
Pada hari libur Joshua mengisi waktu luangnya dengan berjalan-jalan di kota, tak jauh dari tempatnya berdiri ia melihat sebuah mini market. Ia memutuskan untuk pergi ke sana untuk membeli minuman dingin. Langkahnya terhenti ketika ia mlihat gadis piano itu. Ditangannya membawa satu kantong buah-buahan. Joshua bermaksud untuk menyapanya, tapi ia mlihat seorang wanita menyeret gadis dan mengikutinya. Ia pun mendengar semua perkataan wanita itu. Ia begitu geram mendengar segala caci maki yang dilontarkan dari mulutnya dan wanita itu akan memukulnya. Joshua langsung menahan tangannya dengan kuat.
" Aku tidak akan membiarkanmu memukulnya."
Joshua menatapnya dengan tatapan mengancam. Wanita itu langsung pergi ketakutan dan gadis piano itu juga pergi dengan menangis. Joshua menghela napas dan memandangi gadis itu sampai menghilang dihadapannya. Suara dering telepon membuatnya terkejut.
"Selamat siang tuan Waldgrave!"Sapa seorang wanita dari seberang telepon.
"Siang!"
"Kami dari Mornigside Hospital. Tes DNA Anda sudah bisa diambil sekarang."
"Baik. Saya akan kesana. Terima kasih."
Joshua menutup teleponnya cepat-cepat dan berjalan menuju stasiun.
🎵🎵🎵🎵
Phillippa memecahkan piring yang dipegangnya dan membuat Aegenis kesal. Tidak hanya sekali saja, tapi Phillippa sudah memecahkan piring yang ketiga kalinya. Aegenis terlihat cemas sekaligus marah melihat anaknya yang tidak fokus kepada pekerjaannya. "Sebaiknya kamu istirahat saja di kamar. Biar ayah yang menyiapkan makan malam untuk kita."
Maafkan aku .
Phillippa menyesal dan langsung pergi ke kamarnya. Ia mendesah pasrah. Akhir-akhir ini ayahnya juga sering memarahinya, karena kebanyakan melamun saat sedang bekerja di kebun sayur dengan hasil satu petak sayur brokoli yang baru tumbuh menjadi rusak gara-gara ia salah memberi pupuk. Phillippa merasa tidak berguna dan merasa bersalah kepada ayahnya yang sudah bekerja keras untuk menumbuhkan brokoli, tapi ia malah merusaknya begitu saja.
Di dalam kamar ia duduk termenung di pinggir jendela memikirkan pertemuannya dengan Charlotte tadi siang. Apa yang dikatakan oleh Charlotte benar. Ia jelek. Phillippa menyentuh bekas luka yang masih terlihat jelas di pipinya sebelah kiri.Selama ini ia melihat dirinya biasa saja tidak ada yang istimewa, sebaliknya Phillippa iri kepada kecantikan dan kepopuleran Charlotte yang disukai oleh banyak orang, sedangkan dirinya hanya gadis biasa yang tidak bisa bicara dan memiliki wajah cacat.Apakah suatu saat nanti akan ada pria yang benar-benar mencintainya tanpa mempedulikan keadaan dirinya termasuk Tristan?
Tristan. Pria itu menjadi pikirannya sekarang yang menyebabkan ia sering melamun dan mendapat marah dari ayahnya. Pria itu memang terlihat sempurna di mata setiap wanita, tapi apa ia sudah benar telah menjalin hubungannya dengan pria itu? Phillippa pun tidak tahu hubungan yang dimilikinya sekarang dengan dia seperti apa, karena Tristan tidak pernah menyebut kalau mereka adalah sepasang kekasih. Tristan memang selalu baik dan selalu memperhatikannya. Dia juga sudah menciumnya walaupun hanya sekali. Apa Tristan pantas ia cintai? Apa ia pantas menjadi pendamping hidupnya kelak? Dan Charlotte juga mencintai Tristan dan sepertinya dia juga bersungguh-sungguh dengan perasaannya itu sampai dia menyuruhnya untuk menjauhinya. Beberapa hari pikiran-pikiran semacam itu terus berputar di otaknya .
__ADS_1
Suasana hati Phillippa semakin hari semakin kacau. Gadis itu kembali mendapatkan marah ayahnya lagi ketika ia salah mengirimkan pesanan sayuran ke keluarga Raven dengan keluarga Bennet keesokan paginya. Aegenis berdiri didepan Phillippa dengan marah. "Sekarang kamu pergi ke rumah keluarga Raven dan keluarga Bennet dan berikan sayuran ini kepada mereka, lalu minta maaf kepada mereka setelah itu."
Phillippa menunduk merasa bersalah, lalu meraih dua keranjang sayuran dari tangan ayahnya . Aegenis mengeleng-gelengkan kepalanya melihat sifat kecerobohan putrinya akhir-akhir ini. Aegenis menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Pagi itu jalanan masih terlihat sepi, Phillipa mengayuh sepedanya menuju rumah keluarga Raven setelah mengantarkan sayuran ke rumah keuarga Bennet.
Phillippa menekan bel, tapi bel itu tidak berbunyi sama sekali, lalu ia mengetuk pintu depan berkali-kali, tetapi tidak ada jawaban. Gadis itu memutuskan untuk mengetuk pintu belakang yang mengarah langsung ke dapur. Samar-samar suara terdengar olehnya dari dalam dapur. Phillippa berhenti berjalan dan mendengarkan, lalu mengenali suara itu sebagai suara Tristan yang sedang berbicara dengan salah satu temannya yang bernama Jordan.
"Akhirnya aku mendapatkannya?''
"Maksudmu Philly?''
Namanya disebut membuat Phillippa terkesiap. Ia semakin mendekatkan telinganya di pintu dapur. Phillippa tidak bermaksud untuk mencuri dengar, tapi ketika namanya disebut rasa ingin tahunya menjadi besar.
"Benar. Gadis itu ternyata sangat mudah di taklukkan. Aku berani bertaruh gadis itu sama sekali belum pernah berpacaran. Dia masih polos."Tristan tertawa.
"Apa kamu sudah berhasil tidur dengannya?''tanya pria yang bernama Jordan.
"Kamu jangan senang dulu berhasil memenangkan taruhan kita, siapa tahu Philly tidak ingin kamu ajak tidur." Jordan terkekeh.''Apa kamu jatuh cinta kepadanya? Kalian berdua terlihat sangat akrab sekali?''
"Jatuh cinta kepadanya? Yang benar saja. Philly adalah gadis jelek dan tidak menarik. Aku tidak tertarik sama sekali kepadanya. Dia bukan tipeku lagi pula dia juga gadis bisu. Aku tidak ingin punya kekasih atau istri seperti Philly. Itu akan merepotkan aku saja nantinya. Aku lebih suka wanita cantik."
"Seperti Charlotte?''
"Benar seperti dia."
"Tapi kamu sudah menolaknya."
"Itu benar dan aku yakin dia masih menginginkanku. Aku akan menerimanya setelah aku mendapatkan apa yang aku inginkan dari Philly."
__ADS_1
Phillippa masih tidak mempercayai apa yang mereka bicarakan ternyata selama ini Tristan hanya berpura-pura baik kepadanya ternyata pria itu hanya ingin memanfaatkannya saja. Tristan tidak pernah mencintainya. Air mata mulai merebak di wajahnya. Napasnya menjadi sesak dan kakinya mendadak lemah untuk menopang tubuhnya. Ia mendapati dirinya telah terduduk di depan pintu dapur dengan memeluk kedua kakinya. Apa yang dikatakan ayahnya benar jangan terlalu akrab dengan Tristan dan sekarang ia merasakan sakitnya.
Setelah ia merasa tenang, Phillippa meninggalkan satu keranjang sayuran di depan pintu, lalu ia mulai berlari dengan cepat dan tubuhnya masih gemetar mendengar pengakuan Tristan mengenai dirinya. Sungguh bodoh dirinya menikmati semua kebaikan dan perhatian darinya kalau itu semua Tristan lakukan hanya untuk menjadikannya taruhan bersama dengan temannya. Satu hal yang jelas Tristan sudah mempermainkan perasaannya.
Sesampai di rumahnya, Phillippa langsung masuk ke kamarnya dan duduk di sudut kamarnya dengan memeluk kedua kakinya. Wajahnya dibenamkan diantara kedua kakinya, lalu menangis menyesali kebodohannya. Phillippa mengurung dirinya di kamar membuat Aegenis merasa cemas. Ia berkali-kali mengabaikan suara ayahnya untuk meminta izin masuk ke kamarnya dan berbicara dengannya. Agenis akhirnya kehilangan kesabarannya , lalu berteriak marah membuat gadis itu terlonjak kaget .
"Phillippa bukakan pintunya atau ayah akan mendobrak pintunya,''teriak Aegenis marah yang sudah hilang kesabarannya.
Dengan tubuh gemetar Phillippa berdiri, lalu membukakan pintu. Aegenis memandanginya dengan tatapan marah. Gadis itu kemudian duduk di tempat tidur dengan lesu. Jejak air mata masih membekas jelas di wajahnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu ? Ayah harus memberitahu nyonya Whitlock kalau kamu sakit dan tidak bisa bekerja. Apa ada yang terjadi sewaktu kamu mengantarkan sayuran kepada keluarga Raven dan keluarga Bennet?''
Phillippa masih bungkam dan tidak berani menatap ayahnya.''Philly, katakan sebenarnya ada apa?''
Gadis itu memeluk ayahnya, lalu menangis lagi.''Apa ada orang yang sudah menyakitimu?''tanya ayahnya. Phillippa mendongkakkan kepalanya menatap ayahnya dengan wajah basah penuh air mata.
Tristan tidak pernah mencintaiku. Dia hanya mempermainkan perasaanku. Aku dijadikan taruhan bersama temannya untuk meniduriku. Dia juga tidak menginginkanku, karena wajahku cacat dan bisu.
Aegenis memandang sedih putrinya setelah membaca setiap gerakan tangan Phillippa, lalu ia memeluk putrinya yang sudah mulai menangis lagi.
"Lupakan pemuda itu! Kamu bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari Tristan dan bisa menerimamu apa adanya."
Aegenis melepaskan pelukannya, lalu menatap putrinya .''Kamu gadis yang baik dan Tristan tidak bisa melihat jauh ke dalam hatimu. Ia tidak bisa melihat kebaikan dalam dirimu. Secara fisik kamu tidak sempurna, tapi kamu memiliki hati yang baik. Sayangnya Tristan tidak melihat itu. Dia tidak pantas mendapatkan cintamu. Suatu hari nanti ayah yakin ada pria yang bisa melihat itu semua. Sekarang kamu harus makan, ayah tidak ingin kamu sakit."
Phillippa menangguk dan tersenyum kepada ayahnya.''Makanlah yang banyak! Sekarang ayah kembali ke kebun dulu." Phillippa memandangi ayahnya sampai tidak terlihat lagi di kamarnya dan mulai memakan makanannya.
Sementara itu di Waldgrave mansion, Joshua masih terus memandangi selembar kertas di tangannya hasil tes DNA yang ia ambil kemarin siang. Ia masih tak percaya hasil yang tertulis di sana oleh sebab itu ia masih terus memandanginya. Hasil tes tertulis bahwa Raina adalah anak kandung ayahnya. Itu artinya Raina adalah adiknya. Joshua tidak mengerti kenapa hal seperti ini bisa terjadi. [ ]
__ADS_1