
Joshua dan Phillippa telah berada di depan rumah Laurel di Los Angeles. Ia memencet bel berkali-kali, tapi tidak ada orang yang membuka pintu. Keadaan sekitar rumah sangat sepi dan tidak berpenghuni.
“Apa mungkin Laurel sudah pindah?”
“Entahlah. Aku tidak tahu.”
Joshua sekali lagi menekan bel dan tetap tidak ada yang membuka pintu.
“Bagaimana ini?”kata Phillippa yang sudah merasa gelisah sejak dari tadi.
“Halo apa ada orang di dalam!”teriak Joshua.
“Sepertinya rumah ini memang kosong,”kata Phillippa.
“Sepertinya begitu.”
“Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?Kita sudah jauh-jauh datang ke sini,”kata Phillippa.
“Sebaiknya kita kembali ke hotel dan kita pikirkan apa langkah selanjutnya.”
Phillippa mengangguk.
“Besok kita datang lagi ke sini,”kata Joshua.
🥀🥀🥀
Tiga hari telah berlalu masih belum ada kabar tentang keberadaan Kana. Hera terlihat semakin gelisah takut terjadi sesuatu yang lebih buruk menimpa Kana. Bahkan selama dua hari ini para tetangga sudah menyampaikan bela sungkawa dan menghiburnya.
Selama dua hari polisi juga tidak menghubunginya dan membuat dirinya saat ini ingin berlari ke kantor polisi untuk mengetahui informasi tentang keberadaan Kana, tapi dia menahan diri untuk melakukannya dan lebih memilih diam di rumah siapa tahu penculiknya akan menelepon. Hera duduk gelisah sambil memandangi telepon di depannya.
Joshua dan Phillippa kembali mendatangi rumah Laurel untuk ketiga kalinya selama tiga hari. Suara burung gagak terdengar sangat keras.Keadaan disekitar rumah itu terlihat sangat sepi seperti tidak ada penghuninya. Seorang warga melewati rumah itu dan menyapanya.’’Sekarang rumah itu kosong, pemiliknya telah masuk rumah sakit jiwa.”
“Eh, rumah sakit jiwa?’’
“Benar.”
“Lalu apa ada seorang anak kecil yang tinggal di sini?’’
“Benar.Memang ada seorang anak perempuan tinggal di sini kalau tidak salah namanya Kana."
“Lalu anak itu ada di mana?’’
“Kalau itu saya tidak tahu."
“Apa Anda benar-benar tidak tahu kemana anak itu pergi?’’
“Saya tidak tahu.”
“Baiklah. Terima kasih atas informasinya.”
Warga itu berlalu pergi dan Phillippa terlihat sangat kecewa.
“Jadi namanya Kana.”
Phillippa bahkan belum sempat memberikan nama untuk bayinya yang baru lahir dan benar-benar menyesal, dia sudah terlambat selangkah untuk bisa menemukan anaknya.
’’Apa yang harus kita lakukan sekarang?”tanya Phillippa.
“Kita akan ke rumah sakit jiwa.”
Mereka masuk ke dalam mobil dan tidak butuh waktu lama mereka telah sampai di rumah sakit jiwa.
“Saya ingin bertemu dengan Laurel Kyle,’’kata Joshua kepada salah satu penjaga.
“Tunggu sebentar.”
Mereka duduk menunggu dikursi yang sudah disediakan. Lima menit kemudian salah seorang petugas menghampirinya.
’’Anda bisa ikut saya, tapi sebelumnya tinggalkan tas Anda di sini.’’
Mereka masuk tanpa membawa apa-apa dan mengikuti petugas itu dari belakang. Petugas itu membawanya ke sayap kanan bangunan dan akhirnya berhenti di depan sebuah kamar yang terkunci, kemudian membukanya.’’Jika terjadi sesuatu cepat panggil kami.”
“Baik. Terima kasih.”
Joshua masuk dengan perlahan-lahan dan dilihatnya Laurel sedang duduk meringkuk di atas tempat tidur, sedangkan Phillippa menunggu di luar.
’’Halo Laurel !’’sapa Joshua.
__ADS_1
Laurel mengangkat wajahnya dan terkejut melihat tamunya.
“Kamu...’’
“Aku terkejut kamu berada di sini. Bagaimana kabarmu?’’
“Seperti yang kamu lihat, kabarku tidak begitu baik. Mau apa kamu kemari?’’
“Apa kamu telah menculik anakku?”
“Benar.” Kedua tangan Joshua mengepal menahan rasa marahnya.
“Kenapa kamu menculiknya?”
“Karena aku tidak suka kamu menikah dengan wanita lain.”
“Kenapa?”
“Karena aku mencintaimu, Joshua. Kamu meninggalkanku.”
“Sejak dulu kamu sudah tahu kalau kita hanya berteman saja.”
“Tapi aku tidak menganggapnya seperti itu.”
“Sekarang di mana anak itu?’’
“Aku tidak tahu, dia sudah tidak bersamaku lagi sejak aku masuk ke sini.”
Joshua tidak percaya dengan kata-kata Laurel.
“Kamu pasti tahu di mana dia bukan?Cepat katakan padaku!’’
“Meskipun aku tahu, aku tidak akan memberitahumu.”
“LAUREL,’’teriak Joshua.
“Aku sudah tidak peduli lagi mengenai anak itu. Aku sangat benci padanya, karena aku benci ibunya."
”Kenapa kamu membencinya, apa salah Phillipa padamu? Kalian tidak saling mengenal.”
“Itu bukan salah Phillipa, karena dia tidak pernah merebutku dari siapa pun. Jadi katakan di mana anak itu?’’
“Aku tidak mau mengatakannya. Aku harap anak itu mati saja.”
’’Di mana Kana?’’teriak Joshua.
“Aku tidak akan memberitahumu.”
Laurel menyinggungkan sebuah senyuman.’’Aku tidak akan membiarkanmu menemukannya, sekarang kamu pergi dari sini.”
Laurel berdiri dan terus mendorong tubuh Joshua sampai keluar.’’Jangan temui aku lagi.”
“Aku mohon katakan di mana Kana sekarang.”
“HA..HA..HA...HA...’’
Laurel tertawa keras. Joshua akhirnya pulang dengan perasaaan kecewa lagi, kemudian dia teringat dengan kakaknya Laurel yang tinggal di Los Angeles. Joshua pun berencana segera pergi menuju ke sana.
“Apa yang terjadi?”tanya Phillippa.
“Laurel mengakui telah menculik anak kita.”
“Benarkah? Apa Kana adalah anak kita?”
“ Iya.”
Phillippa merasa senang, karena anaknya masih hidup, tapi ia juga sedih, karena Kana menghilang lagi.
“Aku akan menemui kakak Laurel.”
“Apa kamu tahu di mana rumahnya?”
“Iya.”
“Kita jangan membuang waktu lagi.”
Dengan perasaan cemas Joshua dan Phillippa menuju rumah kakaknya Laurel, Hera. Sekarang harapannya hanya kakaknya Laurel meskipun kemungkinannya sangat kecil dia mengetahui keberadaan Kana.
__ADS_1
Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh akhirnya mereka dapat menemukan rumah Hera dan alamat rumahnya tidak sulit untuk dicari.Setelah menghembuskan nafas panjang Joshua menekan bel. Terdengar langkah kaki dari dalam.’’Siapa?’’tanya seorang wanita dari dalam.
“Saya Joshua Waldgrave.Teman Laurel.”
Pintu terbuka. Seorang wanita bertubuh langsing dan bekas air mata masih terlihat jelas di wajahnya.’’Silahkan masuk!’’
“Anda mau minum apa?’’
“Apa saja.”
Hera segera pergi ke dapur sementara Joshua berada di ruang tamu sambil melihat-lihat ke sekeliling.”
Hera datang membawa dua gelas jus jeruk.
“Rumah yang bagus.”
“Terima kasih.” Hera tersenyum lemah.’’Ada yang bisa saya bantu?’’
“Ah begini aku ingin menanyakan sesuatu pada Anda, saya tidak tahu apa Anda mengetahuinya atau tidak, tapi saya tidak tahu harus kemana lagi untuk bertanya, karena Laurel tidak mau memberitahuku.”
“Anda sudah melihatnya di rumah sakit jiwa.”
Joshua mengangguk.
’’Dia pantas berada di sana. Aku yang memasukan dia ke sana,”kata Hera.
“Jadi Anda yang memasukannya kesana?’’
“Benar. Penyakit jiwanya kambuh lagi. Jadi tadi Anda mau menanyakan apa?’’
“Aku mencari seorang gadis kecil bernama Kana. Aku baru mengetahui namanya ketika saya mencoba menemui Laurel di rumahnya oleh salah seorang warga di sana yang memberitahu kami.
Hera kembali terlihat sedih.’’Apa hubungan Anda dengan anak itu?’’
“Kana adalah anak kami, ketika Kana baru lahir Laurel menculiknya. Apa Anda tahu sesuatu tentang Kana?’’
Hera sangat terkejut mendengar pengakuan Joshua. Bola matanya membelalak lebar.
“Jadi Kana adalah anak kalian?”
“Benar,”kata Phillippa.
“Aku sama sekali tidak tahu kalau Laurel telah menculik Kana dari rumah sakit. Laurel memberitahuku, bahwa orangtua Kana telah meninggal dan orangtuanya adalah yang ia benci.
“Jadi apa Anda tahu di mana Kana?”
“Kalian terlambat.”
“Apa maksud Anda?’’tanya Joshua dengan wajah bingung.
“Kana telah diculik dan sampai sekarang masih belum ada kabar .” Hera kembali menangis.
“Di..diculik,’’teriak Joshua.’’Tapi bagaimana bisa?’’
Phillippa merasa shock dan tangisnya pecah. Joshua memeluk istrinya.
“Dua hari yang lalu saya membawanya berbelanja, karena kelalaian saya, Kana lepas dari pengawasan saya dan akhirnya dia diculik.”
“Jadi selama ini Kana berada bersama dengan Anda?’’
“Benar. Saya mengambil Kana dari tangan Laurel, karena dia selalu disiksa olehnya, lalu saya membawanya ke sini. Saya bermaksud untuk mengadopsinya, tapi sebelum itu terlaksana Kana sudah diculik. Ini semua salah saya.”
“Aku yakin Kana akan baik-baik saja.” Meskipun hati Joshua tidak begitu yakin.“Kita pasti akan menemukannya.”
“Bagaimana kalau Kana tidak pernah ditemukan lagi?’’tanya Phillippa.
“Jangan punya pikiran seperti itu. Aku yakin kita dapat bertemu kembali dengannya.”
Joshua semakin erat memeluk Phillippa berharap Kana akan segera kembali. Sementara itu Hera selalu memandangi pintu berharap Kana muncul di sana dan mengatakan,”aku pulang!’’
“Aku sangat ingin mendengar suaranya lagi dan melihat wajah mungilnya.”
“Anda beruntung masih bisa bertemu dan mengenalnya, sedangkan kami tidak tahu seperti apa dia,”kata Phillippa.
Hera mengambil satu album kecil yang berisi foto-foto Kana yang sempat dia ambil selama Kana tinggal bersamanya. Satu persatu Joshua dan Phillippa membukanya dan memperhatikan gaya Kana ketika difoto.’’Dia sangat mirip ibunya,”komentar Joshua.
Tangan Phillippa membelai setiap foto Kana berharap putrinya akan kembali ke dalam pelukannya. Joshua melihat foto-foto Kana dengan perasaan sedih. [ ]
__ADS_1