang setelah melihat kedatangan Fabian dan Miya.


Pintu menutup pelan di belakang Fabian dan Miya.


"Kalian tidak perlu mencemaskanku lagi. Aku baik-baik saja. Seperti yang kalian lihat aku baik-baik saja.'' Fabian menghela napas lega.


"Syukurlah! Aku begitu ketakutan tadi saat kau memberitahu ada orang yang mencoba membunuhmu.''


"Apa yang telah terjadi?"tanya Fabian.


Joshua bercerita tentang Phillippa dan mengikuti gadis itu setelah keluar dari apartemennya. Ia juga mengatakan tentang identitas Phillippa, karena tidak sengaja mendengar pembicaraan Phillippa dan Nicole.


"Di mana Phillippa?''tanya Miya.''Apa dia baik-baik saja?''

__ADS_1


Joshua terdiam dan pandangan matanya terluka.''Phillippa telah diculik.''


"Apa?''kata Miya dan Fabian bersamaan.


"Menurut penjelasan Rosalind , Phillippa telah diculik oleh Nicole Bellamare. Aku tidak tahu ke mana wanita itu membawanya pergi. Aku takut wanita itu akan menyakitinya dan membunuhnya. Wanita itu pernah sekali untuk mencoba membunuhnya.''


"Phillippa akan baik-baik saja.''Miya mencoba sedikit menghibur meskipun hatinya mencemaskannya, tapi Miya berharap Phillippa akan baik-baik saja.


"Apa yang akan kamu lakukan?''tanya Fabian.


"Aku akan mencarinya tidak peduli ke mana pun.''


"Kita pasti akan menemukannya.''


🎵🎵🎵


Nicole berjalan mengitari Phillippa dengan tatapan mencemooh, jijik dan benci. Gadis itu kemudian menatap Nicole masih dengan mata yang basah oleh air mata, lalu ia kembali teringat atas perbuatan Nicole kepadanya dan keluarganya di masa lalu. Mata hijau Phillippa berkilat penuh kebencian. Phillippa berdiri dengan susah payah. ''Bibi telah membunuh ayah dan ibuku,''teriaknya.''Karena bibi, ibuku mati bunuh diri dan menyebabkan kehidupan keluargaku tidak bahagia. Bibi telah membuatku kehilangan orangtua. Bibi jahat.''Napas Phillippa memburu setelah mengakhiri perkataannya dan wajahnya merah padam karena marah.


"Semua yang kamu katakan memang benar. Aku yang menyebabkan mereka meninggal karena aku benci ibumu. Ibumu sudah merebut Valentine dariku dan sudah menghancurkan kebahagiaanku.''Nicole membalasnya dengan berteriak.''Ibumu sudah menghancurkan cintaku satu-satunya.''


"Jangan salahkan ibuku. Ibuku tidak pernah merebut apa pun darimu. Ayahku tidak mencintaimu. Ayahku hanya mencintai ibuku.'' Phillippa kembali menumpahkan air matanya kembali.


"Aku ingin membunuhmu dengan tanganku sendiri dan menghilangkan beban di hatiku dan beban itu adalah kau, Phillippa. Aku ingin kau hilang dari dunia ini untuk selamanya.''


Mata hijau Phillippa semakin melebar ketakutan dan Nicole tersenyum puas melihat ketakutan yang dirasakan oleh Phillippa.


"Aku ingin kamu mati,''kata Nicole dengan penuh kebencian.''Karena kau sangat mirip dengan ibumu.''Nicole langsung mengeluarkan sebilah pisau. Ada kilatan ketakutan dalam sorot mata Phillippa. Wajah Nicole terlihat sangat dingin dan menakutkan membuat tulang punggungnya terasa sakit sampai ke sekujur tubuhnya. Di lehernya denyut nadi bergerak dengan cepat dan Jantungnya berdegup kencang di bawah tulang rusuknya.


Nicole semakin mendekatinya dan Phillippa berjalan mundur sampai terdesak ke dinding.''Kamu tidak akan bisa melarikan diri lagi dariku.''Napas hangat Nicole menyapu wajahnya.''Matamu sangat mirip ibumu dan aku sangat membencinya. Aku membenci semua yang berhubungan dengan Genevieve dan kamu adalah keturunan terakhir wanita itu.''


Napas Phillippa tersentak saat merasakan rasa sakit yang menyengat seluruh tubuhnya. Nicole berjalan mundur dan melihat Phillippa yang sedang menahan rasa sakitnya akibat pisau yang ia tusukan ke dadanya. Warna merah mulai menyebar di pakaian Phillippa di mana Nicole telah menusukan pisaunya.

__ADS_1


Gadis itu perlahan-lahan ambruk ke lantai dan napasnya tersengal-sengal berusaha memasukan udara sebanyak mungkin masuk ke paru-parunya, tapi rasa sakit ditubuhnya lebih besar dari yang ia rasakan. Pandangan matanya mulai mengabur secara perlahan dan ia mendengar suara Nicole dari kejauhan.


''Selamat tinggal Phillippa!'' Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, ia melihat pintu kamar tertutup. Nicole telah pergi meninggalkan dirinya sendirian dengan bersimbah darah. [ ]


__ADS_2