
“Ada apa ?’’
“Tidak ada apa-apa .”
Theoden kembali berkonsentrasi mengemudi.’’Itu tidak mungkin Kiana. Aku pasti salah lihat. Itu pasti halusinasi saja, karena aku sudah sangat merindukannya padahal kemarin baru saja bertemu,”bisik hatinya.
“ Terima kasih. Kamu sudah mau mengabulkan permintaanku menemaniku jalan-jalan untuk terakhir kalinya.”
‘’Itu tidak masalah.”
Theoden dan Amy berada di taman kota. Mereka berjalan-jalan disekitar taman itu.
“Aku akan pergi dari sini sementara untuk menata hatiku kembali, tapi aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu. Aku akan kembali dan menemuimu kembali.”
“Aku harap kamu menemukan pria yang mencintaimu dan memberimu kebahagiaan, karena aku tidak bisa memberikan semua itu kepadamu, jadi aku mohon lupakan saja perasaanmu padaku.”
“Tidak semudah itu untuk melupakan.”
“Aku tahu. Kamu hanya butuh waktu saja.”
“Entahlah. Aku tidak yakin. Lihat saja nanti setelah aku kembali nanti.”
“Sebaiknya kita pulang. Aku akan mengantarmu.”
Amy mengangguk.
Gerbang rumah terbuka dan Theoden memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk. Theoden membukakan pintu penumpang dan Ami keluar dari mobil. ‘’Kamu mau mampir dulu walaupun hanya sekedar minum teh.”
“Tidak terima kasih. Lain kali saja.”
“Sayang sekali. Terima kasih sudah mengantarkanku pulang.” Dia tersenyum manis kepada Theoden.
‘’Itu sudah seharusnya. Selamat jumpa!’’
Theoden masuk ke dalam mobil dan segera meninggalkan rumah Amy.
🥀🥀🥀
Pagi-pagi sekali Theoden sudah tiba di kantor. Suasananya masih sangat sepi. Carrie pun belum datang. Dia menyeduh sendiri kopinya. Dihirupnya aroma kopi dalam-dalam.’’Hmmm..harum sekali.”
Theoden langsung menyalakan monitor komputernya dan segera mengetik. Tiba-tiba pintu terbuka, Carrie terkejut meliht Theoden sudah datang.
“ Anda sudah datang. Saya kira Anda belum datang.”
“Tadi pagi-pagi sekali aku sudah berada di sini.”
Carrie kemudian meletakan beberapa laporan harian perusahaan dan juga beberapa tumpuk dokumen seperti biasanya.
“Apa Anda tidak akan membuat pengakuan pada nona Kiana, kalau Anda mencintainya.”
“Dari mana kamu tahu perasaanku pada Kiana?”
“Dari cara Anda menatapnya, saya sudah tahu.”
“Apa terlihat jelas ya?”
“Sangat jelas.”
“Kembalilah pada pekerjaanmu.”
Carrie meninggalkan ruangan dan menghilang dibalik pintu.
Hari sudah hampir menjelang malam. Theoden bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Ia tiba di rumah tepat pada jam makan malam. Di dalam kamar Theoden duduk bersandar di tempat tidur terus memikirkan perkataan Carrie.
🥀🥀🥀
Theoden keluar kamarnya dan memutuskan pergi ke suatu tempat rahasia yang sering dia kunjungi akhir-akhir ini. Setelah tiba ditempat tujuan, ia masuk ke dalam hutan kecil, berjalan beberapa langkah saja sudah terhampar pemandangan danau yang sangat indah dengan banyak bintang bertaburan di langit. Theoden menaiki sampan yang ada di pinggir danau dan dia mendayung sampai tengah. Sampan itu berhenti dan Theoden menikmati langit malam yang sangat indah.
Kepala Theoden terus melihat ke atas.
“Kiana, seandainya kamu ada di sini bersamaku melihat semua ini. Pasti akan sangat menyenangkan.”
Bayangan Kiana menghiasi langit malam yang bertaburan bintang.Matanya terlihat sendu. Setelah berada satu jam di sana tubuhnya mulai mengigil kedinginan. Theoden kembali mendayung sampannya dengan cepat dan menyimpan sampan pada tempatnya semula. Ia segera masuk kedalam mobilnya dan pergi .
Theoden melamun memikirkan Kiana. Suara klakson truk mengangetkannya.Tiba-tiba ada truk besar dari arah depan melaju kencang dan truk itu mengarah ke mobilnya dan sinar lampunya telah menyilaukan matanya sehingga Theoden tidak mampu untuk menghindarinya dan akhirnya tabrakan tidak dapat terhindar lagi.
Mobil Theoden terseret lalu berguling-guling beberapa meter dan akhirnya berhenti setelah menabrak pembatas jalan. Tidak lama kemudian terdengar suara ambulance dan patroli mobil polisi.
“Kiana,’’gumam Theoden sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya.
🥀🥀🥀
__ADS_1
Mobil ambulance dan polisi segera berdatangan dan Theoden segera di bawa ke rumah sakit. Hendrik yang dihubungi sangat terkejut dengan kecelakaan yang menimpa anaknya dan segera pergi kerumah sakit. Di depan kamar operasi terlihat Carrie yang sedang duduk.
“Theoden, dia ada di mana?’’tanya Hendrik.
“Masih ada di ruang operasi.”
‘Kenapa ini bisa terjadi? ‘’
Suasana kembali hening yang terdengar hanya suara detak jarum jam dinding. Menit demi menit telah berlalu. Jam demi jam juga telah berlalu, tapi masih belum ada kabar tentang kondisi Theoden.
Kiana dan orangtuanya tiba di rumah sakit raut wajah cemas..’’Bagaimana keadaan Theoden?’’tanya Kiana khawatir.
Hendrik dan Carrie menggelangkan kepala dan Kiana terlihat kecewa, lalu dia duduk sambil menangis.’’Theoden akan baik-baik saja,’’kata Hendrik meskipun ia tidak yakin.
“Theoden akan baik-baik saja,”kata Joshua berusaha menenangkan putrinya.
“Kenapa semua ini terjadi padanya? “
Tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka.
“Bagiamana keadaan anak saya?’’tanya Hendrik.
“Keadaannya kurang baik. Dia banyak mengalami pendarahan di otaknya. Kami sudah berusaha untuk bisa menyelamatkannya. Sekarang hanya keajaibanlah yang dapat menolongnya. Tubuh Kiana terasa sangat lemas dan tubuhnya limbung dan Carrie langsung menahan tubuhnya supaya tidak terjatuh.
“Aku ingin menemuinya,’’kata Kiana.
“Untuk sekarang ini biarkan pasien jangan di jenguk dulu.”
“Aku mohon izinkan aku untuk menemuinya.’’
Kiana yang terus memohon dengan pandangan memelas akhirnya diizinkan untuk menemuinya.
“Baiklah, tapi hanya sebentar saja.”
“Terima kasih dokter.”
Kiana melihat Theoden yang terbaring lemah tidak berdaya seluruh wajahnya diperban yang terlihat hanya mata , hidung dan mulut. Tubuhnya dikelilingi oleh banyak kabel dan juga selang. Di ruangan itu hanya terdengar mesin pernapasan dan suara dari monitor yang memantau detak jantung dan tekanan darah.
Besok siangnya kabar mengenai kecelakaan Theoden sudah tersebar luas diperusahaannya.
🥀🥀🥀
Hendrik merasa lelah setelah hampir seharian berada di sana. Dia merasa sedih apa yang menimpa pada anaknya. Dia pergi ke kamar Theoden untuk mengambil beberapa dokumen yang sudah ditanda tangani olehnya, karena Carrie tadi memintanya. Hendrik melihat dokumen itu ada di meja di samping tempat tidurnya dan tanpa sengaja dia menjatuhkan sebuah buku dan ternyata buku itu buku harian Theoden.
Hendrik membuka buku harian Theoden dan membacanya. Dia merasa terkejut, karena isinya menceritakan perasaannya kepada Kiana. Hendrik sama sekali tidak tahu kalau Theoden begitu mencintai Kiana. Ia tersenyum mengetahui itu. Keputusannya untuk menjodohkannya dengan Kiana tidak salah. Hendrik sudah tidak sabar melihat mereka menikah.’’Ternyata cintanya begitu dalam pada Kiana,’’pikirnya.
Hendrik segera keluar kamar Theoden dan kembali ke kamarnya.
Pada malam hari mobil berhenti di depan sebuah rumah sakit. Kiana berpakaian mantel dan menggunakan topi rajutan menyusuri lorong rumah sakit yang telah sepi dengan membawa sebuket bunga.Pintu kamar bergeser.
Matanya menantap sendu pada laki-laki yang sedang berbaring lemah yang dikelilingi oleh kabel dan selang pernafasan.
Dia membelai rambut pria itu dengan penuh kasih sayang dan tatapan cinta untuknya.’’Aku sudah datang sayang.Cepatlah sembuh. Aku menunggumu untuk sadar kembali dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Tidak akan pernah. Aku akan ada selalu di sisimu. Dia mengecup kening kepalanya dengan penuh perasaan.Duduk di sampingnya sambil memegang erat tangannya. Tetesan air mata mulai membasahi wajahnya.Hampir tiap malam Kiana selalu datang menjenguk Theoden, kadang-kadang membacakan cerita untuknya dan juga dia bernyanyi untuknya.
Keesokan paginya Hendrik diberitahu kalau ada seorang wanita setiap malam mengunjungi Theoden dan orang itu menangis di sampingnya. Hedrik menjadi penasaran siapa yang telah menjenguk Theoden tiap malam. Akhirnya Hendrik memutuskan untuk tetap di rumah sakit.
Malam telah tiba Kiana masuk ke kamar perawatan Theoden. Hendrik yang mengetahui itu diam-diam melihat dibalik pintu dan dia terkejut ketika melihat orang itu.’’Kiana,’’gumamnya.
Hendrik tersenyum ternyata orang yang selalu datang menjenguk Theoden adalah Kiana. Ia pun pergi.Kiana memandangi Theoden yang sedang tertidur dan dia memeluk tangan Theoden di wajahny,lalu Kiana bercerita tentang kegiatannya hari ini.
“Hari ini aku mencoba membuat kue, tapi aku membuat dapur berantakan. Tepung terigu yang seharusnya aku pakai untuk membuat kue terjatuh dari genggamanku, karena aku jatuh terpeleset dan akhirnya selurh dapur menjadi putih. Ibu memarahiku habis-habisan dan akhirnya Ibu melarangku untuk membuat kue.”
Kiana tersenyum lemah.Air matanya mulai mengalir di wajahnya.
“Kenapa kamu tidak bangun-bangun? Kamu sedang bermimpi apa? Sehingga tidak ingin bangun. Sadarlah, ada banyak yang harus aku sampaikan padamu, terutama tentang perasaanku. Aku mencintaimu,’’kata Kiana disela isak tangisnya.
Kiana dengan setia menunggui Theoden setiap malam.Dia tidak pernah absen sekali pun untuk tidak mengunjunginya. Perawat bahkan dokter sudah mengenal Kiana. Hendrik memberi izin khusus pada Kiana untuk mengunjungi Theoden setiap malam. Ia tersenyum pada pria yang kini tengah tertidur di depannya. Kiana membelai wajahnyanya dan menelusuri wajah Theoden dengan jari-jarinya.
Tiba-tiba pintu kamar bergeser terbuka. Kiana terkejut dengan kedatangan Hendrik.”Apa kedatangaku menganggu?”
“Tentu saja tidak.”
Fajar telah menyingsing sinar matahari mulai menerobos perlahan-lahan masuk ke dalam kamar. Kiana tertidur sambil mengenggam tangan Theoden dan perlahan-lahan mata Theoden bergerak-gerak dan jari-jari tangannya juga mulai beergerak. Kiana terbangun, karena merasakan gerakan tangan Theoden dan Kiana merasa senang sekaligus terkejut Theoden sudah membuka matanya dan dia tersenyum pada Kiana.
Kiana segera memanggil dokter. Ia gelisah menunggu dokter memeriksa Theoden. Carrie dan Hendrik datang dengan terburu-buru.
“Kiana, bagaimana keadaan Theoden?’’
“Aku belum tahu. Dokter masih memeriksanya.”
Tidak lama kemudian dokter keluar dengan wajah tersenyum.
__ADS_1
“Bagaimana keadaannya?’’tanya Hendrik.
“Theoden sekarang baik-baik saja. Dia akan segera sembuh.”
Mereka benapas lega dan senang.
’’Boleh aku menemuinya?’’tanya Kiana.
”Tentu saja.’’
Kiana langsung saja melesat pergi ke kamar menemui Theoden.
“Syukurlah kamu sadar.”
“Maaf sudah membuatmu cemas.”
“Lain kali kalau mengemudi harus hati-hati,”kata Kiana dengan wajah cemberut.
“Theo, kamu harus berterima kasih padanya, karena selama kamu tidak sadarkan diri, Kiana selalu menjagamu di sini dan mengajakmu bicara,’’kata Hendrik yang tiba-tiba muncul dari pintu.
Theoden lalu melirik Kiana.’’Benarkah?’’
Kiana menganggukan kepalanya.
“Saya sangat senang Anda telah sadar kembali. Selamat datang kembali!’’
“Terima kasih, Carrie.”
“Carrie sebaiknya kita tinggalkan mereka berdua di sini, pasti ada banyak hal yang ingin dibicarakan oleh mereka.”
Sekarang suasana kamar kembali hening. Kiana dan Theoden merasa canggung.
“Terima kasih sudah menjaga dan menemaniku di sini.”
“Kamu tidak perlu berterima kasih. Kamu calon suamiku.”
“Hanya itu alasanmu?”
“Iya memangnya apa lagi.”
“Tidak apa-apa hanya ingin tahu saja.”
“Kamu harus cepat sembuh.” Kiana tersenyum lebar.
Theoden tersadar dari lamunannya ketika Amy memanggil namanya.
“Ah maafkan aku.”
“ Aku baru mendengar tentang kecelakaan yang menimpa dirimu 5 tahun yang lalu setelah aku berada di Paris. Aku senang kamu selamat dari kecelakaan itu.”
“Aku sangat bersyukur aku selama meskipun aku koma seminggu. Jadi selama ini kamu berada di Paris?”
“Benar. Aku dan suamiku tinggal di Paris.”
“Jadi kamu sudah menikah?”
“Iya. Aku sudah menikah.”
“Sejak kapan kamu menikah?”
“4 tahun yang lalu.”
“Di mana suamimu? Kamu tidak mengajaknya ke sini?”
“Suamiku masih ada di Paris dan baru datang ke New York minggu depan.”
“ Aku senang akhirnya kamu menemukan pria yang mencintaimu.”
“Meskipun begitu aku tidak mencintai suamiku, aku masih mencintaimu, Theoden.”
“Aku sudah menikah.”
“Aku tahu itu. Aku hanya ingin kamu tahu perasaanku saja dan aku akan selalu menunggumu kembali padaku.”
“Itu tidak mungkin dan tidak akan terjadi. Aku dan istriku tidak akan pernah berpisah.”
Amy tersenyum.
“Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi nanti.”
“Apa maksudmu?”
__ADS_1
“Hanya butuh waktu saja kamu akan kembali kepadaku. Aku permisi !”
Theoden memandangi kepergian Amy dengan wajah bingung. [ ]